Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di ruang tamu rumah Roy, suasana terlihat hangat seperti biasa. Apalagi Sintia baru saja dipulangkan dari rumah sakit, mereka berkumpul bersama layaknya sebuah keluarga harmonis. Roy duduk di samping Sintia, sementara ketiga anaknya mengelilingi wanita itu seolah takut ia kelelahan sedikit saja.
"Tante istirahat total ya, jangan kecapekan," ucap Arjun dengan nada penuh perhatian.
Sintia tersenyum lembut. "Iya, sayang. Makasih."
Roy ikut mengangguk. "Dokter juga bilang begitu. Untuk sementara kamu harus banyak istirahat."
"Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa kalian," balas Sintia lirih. Matanya tampak berkaca-kaca, seolah benar-benar terharu oleh perhatian yang diberikan kepadanya.
Selama dua hari terakhir, wanita itu berhasil kembali menjadi pusat perhatian ke empat lelaki itu. Dengan wajah sendu dan cerita-cerita lama tentang bagaimana ia pernah menyelamatkan Roy serta anak-anaknya, Sintia perlahan mengembalikan posisi yang sempat tergeser. Dan cara itu terbukti sangat efektif. Roy dan ketiga putranya kembali memusatkan perhatian kepadanya. Bahkan Roy tidak lagi membahas Rani ataupun berusaha mencarinya.
Namun di balik senyum lembut yang terus ia tampilkan, mata Sintia diam-diam menyapu seluruh ruangan. Ia mencari sosok Rani. Setidaknya, ia ingin melihat wanita itu duduk sendirian dengan wajah terluka karena orang-orang yang selama ini disayanginya kini lebih memilih berada di sisinya.
Sayangnya, harapan itu tidak terwujud.
"Kak Rani ke mana?" tanyanya akhirnya dengan nada hati-hati. "Apa dia masih bersama anak itu?"
Beberapa hari terakhir Sintia sengaja menahan diri untuk tidak membahas Rani. Tidak ada sindiran, tidak ada provokasi, bahkan ia tampak jauh lebih tenang dari biasanya. Karena itulah pertanyaannya sekarang terdengar begitu wajar.
"Tante tenang saja," sahut Arlan sambil tersenyum tipis. "Sebentar lagi Tante dapat kejutan."
Ucapan itu membuat Roy mengernyit curiga.
"Kejutan apa?"
Arlan langsung menyadari kesalahannya. Sebelum sempat menjawab, Aksan lebih dulu menyela.
"Tidak ada, Pa."
Ia menyandarkan tubuh ke sofa sambil memainkan ponselnya, berusaha terlihat santai. Namun sesekali sudut bibirnya terangkat tipis ketika membayangkan apa yang seharusnya sedang terjadi pada Rani saat ini. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, mungkin wanita itu sudah terkapar di rumah sakit dengan tubuh penuh luka.
Di sisi lain, Arlan beberapa kali melirik jam tangannya. Ia menunggu kabar dari orang-orang yang mereka sewa dengan perasaan tidak sabar.
Hanya Arjun yang tampak berbeda. Semakin waktu berlalu, semakin kuat perasaan tidak nyaman yang mengusik hatinya. Entah mengapa, sejak tadi dadanya terasa sesak seolah sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Tante mau minum?" tanyanya tiba-tiba.
Sintia mengangguk pelan. "Boleh."
Tanpa menunggu lebih lama, Arjun segera berdiri dan melangkah menuju dapur untuk mengambilkan segelas air. Ia berharap kesibukan kecil itu bisa mengalihkan kegelisahan yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, suara pintu utama yang terbuka membuat seluruh perhatian di ruang tamu beralih ke arah yang sama.
Sosok Rani yang muncul di ambang pintu seketika membuat Arjun membeku.
Wanita itu melangkah masuk dengan tenang, masih mengenakan pakaian yang sama seperti yang dilihat mereka tadi. Tidak ada luka, tidak ada memar, bahkan tidak terlihat sedikit pun tanda-tanda bahwa sesuatu telah terjadi padanya.
Aksan dan Arlan refleks berdiri dari duduk mereka. Arjun yang semula hendak ke dapur pun tanpa sadar berbalik dan berdiri di samping kedua kakaknya.
