NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.

Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.

Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Terungkapnya Kebenaran

Jari-jari Arga terasa dingin saat membuka sampul laporan setebal itu. Selama tujuh hari terakhir, ia hidup dalam siksaan batin yang tak tertahankan—berada di antara logika yang meminta bukti dan hati yang meronta ingin percaya. Setiap malam ia terbangun dengan bayangan air mata Laras yang menatapnya dengan rasa sakit dan kekecewaan. Ia berjanji pada dirinya sendiri, apa pun hasilnya, ia akan menghadapinya dengan kepala tegak.

Namun begitu matanya membaca kalimat pertama, darah di tubuhnya terasa berhenti mengalir sejenak. Semua tuduhan itu terbukti palsu—dibuat dengan sangat rapi namun menyisakan jejak yang tak terhapuskan oleh tangan ahli.

Laporan itu menjelaskan rinci demi rinci:

- Rekening bank yang tercatat atas nama Laras ternyata menggunakan dokumen identitas palsu. Tanda tangan di formulir pembukaan tidak cocok dengan spesimen asli yang tersimpan di lembaga resmi.

- Uang yang “masuk” ke rekening itu hanyalah transaksi melingkar—ditarik dari rekening perantara anonim, lalu dikembalikan lagi ke sumbernya hanya dalam hitungan jam, tidak pernah tersentuh atau dipindahkan ke rekening lain.

- Foto pertemuan itu adalah hasil rekayasa digital. Melalui analisis teknis, ditemukan bahwa bayangan, sudut cahaya, bahkan latar belakangnya telah dimodifikasi. Pria yang terlihat bersama wanita mirip Laras itu ternyata adalah mantan karyawan yang sudah dipecat karena kasus penipuan.

- Yang paling mencengangkan: jejak dana yang digunakan untuk membiayai pembuatan dokumen palsu dan membayar orang suruhan itu akhirnya dilacak hingga menuju ke sebuah rekening yang dikelola atas nama perusahan kecil milik keluarga Dimas.

Di bagian paling akhir laporan itu tertulis kesimpulan tegas: “Tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan keterlibatan Nyonya Laras. Seluruh rangkaian tuduhan ini adalah rencana terstruktur untuk menjatuhkan reputasinya dan merusak kepercayaan Tuan Arga.”

Lembaran kertas itu tergenggam erat di tangan Arga hingga ujung-ujungnya terlipat. Rasa lega yang luar biasa menyapu hatinya, namun segera digantikan oleh rasa malu dan penyesalan yang sedemikian hebatnya hingga membuat dadanya terasa sesak. Ia telah meragukan wanita yang memberinya ketulusan tanpa pamrih, wanita yang merawatnya saat sakit, wanita yang tidak pernah meminta apa pun selain diperlakukan adil. Keraguannya telah menjadi pisau yang ia tusukkan sendiri ke hati orang yang dicintainya.

“Bodoh… aku benar-benar bodoh!” gumam Arga dengan suara serak, matanya berkaca menahan rasa sesal. Ia membiarkan masa lalu yang pahit menguasai penilaiannya sendiri, mengabaikan semua bukti nyata ketulusan Laras hanya karena takut akan luka lama.

Tanpa membuang waktu sebentar lagi, Arga melesat keluar dari ruang kerjanya. Ia berlari menuju taman belakang, tempat ia tahu Laras sering menyendiri saat hatinya terasa berat. Dan benar saja, di bawah pohon beringin tua itu, ia melihat sosok istrinya duduk memandang ke arah kolam, bahunya terlihat sedikit membungkuk menahan kesedihan yang ia sembunyikan setiap hari.

Langkah kaki Arga terdengar, namun Laras tidak menoleh. Ia sudah terbiasa dengan sikap dingin itu selama seminggu terakhir. Hanya suara berat dan bergetar yang dipenuhi rasa sesal membuatnya membeku di tempat.

“Laras…” panggil Arga. Suaranya terdengar berbeda—lemah, penuh penyesalan, dan tanpa sedikit pun sisa keangkuhan atau keraguan.

Laras menoleh perlahan. Matanya sembab, jelas menandakan ia telah menangis banyak saat sendirian. Namun tatapannya tetap tenang, tidak menyalahkan, hanya menyimpan rasa lelah yang mendalam.

“Apakah sudah ada hasilnya?” tanya Laras pelan, suaranya bergetar sedikit. “Jika sudah terbukti aku bersalah, katakan saja. Aku akan menepati janjiku.”

Arga tidak sanggup bicara dulu. Ia melangkah cepat, lalu berlutut tepat di depan Laras—sikap yang tak pernah ia lakukan kepada siapa pun seumur hidupnya, bahkan kepada orang tuanya sekalipun. Tangannya menggenggam kedua tangan Laras erat, seolah takut wanita itu akan menghilang dari hadapannya.

“Maafkan aku… Laras, maafkan aku!” suaranya pecah, matanya meneteskan air mata penyesalan yang pertama kali mengalir setelah bertahun-tahun ia menahan perasaannya. “Aku bodoh, aku lemah, dan aku membiarkan ketakutan masa lalunya membuatku buta melihat kebenaran. Aku meragukan ketulusanmu, menyakiti hatimu, dan memperlakukanmu seolah kau adalah musuh. Aku tidak pantas mendapatkan kepercayaan dan cintamu.”

Laras tertegun kaku, matanya terbelalak melihat Arga yang berlutut di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa lega, terharu, dan sisa rasa sakit yang perlahan mencair mendengar pengakuan itu.

“Arga… bangunlah,” bisiknya sambil mencoba menarik tangannya. “Yang penting sekarang kebenarannya sudah terungkap. Aku tahu kau ragu bukan karena ingin menyakitiku, tapi karena luka yang kau bawa selama ini.”

