NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Ciuman Pertama?

Sabtu tengah malam, Liana menemukan Renard berdiri di depan jendela kamar terapi.

Karina menahannya di koridor sebelum masuk. "Dia tidak menambah obat, tapi tidur hanya empat jam semalam sejak serangan media sosial."

"Karena khawatir pada saya?"

Karina memandangnya dengan senyum tipis yang terlalu tahu. "Dia bilang karena keamanan perusahaan. Renard selalu punya nama resmi untuk perasaannya."

Liana memeriksa gelang darurat. "Ada perubahan aturan?"

"Tidak. Batas waktu tiga jam malam ini. Satu jeda wajib setiap jam. Dan, Liana..."

"Ya, Ci?"

"Perasaan pribadi tidak membatalkan persetujuan. Kalau kamu menginginkan sesuatu, pastikan kamu menginginkannya sebagai dirimu sendiri, bukan karena kontrak."

Nasihat itu mengikuti Liana sampai ke dalam kamar.

Kain sutra hitam sudah menutup matanya. Di luar, hujan menggambar garis-garis air pada kaca. Di dalam, hanya lampu samping ranjang yang menyala redup.

"Kamu datang," katanya.

Liana mengetuk punggung tangannya.

"Minggu ini aku tidak yakin kamu akan datang."

Ia menulis, K-e-n-a-p-a?

"Karena asistenku sedang diserang orang-orang dari masa lalunya. Mungkin dia membutuhkan semua waktumu."

Liana hampir lupa bernapas. Dua identitasnya sudah begitu dekat di kepala Renard hingga pria itu membicarakan satu kepada yang lain seolah mereka saling mengenal.

Ia menuntun Renard duduk dan melakukan pemeriksaan. Tekanan sedikit tinggi. Suhu normal. Tidak ada tambahan obat. Liana menulis hasilnya di telapak tangannya, lalu memulai latihan napas.

Renard menurut selama sepuluh menit.

Liana memulai dengan telapak tangan di bahu, lalu turun ke lengan. Otot Renard lebih tegang daripada hasil pemeriksaan. Ia mengarahkan gerak perlahan, memberi tekanan hanya pada area yang sudah disepakati.

"Kamu juga kurang tidur," kata Renard.

Liana menulis, D-a-r-i m-a-n-a t-a-h-u?

"Gerakanmu lebih lambat. Dan tanganmu dingin."

Ia meraih selimut tipis, menaruhnya di bahu Liana, lalu menunggu persetujuan sebelum merapikan ujungnya.

Liana mengetuk sekali.

"Asistenku juga lupa menjaga diri saat ada masalah," lanjutnya. "Aku tidak tahu kenapa kalian berdua membuatku ingin marah dengan cara yang sama."

Liana menulis, K-a-r-e-n-a k-a-m-u s-u-k-a m-e-n-g-a-t-u-r.

"Bisa jadi."

Jawaban jujur itu membuat bibir Liana bergerak.

Renard menangkapnya dari perubahan napas. "Kamu tersenyum lagi."

Ia menggeser telapak ke dadanya. Degup jantung Renard langsung menjadi lebih cepat, meski gejalanya justru membaik.

"Ini bukan serangan," katanya, seolah perlu memperingatkan diri sendiri.

Liana menulis, A-k-u t-a-h-u.

Artinya, keduanya tidak bisa lagi menyalahkan penyakit atas apa yang sedang tumbuh.

Setelah itu tangannya mencari pinggang Liana.

"Boleh?"

Satu ketukan.

Ia menarik Liana mendekat sampai lutut mereka bersentuhan. Gerakannya tetap hati-hati, tetapi ada tekanan emosional yang berbeda malam ini. Jarinya seolah sedang memetakan bentuk tubuh Liana untuk dibandingkan dengan ingatan tentang asisten di kantor.

"Kamu sedang memikirkan sesuatu," kata Renard.

Liana menulis, K-a-m-u j-u-g-a.

"Aku memikirkan dua orang. Itu masalahnya."

Liana menahan tangan di bahunya.

"Asistenku punya cara yang sama saat diam. Dia menarik napas sebelum menjawab pertanyaan sulit. Jemarinya dingin kalau takut, tetapi telapak tangannya menghangat saat marah." Renard mendekat ke rambutnya. "Dan aroma manis ini muncul pada kalian berdua."

