Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Malam itu, ketika hampir seluruh penghuni kediaman Volans telah terlelap, Arina mengenakan jubah hitam panjang. Rambut ungunya diikat dengan sehelai kain hitam agar tidak mudah dikenali.
Setelah memastikan keadaan di luar aman, ia melompat keluar melalui jendela tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Dalam waktu singkat, sosoknya telah meninggalkan kediaman Volans. Ia kemudian menunggangi seekor kuda sewaan yang telah dipersiapkan sebelumnya dan memacunya menuju Pelabuhan Varendel.
Pelabuhan Varendel merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Kerajaan Elarion. Aktivitas di tempat itu tidak pernah benar-benar berhenti. Siang maupun malam, kapal-kapal dagang terus datang dan pergi, sementara para pekerja hilir mudik mengangkut berbagai barang.
Namun, ada satu tempat yang hampir selalu sepi dan jarang didatangi orang, yaitu Dermaga Ketujuh.
Tepat tengah malam, Arina tiba di dermaga tersebut.
Ia menambatkan kudanya pada salah satu tiang kayu, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dermaga yang diterangi cahaya temaram lampu dermaga.
Di sudut yang diselimuti bayang-bayang, ia melihat tiga sosok berdiri membelakanginya.
Dua di antaranya langsung dikenali Arina dari postur tubuh mereka. Mereka adalah dua tahanan yang pernah ia bebaskan.
Sementara itu, di antara keduanya berdiri seorang pria bertubuh tinggi, hampir setinggi Orion. Rambutnya yang hitam legam seolah menyatu dengan pekatnya malam.
Jadi... dia pemimpin Asosiasi Telaga Hitam? batin Arina.
Saat Arina tinggal beberapa langkah dari mereka, ketiga sosok itu berbalik.
Tatapan Arina langsung tertuju pada pria yang berdiri di tengah.
Wajahnya tertutup topeng tengkorak yang tampak menyeramkan, membuat identitasnya sama sekali tidak dapat dikenali.
"Sepertinya rumor bahwa pemimpin Asosiasi Telaga Hitam sangat peduli pada anggotanya memang benar. Kau benar-benar berani datang," ucap Arina sambil mencoba menebak wajah seperti apa yang tersembunyi di balik topeng itu.
"Huh!" Pria yang diduga sebagai pemimpin itu mendengus. "Dan kau juga cukup berani mengancam dua anggotaku."
Suaranya terdengar berat dan dalam, seolah dipaksa keluar dari dasar tenggorokannya.
Dia sengaja menyamarkan suaranya, batin Arina.
"Aku tidak mengancam mereka," balasnya tenang. "Mereka sendiri yang setuju keluar dari penjara dengan syarat yang kuberikan. Kalau mereka memilih tetap berada di balik jeruji, aku juga tidak akan melakukan apa pun."
Arina melangkah setapak lebih dekat. Ia mencoba menangkap sorot mata pria itu, tetapi bahkan kedua bola matanya pun tersembunyi di balik kegelapan topeng.
"Lepaskan tanda itu dari mereka," kata sang pemimpin dengan nada dingin.
"Kau salah jika mengira bisa mengaturku. Saat ini kendali ada di tanganku. Jadi, demi kebaikan kita semua, kaulah yang harus mendengarkan." Arina menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Pria itu menatap Arina cukup lama.
Tiba-tiba, sebuah belati kecil telah berada di tangan kanannya.
Dalam sekejap, ia melesat dan mengarahkan ujung belati itu tepat ke leher Arina.
"Lepaskan tanda itu atau kau mati malam ini."
Arina hanya melirik ujung belati yang berkilau dingin. "Kau tidak akan melakukannya."
"Apa kau begitu yakin?"
"Ya." Suara Arina tetap tenang. "Kalau benar kau ingin membunuhku, kau tidak akan datang ke sini bersama dua bawahanmu yang sebentar lagi akan kehilangan nyawa."
Tangan yang menggenggam belati itu bergetar tipis.
