NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Jatuh Ke Pelukan

"Bisa ambilkan berkas itu," perintah General Manager pada Arin yang baru saja sampai di ruangannya.

Arin mengikuti perintah itu, mengambil berkas itu di meja General Managernya dan memberikannya padanya yang sedang duduk di sitting area ruang kerja. Setelah Arin memberikannya Arin masih tetap berdiri di samping General Manager.

"Pak kenapa saya dipanggil ke sini? Apa ada yang ingin bapak sampaikan?" tanya Arin yang merasa bingung karena dia baru saja mendapat pesan untuk memintanya ke kantor General Manager.

"Duduklah dulu, aku ingin menanyakan sesuatu," ucap General Manager sambil membuka berkas yang ada di tangannya lalu membacanya.

Arin mengikuti perintah itu dan duduk di sofa depan General Manager, duduk tegap seakan menunggu aba-aba untuk perintah selanjutnya.

"Aku sebenarnya sedang bingung pada laporan yang kau berikan, aku ingin kau menjelaskannya," ucap General Manager, dia segera bangkit dari duduknya dan pergi duduk di samping Arin.

Arin merasa sedikit tidak nyaman akan itu tapi dia tetap berpikir positif, General Manager itu mendekatkan berkas itu pada Arin dan jarak mereka berdua semakin dekat.

"Aku akan membacanya sendiri pak," ucap Arin cepat dan langsung meraih berkas itu dari tangan General Managernya.

"Jika kau membacanya sendiri bagaimana kau menjelaskannya padaku?" jawabnya dan kembali lebih dekat dengan Arin dia mencoba membaca laporan yang ada di tangan Arin menarik berkas itu lebih dekat dan mencondongkan wajahnya semakin dekat, Arin refleks berdiri dengan gerakan cepat tangannya masih dengan erat menggenggam berkas di tangannya.

"Ada apa?" tanya General Manager dengan suara tenangnya.

"Tidak.. aku, maksud saya. Saya akan memeriksa laporan ini sebentar pak, lalu saya akan menjelaskannya," ucap Arin terbata-bata.

General Manager diam menatap Arin sejenak. "Baiklah, kau boleh keluar. Jelaskan padaku nanti."

"Baik Pak," Arin membungkuk sedikit lalu segera pergi dengan langkah cepat.

"Ibu Arin?" tegur resepsionis yang ada di depan kantor General Manager karena melihat Arin diam membeku di depan pintu. "Ada apa? Apa ibu sakit?" tanyanya lagi ia mendekat dan memperhatikan wajah Arin yang sudah pucat.

"Tidak.. aku.., iya kepalaku sedikit sakit," jawab Arin kembali tersadar.

"Sepertinya ibu sangat sakit, wajah ibu sangat pucat. Apa ibu butuh bantuan?" resepsionis itu semakin prihatin melihat Arin bahkan ia melihat tangan Arin yang gemetar.

"Tidak, tidak perlu. Terimakasih.. aku harus kembali bekerja," jawab Arin dengan suara sedikit gemetar. Arin dengan langkah cepat menuju lift, menekan tombolnya lalu segera pergi dari sana.

Saat keluar dari lift langkah Arin cepat ingin segera keluar dari Hotel untuk menenangkan diri, tapi langkahnya terhenti saat seorang Pramutama memanggilnya.

"Bu Arin.. ibu Arin.."

Arin berbalik dan menoleh. "Ada apa?" tanya Arin dengan suara yang berusaha dia buat setenang mungkin.

"Bu Arin, ada yang mencarimu," jelasnya.

"Mencariku?" tanya Arin penasaran.

"Benar, Bu, mereka ada di sana," Pramutama itu menunjuk ke salah satu meja di dekat jendela. Ada tiga orang pria, kira-kira berumur empat puluh tujuh tahun, dan dua dari mereka terlihat masih muda. Arin mengenali salah satu dari mereka, seketika ia menjadi gelisah.

"Bu, Ibu Arin, tidak apa-apa?" tanya Pramutama, yang melihat wajah Arin pucat.

"Bisa berikan berkas ini kepada kasir, beritahu mereka untuk menyimpannya sebentar." Arin memberikan dokumen itu, lalu tanpa melihat ke Pramutama, matanya terus tertuju ke tiga orang itu.

