Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.
"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."
Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8 Perdagangan Gelap
"Ada jalan rahasia. Arahnya keluar Kota Raja."
Kata-kata Garuda membuat malam di Puri Timur terasa lebih panjang.
Arjuna tidak langsung menjawab. Ia menatap lorong menuju kamar Anindya. Lampu di balik pintu itu masih menyala, tetapi tidak ada suara. Ia tahu perempuan itu belum tidur. Barangkali ia mendengar langkahnya. Barangkali ia memilih diam karena belum tahu hak apa yang boleh ia gunakan sebagai istri.
Rasa bersalah menyentuh dadanya, singkat tapi tajam.
"Kirim dua orang mengikuti ujung jalan itu," kata Arjuna akhirnya. "Jangan pakai jalur yang sama dua kali. Jika ada tanda mereka tercium, tarik mundur."
"Siap."
"Dan bawa semua catatan dari Darmawan ke ruang kerja."
Garuda menghilang. Arjuna masih berdiri beberapa saat di koridor, lalu berbalik ke kamar Anindya.
Ia mengetuk pelan.
Butuh beberapa detik sebelum pintu terbuka. Anindya muncul dengan selendang tipis di bahu, rambutnya belum dilepas sepenuhnya. Matanya jelas kurang tidur.
"Yang Mulia baru kembali?"
"Maaf membangunkanmu."
"Hamba memang belum tidur."
Keduanya diam. Aroma kenanga dari kamarnya bercampur dengan bau malam di jubah Arjuna, bau tanah lembap, asap lampu, dan sedikit debu jalan.
Anindya menatap ujung lengan jubahnya. "Laporan Bendahara sampai membuat Yang Mulia membawa pulang tanah?"
Arjuna menunduk. Ada noda kecil di kain gelapnya.
Ia hampir tersenyum. "Kau memperhatikan hal yang terlalu kecil."
"Eyang selalu berkata, kebocoran besar biasanya dimulai dari noda kecil."
Kalimat itu membuat Arjuna menatapnya lebih lama.
Anindya tampak sadar bahwa ia bicara terlalu langsung. Ia menurunkan mata. "Hamba tidak bermaksud mencampuri."
"Tidak." Suara Arjuna melunak. "Justru itu kalimat yang baik."
Ia tidak bisa memberinya seluruh kebenaran malam ini. Namun ia bisa memberinya sepotong kepercayaan.
"Jika suatu hari kau melihat catatan dagang yang pendapatannya naik, tapi pajaknya turun, apa yang akan kau curigai?"
Anindya terkejut oleh pertanyaan itu. "Barang yang lewat tidak dicatat di pos pajak. Atau dicatat dengan jenis lain agar tarifnya lebih rendah."
"Jika barang itu berat, tetapi disebut alat gamelan?"
Kening Anindya berkerut. "Alat gamelan memang berat. Itu nama yang bagus untuk menyembunyikan logam, senjata kecil, atau rempah basah yang dibungkus rapat. Orang pemeriksa tidak akan membongkar karena takut merusak barang seni."
Jawaban itu datang cepat, tanpa ragu.
Arjuna merasakan sesuatu yang hangat di dadanya. Dulu, berapa banyak hal seperti ini yang ia lewatkan karena mengira ia harus menanggung semuanya sendiri?
"Tidurlah," katanya pelan. "Besok aku mungkin membutuhkan matamu untuk membaca sesuatu."
Anindya menatapnya, ragu, lalu mengangguk. "Baik, Yang Mulia."
Pintu tertutup. Kali ini, Arjuna tidak merasa percakapan mereka selesai. Ia merasa sesuatu baru saja dimulai.
***
Menjelang fajar, ruang kerja Puri Timur dipenuhi gulungan kertas.
Darmawan mengirim catatan pasar, Garuda mengirim jejak dari jalan rahasia, dan Adi menyalin ulang laporan Bendahara Kerajaan agar tidak ada cap resmi yang keluar dari tempatnya. Di atas meja, tiga jalur mulai bertemu: Pelabuhan Timur, Wilayah Pesisir, dan Gedung Wayang Enam.
"Ujung lorong keluar di belakang gudang tua dekat tembok selatan," lapor Garuda. "Dari sana ada jalan kecil menuju tempat penyimpanan milik saudagar pribadi."
"Nama pemilik?"
"Tercatat atas nama orang biasa. Tapi penjaganya memakai tanda Kertanegara di ikat pinggang."
Adi mengerutkan kening. "Adipati Kertanegara?"
