NovelToon NovelToon
Me Before You

Me Before You

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:341.9k
Nilai: 5
Nama Author: RisFauzi

Tidak mudah bagi Alya untuk membuka hatinya untuk Daffa, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan keluarga Pratama Group. Setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya. Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan menimpa Daffa akibat kelalaian Alya.

Alya dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan menentukan hidup dan masa depannya.

Akan kah tumbuh cinta di hati Alya? Atau sebaliknya Daffa membenci Alya, dan menyalahkan keadaannya kepada Alya?

Penasaran? Yuk simak kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Pengakuan

"Alya, berhenti!" teriak Daffa lantang.

   Alya menghentikan langkahnya sejenak, dipalingkannya wajahnya menatap tajam pada sosok lak-laki yang berjalan cepat di belakangnya itu. Sambil mendengus kesal, Alya kembali mempercepat langkahnya dan memilih bergabung dengan teman-temannya yang lain. Mungkin bila ia berbaur dengan temannya, Daffa akan memilih berhenti mengejarnya.

   GREPP!!

   Sebuah tangan kekar menarik paksa lengan kiri Alya dari belakang sebelum dirinya benar-benar bergabung dengan teman-temannya dan memaksanya untuk menghentikan langkahnya.

   Tidak cukup sampai di situ saja, sepasang tangan kekar itu juga memutar tubuh Alya agar menghadap ke arahnya. Alya terdiam dan tak bergerak sedikitpun di tempatnya berdiri saat ini, tubuhnya menjadi kaku seketika. Wajahnya tertunduk dalam, enggan menatap wajah lelaki di hadapannya itu. Alya dapat merasakan kedua tangan Daffa mengetat di bahunya.

   "Lihat Aku, Ay. Tatap mataku!" Daffa menyentak bahu Alya, memaksa Alya untuk mengangkat wajahnya.

   Sejenak keduanya saling bertatapan dalam jarak yang begitu dekat, Alya bisa melihat dengan jelas bagaimana sorot mata Daffa berubah menjadi lembut saat menatapnya.

   Tanpa dapat dicegahnya, Alya memuaskan hatinya menatap laki-laki di depannya itu. Menelusuri dan mengingat setiap detail wajah itu dengan matanya, alis mata tebal yang tertata rapi, hidung mancung, rahang yang kokoh terpeta jelas dalam kepalanya. Alya juga bisa merasakan nafas hangat Daffa yang berhembus menyentuh keningnya. Ia tidak dapat menyangkalnya, kalau dirinya merasakan kekaguman dan perasaan berdebar ketika memandangnya.

   "Sudah puas melihat wajahku? Apa ada sesuatu di wajah ini? Aku memang tampan, apa Kamu baru menyadarinya Ay?" Daffa mengendurkan pegangan tangannya di bahu Alya, tersenyum dengan mimik menggoda sambil memiringkan wajahnya ke kiri dan ke kanan menyadarkan Alya dari keterpukauannya.

   Alya memalingkan wajahnya, tersipu malu  berusaha menutupinya dengan menekan kedua pipinya dengan tangannya. Dering tanda bahaya berbunyi di kepalanya, saatnya waspada. Alya kembali mengingatkan dirinya agar tidak larut dalam pesona dan rasa kagumnya pada Daffa yang pada akhirnya nanti bisa membuatnya terjerat dalam urusan rumit asmara.

   Alya berdehem sejenak sebelum memulai bicaranya, pandangannya beralih melihat sekelilingnya. Tidak sedikit mata para tamu undangan yang menatap penasaran ke arah mereka berdua, dan Alya bisa menebak apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini.

   Alya lalu melangkah ke arah bangku di sudut taman, tempatnya tadi berada bersama Ola. Sementara Daffa menyusulnya dan berdiri menghadap ke arah Alya yang duduk dengan tangan menumpang di paha.

