Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di restoran, Yasmin sudah menyelesaikan pekerjaan, saat ini sedang di ruangan untuk ganti baju sebelum pulang. Baju gamis sudah melekat di tubuhnya. Warna hijau zamrud itu membuatnya tampak segar walau sudah lelah bekerja seharian.
Tok tok tok.
"Yasmin..." Panggil seorang wanita dari luar, mungkin salah satu teman kerjanya, karena mereka harus ganti baju secara bergantian.
"Sebentar..." jawab Yasmin sambil memasukkan baju seragam kotor ke dalam tas, kemudian membuka pintu.
Muncul Lila gadis yang seusia dengannya yakni 24 tahun, memberikan kotak yang dibungkus rapi.
"Apa ini La?" Yasmin hanya menunjuk benda di tangan Lila tanpa berniat untuk mengambilnya.
"Ini paket untuk kamu, Yas," Lila gemas karena Yasmin tidak segera menerima, ia pegang tangan kanan Yasmin meletakkan di telapaknya.
"Tapi aku nggak pesan apa-apa Lila, salah kirim kali..." Yasmin membolak balik kotak mencari alamat pengirim, tapi tidak ia temukan. Namun, nama dan alamat si penerima jelas dirinya.
"Mungkin dari penggemar rahasia Yas, sebaiknya kamu buka deh," saran Lila cekikikan, mentertawakan kata-katanya 'penggemar rahasia.
Yasmin duduk di kursi, seketika ingat kedua orang tuanya di Bandung, ia berharap pengirim paket itu beliau. Tetapi mana mungkin? Yasmin menepis pikirannya sendiri, karena merasa sudah benar-benar dibuang. Jika memang beliau masih menganggapnya anak, seharusnya sudah mencari sejak dulu, karena bukan hal yang sulit bagi orang tuanya. Ayah banyak uang dan bisa dengan mudah mengerahkan anak buahnya untuk menemukan.
"Yasmin, buka dong... kok malah melamun gitu," kata Lila menyadarkan Yasmin.
"Iya, aku buka."
Dengan ragu-ragu Yasmin membuka lapisan bungkus, kemudian membuka kotak dan ternyata berisi sebuah handphone.
"Wah, ini mah, handphone mahal Yas..." Lila membelalak kaget.
"Iya La, tapi dari siapa?" Yasmin bingung, bukan munafik ia membutuhkan benda itu, tapi jika suatu saat nanti pengirim minta timbal balik, itu yang Yasmin khawatirkan.
"Yas, siapapun pengirim handphone ini sebaiknya kamu terima," saran Lila. Dia tahu, Yasmin sangat membutuhkan benda itu agar bisa komunikasi dengan anak-anaknya.
"Iya sih La, tapi akhir-akhir ini aku jadi bingung. Coba kamu pikir deh, mana mungkin di jaman sekarang ada orang yang memberi tempat tinggal secara gratis? Padahal kami tidak saling mengenal," Yasmin menceritakan.
Rasa penasaran dengan rumah itu belum terjawab, seminggu yang lalu tiba-tiba ada orang yang melempar kertas melalui jendela. Begitu ia ambil ternyata amplop.Yasmin buka amplop tersebut ternyata isinya uang satu juta delapan ratus dan sama persis amplop yang ia berikan kepada bu Retno. Padahal Anjar sebelumnya sudah mengembalikan uang itu kepadanya.Yasmin yakin jika yang dikatakan bu Retno tentang preman itu benar adanya, tapi kenapa preman itu justru berpihak kepadanya?
"Aku yakin orang yang memberikan semua itu orang terdekat, Yasmin. Entah orang di masa lalu kamu, atau saat ini, coba ingat-ingat deh," Lila berspekulasi.
"Nggak tahu La. Sudah ya, aku mau pulang."
Yasmin memasukkan benda itu ke dalam tas kemudian keluar meninggalkan Lila. Tiba di lobi, Marco sudah bersandar di kursi.
Yasmin menatap Marco dari jauh, muncul pertanyaan di hatinya. Kenapa pria itu selalu mengejar-ngejar dirinya? Apa mungkin semua kejadian yang menimpa bu Retno akhir-akhir ini dia penciptanya? Andai saja Yasmin orang berduit, tentu saja akan membayar orang untuk menyelidiki. "Jangan-jangan rumah, dan handphone ini juga pria itu yang sudah mengatur."
Yasmin pura-pura tidak melihatnya terus berjalan, ketika pintu restoran terbuka secara otomatis, Marco tidak membiarkan Yasmin keluar.
"Tuan mau apa?!" Ketus Yasmin.
"Mau menjemput kamu," ucap Marco tersenyum, tapi Yasmin membuang pandangan ke luar.
"Yasmin, sekarang aku mau tanya, kenapa selama ini kamu benci sekali kepadaku? Oke, aku mengaku salah karena minta anak-anak untuk menyampaikan perasaan aku kepadamu. Untuk itu aku minta maaf, tapi izinkan aku untuk selalu mengantar jemput kamu, membantu kamu menjaga anak-anak."
"Anda sepeduli itu? Ada maksud apa?" Yasmin mengeluarkan kening.
"Mau menjadi supir kalian dan rela tidak dibayar," Marco tertawa.
Yasmin tersenyum miring.
"Sudah, naik yuk." lanjut Marco.
Yasmin tidak menolak lagi, akan ia lihat sampai di mana keikhlasan pria itu untuk menjadi supir tanpa dibayar seperti yang dia katakan.
Pintu mobil depan di buka oleh Marco seperti supir pada umumnya, begitu Yasmin naik, Marco berputar dan masuk melalui pintu samping.
Yasmin tidak menyadari bahwa di belakang dua anaknya menutup mulut agar tawanya tidak pecah, tujuannya mengejutkan Yasmin. Kendaraan pun akhirnya menembus jalanan lebar hingga beberapa detik kemudian di dalam mobil tetap hening.
“Bundaaaa…!”
Fatir dan Fathia serentak berseru, tawa lebar membuat suasana mendadak ramai.
"Kalian..." Yasmin seketika menoleh ke belakang, terbelalak tak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka kedua buah hatinya ikut serta dalam perjalanan ini. Hatinya yang sempat membeku mendadak lumer.
Yasmin menoleh Marco minta jawaban.
"Tadi aku sengaja menjemput anak-anak," Marco tahu apa yang Yasmin pikirkan. Ia tersenyum tipis, berharap Yasmin tidak akan marah kepadanya.
Yasmin terdiam, mana mungkin bisa marah lagi saat melihat wajah polos anak-anaknya yang tersenyum cerah.
"Bunda, Om kan menjemput kami ke sekolah, terus kita main di kontrakkan sampai sore," papar Fatir.
"Besok... Om Marko juga mau antar kita pindahan, Bun. Iya kan, Om?"
Yasmin menoleh ke belakang, menatap si kembar gemas, padahal alasan pindah ingin menghindar dari Marco.
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau