NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Pak Dharma mulai berani setelah Keira kembali penuh waktu.

Pada awalnya, semua terlihat seperti perhatian atasan. Ia mampir ke meja Keira tiga kali sehari, menanyakan apakah tugas terlalu berat, apakah komputer bermasalah, apakah ia sudah makan. Nadanya ramah. Senyumnya bapak-bapak. Di mata orang yang hanya lewat, ia terlihat seperti manajer senior yang sedang membimbing anak magang pilihan direksi.

Keira tahu lebih baik.

Orang seperti Pak Dharma tidak pernah menyerang langsung di awal. Mereka membangun panggung simpati dulu, supaya ketika korban bicara, semua orang akan berkata, "Mungkin kamu salah paham. Pak Dharma baik kok."

Maka Keira juga membangun panggungnya sendiri.

Ponsel selalu ada di laci atas dengan perekam suara aktif. Kamera kecil laptop menghadap sudut meja yang cukup menangkap tangan orang yang berdiri terlalu dekat. Setiap pesan WhatsApp dari Pak Dharma dipindahkan ke folder khusus, lengkap dengan waktu dan tangkapan layar.

Ia juga membuat tabel waktu sederhana. Kolom pertama berisi jam kejadian, kolom kedua lokasi, kolom ketiga saksi yang berada dalam radius tiga meter. Nama Siska muncul paling sering, tetapi ada juga admin procurement, cleaning service, bahkan kurir dokumen dari lantai legal. Keira tidak akan menyeret mereka tanpa perlu, tetapi ia ingin tahu siapa yang bisa membenarkan satu kalimat jika nanti Pak Dharma menyangkal.

Untuk file digital, ia tidak hanya menyimpan tangkapan layar. Ia mengirim salinan ke email pribadi, ke cloud, dan ke flashdisk kecil yang disembunyikan di kantong kosmetik. Dari kasus plagiat Vanya, ia belajar satu hal: bukti yang hanya ada di satu tempat sama saja belum ada.

Siska melihat semua itu dan berbisik, "Lo kayak audit internal berjalan."

"Lebih murah daripada konsultan," jawab Keira.

"Gue serius."

"Aku juga."

Pagi itu, Pak Dharma datang membawa setumpuk printout.

"Nona Tan, bantu cek angka ini."

"Baik, Pak."

Keira berdiri untuk mengambil dokumen. Pak Dharma sengaja tidak langsung melepaskan. Tangannya bergerak, menyentuh bahu Keira seolah sedang menyeimbangkan tubuh.

"Hati-hati. Kamu masih kelihatan lemas."

Sentuhan itu hanya dua detik.

Cukup.

Keira tidak mundur terlalu keras. Ia hanya menegang sedikit, lalu tersenyum sopan. "Terima kasih, Pak. Tapi saya bisa sendiri."

Siska di meja sebelah mengangkat wajah. Dua staf lain juga melirik.

Pak Dharma tertawa kecil. "Anak muda sekarang sensitif sekali."

"Saya hanya tidak mau merepotkan Bapak."

Kalimat itu lembut, tetapi meletakkan batas dengan jelas. Pak Dharma tidak bisa menegur tanpa terlihat buruk.

Sepanjang hari, ia mencoba lagi.

Di ruang arsip, ketika Keira mengambil binder dari rak bawah, Pak Dharma muncul di belakangnya.

"Kalau file susah, panggil saya."

Keira bisa merasakan kamera ponselnya merekam dari saku kardigan. Ia sengaja tidak langsung berdiri.

"Ini file proyek lama, Pak. Saya perlu cocokkan nomor kontrak."

"Rajin sekali. Pantas Pak Lim suka."

Nada itu berubah di kata terakhir.

Di balik rak arsip, ada cermin kecil untuk memantau lorong. Keira sengaja menggeser tubuh sedikit agar pantulan Pak Dharma masuk ke kamera ponselnya. Tangannya dekat sekali dengan punggung Keira, tidak menyentuh, tetapi cukup untuk menunjukkan niat. Bukti seperti ini memang tidak sekeras tamparan. Namun justru di situlah orang seperti Pak Dharma berlindung.

Keira berdiri pelan, menjaga jarak. "Pak Lim menilai dari pekerjaan."

