Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Iqamah berkumandang. Ganda melangkah maju ke mihrab untuk memimpin sholat sebagai imam, sementara Diaz mengambil saf di bagian jemaah perempuan, terpisah dari Laura dan Umi Maryam yang sengaja menjauhinya.
Ketika Ganda mulai mengangkat tangan dan melafalkan takbiratul ihram, dada Diaz bergemuruh hebat. Ini adalah sholat pertamanya setelah bertahun-tahun lamanya ia sengaja meninggalkan ibadah.
Sejak kematian sang ayah, dunianya runtuh, hatinya mati rasa, dan ia sempat merasa ditinggalkan oleh Tuhan hingga berhenti bersujud.
Ada bisikan di benaknya bahwa wanita kotor dan penuh dosa seperti dirinya tidak pantas berdiri di tempat suci ini.
Namun, di tengah gemetar tubuhnya, setitik keyakinan kuat muncul di hati Diaz: Allah Maha Pengampun, dan Dia pasti akan menerima taubatku.
Diaz mengikuti setiap gerakan sholat dengan khusyuk.
Air matanya luruh tanpa bisa dibendung di atas sajadah, membasahi seluruh beban batin yang selama ini ia pikul sendirian.
Setelah salam terakhir diucapkan, jemaah tidak langsung bubar.
Sesuai tradisi pondok, setelah sholat Maghrib berjemaah, seluruh santri dan pengurus membuka mushaf Al-Qur'an untuk mengaji bersama.
Diaz perlahan membuka Al-Qur'an kecil yang ia bawa.
Jarinya menyentuh lembaran ayat suci dengan ragu, sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka suara.
Di tengah riuh rendah suara ratusan santri, Diaz mulai melantunkan ayat demi ayat.
“Bismillahirrahmanirrahim...”
Suara Diaz yang awalnya bergetar karena sisa tangis, perlahan mengalun dengan sangat jernih, fasih, dan penuh penghayatan.
Nada makhraj dan tajwidnya begitu sempurna, berpadu dengan cengkok alami yang teramat indah dan menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.
Diaz mengaji sambil menangis, menumpahkan seluruh kerinduan dan rasa tobatnya kepada Sang Pencipta melalui ayat-ayat suci tersebut.
Satu per satu suara santri di sekitar Diaz mulai merendah, lalu berhenti.
Keheningan menjalar cepat ke seluruh penjuru masjid.
Ratusan santriwati yang tadinya memandang sinis, kini terbelalak tak percaya.
Umi Maryam dan Laura pun seketika membeku di tempat duduk mereka, wajah mereka memucat mendengar keindahan lantunan ayat dari mulut wanita yang baru saja mereka ejek "lupa bacaan sholat".
Di saf depan jemaah laki-laki, Abah Kiai—ayah Ganda—yang mendengar lantunan indah itu dari speaker dalam masjid, menghentikan dzikirnya.
Beliau memejamkan mata perlahan, menikmati setiap ketukan tajwid dari menantu pertamanya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kedamaian.
"Allah selalu adil..." bisik Abah Kiai teramat lirih, menyadari bahwa di balik penampilan luar dan masa lalu Diaz yang berantakan, wanita itu menyimpan permata iman yang luar biasa.
Sementara itu, Ganda yang masih duduk menghadap jemaah, merasakan dadanya sesak oleh haru.
Air mata Ganda menetes tanpa sadar, membasahi pipinya. Jantungnya bergetar hebat.
Pria itu benar-benar tidak menyangka bahwa wanita kota yang tempo hari hampir nekat pergi ke Gunung Kawi hanya untuk mencari ketenangan semu, ternyata memiliki keindahan suara dan kedalaman jiwa seperti ini saat kembali bersujud di hadapan Allah.
Malam itu, di dalam masjid yang sunyi, Diaz baru saja menampar kesombongan seisi pondok dengan cara yang paling elegan.
Kumandang adzan Isya memecah keheningan malam di dalam masjid Pondok Pesantren Al Ikhlas.
Jemaah yang tadinya tenggelam dalam tadarus dan dzikir kembali merapatkan saf mereka.
Ganda kembali memimpin jalannya shalat Isya dengan hati yang jauh lebih bergetar, terutama setelah mendengar lantunan ayat suci dari sang istri pertama.
Setelah seluruh rangkaian ibadah di masjid selesai, keluarga ndalem kembali ke rumah untuk menikmati makan malam bersama.
Suasana di meja makan terasa sangat canggung. Umi Maryam dan Laura makan dalam diam, kehilangan kata-kata setelah tamparan telak di masjid tadi.
Di tengah keheningan itu, Ganda meletakkan sendoknya perlahan.
Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan keputusan besar demi melindungi ketenangan hidup Diaz.
"Abah, Umi," buka Ganda, memecah kesunyian meja makan.
"Ganda ingin meminta izin untuk memboyong Diaz dan Laura tinggal di rumah baru mulai malam ini."
Mendengar hal itu, Umi Maryam langsung meletakkan gelasnya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dentingan.