Liana menulis, K-e-b-e-t-u-l-a-n.

"Aku tidak percaya kebetulan sebanyak itu."

Alarm satu jam berbunyi. Liana memisahkan tubuh dan berpindah ke kursi seberang. Ia mengukur suhu, denyut, dan tingkat mual. Semua stabil.

Renard mengambil air sendiri. "Kalau kamu memang orang yang kukenal, apakah kamu takut aku akan marah?"

Liana menulis di papan kecil yang hanya dipakai saat jeda, karena telapak mereka tidak bersentuhan.

Mungkin aku takut semuanya berubah.

Renard tidak dapat melihat tulisan itu di balik penutup mata. Liana menghapusnya sebelum menyentuh tangannya lagi. Yang ia tulis di kulit Renard hanya satu kata.

M-u-n-g-k-i-n.

"Aku tidak akan marah karena siapa dirimu," katanya. "Aku hanya tidak suka dibohongi."

Liana menegang.

Renard menangkap perubahan itu. "Tapi kontrak kita memang meminta kamu merahasiakannya. Jadi mungkin orang yang seharusnya kumarahi adalah Ci Karina."

Liana menulis, J-a-n-g-a-n.

"Kamu membelanya juga."

Satu ketukan.

"Kamu selalu membela semua orang kecuali dirimu sendiri?"

Pertanyaan itu membuat ujung jari Liana diam. Renard tidak mendesak. Ia hanya membuka telapak, menunggu Liana memilih kembali menyentuh atau tidak.

Setelah beberapa detik, Liana meletakkan tangannya di sana.

Bukan kewajiban.

Pilihan.

Aroma melati dan kamboja menguat, seolah tubuhnya sengaja berkhianat.

Renard menunduk ke sisi lehernya. Hidungnya berhenti beberapa milimeter dari kulit. "Kamu sangat mirip dengan seseorang."

Liana menggeser wajah, tetapi tangannya tidak memberi kode berhenti.

Renard menarik napas panjang. "Boleh lebih dekat?"

Satu ketukan.

Ujung hidungnya menyentuh ringan rambut di belakang telinga Liana. Napas hangat jatuh pada kulit. Liana mencengkeram kain seprai agar tangannya tidak gemetar di bahu Renard.

"Ini aroma yang sama," bisiknya.

Ia bergerak menyusuri jejak manis itu dari rambut ke pelipis. Tidak mencium, hanya mengikuti. Setiap beberapa sentimeter ia berhenti, memberi Liana kesempatan menolak.

Liana tidak menolak.

Pada setiap jeda kecil, ia menguji dirinya sendiri. Apakah ia akan tetap memilih kedekatan ini jika kontrak tak ada? Apakah ia mau bibir Renard mendekat jika tidak dibayar satu rupiah pun?

Jawabannya muncul dari tubuh sebelum pikirannya selesai.

Ya.

Bukan karena kontrak.

Bukan karena lima puluh miliar.

Karena pria ini memegang pinggangnya seperti tempat pulang, lalu tetap bertanya sebelum mengurangi satu sentimeter jarak.

Jari Renard menyentuh sisi wajahnya. Ibu jarinya mengikuti tulang pipi, turun ke sudut rahang, dan berhenti di bibir.

Keduanya membeku.

Liana mengingat sesi sebelumnya. Ia telah menolak ciuman dan Renard berjanji menunggu. Malam ini, pria itu tidak langsung meminta. Ia hanya menahan ujung jari di sudut bibir, napasnya berubah kasar.

Liana seharusnya memberi dua ketukan.

Tangannya tetap diam.

Renard memiringkan kepala ke arahnya meski matanya tertutup. "Nona Terapis."

Jarak di antara mereka menyusut.

Satu telapak tangan Renard masih berada di pinggang Liana. Yang lain menangkup sisi wajahnya. Ia bergerak begitu pelan hingga Liana dapat menghentikan setiap tahap.

"Kalau kamu tidak mau, hentikan aku sekarang."

Liana mendengar nasihat Karina di koridor. Pastikan kamu menginginkannya sebagai dirimu sendiri.

Ia menyentuh tombol darurat di gelang, memastikan jalan keluar ada. Lalu tangannya meninggalkan tombol dan kembali ke kemeja Renard.

