hai,,,,hai,,,author datang lagi menyapa dengan karya yang kelima, maaf jika masih banyak terdapat typo-typo.
Gimana ceritanya jika gadis yang dijodohkan denganmu merupakan salah satu mahasiswi di kampusmu dan ternyata gadis yang selama ini menghuni hatimu??? apakah gadis tersebut juga akan mencintaimu???akankah berakhir bahagia ????
penasaran????yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin MangaToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi penulis, tidak mewakili MangaToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roslaniar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
happy reading 💖💖💖
Malam semakin larut, Afiyah dan Gladis lalu pulang begitu pun dengan Serena yang sudah agak tenang.
Tiba dirumah, tampak mobil Khalik terparkir dengan manis di halaman rumah mereka
"Assalamualaikum,,,,"Salam Afiyah dan Gladis bersamaan
"Waalaikumsalam,,,,".balas Manaf dan Khalil juga bersamaan
"Eh nak Khalil, sudah lama, nak???" tanya Afiyah dengan kelembutan sebagai ciri khasnya
"Belum satu jam bunda ". jawab Khalil tersenyum sopan
"Silahkan nak Khalil, kami istirahat dulu ". ujar Manaf kemudian berlalu ke kamarnya.
Kemesraan dan kekompakan Manaf dan Afiyah tak pernah berubah, mereka saling membutuhkan satu dengan yang lainnya dan tak pernah berpisah dalam waktu yang lama.
"Bapak mau bicara dimana, di taman atau diteras ". tanya Gladis setelah kedua orang tuanya hilang dari pandangan mereka.
"Di taman aja ,,,," jawab Khalil kesal karena Gladis tetap saja memanggilnya bapak.
Tiba di taman, mereka kemudian duduk di gazebo yang letaknya berada di tengah taman.
"Apa yang bapak ingin bicarakan, kayaknya penting banget ". tanya Gladis setelah duduk berhadapan dengan Khalil
"Banyak ". jawab Khalil pendek
"Pak bisa gak sih, kalo bicara yang agak banyakan dikit, biar aku gak banyak bertanya". ujar Gladis mulai kesal
"Baik sesuai permintaanmu nona. Pertama aku ingin merubah panggilanmu, kedua apakah tagihan cinta dekan ini belum bisa kamu jawab ??? dan yang ketiga ada urusan apa kamu di Dish Kafe beberapa malam yang lalu bersama seorang pria dewasa, aku ingin semuanya jelas malam ini, sehingga aku bisa mengambil keputusan karena pernikahan kita sisa menghitung hari ". kata Khalil dengan datar tanpa ekspresi.
"Astaga,,,ternyata bapak kalo bicaranya banyak memang mengesalkan, ya,,,pertanyaannya banyak banget ". ujar Gladis terkekeh meskipun hatinya lagi-lagi menahan nyeri mendengar calon suaminya meragukan kelakuannya.
"Gladis,,,,aku lagi serius, jangan semua kamu anggap main-main ". kata Khalil menahan kesal karena mengira Gladis tak pernah serius
"Ok, aku akan jawab satu-satu. Pertama masalah panggilan sepertinya butuh waktu pak karena sejak mengenal bapak hubungan kita memang mengharuskan aku selalu memanggil bapak. Kedua mengenai perasaan cinta itu gak bisa aku atur pak, perasaan bukanlah barang yang bisa didapat dengan gampang di toko, jadi tolong beri aku waktu. Dan yang ketiga soal aku berkunjung ke kafe, kalo itu sebuah persoalan besar menurut bapak, aku minta maaf karena memang hal itu selalu kulakukan jauh sebelum mengenal bapak dan itu untuk masa depanku juga. Biasanya aku bersama Serena tapi setelah wisuda kami akhirnya jarang bersama karena kesibukan masing-masing ". ujar Gladis panjang lebar tadinya ingin memberitahukan kalo Dish Kafe adalah miliknya namun diurungkan oleh Gladis karena kesal dengan Khalil yang meragukannya.
'aku belum bisa terus terang padamu, pak,,,ternyata kamu tidak mengenalku sama sekali, jika benar kamu mencintaiku seharusnya pertanyaanmu tak seperti itu yang seolah-olah menuduhku punya hubungan dengan seseorang dan sialnya orang itu adalah Reyhan yang sudah seperti saudara bagiku '. batin Gladis terus memandangi wajah Khalil dengan sorot mata kecewa.
"Jadi pernikahan yang sebentar lagi akan kita bawah kemana, Dis,,,". kata Khalil menghentikan lamunan Gladis
"Bapak yang akan jadi kepala keluarga jadi semuanya bapak yang mengarahkan, aku akan mengikuti arahnya ". ujar Gladis masih dengan sorot mata kecewa
Khalil terdiam mendengar ucapan Gladis yang melimpahkan semua padanya. Mereka terdiam ditelan kesunyian malam sampai kemudian Gladis kembali berbicara
"Hanya satu permintaanku jika bapak ingin meneruskan pernikahan ini, tolong beri aku kepercayaan, jangan menyimpulkan sesuatu hanya dengan melihatnya saja tanpa mencari kebenarannya ". ucap Gladis
"Sebagai calon suami, wajar aku bertanya seperti,.sayang,,,karena aku tidak ingin mendapat informasi yang salah makanya aku memilih untuk bertanya langsung padamu.". kata Khalil
"Percayalah pak, selama ini aku gak pernah berhubungan dengan laki-laki sebagai pasangan, aku terlalu sibuk belajar dan bekerja sehingga masa bersenang-senang lewat begitu saja". ujar Gladis mencoba meyakinkan
Ucapan Gladis bagaikan siraman air yang menyejukkan ditengah gurun, jantung Khalil berdetak dengan lembut bagai menyanyikan lagu cinta. Khalil pun tersenyum.
