Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertanya pada Arsen!
Pagi itu, sinar matahari sudah menerobos pelan melalui celah tirai kamar Rindu dan Arsen, membiaskan cahaya keemasan yang biasanya hangat.
Namun, bagi Rindu, udara di dalam ruangan justru terasa sedingin es. Tangannya melayang perlahan, meraih dua ujung kain sutra biru tua yang melingkar di leher Arsen. seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi selama tiga tahun pernikahan mereka.
Arsen berdiri tegap di depannya, menatap wajah istrinya dengan senyum tipis yang biasa ia pamerkan.
Tatapan matanya teduh, seolah tak ada satu pun beban atau rahasia yang ia sembunyikan di balik kemeja putihnya yang klimis.
"Mas, aku mau tanya sesuatu," kata Rindu pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan kamar. matanya menatap fokus pada simpul dasi di dada Arsen.
Arsen terkekeh kecil, membelai lembut puncak kepala Rindu dengan salah satu tangannya.
"Apa, sayang? Kamu mau tanya apa? Kok mukanya serius banget pagi ini?" tanyanya manja, sama sekali tak menangkap nada ganjil dalam intonasi Rindu.
Rindu menghentikan gerakan tangannya. Ia menarik napas panjang, meresapi udara yang terasa sesak.
Pertanyaan itu sudah bersarang di kepalanya sejak semalam, merayap bagai racun yang perlahan membunuh rasa percayanya.
Dia tidak bisa lagi menyimpan tanda tanya besar yang menari-nari di hatinya. Keheningan yang menyiksa ini harus segera diakhiri.
Ia akhirnya mendongak, menatap lurus ke dalam iris mata Arsen.
"Mas, semalam kamu benaran lembur?" tanya Rindu, suaranya begitu tenang namun sarat akan kehati-hatian.
Tanpa ragu sedikit pun, raut wajah Arsen tetap tenang. Ia tersenyum, menyentuh dagu Rindu dengan hangat.
"Iya, sayang. Semalam aku lembur. Pekerjaan di kantor lagi menumpuk banget, ada kekacauan yang membuat pekerjaan jadi menumpuk. Kenapa, hm? Kamu kesepian ya ditinggal semalam?"
Rindu menatap mata itu dalam-dalam, mencari celah kebohongan yang mungkin tersirat, namun Arsen terlalu lihai mengemas kata-katanya.
Hati Rindu berdenyut nyeri. Ia berharap Arsen akan jujur, tetapi suaminya justru memilih untuk terus melangkah di atas kebohongan yang sama.
Rindu menghembuskan napas pelan. Jarinya perlahan terlepas dari dasi Arsen, menyisakan jarak dingin di antara mereka berdua.
"Tapi..." Rindu menggantungkan kalimatnya. Pandangannya tak lagi selembut tadi.
"Papa bilang, perusahaan baik-baik aja, nggak ada masalah."
Deg!
Jantung Arsen langsung terpacu hebat. Rasa hangat yang tadi melingkupi dadanya mendadak menguap, berganti dengan hantaman kepanikan yang luar biasa.
Kalimat Rindu yang meluncur mulus bak sembilu itu telak menghantam kesadarannya. Papanya, pemilik utama perusahaan tempat Arsen menjabat sebagai Ceo, tentu tahu betul seluruh arus kas dan kesibukan operasional kantor hingga detail terkecil.
Senyum di bibir Arsen mendadak beku. Darahnya terasa berhenti mengalir ke wajah, meninggalkannya dalam pucat pasi yang tak bisa ia sembunyikan.
Tenggorokannya mendadak kering, seolah-olah seluruh pasokan udara di dalam kamar mendadak disedot keluar.
"K...kamu... kamu tanya Papa?" Arsen bersuara, namun suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, terdengar serak, bergetar, dan kehilangan kepercayaandiri yang tadi sempat ia pamerkan.
"Nggak, tapi saat aku bilang kamu lembur karena ada masalah di perusahaan, Papa langsung bilang nggak ada masalah apapun di perusahaan," potong Rindu tenang, namun setiap katanya terasa menghujam.
Dengan cepat Arsen memutar otak mencari kebohongan secepatnya yang bisa menjadi temeng pelindung agar rindu tak curiga padanya.
Arsen memejamkan mata sekejap, berusaha menutupi kepanikan yang membakar dadanya.
Otaknya bekerja keras memutar skenario baru dengan kecepatan tinggi. Kebohongan soal rumah sakit atau teman sakit terlalu gampang meleset jika Rindu berniat mengeceknya.
Ia butuh alibi yang masuk akal, berhubungan langsung dengan kantor, namun tetap bisa menjelaskan kenapa sang ayah tidak tahu apa-apa.
Saat membuka mata kembali, raut wajah Arsen berubah. Kepanikan yang sempat membeku di wajahnya perlahan mencair, digantikan oleh ekspresi cemas yang tertata amat rapi.
Ia menarik napas panjang, memasang wajah seorang pemimpin yang sedang menanggung beban amat berat sendirian.
"Astaga, Rindu... maafin mas," ujar Arsen dengan suara melemah, sengaja dibuat serak dan sarat kelelahan.
Ia memegang kedua bahu Rindu, menatap tepat ke dalam manik mata istrinya.
"Aku nggak berniat membohongi kamu. Tapi keadaan kantor memang lagi nggak baik-baik aja."
Rindu alisnya bertaut.
"Maksud kamu apa, Mas? Papa bilang jelas-jelas nggak ada masalah."
"Justru itu masalahnya, sayang," potong Arsen cepat, memangkas jarak di antara mereka agar tampak sangat bersungguh-sungguh.
"Papa nggak tahu, dan aku emang sengaja nggak melaporkan hal ini ke Papa."
Arsen menghela napas berat, seolah baru saja melepaskan beban raksasa dari pundaknya. Ia menunduk sejenak sebelum kembali menatap Rindu.
"Kalau Papa sampai tahu tentang masalah yang dialami perusahaan, tekanan darahnya bisa naik lagi dan jantungnya bakal drop. Kamu tahu sendiri gimana kondisi kesehatan Papa akhir-akhir ini, kan?"
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, memperlihatkan gestur frustrasi yang begitu meyakinkan.
"Aku nggak bisa membiarkan Papa stres karena masalah begini. Makanya semalam, aku minta manajer inti buat kerja tertutup. Aku bahkan melarang keras semua pegawai untuk melapor atau menceritakan ini ke Papa sampai masalahnya benar-benar tuntas."
Arsen meraih kedua tangan Rindu yang dingin, menggenggamnya erat-erat seolah memohon pengertian.
"Aku sendirian menanggung beban ini dari semalam, Rindu. Aku cuma nggak mau bikin kamu cemas, dan aku nggak mau bikin Papa masuk rumah sakit cuma karena masalah kantor yang masih bisa aku selesaikan sendiri. Maafin aku kalau cara aku ini bikin kamu salah paham."
Kalimat demi kalimat meluncur begitu mulus dari bibir Arsen, terbungkus rapi oleh narasi sosok anak yang berbakti dan suami yang bertanggung jawab.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