"Mau pindah sekarang?! Ganda, adat di pondok kita ini, pengantin baru baru boleh keluar rumah setelah tujuh hari! Kenapa kamu buru-buru sekali?" protes Umi Maryam dengan nada tinggi, tidak rela putra tunggalnya menjauh dari jangkauan pengawasannya.
Ganda menatap ibunya dengan pandangan tegas namun tetap santun.
Ia tahu persis bagaimana Diaz diperlakukan di rumah ini sejak hari pertama, dan ia tidak ingin kesehatan mental istri pertamanya kembali ambruk akibat teror psikologis yang tiada henti.
"Maaf, Umi. Ganda rasa lebih baik kami segera mandiri," jawab Ganda pelan namun tidak bisa dibantah.
Abah Kiai yang sejak tadi diam, perlahan melirik ke arah Umi Maryam dengan sorot mata yang penuh wibawa—sebuah isyarat mutlak agar istrinya itu berhenti mendebat. Umi Maryam seketika menciut dan terbungkam.
Abah Kiai kemudian beralih menatap Ganda, lalu tersenyum sangat teduh ke arah Diaz.
"Abah setuju dengan keputusanmu, Ganda. Membina rumah tangga secara mandiri itu lebih baik. Anggap saja rumah baru itu adalah hadiah pernikahan dari Abah untuk kalian."
Beliau kemudian merogoh saku jubahnya, mengeluarkan dua buah amplop putih tebal berlogo khusus.
Beliau mengulurkan satu amplop kepada Laura, dan satu amplop lagi diletakkan tepat di hadapan Diaz.
"Ini sekadar bekal awal untuk kalian berdua menempati rumah baru."
Laura menerima amplopnya dengan senyum tipis, sementara Diaz menatap amplop di depannya dengan rasa haru yang membuncah.
Perlakuan adil dan penuh kasih dari Abah Kiai terasa bagai oase di tengah gurun pasir yang gersang bagi Diaz.
Diaz menganggukkan kepalanya dengan takzim, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Terima kasih banyak, Abah," ucap Diaz, suaranya terdengar tulus dan lembut, mengalirkan rasa hormat yang mendalam kepada sang mertua yang bijaksana.
Setelah itu ganda mengajak kedua istrinya untuk bersiap-siap menuju ke rumah baru.
Kepindahan itu benar-benar terlaksana. Ganda, Diaz, dan Laura akhirnya tiba di sebuah rumah baru bergaya minimalis modern yang terletak di luar area pondok pesantren.
Suasana di dalam rumah ini terasa asing bagi mereka bertiga, namun bagi Diaz, tempat ini setidaknya terasa jauh lebih longgar karena terbebas dari tatapan menghakimi dan tekanan psikologis dari Umi Maryam.
Setelah selesai merapikan sebagian barang bawaan hingga pukul delapan malam.
Ganda berniat mencairkan ketegangan yang masih tersisa di antara kedua istrinya.
Ia melangkah ke ruang tengah, menatap Diaz dan Laura bergantian.
"Ayo, kita keluar sebentar untuk beli martabak bersama. Sekalian kita beli beberapa keperluan rumah yang masih kurang," ajak Ganda dengan nada suara yang sengaja dibuat seringan mungkin demi membangun atmosfer yang hangat.
Namun, Diaz yang berdiri di dekat sofa langsung menggelengkan kepalanya perlahan.
Wajahnya tampak sedikit pucat, efek kelelahan fisik dan emosional dari rentetan kejadian kemarin rupanya mulai menagih haknya.
"Maaf, Ganda, aku tidak ikut," tolak Diaz dengan suara rendah.
"Kepalaku mendadak pusing sekali. Aku butuh istirahat total malam ini."
Ganda menatap istri pertamanya dengan guratan cemas yang tak bisa disembunyikan.
Ia melangkah satu langkah mendekat, memastikan kondisi Diaz.
"Pusing sekali? Ya sudah, kamu jangan dipaksakan. Nanti sepulang membeli martabak, aku belikan obat dan makanan untuk kamu, Diaz."
Diaz mengangguk lemah sebagai tanda terima kasih.
Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari Laura, ia membalikkan badan dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar utama.
Diaz merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memejamkan mata demi mengusir rasa berdenyut di pelipisnya.
Di ruang tengah, Laura yang sejak tadi diam diam-diam menyunggingkan senyum sinis yang teramat puas di dalam hatinya.
Baginya, rasa pusing Diaz adalah anugerah malam ini.
Baguslah kalau tahu diri dan pilih sembunyi di kamar, batin Laura bersorak girang.
Ia menganggap momen ini sebagai kesempatan emas yang sudah dinantikannya sejak kemarin: menghabiskan waktu berdua saja dengan Ganda di luar, menikmati makan malam romantis tanpa perlu berbagi perhatian dengan istri pertama.
Dengan gerakan cepat, Laura langsung merapikan jilbabnya dan bersiap menggelayut manja di samping Ganda.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