Arjuna tidak terkejut. Pada kehidupan lalu, keluarga itu tampak seperti penyumbang setia upacara kerajaan. Mereka memberi kain untuk Badan Upacara, beras untuk lumbung istana, dan emas untuk perayaan ulang tahun Prabu Naradewa. Semua kemurahan itu ternyata dibayar oleh barang gelap yang mengalir lewat tangan Baskara.
"Lanjutkan."
Garuda membuka kain kecil di meja. Di dalamnya ada kepingan kayu beraroma tajam, sepotong logam hitam, dan remah rempah yang berwarna merah gelap.
"Ini ditemukan menempel di roda gerobak."
Adi mendekat, lalu menutup hidung. "Rempah?"
"Rempah langka," kata Arjuna. "Jika dijual resmi, pajaknya tinggi. Jika diselundupkan, keuntungannya cukup untuk membeli pedang."
Garuda menambahkan, "Di gudang, hamba juga melihat peti bertanda alat pertunjukan. Tapi beratnya tidak sesuai."
Arjuna mengingat jawaban Anindya semalam. Alat gamelan. Logam. Rempah basah.
Ia mengambil satu laporan Bendahara. "Catatan resmi mengatakan pengiriman alat gamelan dari Pelabuhan Timur meningkat tiga kali lipat dalam dua bulan."
Adi tampak bingung. "Apakah sebanyak itu gedung pertunjukan baru dibuka?"
"Tidak."
Pintu ruang kerja diketuk. Anindya masuk setelah diberi izin, ditemani Wulan. Ia sudah berpakaian rapi, tetapi wajahnya masih menyimpan lelah. Meski begitu, matanya langsung jatuh pada gulungan kertas di meja, bukan pada perhiasan atau benda lain.
"Yang Mulia memanggil hamba?"
Arjuna memberi isyarat pada kursi di seberang meja. "Duduklah. Aku ingin kau melihat ini."
Adi dan Garuda saling melirik. Tidak banyak pria di keraton yang akan membiarkan istrinya duduk di tengah laporan rahasia. Arjuna melihat keraguan itu, tetapi tidak menarik perintahnya.
Anindya duduk. Ia membaca tiga lembar pertama dengan cepat. Jarinya bergerak mengikuti angka, lalu berhenti pada satu kolom.
"Ini aneh."
"Apa?"
"Biaya pengangkutan alat gamelan dari Pelabuhan Timur terlalu rendah untuk benda sebesar itu. Jika benar-benar gamelan, mereka butuh lebih banyak pekerja dan kereta. Tapi di sini biaya pengawalan justru tinggi."
Garuda menunduk sedikit, kali ini dengan hormat yang berbeda. "Berarti yang dibayar bukan pekerja."
"Melainkan penjaga agar orang lain tidak membuka peti," jawab Anindya.
Arjuna menatapnya. "Bisakah kau mencari pola nama yang berulang?"
Anindya mengangguk. Ia menarik satu lembar kosong dan mulai menyalin inisial, jumlah, serta tanggal. Tangannya bergerak tenang. Dalam waktu singkat, tiga nama muncul berkali-kali dalam bentuk singkatan.
K.
S.
B.
"B bisa berarti banyak hal," kata Adi.
"Baskara terlalu jelas untuk ditulis," ujar Arjuna. "Mereka tidak sebodoh itu."
Anindya menunjuk huruf K. "Yang ini selalu muncul saat pengiriman dari gudang selatan. Kalau pemilik gudang memakai tanda Kertanegara, huruf itu masuk akal."
Ia menarik lembar jadwal pertunjukan Gedung Wayang Enam yang dibawa Garuda, lalu menaruhnya di samping laporan pelabuhan.
"Tanggal pengiriman terbesar justru jatuh pada malam tanpa pertunjukan," katanya. "Jika tidak ada tamu, untuk siapa alat gamelan itu dibawa?"
Adi menatap angka-angka itu, wajahnya berubah. "Berarti gedung hanya menjadi alasan."
Garuda meletakkan selembar catatan baru di meja. "Ada satu lagi."
Catatan itu diperoleh dari petugas gudang yang dibayar Darmawan. Bukan buku besar lengkap, hanya sobekan halaman yang hampir dibakar. Namun di bagian bawahnya terdapat dua cap kecil, samar tapi masih terbaca.
Cap pertama bergambar burung hitam milik keluarga Kertanegara.
Cap kedua membuat ruangan benar-benar hening.
Adi berbisik, "Itu lambang Kementerian Perang."
Arjuna menatap nama yang tertulis di bawah cap itu. Senyumnya hilang.
Perdagangan gelap ini bukan hanya milik Baskara.
Di antara catatan yang hampir terbakar itu, nama Tumenggung Suralegawa tertulis jelas.