Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.
"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix
bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18: Malam Sebelum Partai Puncak
BAB 18: Malam Sebelum Partai Puncak
Malam itu, kamar Velix terasa sangat tenang. Di luar, rintik hujan sisa sore tadi menyisakan udara dingin yang merayap masuk lewat celah ventilasi. Velix duduk bersila di atas kasurnya yang empuk, menatap layar hologram Sistem yang melayang di kegelapan dengan pendaran cahaya biru keemasan.
Setelah kemenangan mutlak di semifinal, ketenangan seorang pria dewasa di dalam dirinya tidak lantas membuat Velix menjadi tinggi hati. Dia tahu, babak final yang akan digelar dalam dua hari ke depan adalah ujian sesungguhnya untuk mengunci Misi Utama pertamanya.
'Sistem, buka inventaris. Aku ingin memeriksa Ramuan Pemulihan Seluler Premium yang kudapatkan tadi sore,' perintah Velix dalam hati.
[Mengakses Inventaris Tuan Rumah...]
[Item Ditemukan: 1x Ramuan Pemulihan Seluler Premium (Peringkat B)]
[Efek: Memulihkan 100% kelelahan fisik, menyembuhkan cedera mikro pada jaringan otot, dan mengoptimalkan sinkronisasi atribut biologis sebesar 50% lebih cepat dalam waktu 8 jam saat Tuan Rumah tidur.]
Velix mengangguk puas. Tubuh 14 tahunnya saat ini sebenarnya sedang berada di ambang batas kelelahan setelah bermain dalam tensi tinggi melawan SMP 2. Otot paha dan betisnya terasa tegang dan pegal.
'Gunakan ramuan itu sekarang, lalu tampilkan status terbaruku,' instruksi Velix.
[Mengonsumsi Ramuan Pemulihan Seluler Premium...]
[Efek aktif. Direkomendasikan untuk segera tidur agar proses optimalisasi berjalan maksimal.]
Velix merebahkan tubuhnya, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Begitu matanya terpejam, rasa hangat yang sangat nyaman mengalir dari pusat dadanya, menyebar ke seluruh pembuluh darah, dan berpusat di area kaki serta tulang punggungnya. Rasa pegal yang menyiksa seketika menguap, digantikan oleh sensasi rileks yang mendalam hingga membuatnya tertidur lelap dalam hitungan detik.
Keesokan paginya, Velix terbangun dengan perasaan yang luar biasa segar. Ketika dia melompat turun dari tempat tidur, dia merasakan ada yang berbeda dengan sudut pandangnya. Saat berdiri di depan cermin lemari pakaian, Velix menyipitkan mata. Celana pendek sekolahnya terasa sedikit lebih menggantung dari biasanya.
'Sistem, buka panel status fisik,' tanyanya penasaran.
Ting!
[STATUS BIOLOGIS & FISIK - DIPERBARUI]
Tinggi Badan: 162.7 cm -> 163.5 cm (+0.8 cm dalam semalam!)
Massa Otot: Memadat (Struktur tubuh lebih kokoh dan seimbang)
[ATRIBUT TEKNIK & FISIK]
- Kontrol Bola (Ball Control): 39.0 -> 41.0 / 100 (Efek hadiah Semifinal)
- Stamina: 40.6 -> 42.0 / 100
- Kecepatan (Speed): 45.2 -> 46.0 / 100
[System Points (SP): 30 SP]
Velix tersenyum lebar melihat angka-angka tersebut. Pertumbuhan hampir satu sentimeter dalam semalam adalah efek dari akselerasi ramuan peringkat B. Tinggi 163.5 cm mungkin masih tergolong rata-rata untuk anak seusianya, tetapi fondasi menuju target 184 cm kini tertata dengan sangat kokoh tanpa merusak koordinasi gerak tubuhnya.
Kini, kontrol bolanya juga sudah menembus angka 41, membuat kemampuannya menjinakkan si kulit bundar makin matang.
Siang harinya di sekolah, atmosfer menjelang final sudah membakar semangat seluruh siswa. Mading sekolah dipenuhi poster dukungan untuk Tim Merah Marun. Saat jam istirahat, Pak Joko mengumpulkan 18 pemain di ruang olahraga untuk melakukan analisis taktis terakhir.
Lawan mereka di babak final besok tidak lain adalah SMP 21—tim raksasa yang sejak awal turnamen ditakuti oleh Danu karena dihuni oleh striker monster tingkat regional bernama Reyhan.
"SMP 21 menang 4-0 di semifinal kemarin," ujar Pak Joko dengan wajah serius, mengetuk papan strategi dengan spidol hitam. "Reyhan mencetak hattrick. Anak itu tingginya sudah 175 cm, fisiknya kuat seperti pemain amatir dewasa, dan larinya sangat cepat. Lini belakang kita tidak akan kuat berduel satu lawan satu dengannya."
Danu menelan ludah, wajahnya kembali menegang melihat catatan statistik mengerikan dari sang calon lawan.
Melihat kegugupan yang mulai merayap di ruang taktik, Velix menegakkan tubuhnya. Mode serius dan fokus di dalam dirinya langsung mengambil alih. Suara baritonnya yang tenang memecah keheningan.
"Kita tidak perlu berduel fisik secara langsung dengan Reyhan, Pak," potong Velix dengan nada dewasa yang penuh keyakinan.
Seluruh mata di ruangan itu, termasuk Pak Joko, langsung tertuju pada Velix.
"Reyhan memang monster, tapi dia seorang striker. Dia tidak bisa mencetak gol kalau tidak mendapat suplai bola dari lini tengah," lanjut Velix, berdiri dan menunjuk ke arah area lingkaran tengah pada papan strategi. "Kunci kemenangan kita bukan menghentikan Reyhan di kotak penalti kita, melainkan memotong jalur operan gelandang mereka di sini. Gua dan Danu yang akan menjadi tembok pertama."
Danu menatap Velix, dan rasa percaya dirinya yang sempat goyah seketika bangkit kembali mendengar analisis logis tersebut.
Pak Joko tersenyum bangga, mengangguk setuju. "Tepat sekali! Velix benar. Kita akan bermain dengan blok menengah (mid-block), batasi ruang gerak gelandang mereka, dan hancurkan mereka lewat serangan balik cepat yang dipimpin oleh Velix."
"Gua siap tabrak siapa aja di tengah, Vel, asal lu yang ngatur arah bolanya," bisik Danu sambil mengepalkan tangan ke arah Velix.
Velix tersenyum hangat, membalas kepalan tangan sang kapten. "Kita bawa pulang trofi itu besok, Dan."
Di sudut pandang Velix, layar emas Misi Utama terus berkedip, menghitung mundur jam menuju pertandingan penentu. Panggung final kecamatan ini akan menjadi saksi terakhir dari langkah awal sang legenda sebelum dia melangkah ke turnamen regional yang jauh lebih besar.