Liana menelan ludah. Tidak mengetuk.

Ia justru mencengkeram bagian depan kemeja Renard.

Jawaban tanpa suara itu membuat napas pria tersebut pecah.

Namun Renard belum bergerak maju. "Aku perlu tahu satu hal."

Liana menunggu dengan jantung menghantam dada.

"Apakah kamu membiarkan ini karena menganggapnya bagian dari terapi?"

Pertanyaan itu menembus seluruh alasan yang dapat dipakai Liana untuk bersembunyi. Ia mengambil telapak tangan Renard dan menulis perlahan.

B-u-k-a-n t-e-r-a-p-i.

Jemari pria itu menutup di sekitar tangannya. "Kalau begitu, aku juga tidak meminta sebagai pasien."

Liana menelan ludah.

"Aku meminta sebagai laki-laki yang sudah memikirkan bibirmu selama seminggu."

Panas menjalar dari leher ke wajahnya.

Renard memberi ruang satu telapak tangan di antara mereka. "Kalau kamu hanya menginginkanku saat mataku tertutup, hentikan sekarang. Aku tidak mau mengambil sesuatu yang akan kamu sesali ketika bertemu denganku di tempat terang."

Liana membeku pada kata-kata itu. Ia memang merasa lebih berani dalam gelap, tetapi yang diinginkannya bukan sosok anonim. Ia menginginkan Renard yang menanyakan makan siangnya, Renard yang menyimpan rekaman CCTV, Renard yang menghormati dua ketukan, dan Renard yang memanggil namanya tanpa gelar.

Ia menulis lagi.

T-i-d-a-k a-k-a-n m-e-n-y-e-s-a-l.

"Kamu yakin?"

Satu ketukan.

"Bahkan kalau setelah ini semuanya berubah?"

Liana mengingat kematian yang pernah dialami karena takut mengubah hidup. Kesempatan kedua tidak diberikan untuk membuat pilihan yang sama.

Satu ketukan lagi.

Renard mengembuskan napas panjang, seolah persetujuan itu justru menguji sisa kendalinya lebih berat daripada penolakan.

Liana mengangkat tangan ke kain hitam, bukan untuk membuka, hanya merapikan tepinya yang bergeser. Simpul tetap kuat. Renard menyerahkan penglihatan dan kendali pada aturan, sementara Liana menyerahkan satu kejujuran yang belum mampu ia ucapkan dengan suara.

Malam ini, mereka tidak bersembunyi di balik penyakit.

Mereka hanya masih bersembunyi di balik nama.

Bibir mereka tinggal beberapa sentimeter.

Liana dapat mencium kopi samar dan aroma cedar dari kulitnya. Udara hangat di antara mulut mereka bercampur. Renard menunggu satu detik lagi, memastikan tidak ada kode berhenti.

Liana mengangkat dagu.

Renard merasakan gerakan itu dan berhenti sekali lagi. "Satu ketukan kalau kamu masih mau."

Liana mengetuk punggung tangannya sekali.

"Dua kalau berubah pikiran. Kapan pun."

Ia mengetuk sekali lagi, lebih tegas.

Tangan di wajahnya bergetar tipis. Bukan karena gejala. Renard, pria yang mengendalikan ruangan hanya dengan tatapan, sedang menunggu izin dari perempuan yang tak dapat ia lihat.

Liana menyentuh rahangnya. Kulitnya halus, tetapi otot di bawahnya keras menahan diri. Ia mengikuti garis itu sampai dagu, membalas cara Renard mengenali wajahnya. Untuk beberapa detik mereka memetakan satu sama lain dalam gelap, tanpa mengambil lebih dari yang diberikan.

Renard memiringkan wajah ke telapak Liana dan mencium bagian tengahnya sekali. Sentuhan bibir itu ringan, tidak mendekati mulut, namun membuat lutut Liana melemah.

"Aku masih menunggu," bisiknya.

Kali ini Liana tidak menulis jawaban. Ia hanya menarik bagian depan kemejanya, mengundang jarak mengecil atas pilihannya sendiri.

Jarak berubah menjadi satu sentimeter.

Lalu beberapa milimeter.

Ponsel di meja samping meledak dengan nada dering tajam.

Keduanya tersentak.

Layar menyala terang dalam kamar gelap.

Ci Karina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!