Ujung pisaunya menekan kulit leher Arina hingga meninggalkan goresan tipis. Setetes darah perlahan mengalir di kulit putihnya.
"Jangan terlalu percaya diri," ancam pria itu. "Aku bisa membunuhmu sekarang juga."
Arina tersenyum tipis.
"Seorang pembunuh tidak akan mengucapkan ancaman seperti itu. Begitu menemukan targetnya, ia akan langsung menikam tanpa banyak bicara." Tatapan birunya tetap lurus menatap topeng tengkorak di hadapannya.
"Jadi, jangan mencoba menggertakku." Arina berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang jauh lebih dingin. "Singkirkan pisaumu dan dengarkan aku... kecuali kau memang ingin menyaksikan kedua bawahanmu mati tanpa meninggalkan jasad."
Suasana di dermaga menjadi semakin sunyi, bahkan suara ombak yang tadi terdengar seolah hilang begitu saja.
Beberapa detik kemudian, pria bertopeng itu akhirnya menarik kembali belatinya.
Ia melangkah mundur satu langkah, memberi jarak antara dirinya dan Arina.
"Apa yang kau inginkan?" tanya pria itu dengan nada penuh permusuhan.
"Aku membutuhkan informasi." Arina melangkah ke tepi dermaga, memandang laut yang gelap membentang di hadapannya. "Carikan aku informasi tentang Canopus. Di mana mereka berada sekarang."
"Canopus?" Pria itu ikut mendekat hingga berdiri di samping Arina.
Sementara itu, kedua bawahannya hanya saling berpandangan. Beberapa saat yang lalu, kedua orang ini nyaris saling membunuh. Kini mereka justru berdiri berdampingan, berbicara dengan tenang.
"Ya," jawab Arina. "Aku ingin tahu di mana mereka berada."
"Jadi, kau juga salah satu orang yang memburu Canopus?" Nada suaranya berubah mengejek. "Apa kau berharap bisa mendapatkan kekuatan mereka?"
"Itu bukan urusanmu." Arina sama sekali tidak menoleh. "Berikan informasi yang kubutuhkan, lalu urusan kita selesai."
Pria itu terdiam cukup lama.
"Saat ini aku belum memiliki informasi apa pun tentang mereka. Namun, setelah kembali nanti, aku akan mengerahkan seluruh jaringan Asosiasi Telaga Hitam untuk mencarinya. Begitu menemukannya, aku akan menyerahkan semua informasi itu kepadamu."
"Butuh berapa lama?" tanya Arina singkat.
Pria itu kembali berpikir sejenak.
"Paling lambat dua bulan."
"Baik." Arina akhirnya mengangguk. "Kalau begitu, aku akan memperpanjang umur kedua bawahanmu selama dua bulan."
"Kau..."
Pria bertopeng itu kehilangan kata-kata.
Bagaimana mungkin ada orang yang memperlakukan nyawa manusia seolah hanya alat tawar-menawar?
"Aku tidak akan mengingkari janjiku," katanya tegas. "Aku pasti akan memberikan informasi selengkap mungkin. Jadi, bebaskan mereka sekarang."
Arina menoleh perlahan.
"Aku tidak mengenalmu." Tatapannya tetap datar. "Dan satu-satunya orang yang benar-benar kupercaya hanyalah diriku sendiri."
Setelah berkata demikian, ia berjalan menghampiri kedua mantan tahanan itu.
Cahaya ungu samar memancar dari telapak tangannya.
"Ulurkan tangan kalian."
Wanita paruh baya dan anak laki-laki itu saling berpandangan sesaat, lalu mengulurkan telapak tangan mereka, sama seperti ketika masih berada di penjara.
Arina menggenggam kedua tangan mereka, kemudian menempelkan telapak tangan keduanya menjadi satu. Cahaya ungu itu perlahan mengalir, menyelimuti tangan mereka dengan sinar redup yang tampak misterius.
...***...
...Like, komen dan vote ...