“Tidak, tidak cukup hanya begitu,” potong Arga, menggeleng kuat. Ia menatap mata Laras dengan pandangan yang paling tulus dan jujur yang pernah ia tunjukkan. “Keraguan itu adalah kesalahanku. Aku telah melukaimu lebih dalam daripada tuduhan apa pun itu. Jika kau ingin marah, benci, atau bahkan meminta pergi dariku, aku akan mengerti dan menerima semuanya. Tapi kumohon… beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ini. Biarkan aku membuktikan bahwa aku bisa menjadi pria yang layak untukmu, selamanya.”

Air mata bahagia dan lega akhirnya meluncur membasahi pipi Laras. Ia merentangkan tangannya dan memeluk kepala Arga erat ke dadanya, membiarkan air matanya mengalir bebas.

“Aku tidak membencimu, Arga,” bisiknya lembut sambil mengusap rambut suaminya. “Karena aku tahu betapa beratnya perjuangan hatimu. Aku hanya takut jika rasa curiga itu akan terus menjadi tembok di antara kita. Tapi sekarang… selama kau percaya padaku lagi, aku sanggup melewati apa pun bersamamu.”

Pelukan itu terasa lebih kuat dan lebih bermakna daripada sebelumnya. Di situlah Arga belajar pelajaran terbesar dalam hidupnya: bahwa kepercayaan bukan berarti tidak pernah takut dikhianati, melainkan memilih untuk tetap percaya meski ketakutan itu ada—karena cinta lebih kuat daripada rasa sakit masa lalu.

 

Membongkar Rencana Jahat

Keesokan harinya, Arga tidak membiarkan pelakunya lepas begitu saja. Ia memanggil rapat darurat keluarga dan dewan direksi perusahaan. Di ruang pertemuan megah itu hadir semua orang penting—termasuk Bibi Ratna dan Dimas yang datang dengan percaya diri, berpikir rencananya telah berjalan sempurna.

Namun senyum mereka segera membeku saat melihat Arga masuk dengan wajah tenang namun menyimpan kemarahan yang terpendam. Di sampingnya berdiri Laras, terlihat tenang dan anggun, tanpa rasa takut sedikit pun.

“Rapat ini dipanggil untuk mengumumkan hasil penyelidikan atas tuduhan yang menyerang nama baik istri saya dan stabilitas perusahaan,” buka Arga dengan suara lantang dan tegas bergema di seluruh ruangan. “Selama ini ada yang berusaha memecah belah keluarga ini demi ambisi pribadi.”

Ia lalu memerintahkan sekretarisnya untuk memutar bukti lengkap—rekaman jejak transaksi, laporan teknis dokumen palsu, hingga rekaman percakapan rahasia antara Dimas dan orang suruhannya yang berhasil didapatkan tim penyelidik. Semua mata tertuju pada layar proyeksi, dan wajah Dimas berubah pucat pasi, lalu menjadi merah padam ketakutan.

“Semua ini fitnah!” teriak Dimas panik, mencoba membela diri. “Ini rekayasa untuk menjebakku!”

“Benarkah?” potong Arga dingin, tatapannya menusuk tepat ke arah keponakannya itu. “Jika tidak bersalah, mengapa uang untuk membayar penipu itu keluar dari rekening yang kau kendalikan? Mengapa saksi yang kau bayari mengakui semuanya saat diberi pilihan antara hukum atau keadilan?”

Suasana ruangan menjadi hening mencekam. Bibi Ratna mencoba bicara, namun suaranya tercekat melihat tatapan tajam Arga.

“Kalian berdua lupa satu hal,” lanjut Arga dengan nada dingin yang menusuk tulang. “Kalian bisa menipu logika, bisa memalsukan kertas, tapi tidak bisa memalsukan hati. Kalian mengira aku masih sama seperti dulu, dikendalikan rasa takut. Tapi kalian salah—ketulusan Laras telah mengajarkanku melihat kebenaran di balik segala topeng. Dengan ini, aku memecat Dimas dari semua jabatan di perusahaan. Semua hak waris dan fasilitas untuk kalian dicabut. Jika kalian berani mengulangi tindakan ini atau mengganggu Laras lagi, aku akan menyerahkan seluruh bukti ini ke kepolisian dan membiarkan hukum memutuskan nasib kalian.”

Dimas dan Bibi Ratna terduduk lemas, sadar bahwa semua ambisi mereka hancur berkeping-keping hanya karena kebenaran yang akhirnya terungkap. Mereka dikeluarkan dari ruangan itu dalam keadaan malu dan tak berdaya.

Setelah semua orang pergi, Arga kembali berdiri di samping Laras. Ia meraih tangan istrinya dan mencium punggung tangannya dengan penuh rasa hormat dan cinta.

“Terima kasih telah bertahan, terima kasih telah mengajariku cara mencintai dan percaya lagi. Mulai hari ini, tidak ada rahasia, tidak ada keraguan, dan tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi,” ucap Arga lembut namun tegas.

Laras tersenyum bahagia, senyum yang paling indah dan tulus yang pernah dilihat Arga. “Ya, Arga. Kita mulai lagi dari sini—bukan lagi dari paksaan, tapi dari kepercayaan yang telah diuji dan cinta yang telah ditempa oleh badai.”

Meskipun badai telah berlalu, kisah mereka masih berlanjut. Mereka tahu tantangan kehidupan belum usai, namun kini mereka berjalan berdampingan, dengan hati yang terbuka dan keyakinan bahwa cinta sejati mampu mengubah segalanya—bahkan awal yang paling pahit sekalipun bisa menjadi kisah terindah yang pernah ditakdirkan untuk mereka.

1
Lisa
Ceritanya menarik Kak
ayu ambara: maksih kk😍
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: oke Kak Ayu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!