saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 18. rahasia pertemuan di balik layar
Dulu, setiap hari tak pernah terlewat tanpa suara Raka terdengar dari seberang entah itu sekadar menanyakan kabar, bercerita hal-hal kecil yang terjadi, atau sekadar memastikan Zahra baik-baik saja. Sejak Raka pergi mengurus urusan jauh, kebiasaan itu menjadi jembatan utama yang menjaga kedekatan mereka. Namun perlahan tapi pasti, sejak Zahra semakin dekat dengan Rendra dan sejak obrolan lewat pesan mulai mengisi hari-harinya suara Raka di telinganya mulai jarang terdengar. Panggilan yang dulu dinanti kini kerap dijawab singkat, sering kali ditunda, atau bahkan ada yang tidak dijawab sama sekali dengan alasan yang sering kali terdengar dibuat-buat. Di balik itu semua, ada rahasia yang jauh lebih besar bukan hanya saling berkirim pesan, tapi mereka berdua sudah berani melangkah lebih jauh berjalan beriringan, pergi ke kota, dan duduk berdampingan di ruang gelap bioskop, tanpa selembar pun kabar sampai ke telinga Raka.
Awalnya Raka tidak terlalu memikirkan. Ia berpikir mungkin Zahra sedang sibuk beradaptasi dengan lingkungan baru, membantu keluarga Rendra, atau sekadar sedang kurang sehat. Namun seiring berjalannya waktu, perubahannya menjadi terlalu nyata untuk diabaikan. Dulu Zahra yang paling bersemangat memulai pembicaraan, kini justru Raka yang terus berusaha mencari cara menyambung obrolan, sering kali merasa berbicara sendirian.
Suatu sore saat Raka masih di luar kota, ia menelepon seperti biasa. Zahra mengangkatnya, tapi suaranya terdengar agak terburu-buru dan tidak tenang.
“Halo, Zahra... bagaimana kabarmu hari ini? Seharian ini aku terus memikirkanmu,” sapa Raka dengan nada hangat namun mulai menyimpan rasa gelisah.
“Ah... kabar baik saja, Ka. Maaf... aku sedang agak sibuk membantu Ibu di dapur, nanti saja ya kalau sudah selesai,” jawab Zahra singkat, lalu mematikan sambungan lebih cepat dari biasanya.
Raka menatap layar ponselnya yang sudah mati, dahinya berkerut. Di dalam hati timbul pertanyaan yang mulai mengganggu “Apa yang terjadi? Mengapa dia jadi berbeda sekali? Apakah ada hal yang tidak ia ceritakan padaku?”
Sementara itu, di desa, setelah panggilan itu berakhir, Zahra menghela napas panjang dan memegang dadanya yang berdebar. Di sebelahnya berdiri Rendra yang baru saja datang, menatapnya dengan pandangan yang penuh pengertian namun juga berat.
“Kau merasa bersalah, ya?” tanya Rendra pelan.
Zahra mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak bermaksud menyakitinya, Mas. Tapi entah kenapa... setiap kali mendengar suaranya, rasanya ada jarak yang semakin lebar. Dan saat bersamamu, rasanya justru sebaliknya seperti menemukan tempat yang selama ini aku cari.”
Rendra mengusap bahu gadis itu dengan lembut namun penuh kehati-hatian. “Aku mengerti, Zahra. Tapi ingatlah, semakin kita menjauhkan diri dari kenyataan, semakin berat pula saat rahasia ini akhirnya terbongkar sepenuhnya.”
Keesokan harinya, muncul kesempatan yang tak disangka-sangka. Ada kabar bahwa di kota terdekat akan diputar sebuah film yang sudah lama ingin ditonton Zahra cerita tentang perjalanan dan perjuangan mencari jati diri, hal yang begitu dekat dengan perasaannya saat ini. Saat Zahra menyebutkan hal itu sekilas dalam obrolan pesan malam sebelumnya, Rendra langsung punya gagasan.
“Kalau kau benar-benar ingin menontonnya, besok ada jadwal pagi dan siang. Kita bisa berangkat pagi-pagi sekali, sebelum orang lain banyak bergerak. Kita tidak perlu memberi tahu siapa pun cukup kita berdua saja. Nanti kita kembali sebelum sore hari, jadi tidak ada yang curiga.”
Saat membaca pesan itu, hati Zahra berperang hebat. Di satu sisi ada rasa takut, rasa bersalah, dan kesadaran bahwa ini adalah langkah yang salah dan berbahaya. Namun di sisi lain, keinginan untuk bisa berduaan, menikmati waktu tenang tanpa harus berpura-pura di depan orang lain, mengalahkan segalanya. Akhirnya ia membalas dengan tangan yang sedikit gemetar. “Baiklah... aku ikut. Tapi kita harus sangat berhati-hati, Mas.”
Maka kesepakatan itu terjalin diam-diam. Bahkan Rana pun tidak diberitahu meski gadis itu nantinya bisa menebak sendiri dari sikap dan sorot mata mereka saat pulang nanti.
