NovelToon NovelToon
Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Pernikahan Kilat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Iqamah berkumandang. Ganda melangkah maju ke mihrab untuk memimpin sholat sebagai imam, sementara Diaz mengambil saf di bagian jemaah perempuan, terpisah dari Laura dan Umi Maryam yang sengaja menjauhinya.

Ketika Ganda mulai mengangkat tangan dan melafalkan takbiratul ihram, dada Diaz bergemuruh hebat. Ini adalah sholat pertamanya setelah bertahun-tahun lamanya ia sengaja meninggalkan ibadah.

Sejak kematian sang ayah, dunianya runtuh, hatinya mati rasa, dan ia sempat merasa ditinggalkan oleh Tuhan hingga berhenti bersujud.

Ada bisikan di benaknya bahwa wanita kotor dan penuh dosa seperti dirinya tidak pantas berdiri di tempat suci ini.

Namun, di tengah gemetar tubuhnya, setitik keyakinan kuat muncul di hati Diaz: Allah Maha Pengampun, dan Dia pasti akan menerima taubatku.

Diaz mengikuti setiap gerakan sholat dengan khusyuk.

Air matanya luruh tanpa bisa dibendung di atas sajadah, membasahi seluruh beban batin yang selama ini ia pikul sendirian.

Setelah salam terakhir diucapkan, jemaah tidak langsung bubar.

Sesuai tradisi pondok, setelah sholat Maghrib berjemaah, seluruh santri dan pengurus membuka mushaf Al-Qur'an untuk mengaji bersama.

Diaz perlahan membuka Al-Qur'an kecil yang ia bawa.

Jarinya menyentuh lembaran ayat suci dengan ragu, sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka suara.

Di tengah riuh rendah suara ratusan santri, Diaz mulai melantunkan ayat demi ayat.

“Bismillahirrahmanirrahim...”

Suara Diaz yang awalnya bergetar karena sisa tangis, perlahan mengalun dengan sangat jernih, fasih, dan penuh penghayatan.

Nada makhraj dan tajwidnya begitu sempurna, berpadu dengan cengkok alami yang teramat indah dan menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.

Diaz mengaji sambil menangis, menumpahkan seluruh kerinduan dan rasa tobatnya kepada Sang Pencipta melalui ayat-ayat suci tersebut.

Satu per satu suara santri di sekitar Diaz mulai merendah, lalu berhenti.

Keheningan menjalar cepat ke seluruh penjuru masjid.

Ratusan santriwati yang tadinya memandang sinis, kini terbelalak tak percaya.

Umi Maryam dan Laura pun seketika membeku di tempat duduk mereka, wajah mereka memucat mendengar keindahan lantunan ayat dari mulut wanita yang baru saja mereka ejek "lupa bacaan sholat".

Di saf depan jemaah laki-laki, Abah Kiai—ayah Ganda—yang mendengar lantunan indah itu dari speaker dalam masjid, menghentikan dzikirnya.

Beliau memejamkan mata perlahan, menikmati setiap ketukan tajwid dari menantu pertamanya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kedamaian.

"Allah selalu adil..." bisik Abah Kiai teramat lirih, menyadari bahwa di balik penampilan luar dan masa lalu Diaz yang berantakan, wanita itu menyimpan permata iman yang luar biasa.

Sementara itu, Ganda yang masih duduk menghadap jemaah, merasakan dadanya sesak oleh haru.

Air mata Ganda menetes tanpa sadar, membasahi pipinya. Jantungnya bergetar hebat.

Pria itu benar-benar tidak menyangka bahwa wanita kota yang tempo hari hampir nekat pergi ke Gunung Kawi hanya untuk mencari ketenangan semu, ternyata memiliki keindahan suara dan kedalaman jiwa seperti ini saat kembali bersujud di hadapan Allah.

Malam itu, di dalam masjid yang sunyi, Diaz baru saja menampar kesombongan seisi pondok dengan cara yang paling elegan.

Kumandang adzan Isya memecah keheningan malam di dalam masjid Pondok Pesantren Al Ikhlas.

Jemaah yang tadinya tenggelam dalam tadarus dan dzikir kembali merapatkan saf mereka.

Ganda kembali memimpin jalannya shalat Isya dengan hati yang jauh lebih bergetar, terutama setelah mendengar lantunan ayat suci dari sang istri pertama.

Setelah seluruh rangkaian ibadah di masjid selesai, keluarga ndalem kembali ke rumah untuk menikmati makan malam bersama.

Suasana di meja makan terasa sangat canggung. Umi Maryam dan Laura makan dalam diam, kehilangan kata-kata setelah tamparan telak di masjid tadi.

Di tengah keheningan itu, Ganda meletakkan sendoknya perlahan.

Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan keputusan besar demi melindungi ketenangan hidup Diaz.

"Abah, Umi," buka Ganda, memecah kesunyian meja makan.

"Ganda ingin meminta izin untuk memboyong Diaz dan Laura tinggal di rumah baru mulai malam ini."

Mendengar hal itu, Umi Maryam langsung meletakkan gelasnya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dentingan.

"Mau pindah sekarang?! Ganda, adat di pondok kita ini, pengantin baru baru boleh keluar rumah setelah tujuh hari! Kenapa kamu buru-buru sekali?" protes Umi Maryam dengan nada tinggi, tidak rela putra tunggalnya menjauh dari jangkauan pengawasannya.

Ganda menatap ibunya dengan pandangan tegas namun tetap santun.

Ia tahu persis bagaimana Diaz diperlakukan di rumah ini sejak hari pertama, dan ia tidak ingin kesehatan mental istri pertamanya kembali ambruk akibat teror psikologis yang tiada henti.

"Maaf, Umi. Ganda rasa lebih baik kami segera mandiri," jawab Ganda pelan namun tidak bisa dibantah.

Abah Kiai yang sejak tadi diam, perlahan melirik ke arah Umi Maryam dengan sorot mata yang penuh wibawa—sebuah isyarat mutlak agar istrinya itu berhenti mendebat. Umi Maryam seketika menciut dan terbungkam.

Abah Kiai kemudian beralih menatap Ganda, lalu tersenyum sangat teduh ke arah Diaz.

"Abah setuju dengan keputusanmu, Ganda. Membina rumah tangga secara mandiri itu lebih baik. Anggap saja rumah baru itu adalah hadiah pernikahan dari Abah untuk kalian."

Beliau kemudian merogoh saku jubahnya, mengeluarkan dua buah amplop putih tebal berlogo khusus.

Beliau mengulurkan satu amplop kepada Laura, dan satu amplop lagi diletakkan tepat di hadapan Diaz.

"Ini sekadar bekal awal untuk kalian berdua menempati rumah baru."

Laura menerima amplopnya dengan senyum tipis, sementara Diaz menatap amplop di depannya dengan rasa haru yang membuncah.

Perlakuan adil dan penuh kasih dari Abah Kiai terasa bagai oase di tengah gurun pasir yang gersang bagi Diaz.

Diaz menganggukkan kepalanya dengan takzim, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

"Terima kasih banyak, Abah," ucap Diaz, suaranya terdengar tulus dan lembut, mengalirkan rasa hormat yang mendalam kepada sang mertua yang bijaksana.

Setelah itu ganda mengajak kedua istrinya untuk bersiap-siap menuju ke rumah baru.

Kepindahan itu benar-benar terlaksana. Ganda, Diaz, dan Laura akhirnya tiba di sebuah rumah baru bergaya minimalis modern yang terletak di luar area pondok pesantren.

Suasana di dalam rumah ini terasa asing bagi mereka bertiga, namun bagi Diaz, tempat ini setidaknya terasa jauh lebih longgar karena terbebas dari tatapan menghakimi dan tekanan psikologis dari Umi Maryam.

Setelah selesai merapikan sebagian barang bawaan hingga pukul delapan malam.

Ganda berniat mencairkan ketegangan yang masih tersisa di antara kedua istrinya.

Ia melangkah ke ruang tengah, menatap Diaz dan Laura bergantian.

"Ayo, kita keluar sebentar untuk beli martabak bersama. Sekalian kita beli beberapa keperluan rumah yang masih kurang," ajak Ganda dengan nada suara yang sengaja dibuat seringan mungkin demi membangun atmosfer yang hangat.

Namun, Diaz yang berdiri di dekat sofa langsung menggelengkan kepalanya perlahan.

Wajahnya tampak sedikit pucat, efek kelelahan fisik dan emosional dari rentetan kejadian kemarin rupanya mulai menagih haknya.

"Maaf, Ganda, aku tidak ikut," tolak Diaz dengan suara rendah.

"Kepalaku mendadak pusing sekali. Aku butuh istirahat total malam ini."

Ganda menatap istri pertamanya dengan guratan cemas yang tak bisa disembunyikan.

Ia melangkah satu langkah mendekat, memastikan kondisi Diaz.

"Pusing sekali? Ya sudah, kamu jangan dipaksakan. Nanti sepulang membeli martabak, aku belikan obat dan makanan untuk kamu, Diaz."

Diaz mengangguk lemah sebagai tanda terima kasih.

Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari Laura, ia membalikkan badan dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar utama.

Diaz merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memejamkan mata demi mengusir rasa berdenyut di pelipisnya.

