Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpaksa Menikahi Wanita Lain
Aga terdiam mematung, napasnya tercekat di kerongkongan. Dua pilihan itu terasa sama menyakitkannya, mengorbankan perasaannya sendiri demi menyelamatkan hati ibunya, atau memegang teguh apa yang ia yakini benar namun harus membawa beban rasa bersalah seumur hidup jika sesuatu yang buruk menimpa Nyonya Ardila. Kakinya terasa berat tertanam di lantai dingin rumah sakit, matanya memandang wajah ibunya yang masih pucat namun sorot matanya tak sedikit pun bergeming—seolah ia benar‑benar sudah menetapkan batas akhir bagi segala pemberontakan putranya.
Perlahan, bahu Aga merosot. Pertahanan yang ia bangun sekuat tenaga runtuh tak tersisa, dikalahkan oleh rasa kasih yang tak bisa ia pungkiri, sekaligus rasa takut kehilangan wanita yang melahirkannya ke dunia. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh setetes, mengalir membasah di pipinya.
“Kenapa… kenapa harus begini caranya, Ma?” suaranya pecah, bergetar menahan isak tangis yang tertahan sejak tadi. “Kenapa Mama harus memaksaku memilih antara mencintai Mama… atau mencintai diriku sendiri?”
Nyonya Ardila hanya diam, menatapnya dengan pandangan yang bercampur tegas dan perih. Ia tak menjawab, karena baginya jawaban itu sudah jelas, bahwa pengorbanan adalah harga yang harus dibayar demi nama baik dan masa depan yang terjamin.
Aga menghela napas panjang, napas yang terasa berat seolah membawa beban seluruh dunianya. Ia memejamkan mata rapat‑rapat, mencoba menghapus bayangan wajah Nadia yang tersenyum lembut padanya—namun semakin ia berusaha menghapus, semakin jelas wajah itu terbayang, semakin terasa perihnya hati yang harus dikorbankan.
“Aku… aku akan melakukannya,” ucapnya lirih, hampir tak terdengar, namun kata‑kata itu terasa seperti paku yang menancap di setiap jengkal hatinya. “Tapi ingat, Ma… ini bukan karena aku setuju. Ini bukan karena aku menginginkannya. Ini hanya karena aku TERPAKSA, demi Mama.”
Mata Nyonya Ardila sedikit melebar, lalu perlahan tersenyum tipis—senyum kemenangan yang terlihat lelah namun lega. “Terima kasih… Nak. Kamu akan mengerti suatu hari nanti, bahwa semua ini demi kebaikanmu.”
Aga tak menjawab. Ia hanya membalikkan badan, melangkah gontai menuju pintu keluar. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti berjalan menjauh dari kebebasan yang selama ini ia dambakan. Kini dia berjalan menuju sangkar yang akan dikunci rapat oleh tangannya sendiri.
Saat pintu terbuka, semua mata langsung tertuju padanya.
Pak Haris, Pak Jainal, Nyonya Jesika, dan Jenna—semuanya menunggu dengan penuh harap dan khawatir. Melihat wajah Aga yang basah oleh air mata dan tatapannya yang kosong tanpa jiwa, Pak Haris merasakan ada sesuatu yang telah terjadi.
“Apa… apa yang terjadi, Aga?” tanya Pak Haris mendekat, nadanya masih menyisakan sisa amarah namun kini digantikan kebingungan.
Aga mengusap kasar wajahnya, mencoba menyembunyikan air mata yang hampir sulit untuk berhenti mengalir. Ia menatap Jenna, gadis yang berdiri mematung menunggunya dengan tatapan bingung.
“Mama minta… aku dan Jenna melangsungkan akad nikah sekarang juga,” ucap Aga pelan, namun kalimat itu cukup membuat semua orang terbelalak tak percaya.
“Sekarang? Di sini?” seru Nyonya Jesika Wijaya tak percaya. “Tapi… putri kami belum siap, maksudku belum ada persiapan, belum ada gaun, riasan, lalu tamu undangan… belum ada apa‑apa!”
“Tapi Mama bilang harus sekarang,” potong Aga dingin, namun suaranya bergetar hebat. “Beliau bilang… kalau aku menolak, kalau kita menolak, sama saja merelakan nyawanya. Jadi… kalau kalian masih menganggap perjanjian pernikahan ini berlaku… maka mari kita selesaikan sekarang juga. Masalah resepsi akan diurus nanti, sekarang akad nikah dulu.”
Keheningan yang mencekam menyelimuti lorong rumah sakit itu. Pak Haris menatap putranya, lalu menuju pintu ruangan tempat istrinya berbaring. Ia tahu watak Ardila, ia tahu betul istrinya tak akan main‑main dengan ancaman seperti itu. Dengan berat hati, ia mengangguk pada Jainal Wijaya.