Pagi-pagi sekali, saat kabut masih menyelimuti jalanan desa dan rumah-rumah masih tampak hening, mereka berangkat menggunakan kendaraan milik Rendra. Zahra mengenakan pakaian sederhana namun rapi, mencoba menutupi wajahnya sedikit dengan selendang agar tidak mudah dikenali siapa pun yang mungkin berasal dari desa. Rendra pun tampil tenang namun waspada, mengemudikan kendaraannya dengan hati-hati.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam kendaraan terasa hangat namun penuh ketegangan halus. Tidak banyak bicara, tapi kehadiran satu sama lain terasa begitu nyata dan mendalam. Sesekali tangan mereka bersentuhan tak sengaja saat mengambil barang atau bergerak sedikit, dan setiap kali itu terjadi, ada getaran yang menjalar cepat hingga ke hati.
Sesampainya di kota, mereka langsung menuju tempat pemutaran film. Di dalam ruangan yang remang dan sepi itu belum terlalu ramai karena masih pagi mereka duduk berdampingan di baris yang agak ke belakang. Di sana, jauh dari pandangan warga desa dan jauh dari bayang-bayang Raka, mereka merasa bebas sejenak.
Selama cerita di layar berjalan, ada saat-saat di mana tangan Rendra perlahan mencari dan menyentuh jemari Zahra. Awalnya ragu-ragu, lalu digenggam erat namun lembut. Zahra tidak menariknya menjauh ia justru membalas genggaman itu dengan erat, seolah menemukan sandaran yang paling aman di dunia ini. Jantungnya berdebar kencang bukan karena alur cerita di depan mata, tapi karena apa yang terjadi di sampingnya hal yang sama sekali tidak seharusnya terjadi.
Di sela-sela keheningan ruangan, Rendra berbisik sangat pelan, hanya terdengar oleh telinga Zahra “Aku tahu ini salah, Zahra. Aku tahu kita melanggar batas. Tapi setiap kali bersamamu, rasanya aku tidak sanggup menahan diri lagi.”
Zahra menunduk, suaranya hampir tak terdengar.“Aku juga, Mas... aku juga...”
Momen itu terasa abadi namun juga penuh kepahitan. Di balik kebahagiaan semu yang mereka nikmati, ada beban berat yang terus menekan kesadaran bahwa setiap langkah yang mereka ambil justru semakin menjauhkan mereka dari kebenaran dan semakin dekat dengan bencana yang tak terelakkan.
Selesai menonton, mereka sempat berjalan sebentar di sekitar kota, membeli minuman dan jajanan ringan, seolah pasangan biasa yang sedang menikmati hari. Namun sikap waspada tidak pernah hilang dari mata Rendra. Ia selalu memerhatikan sekeliling, memastikan tidak ada kenalan yang lewat atau melihat mereka.
Saat kembali ke desa sore harinya, meski mereka berusaha bersikap wajar berjalan terpisah, masuk rumah masing-masing, dan berbicara sopan seperti biasa ada perubahan yang tak bisa disembunyikan sorot mata mereka yang kini lebih dalam, lebih akrab, dan penuh rahasia yang berat.
Rana yang melihat kedatangan mereka diam-diam menggelengkan kepala pelan. Ia bisa mencium aroma kota yang masih melekat, melihat kelelahan campur bahagia di wajah Zahra, serta cara Rendra yang diam-diam tetap memantau keadaan gadis itu dari jauh.
“Kalian benar-benar sudah melangkah terlalu jauh,” bisik Rana saat berkesempatan bicara berdua saja dengan Zahra nanti sore. “Bukan hanya pesan-pesan di gawai... tapi sudah pergi berdua, bukan? Ingatlah, rahasia semacam ini tidak akan selamanya tertutup rapat. Semakin lama disimpan, semakin besar pula ledakannya nanti.”
Zahra hanya diam, wajahnya pucat namun tak bisa menyangkal. Ia tahu Rana benar, tapi rasanya seperti sudah terlanjur terperangkap dalam arus kuat yang tak mampu ia lawan.
Sementara itu, di sisi lain, Raka yang kini semakin dekat waktunya untuk pulang kembali ke desa, mulai merasakan tanda-tanda yang semakin menguatkan firasatnya bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan darinya. Panggilan telepon yang makin jarang dijawab, jawaban yang makin singkat dan tidak menentu, serta nada bicara Zahra yang berubah semua itu menjadi tanda tanya besar yang semakin mengganggu pikirannya.
Malam itu, saat Zahra dan Rendra kembali saling bertukar pesan diam-diam mengulang kembali kenangan hari ini—mereka sama-sama sadar: batas sudah dilampaui, dan jalan pulang kembali ke tempat semula sudah mulai tertutup. Segera setelah Raka benar-benar tiba nanti, segala rahasia—mulai dari jarak di telepon, kedekatan lewat pesan, hingga pertemuan rahasia jalan dan nonton bareng akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.