Di ruang tengah, Laura yang sejak tadi diam diam-diam menyunggingkan senyum sinis yang teramat puas di dalam hatinya.

Baginya, rasa pusing Diaz adalah anugerah malam ini.

Baguslah kalau tahu diri dan pilih sembunyi di kamar, batin Laura bersorak girang.

Ia menganggap momen ini sebagai kesempatan emas yang sudah dinantikannya sejak kemarin: menghabiskan waktu berdua saja dengan Ganda di luar, menikmati makan malam romantis tanpa perlu berbagi perhatian dengan istri pertama.

Dengan gerakan cepat, Laura langsung merapikan jilbabnya dan bersiap menggelayut manja di samping Ganda.

1
merry yuliana
hmmmmm jangan bolak balik kak
sri hastuti
akhirnya ketemu, ayo diaz, pelan2 hilangkan trauma mu, ganda mencintaimu sungguh2 itu, ayo bangkit lg diaz, raih kebahagiaanmu kembali, umi yg kyk iblis sdh pergi, dan madumu jg sdh dicerai 🙏
sri hastuti
waduuh diaz, kenapa km buru2 keluar rumah sakit, ayo km hrs kuat hadapu semua, ganda sdh mencintaimu , 😭😭 ayo thor pertemukan kembali dng ganda ,kasihan diaz ,msh trauma dng umi yg kyk iblis kelakuannya 😡😡

😡😡😡😡😡😡😡😡
Elia Rosa
syukurin buat kalian berdua.. ibu mertua Dan menantu durjana🤭
sri hastuti
lanjuuttt thor sdh gak sabar topeng istri pemilik pondok yg spt iblis dibuka dan istri durhaka yg dengki di libas 😡😡😡
Elia Rosa
tambah seru NIH.. di tunggu kelanjutannya Thor 💪👍
sri hastuti
istri pemilik pondok kyk iblis ya, kelakuan nya , hiiihhh ngeri juga ,penuh tipu muslihat dan kejam , 😡😡😡😡
sri hastuti
ayo ganda kmnhrs tegas ,meski itu umi mu yg kelakuannya spt iblis, kyai jg hrs tegakkan keadilan ,meski itu istrimu ,yg sdh kyk iblis
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
sri hastuti
kelakuan umi kok kyk iblis 😡😡😡
Ana Yasrotin
Serius tanya..memang dipondok ada kelakuan se orang yg disebut umi dan dihormati py watak yg tdk manusiawi begitu 🤔
Ana Yasrotin
Terus terang thor dr awal novel saya br koment ini..saya bukan tipe orang yg suka dg novel genre poligami..tp sejauh ini saya ikuti alur cerita krn aktor pria tegas..semoga akhirx Ganda bisa memilih salah satu antara Diaz dan Laura krn mmg si Laura tdk pantas bersanding dg Ganda..mdhn diakhir cerita bs memuaskan pembaca 🙏
sri hastuti
bagus diaz, buka semua kedok kemunafikan mereka, terutama umi yg jd orang tua gak tau diri, cm ego saja yg dibesar besarkan, dan umi yg gak jd contoh baik 👍👍😡😡😡
sri hastuti
ahh lama2 pengen tak huhhh ,umi sm menantu laknat semua , thor , bikin jengkel aja, orang kok gak punya belas kasih, apalagi katanya umi , tp kelakuan e kyk 😡😡😡🤭
merry yuliana
💪💪💪😍👍🙏
Asra
Cerita kamu bagus, Kak. Bintang 5 nih, kayak kurang hhuhu, kamu berhasil bikin orang (terutama aku) bisa mendalami ceritamu, dibikin kesel, dibikin sedih, dan seterusnya^^✨

Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
sri hastuti
thor, aku kok jd jengkel dan mual dng kelakuan umi , gitu kok istri pemilik pondok to ??, trus anak didik e spt apa itu, ???? arogan ,apalagi laura itu. wanita yg bikin jengkel 😡😡😡
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
merry yuliana
ganda pdhl peluk obat termanjur buat diaz...ga salah sebuah pelukan utk hati yang patah...semangat crazy upnya kak...please crazy up banyakkan dikit boleh ya😍💪💪💪🙏👍
sri hastuti
bagus Abah,hrs tegas , umi nya juga ternyata spt itu, bikin 😡😡
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
sri hastuti
blm tentu ganda bisa adil dng 2 istri, kasihan biar lepas dari Ganda, kecuali Ganda bisa melindungi dng baik, kl tdk pendreritaannya semakin menjadi nanti 🙏🙏
sri hastuti
kasihan diaz thor, blm nanti menghadapi nyai nya ganda dan laura yg sdh punya rencana jahat, biarkan diaz bahagia thor, 🙏🙏🙏
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!