   Alya kembali dengan sikapnya seperti biasanya, menghindar dari Daffa adalah yang terbaik untuknya saat ini. Ia tak ingin jadi sorotan, atau bahkan bahan gosip murahan dan cemooh orang lain setelah pesta ini berakhir.

   "Ada apa Bapak mengejar Saya? Apa tidak sebaiknya Bapak berada bersama dengan tamu undangan lainnya. Apa nanti kata orang bila melihat yang punya pesta sedang berada bersama seorang office girl, dan bukan bersama dengan kekasihnya," Alya berusaha menjaga nada bicaranya yang sedikit bergetar agar terdengar wajar, teringat bagaimana sikap Diana yang memandang sinis keberadaannya di dekat Daffa.

   Daffa tercenung seketika, saat mendengar ucapan Alya padanya. Dia tak pernah menyangka sama sekali kalau sikap Diana telah melukai harga diri Alya.

   "Maaf."

   "Maaf? Buat apa Bapak minta maaf, bukankah benar apa yang dikatakan kekasih Bapak kalau Saya memang hanya seorang office girl di kantor Bapak. Dan Saya tidak mempermasalahkan hal itu."

   "Cukup Ay! Selama ini Saya tidak pernah sekalipun memandang rendah pekerjaan orang lain, membedakan status sosial atau apapun namanya. Saya anggap kalian semua di kantor adalah rekan kerja Saya, bukan bawahan Saya." Daffa menaikkan nada bicaranya, kata-kata Alya barusan sedikit banyak telah memancing emosinya.

   "Aku tahu Kamu marah dan tidak nyaman dengan sikap Diana tadi siang, maka dari itu Aku minta maaf." Daffa menurunkan suaranya. "Aku kira Kamu baik-baik saja, ternyata Aku salah."

   "Kenapa Saya harus marah! Kenapa juga Saya harus merasa tidak nyaman kalau faktanya memang benar. Dan keberadaan Saya disini tidak lain atas permintaan bu Dhes untuk membantu pesta ulang tahun Bapak. Lalu apa masalahnya?" Alya berdecak kesal. "Saya baik-baik saja selama berada disini," tambahnya membela diri.

   Daffa mulai kehilangan kesabaran dengan semua perdebatan ini. Sikap Alya yang selalu saja berkelit dan mengatakan dia baik-baik saja membuat Daffa harus mengambil sikap.

   "Apa yang Kamu lihat disana bukanlah yang sebenarnya. Aku dan Diana tidak punya hubungan spesial seperti yang Kamu kira. Aku melakukan ini semua karena ingin membuktikan kalau perasaan Aku padamu tidak bertepuk sebelah tangan. Aku meminta Diana untuk membantuku melakukan ini semua, membuat Kamu cemburu. Maaf kalau pada akhirnya sikap kami membuat Kamu terluka," Daffa bicara menjelaskan kejadian sebenarnya, ia tak ingin Alya salah paham padanya.

   Alya terdiam mendengar semua yang diucapkan Daffa padanya, apa yang harus dilakukannya. Apakah ia harus tersenyum senang mendengarnya? Ataukah ia harus menangis mendengarnya?

   Saat ini Alya tidak ingin tersenyum, Alya justru merasa sangat sedih. Matanya mulai berkabut, Alya mendapati dirinya nyaris menangis. Menahan air mata sepertinya mustahil bagi Alya. Dan pada akhirnya Alya menangis di bahu Daffa.

   "Menangislah, keluarkan semuanya Ay. Kamu menahan perasaanmu terlalu lama."

🌹🌹🌹

1
kidung mesra
nyicil dulu tor... Lik n pav nya sudah..
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
keren
Darah Biru (Bangsawan)
Miss you thor
RINDU ⭕
NEXT THOR
🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
RINDU ⭕
Like 👍👍👍👍👍👍
RINDU ⭕
Love 💜💜💜💜💜💜💜
RINDU ⭕
Alya
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!