NovelToon NovelToon
Ternyata Dia Masih Ada

Ternyata Dia Masih Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Auliya Wulandari

Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan yang Tak Terduga

“Nona, Putri Qingyan datang untuk mengunjungi Nona,” lapor seorang pelayan dengan nada sopan sambil membungkuk hormat di ambang pintu ruang tamu.

Mendengar nama itu, Yanfei hanya mengangkat kepalanya sebentar, lalu kembali menyusun lembaran kertas di atas meja dengan gerakan tenang. “Putri Qingyan? Aku tak pernah memiliki hubungan baik dengan seorang putri, bahkan aku tak mengenalnya. Jadi tak perlu bersikap terlalu sopan atau menyambutnya dengan cara istimewa,” jawabnya datar.

Ia baru saja kembali menetap di ibu kota setelah pergi bertahun-tahun lamanya. Banyak hal berubah, banyak wajah baru bermunculan, dan banyak nama yang dulu dikenal kini mulai terlupakan. Mungkin namanya sendiri pun sudah tenggelam dalam cerita masa lalu, tidak lagi menjadi bahan perbincangan di kalangan bangsawan. Jika demikian, mengapa ia harus bersusah payah menerima kunjungan seseorang yang tidak dikenalnya hanya karena statusnya?

Memang, semasa muda Yanfei dikenal sebagai putri bangsawan yang memiliki nama baik dan dihormati banyak orang. Namun sejak awal, ia tidak pernah menyukai permainan hubungan antar orang-orang berkuasa. Dari luar, semua orang terlihat sopan, ramah, dan bermartabat, namun di balik tembok istana dan kediaman keluarga besar, selalu ada intrik, pertarungan kepentingan, serta berbagai trik licik yang hanya menyita tenaga dan pikiran. Ia tidak ingin lagi terlibat dalam hal-hal yang melelahkan dan hanya membawa masalah semacam itu.

Li Xia yang berdiri di sampingnya mendengarkan baik-baik, lalu mendekat dengan nada yang lebih hati-hati namun jelas. “Nona, Putri Qingyan yang dimaksud saat ini adalah Nona Yan. Apakah Nona benar-benar ingin menolak bertemu?”

Li Xia sudah tinggal lama di ibu kota sejak masih muda, sehingga ia mengetahui banyak peristiwa yang terjadi selama kepergian majikannya. Beberapa tahun silam, gadis bermarga Yan ini dianugerahi gelar Putri oleh Kaisar sendiri. Awalnya ia hanyalah anak dari seorang pedagang biasa yang dianggap memiliki latar belakang rendah dan tidak pantas berdiri sejajar dengan keluarga bangsawan.

Namun setelah menerima gelar kehormatan itu, posisinya berubah drastis dalam sekejap mata. Orang-orang yang dulu memandangnya sebelah mata, kini justru berebut memujanya, berusaha mendekat, dan bahkan bersikap sangat menjilat demi mendapatkan keuntungan.

Mendengar penjelasan itu, ekspresi Yanfei perlahan berubah. Kerutan di dahinya hilang, digantikan oleh senyum yang mulai melebar, dan matanya bersinar seolah teringat sesuatu yang sangat manis.

“A Min? Kalau begitu, suruh dia masuk sekarang juga!” serunya dengan nada yang jauh lebih ceria dan antusias, berbeda sekali dengan sikap dinginnya beberapa saat sebelumnya.

Segera ia melangkah mendekati meja bundar di tengah ruangan. Li Xia dan pelayan lain segera bergerak cepat menyusun tempat duduk, menyajikan teh harum yang masih mengepulkan uap, serta menata piring-piring berisi kue dan manisan yang baru saja dibuat. Semua disiapkan dengan rapi dan teratur, seolah sudah lama menunggu kedatangan tamu istimewa ini.

Yanfei duduk dengan tenang, lalu mengangkat cangkir tehnya dan menyesap perlahan, namun pandangannya tetap tertuju ke arah pintu, hati kecilnya dipenuhi rasa rindu yang mendalam. Sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan sahabat masa kecilnya ini. Selama ia pergi meninggalkan ibu kota, hanya A Min—atau yang kini dikenal sebagai Putri Qingyan—yang selalu mengirim kabar lewat surat-surat rahasia, memastikan keadaannya dan mendoakan keselamatannya.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki ringan mendekat, diikuti oleh suara lembut yang sangat dikenalnya.

