Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Andrew mencengkeram erat tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang membakar dada saat melihat David dan Mili dengan santainya menikmati makanan di sudut ballroom.
Pemandangan kemesraan dan ketenangan mereka berdua terasa seperti tamparan keras yang meruntuhkan harga dirinya di depan ratusan tamu undangan.
Dengan napas memburu, Andrew membalikkan tubuhnya membelakangi kerumunan.
Ia merogoh saku jas mewahnya, mengetik pesan singkat dengan jemari yang bergetar penuh dendam, lalu mengirimkannya ke sebuah nomor tanpa nama:
'Culik wanita itu sekarang dan jual ke tempat biasa!'
Setelah menekan tombol kirim, Andrew mengembuskan napas panjang, memasang kembali senyum palsunya yang dipaksakan.
Dengan wajah seolah tak terjadi apa-apa, ia berbalik dan kembali melangkah menuju pelaminan untuk bersalaman dengan para tamu yang mengantre, menyembunyikan niat iblis yang baru saja ia lepaskan ke tengah keramaian pesta.
Di tengah keramaian ballroom, seorang wanita bergaun merah melangkah tergesa-gesa dan sengaja menabrak tubuh Mili.
Gelas berisi jus buah di tangannya tumpah, membasahi bagian depan gaun midnight blue milik Mili.
"Maaf! Maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja!" ucap wanita itu dengan wajah panik yang dibuat-buat.
Mili tersenyum tipis, mencoba bersikap tenang. "Tidak apa-apa," jawabnya lembut.
Mili meletakkan piringnya di atas meja terdekat.
Ia celingukan mencari keberadaan David, namun suaminya itu tampak sedang dikerumuni dan sibuk mengobrol dengan beberapa klien penting perusahaan.
Tidak ingin mengganggu perbincangan bisnis suaminya, Mili memutuskan melangkah sendiri menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan gaunnya.
David, yang sedang fokus berdiskusi dengan para pengusaha senior, sama sekali tidak menyadari keberangkatan istrinya.
Mili masuk ke dalam area kamar mandi yang sepi dan memutar keran air.
Ia membasahi tisu dan mulai membersihkan noda minuman di gaunnya dengan telaten.
Tiba-tiba, pintu kubikel di belakangnya terbuka pelan.
Tanpa suara, sosok pria bertubuh tegap maju dan langsung mendekap tubuh Mili dari belakang.
Sebuah saputangan beraroma kimia menyengat membekap erat hidung dan mulutnya.
"MMMMPPHH!!!"
Mili terbelalak, berusaha memberontak dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Namun, bahan kimia dosis tinggi itu bekerja terlalu cepat.
Pandangannya langsung mengabur, kesadarannya tersedot habis, dan dalam hitungan detik tubuh anggun Mili langsung meluruh jatuh pingsan di dalam dekapan pria misterius tersebut.
Pria bertopeng itu dengan cekatan memanggul tubuh Mili yang terkulai lemas di bahunya.
Memanfaatkan jalur evakuasi darurat yang sudah disiapkan, ia melangkah cepat menuju area parkir basement.
Tubuh Mili dihempaskan begitu saja ke kursi belakang mobil van hitam bertumpuk kaca gelap.
Mobil itu langsung melaju kencang membelah kegelapan malam, menyisakan jejak ban yang berdecit nyaring.
Semua jalur rekaman CCTV dari kamar mandi hingga area parkir telah dilumpuhkan sepenuhnya—meninggalkan layar monitor yang hanya menampilkan static noise berwarna abu-abu.
Sementara itu di dalam ballroom, naluri David mendadak bergejolak hebat.
Rasa tidak tenang menusuk dadanya. Ia memutar pandangan ke sekeliling ruangan, namun sosok bergaun midnight blue yang sangat ia cintai itu menghilang dari pandangan.
"Jonas! Di mana istriku?!" bentak David dengan nada tinggi, mengabaikan para klien yang kini menatapnya terkejut.