"Baik…" Setelah Pramutama pergi, Arin memberanikan diri berjalan menuju ketiga pria itu.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Arin.

Pria berumur empat puluh tujuh tahun itu langsung berdiri saat melihat siapa yang datang.

"Lihat ini, siapa yang datang. Kenapa kau terus mengabaikan pesanku? Apa kau berusaha untuk kabur? Kenapa selama tiga bulan ini kau tidak membayar hutangmu?" tanyanya, lalu semakin mendekat, tepat di depan Arin. Arin langsung mundur beberapa langkah.

"Aku dipecat di pekerjaan lamaku. Aku baru mendapatkan pekerjaan lagi di sini, baru beberapa hari. Aku akan membayar jika sudah mendapat uang, aku tidak akan kabur. Tapi jika kalian mengganggu pekerjaanku, maka kalian tidak akan mendapat uang," jelas Arin, menegaskan ancamannya.

"Baiklah… kita pergi," ucap pria paruh baya itu kepada kedua temannya yang lain. Sebelum pergi, ia mendekat ke Arin, memegang kedua lengan Arin dengan erat, dan menempatkan wajahnya tepat di telinga Arin.

"Jangan membuat kami mencarimu lagi. Karena kau terlambat membayar selama tiga bulan, bunga hutang ayahmu sudah bertambah. Dan jika kau terlambat lagi, bunganya akan terus bertambah. Kau mengerti?" ia melepaskan genggamannya, lalu segera akan pergi. Tapi sebelum benar-benar pergi, ia kembali menatap Arin yang masih mematung di tempatnya.

"Bayarkan kopi dan minuman kami," ucapnya tersenyum, menepuk pelan lengan Arin lalu pergi dari sana.

Arin terdiam, tetap mematung di tempat. Ia berusaha menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan dengan suara yang berat. Setelah itu, ia berbalik hendak kembali ke restoran. Namun, saat ia menoleh, ia melihat General Manager sudah berdiri di sana, yang berarti pria itu melihat semuanya.

Arin segera menghampiri General Manager, menundukkan kepalanya sebentar sebagai tanda hormat, lalu menyapanya. Tapi General Manager hanya diam, tanpa berkata apa-apa, ia pergi meninggalkan Arin. Sedangkan Arin tetap berdiri di tempat, berusaha mengabaikan kejadian itu dan berniat kembali ke restoran.

...*****...

Suara hiruk-pikuk restoran tak juga berhasil menarik perhatian Arin dari lamunannya. Matahari sudah lama terbenam, meski tak terlihat dari dalam ruangan ini. Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul delapan malam, bahkan waktu yang begitu lama berlalu tak kunjung menyadarkannya. Kasir yang sejak tadi memperhatikannya pun seolah tak berani menegur.

Bzzzt..Bzzzt.. Bzzzt..

Suara ponsel Arin yang terus bergetar menarik perhatian kasir. Ia sedikit melirik ponsel itu dan nama General Manager terpampang di sana. Mau tak mau ia akhirnya menyadarkan Arin.

"Bu Arin.. Ibu Arin.." karena Arin tak kunjung merespon ia akhirnya sedikit menyentuh dan menggoyangkan pelan tangan Arin.

"Hah..? Ada apa?" jawabnya linglung melihat ke arah kasir.

"Bu, ponsel ibu dari tadi berdering sepertinya ibu tidak mendengarnya," jelas kasir tersebut sambil melirik ponsel Arin.

Arin melihat ponselnya lalu mengambilnya, ia memberi isyarat pada kasir agar sedikit menjauh kasir itu memahaminya lalu ia menjauh.

Arin melihat layar ponselnya dan nama General Manager terpampang di sana. Sejak kejadian tadi siang Arin terus merasa gelisah, dengan berat hati ia mengangkat panggilannya.

"Baik Pak, saya datang." Arin menutup ponsel itu dan bersiap untuk pergi ke kantor General Manager seperti yang diperintahkannya.

Arin sudah berada di depan pintu, tapi langkahnya terasa berat untuk masuk ke dalam. Ia melihat sekeliling, para sekretaris yang biasanya menjaga di depan kantor juga sudah pulang, karena memang sudah jam pulang. Arin menarik napas dalam-dalam, memberanikan diri, lalu dengan keberanian mendorong pintu itu dan masuk ke dalam.