“Kudengar Nona Duan baru saja kembali ke ibu kota, tapi ternyata sudah bersikap sombong dan ingin mengusir tamu yang datang menjenguknya,” suara itu terdengar setengah bercanda, namun mengandung kehangatan yang tak terlukiskan.

Sosok wanita berbalut gaun berwarna hijau muda dengan hiasan manik halus di pinggang dan rambut yang disanggul rapi serta dihias jepitan mutiara perlahan melangkah masuk. Wajahnya masih sama cantiknya seperti yang diingat Yanfei, hanya saja kini terlihat lebih dewasa dan membawa wibawa yang layak disandang seorang putri, namun sorot matanya tetap polos dan ramah seperti dulu.

“A Min!” Yanfei segera berdiri dan menyambutnya dengan senyum lebar, melupakan segala sikap tenang dan anggunnya yang biasa ia tunjukkan di hadapan orang lain.

Keduanya saling mendekat, lalu saling memeluk erat seolah ingin menebus semua waktu yang terpisah selama ini. Suasana ruangan yang tadinya hening kini dipenuhi dengan tawa dan percakapan yang hangat.

“Kau masih saja suka memanggil nama panggilan lama itu, sekarang aku sudah dipanggil Putri Qingyan lho,” kata A Min sambil duduk di samping Yanfei, namun nada bicaranya tetap santai tanpa kesan angkuh sedikit pun.

“Bagiku, kau tetaplah A Min yang aku kenal sejak kecil. Gelar apa pun yang disandang tidak akan mengubah siapa dirimu,” jawab Yanfei sambil menuangkan teh ke cangkir sahabatnya itu. “Jadi, bagaimana kabarmu selama aku pergi? Li Xia baru saja memberitahuku bahwa kau mendapatkan gelar putri. Sungguh kabar yang mengejutkan sekaligus membanggakan.”

A Min tersenyum getir, lalu menghela napas panjang sambil memegang cangkir tehnya. “Mendapatkan gelar itu memang membawa keuntungan, tapi juga mengikat banyak hal. Sejak itu, aku harus mengikuti aturan yang lebih ketat, banyak orang yang datang hanya untuk mencari keuntungan, dan hampir tidak ada lagi yang mau berbicara jujur seperti dulu. Kadang aku justru merindukan masa ketika kita masih kecil, bermain bebas tanpa memikirkan status atau gelar apa pun.”

Yanfei mengangguk mengerti, ia tahu betul apa yang dirasakan sahabatnya itu. “Aku mengerti. Di dunia ini, semakin tinggi posisi seseorang, semakin sedikit orang yang bisa dipercaya. Itulah sebabnya aku selalu menjaga jarak dengan lingkaran orang-orang berkuasa itu. Aku tidak ingin terjebak dalam permainan yang hanya akan menyakiti hati sendiri.”

Mereka pun mengobrol panjang lebar, membicarakan segala hal yang terjadi selama kepergian Yanfei—mulai dari perubahan lingkungan di ibu kota, peristiwa penting yang terjadi di istana, hingga kabar mengenai keluarga dan teman-teman lama. A Min juga menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan kepercayaan Kaisar dan mengapa ia akhirnya diangkat menjadi putri, bukan karena latar belakang keluarganya, melainkan karena keberanian dan kejujurannya yang membuat Kaisar terkesan.

“Banyak orang mengira aku tiba-tiba beruntung dan menjadi orang yang sombong, tapi sebenarnya aku hanya ingin tetap menjadi diriku sendiri. Dan kabar bahwa kau kembali membuatku sangat lega, karena akhirnya ada satu orang lagi yang bisa mengerti dan berbicara jujur denganku,” ujar A Min dengan nada tulus.

Yanfei menatapnya dengan pandangan hangat. “Aku juga merasa sama. Selama pergi, banyak hal yang terjadi, tapi selalu ada kerinduan untuk pulang dan bertemu dengan orang-orang yang benar-benar berarti. Sekarang kita sudah bertemu lagi, tidak ada yang perlu ditakutkan atau disembunyikan. Kita tetaplah sahabat yang saling melindungi, apa pun yang terjadi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!