Jonas yang menyadari kepanikan tuannya langsung sigap menjawab, "Saya... saya terakhir melihat Nyonya Mili berjalan ke arah kamar mandi, Tuan."
David melangkah lebar menuju kamar mandi. Namun sebelum ia mencapai pintu, ponsel di saku jasnya berdering nyaring dari nomor yang tak dikenal.
David mengangkatnya dengan napas memburu.
"Kalau mau istri tercantikmu tetap bernapas, serahkan posisi CEO malam ini juga... atau Mili mati," ucap sebuah suara berat yang dimanipulasi melalui voice changer, lalu menutup panggilan secara sepihak.
Aura David seketika berubah mematikan. Matanya menyala penuh murka dan dendam.
Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan berlari kencang kembali ke dalam ballroom, menerobos kerumunan tamu yang terperanjat.
Tujuannya hanya satu.
Bugh!
Tanpa peringatan, David melayangkan pukulan mentah tepat ke rahang Andrew.
Tubuh Andrew tersungkur keras ke lantai, menghancurkan meja dekorasi dan membuat para tamu berteriak histeris.
Gea menjerit pingsan, sementara Papa Hermawan membelalak tak percaya.
Sebelum Andrew sempat berdiri, David merogoh balik jasnya, menarik sebuah pistol bernoda hitam, dan—
BANG!
Suara tembakan menggema keras menghentikan detak jantung semua orang di dalam ruangan.
Peluru panas menembus paha kanan Andrew. Darah segar merembes cepat membasahi celana mewahnya.
Andrew menjerit kesakitan, berguling-guling di lantai sambil memegang kakinya.
David maju satu langkah, menginjak dada Andrew dengan sepatu kulitnya yang keras, lalu menempelkan ujung pistol yang masih berasap tepat di tengah dahi kakaknya.
"Cepat katakan di mana Mili..." bisik David dengan suara dingin bak malaikat pencabut nyawa, "...atau pernikahan ini akan menjadi pertumpahan darah!"
Andrew yang tergeletak bersimbah darah di lantai justru tertawa terbahak-bahak.
Suara tawanya terdengar gila dan menyebalkan di tengah kepanikan para tamu yang berlarian menyelamatkan diri keluar dari ballroom.
"Aku... aku tidak tahu!" seru Andrew sambil meringis menahan sakit, mencoba memprovokasi.
Bugh!
Satu hantaman keras dari kepalan tangan David mendarat telak di hidung Andrew, mematahkan tulang hidungnya hingga darah segar menyembur keluar.
"Cepat katakan atau aku membunuhmu di sini!" geram David dengan nada dingin yang menebar ancaman kematian.
David mengokang senjata api di tangannya. Suara klik dari mekanisme pistol itu terdengar begitu nyaring.
Tanpa ragu sedikit pun, jemarinya mulai menarik pelatuk, siap melepaskan peluru berikutnya tepat ke kepala Andrew.
Melihat kegelapan dan kepastian maut di mata adiknya, pertahanan Andrew hancur berkeping-keping.
Rasa takut akan kematian mendadak melumpuhkan keberanian palsunya.
"Di... di bandara!" jerit Andrew panik, terbatuk-batuk menahan sakit.
" Mereka akan menjualnya ke Dubai malam ini juga!"
"Sial!!" umpat David murka.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, David menarik kakinya dari dada Andrew.
Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar ballroom, diikuti Jonas dan belasan pengawal pribadinya yang menyiagakan senjata.
Waktu mereka sangat terbatas sebelum pesawat yang membawa Mili lepas landas.
Kekacauan di ballroom meninggalkan kepulan asap dan genangan darah.
Papa Hermawan dengan wajah panik dan napas tersengal-sengal segera memerintahkan para pengawal untuk mengangkat tubuh Andrew yang terus meringis kesakitan akibat luka tembak di pahanya.
Tanpa membuang waktu, mereka membawanya tergesa-gesa menuju rumah sakit terdekat.
Di sudut ruangan yang panik, Mama dan Papa Gea berlutut di samping tubuh putri mereka yang masih terbaring pingsan di lantai.