"Tidak ada yang terjadi pada Mama, Kak?" bisik Arjun dengan wajah pucat.
Aksan tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada Rani yang terus berjalan mendekat.
"Iya... ini tidak mungkin," gumam Arlan dengan rahang menegang. "Apa para preman itu gagal?"
"Melihat wajah Mama, sepertinya dia sedang marah," bisik Arjun lagi.
Jantungnya mulai berdegup semakin cepat.
"Apa jangan-jangan Mama tahu tentang perbuatan kita?" tambah Arlan.
Untuk sesaat, Aksan ikut dilanda keraguan. Namun ia segera menepisnya dan berusaha mempertahankan ketenangan di depan kedua adiknya.
"Kalian tenang saja," katanya pelan. "Kalaupun Mama tahu, memangnya dia bisa apa? Mama sayang sama kita. Dia tidak akan melakukan hal aneh."
Meski berkata demikian, tatapannya tidak pernah lepas dari Rani yang kini semakin dekat.
"Lagian, Ar," lanjutnya, berusaha terdengar santai, "ini kan ide kamu juga. Kenapa sekarang malah ketakutan?"
Arlan menelan ludah. "Aku pikir semuanya akan berjalan sesuai rencana. Tapi sekarang Mama..."
Kalimatnya terputus begitu saja. Rani sudah berdiri tepat di hadapan mereka. Tidak ada senyum di wajah wanita itu dan tidak ada kemarahan yang meledak-ledak pula. Justru ketenangan itulah yang membuat ketiga bersaudara itu merasa semakin tertekan.
Tatapan Rani menyapu wajah mereka satu per satu, dingin dan tajam. Wanita itu berdiri tegak dengan aura yang membuat ruang tamu mendadak terasa sesak.
"Ada yang ingin kalian katakan padaku?" tanya Rani pelan.
Suaranya tidak keras. Justru karena terlalu tenang, pertanyaan itu terasa seperti tekanan yang menghantam langsung ke dada ketiga putra angkatnya itu.
Sintia yang melihat kecemasan di wajah ketiga anak Roy langsung menyela. "Kak Rani, ada apa ini? Kenapa kamu membuat anak-anak Mas Roy ketakutan?"
Tanpa menoleh ke arah Sintia dan masih fokus pada ketiga pemuda di depannya, Rani menjawab, "Jika mereka tidak melakukan kesalahan, tentu saja mereka tidak akan ketakutan."
Roy yang sejak tadi masih duduk tenang di sofa langsung bangkit lalu menghampiri Rani dan memegang bahunya.
"Ran, cukup. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik. Mereka masih kecil."
Rani hanya melirik tangan Roy yang bertumpu di bahunya. Setidaknya, baru dua hari tidak bertemu dan tidak berdebat, ia merasa nada suara Roy berubah. Sikap pria itu juga terdengar sedikit lebih lembut.
Hampir saja sebagian dirinya terharu oleh perubahan kecil tersebut. Namun Rani segera menggelengkan kepala, menepis pikiran itu.
"Mereka masih kecil?" ulangnya. "Apa kamu buta, Roy? Mereka sudah besar. Yang paling tua bahkan sudah cukup mampu menggunakan otaknya sendiri."
"Ran, aku rasa sekarang kamu selalu berbicara kasar. Apa ini yang kamu dapatkan setelah bergaul bebas di luar sana?" tanya Roy.
Sintia ikut mendekat lalu menimpali, "Kak Rani, kalau bergaul dengan orang-orang yang tidak tepat, tanpa sadar kamu bisa membuat semua orang sakit hati."
Rani tidak ingin meladeni ucapan mereka yang pada akhirnya, pembicaraan itu hanya akan berujung pada satu hal yang sama, dirinya disalahkan dan masalah dengan ketiga pemuda yang hampir saja mencelakakannya akan kembali dibela.
Tatapannya kembali tertuju pada Aksan, Arlan, dan Arjun.
"Aksan, Arlan, Arjun. Aku yakin kalian tahu apa yang sudah kalian perbuat dan apa risikonya. Jadi—"
Belum sempat Rani menyelesaikan kalimatnya, suara sirene polisi tiba-tiba terdengar dari luar rumah, tak lama dua polisi masuk dan menghampiri mereka.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