Malam semakin larut, akhirnya dengan berat hati Khalil pamit pulang dengan perasaan bahagia.
"Ok,.aku pamit dulu sayang, besok masih hari kerja, boleh aku peluk sebelum pulang???" tanya Khalil dengan merentangkan kedua tangannya
Gladis tersenyum dengan wajah merona jangan lupa jantungnya yang berdetak kencang.
Setelah berpelukan sesaat, akhirnya Khalil betul-betul pulang dengan hati yang bahagia.
'semoga pernikahan kita dilimpahi kebahagiaan sampai maut memisahkan'. batin Khalil sebelum melajukan mobilnya.
#######
Keesokan harinya seperti hari-hari sebelumnya,.rutinitas pekerjaan tak ada yang berubah bahkan rasanya semakin banyak sesuai dengan perkembangan perusahaan yang juga semakin besar.
Kebiasaan baru bagi Gladis jika waktu istirahat harus keruangan Khalil untuk makan siang bersama.
"Gak bosan-bosannya ya, setiap hari datang menggoda bos ".kata Maya dengan ketus yang sudah dianggap sebuah nyanyian bagi Gladis
"Ya gak bosanlah, mbak yang penting bosnya tergoda, kalo perlu setelah ini aku keruangan sebelah biar sekalian bapaknya aku goda" ujar Gladis memanas-manasi Maya
"Dasar wanita murahan,,,," kata Maya dengan sinis
"Siapa yang wanita murahan, Maya,,,," tanya Khalil yang ternyata sudah berdiri didepan pintu ruangannya
"Mbak Maya menceritakan kisah tetangganya, sayang ". jawab Gladis sambil bergelayut manja di lengan Khalil yang sukses membuat si empunya tangan terdiam karena kaget dengan panggilan dan perlakuan wanitanya yang menurutnya aneh.
Maya yang melihat hal itu mengutuk Gladis dengan segala macam binatang.
'sialan,,,dasar wanita penggoda, aku aja yang sekretarisnya tak pernah bersentuhan fisik dengan si bos,,,,,memang benar yang pernah dikatakan Linda kalo wanita ini jal**g'.
Maya dan Linda adalah sahabat semasa sekolah,.ketika peristiwa yang menggemparkan beberapa waktu lalu, kebetulan Maya sedang sakit jadi tidak mengetahui dengan jelas kejadiannya, Linda hanya menceritakan bagian khayalan Linda saja. Dan karena Maya juga tak bergaul dengan karyawan biasa, jadinya kudet sehingga hanya mendapatkan dan mempercayai satu sumber cerita saja.
"Tumben kamu tiba-tiba meluk lenganku tadi,,,,". tanya Khalil penasaran
"Iya, bahkan aku sengaja memanggil sayang, biar jadi kebiasaan aja ". jawab Gladis sambil tersenyum mengingat wajah Maya yang kesal
"Tapi semalam kayaknya ada yang bilang kalo butuh waktu, tapi hanya beberapa jam saja udah bisa tuh,,semoga cintanya juga seperti itu ". kata Khalil dengan senyum sumringah
"Eit,,,jangan salah ya,,,,tadi hanya kepentingan akting saja ". ujar Gladis terkikik geli
"Maksudnya apa,,,,". tanya Khalil penasaran karena tadi juga mendengar Maya mengatakan wanita murahan
"Tadi itu mbak Maya kesal karena setiap jam istirahat aku selalu kesini, makanya tadi kubilang setelah dari sini aku juga akan keruangan sebelah untuk menggoda bos besar ". ujar Gladis menjelaskan sambil tertawa.
"Pantesan aja kamu tiba-tiba berlaku mesra, yuk makan dulu keburu dingin gak enak ". kata Khalil mengambil makanan yang telah siap santap.
"Tapi kayaknya mbak Maya ada rasa suka sama bapak". ujar Gladis serius
"Itu kan perasaannya dia, sedangkan perasaan cintaku hanya untuk gadis yang telah menghuni hatiku sejak dia SMP". kata Khalil sambil menyuap makanannya.
Gladis tak membalas perkataan Khalil, mereka menikmati makan siang dengan damai. Sekarang baik Khalil maupun Gladis tak melewati makan siang dengan kesunyian, mereka sudah mulai terbiasa makan bersama .
...🌾🌾🌾🌾🌾...
up pagi-pagi jadinya tenang melanjutkan aktivitas,,,selamat menikmati semoga.bisa menghibur para reader yang masih setia hingga bab ini
ingat selalu jaga kesehatan
jangan lupa vote dan komennya ya
salam hangat dari author
Makassar, 31 Desember 2020