Sang mama menangis histeris, meratapi gaun pengantin Gea yang kini ternoda darah dan kehancuran acara yang seharusnya menjadi kebanggaan keluarga mereka.
"Anakku... Gea, bangun Nak!" ratap Mamanya sambil mengusap pipi Gea yang pucat pasi, sementara sang papa terus memaki kejamnya nasib yang menimpa keluarga mereka malam ini.
Bagi mereka, keselamatan Mili sama sekali tidak penting.
Tidak ada satu pun dari mereka yang peduli bahwa Mili tengah berada di ambang bahaya menuju luar negeri.
Fokus mereka hanya pada reputasi, rasa malu, dan nasib Andrew serta Gea.
Keberadaan Mili yang terancam dijual ke Dubai dianggap sebagai hal yang tidak berarti—atau mungkin, justru malapetaka yang terselubung kepuasan bagi dendam mereka.
Sirine mobil David meraung-raung membelah malam, melaju dalam kecepatan gila menerobos barikade keamanan bandara.
Dari kejauhan di landasan pacu, mata David menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih: jet pribadi milik perusahaannya sendiri telah dibajak dan perlahan mulai meluncur, siap lepas landas membawa Mili pergi selamanya.
"Tuan! Pesawat itu sudah bergerak!" teriak Jonas dari kursi samping.
"Pegangan yang erat!" geram David dengan tatapan mata liar dipenuhi nekat.
Tanpa memikirkan nyawanya sendiri, David menginjak pedal gas dalam-dalam.
Mobil limousine lapis baja itu melesat bak peluru kendali, mengarah tepat ke roda pendaratan depan jet yang sedang mengumpul kecepatan.
DUARRR!
Dentuman dahsyat menggelegar membelah keheningan malam.
Mobil David menghantam keras bagian bawah pesawat.
Benturan luar biasa itu membuat jet pribadi oleng hebat, terseret di atas aspal dengan percikan api yang membubung tinggi sebelum akhirnya berhenti paksa.
Di dalam kabin jet, tubuh Mili yang masih tak sadarkan diri terpental keras dari kursi dan terhempas ke lantai.
Belum sempat para penculik menguasai keadaan, pintu darurat pesawat didobrak dari luar.
Jonas muncul dengan senapan otomatis di tangannya.
Tatapannya dingin dan mematikan.
BANG! BANG! BANG!
Suara tembakan beruntun bergema di dalam kabin.
Tanpa ampun, Jonas melumpuhkan satu per satu komplotan penculik yang mencoba merogoh senjata mereka.
Dalam hitungan detik, seluruh pembajak roboh bersimbah darah.
Sementara itu, di dalam kabin mobil yang ringsek, David berjuang keluar dari kantong udara yang pecah.
Darah segar mengucur deras dari pelipisnya, membasahi separuh wajahnya yang pucat.
Dengan langkah menyeret dan pandangan yang berkunang-kunang, David memanjat masuk ke dalam bangkai pesawat.
"M-Mili..." bisik David parau.
Matanya yang mulai kabur menangkap sosok istrinya yang tergeletak terkapar di lantai kabin.
Mili masih belum sadarkan diri, terkulai lemas dengan gaun yang robek.
David merayap, merengkuh tubuh Mili ke dalam pelukannya.
Namun, rasa sakit yang luar biasa di kepalanya tak lagi sanggup ia tahan.
Kesadaran David perlahan terkikis, hingga akhirnya ia ikut tumbang dan pingsan tepat di atas tubuh istrinya.
Jonas yang baru saja memastikan area aman langsung berbalik dan terperanjat melihat kondisi tuannya.
"Cepat masuk! Bawa Tuan David dan Nyonya Mili ke helikopter medis sekarang!" teriak Jonas pada belasan anak buah bersenjata lengkap yang baru saja mengepung lokasi.
Anak buah David bergerak cepat, membopong tubuh David dan Mili yang tak berdaya di tengah kebulan asap dan puing-puing pesawat yang menghitam.