"Kamu yakin?"

"Saya harap begitu. Kalau tidak, evaluasi perusahaan ini akan sulit dipertanggungjawabkan."

Mata Pak Dharma menyipit. "Kamu pintar bicara."

"Saya belajar dari dokumen legal."

Ia melewati Pak Dharma dengan map di tangan. Di luar ruang arsip, ada petugas admin yang sedang mengambil kertas. Keira sengaja menyapa.

"Mbak Rina, saya pinjam scanner sebentar ya."

"Iya, Nona Tan."

Pak Dharma tidak bisa menahan lebih lama.

Siang harinya, pesan masuk ke ponsel kantor Keira.

Pak Dharma: Nanti setelah jam kerja, bantu saya cek proposal. Tidak usah ajak Siska. Lebih cepat kalau berdua.

Keira menatap layar.

Ia memotret ponsel kantor itu dengan ponsel pribadi, lalu membalas.

Baik, Pak. Apakah perlu di ruang meeting? Saya bisa pesan lewat sistem supaya tercatat.

Balasan datang satu menit kemudian.

Tidak perlu formal. Di ruangan saya saja.

Keira tersenyum.

Siska yang melihat wajahnya langsung merinding. "Itu senyum yang bikin gue ingin pulang."

"Jangan pulang. Aku butuh saksi kamu masih di kantor jam tujuh."

"Gila. Lo beneran mau datang?"

"Kalau aku tidak datang, dia akan mencari cara lain."

"Kalau lo datang, dia bisa macam-macam."

Keira menutup laptop. "Dia tidak akan sempat."

Siska menggenggam pergelangan tangan Keira. "Kei, gue tahu lo kuat. Tapi kuat bukan berarti harus jadi umpan."

Untuk pertama kalinya hari itu, Keira menatap Siska dengan serius. "Aku sudah pernah jadi korban tanpa punya bukti. Aku tidak mau mengulang itu."

Siska tidak tahu kehidupan pertama dalam mimpi Keira. Tidak tahu bagaimana rumor bisa membunuh lebih pelan daripada pisau. Tetapi mungkin ia menangkap sesuatu dari suara Keira, karena genggamannya melemah.

"Oke," katanya. "Gue tunggu di pantry. Kalau lo kasih kode, gue masuk."

"Kode?"

"Lo kirim stiker apa aja. Gue pura-pura bodoh masuk bawa kopi."

Keira tersenyum. "Kamu berbakat."

"Gue cuma takut dipanggil saksi polisi tanpa persiapan."

"Kalau dipanggil, bilang yang kamu lihat saja."

"Gue lihat banyak."

"Bagus. Jangan tambah, jangan kurang."

Jam tujuh lewat sepuluh, lantai proyek mulai kosong. Lampu putih membuat ruangan terlihat lebih lelah. Keira masuk ke ruangan Pak Dharma dengan map di tangan dan ponsel merekam di balik lipatan tas.

Pak Dharma menutup pintu.

Tidak dikunci.

Keira mencatat itu.

"Duduk," kata Pak Dharma.

Keira duduk di kursi depan meja, bukan sofa. Pak Dharma melihat pilihan itu dan tersenyum tipis.

"Kamu selalu hati-hati sekali."

"Di kantor harus begitu, Pak."

"Terlalu kaku. Kalau mau cepat naik, kamu harus tahu kapan formal, kapan fleksibel."

"Saya masih magang. Fokus saya belajar."

Pak Dharma berjalan memutari meja. Keira menahan napas, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia bisa melihat bayangannya sendiri di layar komputer hitam, kecil, duduk rapi, seperti tidak sedang menunggu ular mendekat.

"Kamu tahu kenapa saya masih mau bantu kamu?" tanya Pak Dharma.

"Karena saya bagian dari tim proyek?"

"Karena kamu punya potensi." Ia berhenti di samping kursi Keira. "Dan karena saya bisa membuat hidupmu di sini jauh lebih mudah."

Tangannya turun, menyentuh sandaran kursi dekat bahu Keira.

Keira mengirim satu stiker acak ke Siska tanpa melihat layar.

Pak Dharma tertawa rendah. "Kalau kamu mau promosi, kita bisa diskusi di luar kantor."

Rekaman masih berjalan diam-diam.

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!