"Pak," Arin menundukkan sedikit kepalanya memberi hormat.

"Duduklah…" perintah General Manager. Ia melirik Arin sekilas sebelum kembali menata dokumennya di meja.

Arin pun mengikuti perintah itu dan duduk dengan yakin. Tak lama kemudian, General Manager bangkit, menghampiri Arin, lalu duduk di kursi tepat di depannya.

"Bagaimana dengan laporan tadi? Jelaskan padaku," terang General Manager, terus menatap lekat Arin.

Arin menyadari pandangan itu. Mereka bahkan sempat bertatapan beberapa detik, lalu Arin segera mengalihkan pandangannya ke bawah.

"Saya minta maaf, Pak. Saya belum sempat memperbaikinya hari ini. Besok pagi laporannya sudah akan selesai, saya akan segera memberikannya," jelas Arin, tetap menundukkan kepalanya.

General Manager masih diam menatap Arin.

"Ambil juga dokumen itu, perbaiki, lalu berikan padaku besok," ucapnya.

Arin mengangkat kepalanya dan melihat ke arah meja General Manager. Ia melihat secercah harapan untuk segera pergi.

"Baik, Pak," Arin segera berdiri dan ingin mengambil dokumen itu.

Saat tepat di depan meja dan hendak mengambil dokumennya, kedua tangan General Manager tiba-tiba memeluknya dari belakang. Arin meronta dan ingin melepaskan pelukan itu, tapi tangan pria berusia 45 tahun itu begitu erat memeluknya.

"Pak… tolong lepaskan aku. Aku mohon…" suara Arin bergetar. Sekujur tubuhnya menegang, tangannya berusaha melepaskan pelukan itu, tapi pelukan itu semakin erat.

"Bukankah kau menyukainya…" General Manager meletakkan kepalanya di leher Arin dan mencium lehernya.

Arin menggeliat sekuat tenaga agar bisa terlepas, tangannya berusaha keras melepas pelukan itu, bahkan berteriak. "TOLONG! TOLONG AKU! TOLONG!!!" Namun suara teriakan dan tangisannya tidak cukup keras untuk menembus tembok yang tebal itu.

"Kenapa kau menangis… bukankah kau juga menikmatinya? Daripada bersama pria jalanan, lebih baik bersamaku. Aku akan memuaskanmu… aku juga akan memberimu uang," ia mencoba mencium kembali leher Arin, tangannya yang sudah mencoba membuka kemeja Arin.

Arin dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan diri. Matanya menyapu sekitar, berusaha mencari sesuatu, dan tatapannya tertuju pada plakat di atas meja. Dengan susah payah, Arin meraihnya dan berhasil. Dengan gerakan cepat, ia membenturkan plakat itu tepat di kepala General Manager, mengenai pelipis kirinya.

"Argh!!"

Pelukan itu terlepas. Arin mendorongnya sampai tersungkur di lantai dan dengan cepat berlari dari ruangan itu menuju lift. Tangannya menekan tombol lift terus-menerus hingga pintu terbuka. Ia dengan cepat menekan sembarang tombol dan akhirnya pintu lift tertutup.

Sekujur tubuh Arin bergetar hebat, air matanya terus mengalir.

Ting..

Begitu pintu lift terbuka, dengan cepat ia keluar, berlari tanpa peduli sekitar.

Brak!

Arin hampir terjatuh, tubuhnya baru saja menabrak seseorang, membuatnya kehilangan keseimbangan. Tapi pria yang ditabraknya dengan cepat meraih tangan Arin, membuatnya jatuh ke pelukannya.

"Aaaaaah! Tolong..! Tolong..!" Arin masih menutup matanya, tangannya mencoba mendorong pria itu dengan kuat.

"Ada apa? Kau kenapa? Arin!?" panggilan itu cukup keras. Tangannya juga memegang tubuh Arin yang memberontak.

Arin akhirnya membuka matanya.

"Pak Nathan.." ucapnya lirih lalu kesadaran Arin hilang, tubuhnya jatuh ke pelukan Nathan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!