“Kalau itu permintaan Ardila… baiklah, akan aku usahakan," ucap Pak Haris. Dia lantas menelepon seseorang, mungkin sekretaris pribadinya. "Segera hubungi penghulu, Aga dan Jenna akan menikah di rumah sakit Santoso sekarang juga, minta disiapkan segala sesuatu untuk akad nikahnya."
Jenna berdiri diam, dia sama sekali tidak memberikan komentar apa pun.
"Jenna. Om janji, setelah akad ini, Om akan siapkan resepsi mewah untukmu, sebagai balasan atas akad nikah yang terlalu sederhana ini," kata Pak Haris.
"Terima kasih, Om." Hanya kalimat itu yang terlontar dari bibir Jenna, seolah dia memang tidak mau banyak bicara atau pun berkomentar.
Pak Jainal dan Nyonya Jesika juga setuju dengan akad nikah dadakan ini, lagi pula dengan begitu mereka bisa memastikan putri mereka berhasil menikah dengan Aga, sosok pria yang banyak para orang tua dan wanita mengantri untuk mengajukan lamaran padanya.
Beberapa saat kemudian, suasana menjadi sibuk namun tetap terasa rasa sedihnya. Perawat diminta menyiapkan ruangan yang lebih layak, Jenna dengan tangan gemetar menerima baju ganti sederhana yang disiapkan keluarga secara mendadak. Tak ada hiasan bunga mewah, tak ada musik meriah, tak ada senyum bahagia yang tulus. Hanya ada keharusan, rasa takut, dan hati yang hancur berkeping‑keping.
Saat semuanya sudah siap, Aga duduk di hadapan penghulu, di ruangan yang seolah terasa sempit dan pengap. Di sisi kirinya, terlihat sosok Nyonya Ardila yang menatapnya dengan pandangan penuh harap, didampingi Pak Haris.
“Sebelum akad dimulai, saya akan bertanya satu hal pada kalian berdua. Kamu, Agantara Santoso bin Haris Santoso, bersedia menikahkan dirimu dengan Jenna Wijaya binti Jainal Wijaya dengan mas kawin yang telah disepakati, secara suka rela tanpa paksaan?”
Kata‑kata “tanpa paksaan” itu terasa seperti ejekan yang menyakitkan di telinga Aga. Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya memejam kembali, mencoba membuang bayangan wajah Nadia yang kini seolah melambaikan tangan perpisahan dari kejauhan.
Dengan suara parau yang seolah merobek kerongkongannya sendiri, Aga menjawab lirih namun tegas.
“Saya… siap menikahinya.”
Penghulu itu tersenyum, lalu gantian menatap Jenna.
“Kamu, Jenna Wijaya Binti Jainal Wijaya, bersedia dinikahkan dengan Agantara Santoso bin Haris Santoso dengan mas kawin yang telah disepakati, secara suka rela tanpa paksaan?”
"Ya."
Satu kalimat itu keluar, dan seketika terasa seperti sesuatu yang besar telah lepas dari genggaman, kebebasan.
Saat akad nikah telah dilangsungkan, saat saksi‑saksi mengucapkan syukur, saat Nyonya Ardila menghela napas panjang dan memejamkan mata dengan tenang—di saat itulah Aga sadar sepenuhnya, bahwa ia telah sah menjadi suami orang lain. Ia telah mengikat janji seumur hidup pada wanita yang ia hormati namun tidak ia cintai, demi menuruti permintaan ibunya, demi menjaga nama baik keluarga yang selalu mengatur hidupnya.
Di luar ruangan, malam semakin larut. Angin malam berhembus pelan meniup daun di taman rumah sakit. Dan entah di mana Nadia berada saat itu—apakah ia sedang menatap langit yang sama, sebentar lagi, setelah kabar resepsi pernikahan tersebar di media, Nadia akan tahu bahwa janji cinta yang pernah mereka ukir bersama kini telah runtuh begitu saja.
Setelah semua tamu dan penghulu pamit, setelah Jenna dan keluarganya pergi untuk memberi waktu istirahat, hanya tersisa Aga yang duduk diam di kursi pinggir ranjang. Ia menatap tangan kirinya yang kini telah memakai cincin—tanda ikatan yang tak bisa ia putuskan lagi.
“Ma… sekarang sudah sesuai keinginan Mama,” bisiknya pelan, matanya menatap ibunya yang terdiam. “Aku sudah jadi apa yang Mama mau. Aku sudah terikat. Tapi Mama harus tahu… hati ini tidak ikut terbawa janji itu. Hati ini tetap milik orang lain, dan aku tak tahu apakah aku sanggup hidup seumur hidup dengan hati yang terbelah begini.”
demi hrga dirimu...