NovelToon NovelToon
UNDYING

UNDYING

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: yersya

"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."

"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."

"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."

"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Kamis, 13 Mei 2021

Pukul 21.54

​Setelah membulatkan tekad yang tercecer, aku kembali melangkah mendekati bangunan terbengkalai itu.

​Saat ini, aku sama sekali tidak punya informasi valid tentang siapa sebenarnya para penyerang berdarah dingin itu. Namun, dari sisa kepingan memori di lini masa sebelumnya, ada beberapa dugaan kuat yang mulai terangkai di kepalaku.

​Rania memang gadis yang cantik dan manis. Pesona alaminya semakin terpancar dari sifatnya yang selalu ceria dan memiliki senyuman sehangat matahari. Namun, saat gerombolan pria itu menyergap kami, Rania sempat menunjukkan ekspresi kebingungan—dia tampak sama sekali tidak mengenali satu pun dari mereka.

​Jika dinilai secara realistis dan kejam, pelaku kejahatan jalanan biasanya akan langsung menargetkan perempuan yang secara visual paling mencolok terlebih dahulu. Baik dari segi wajah maupun proporsi tubuh, aku tahu aku lebih unggul secara objektif dari Rania. Namun, para bajingan itu justru langsung merangsek menyerang Rania terlebih dahulu, sementara mereka hanya bertugas menahan pergerakanku. Fakta itu melahirkan satu kemungkinan mutlak: tujuan utama mereka sedari awal memanglah Rania.

​Tapi aku belum tahu pasti apa motif di baliknya. Apakah mereka menaruh dendam pribadi pada Rania? Atau mereka sebenarnya berniat menghancurkan pria misterius yang ditaksir Rania itu? Yang jelas, aku kemari sendirian malam ini untuk memastikannya. Meskipun... ada kemungkinan lain yang jauh lebih gelap, seperti ada seseorang yang sengaja menyewa mereka untuk melakukan penjagalan ini.

​Aku berjalan masuk ke dalam bangunan dengan langkah pelan, nyaris tanpa suara. Menembus lorong beton yang lembap dan mulai menaiki anak tangga satu demi satu. Langkahku diikuti dengan debaran jantung yang berdegup liar menolak tenang, serta keringat dingin yang membanjiri wajah dan membuat jemariku terus-menerus gemetaran.

​Dan akhirnya, kakiku kembali menapak di depan ruangan neraka itu.

​Ketika aku mendorong pintu besi dan berjalan masuk ke dalam, duniaku mendadak berputar hebat. Pandanganku seketika terbalik. Waktu di sekitarku seolah melambat secara ekstrem, dan anehnya, aku justru bisa melihat sepasang kakiku sendiri yang sedang berdiri di atas permukaan yang berbeda.

​“Eh?”

​“Lun… Luna… oooiiii… Luna? Kamu ngelamun ya?”

​Suara cempreng yang sangat familier itu menyentak kesadaranku. Aku mengerjapkan mata berkali-kali, terkejut sekaligus linglung saat menyadari pemandangan mengerikan di bangunan terbengkalai tadi menguap begitu saja, berganti menjadi suasana hangat di dalam kamarku sendiri.

​Aku menatap layar ponsel yang sedang kupegang erat. Di sana, terpampang wajah Rania dan Siti dalam kotak video terpisah. Ternyata... saat ini kami sedang melakukan panggilan video call.

​“Ya? Kenapa? Apa tadi?” tanyaku terbata-bata, mencoba menyelaraskan otakku dengan situasi sekarang.

​“Jadi dari tadi kamu nggak dengerin, ya?” Rania langsung memajukan wajahnya ke kamera, terlihat cemberut dari balik layar. “Aku tadi tanya, pakaian apa yang bakal kita pakai saat acara kelulusan nanti.”

​“Bukankah dari awal kita udah sepakat mau pakai gamis?” Siti menyeletuk dari kotaknya sendiri, menyela dengan nada tenang.

​“Eeehhhh?! Tapi kan dress kasual bakal kelihatan lebih bagus dan modis, Siti!” protes Rania tidak terima.

​“Gamis lebih rapi!”

​“Dress lebih cantik!”

​Kedua sahabatku mulai berdebat kusir, saling melempar argumen tentang pakaian kelulusan mereka.

​“Bagaimana menurutmu, Luna?” tanya mereka serentak, mendadak mengarahkan kamera padaku untuk meminta keputusan penentu.

​Aku menelan ludah, mencoba menata napas. “Ya-yang mana saja tidak masalah, kan? Gamis atau dress dua-duanya bagus kok,” jawabku cari aman, memilih untuk tidak memihak siapa pun.

​“Lagi-lagi jawabannya gitu. Kamu harusnya lebih tertarik sama fashion dong, Lun! Ini kan momen sekali seumur hidup,” omel Rania sambil mengerucutkan bibirnya.

​“Itu benar. Kali ini aku setuju sama Rania,” Siti menyetujui.

​Aku tersenyum tipis, mencoba mengingat-ingat peranku di lini waktu ini. “Hmm… bukannya aku tidak tertarik, tapi bukankah memakai sesuatu yang sesuai dengan diri kita sendiri akan menjadi poin plus ketika acara kelulusan nanti? Maksudku, itu seperti kita sedang menunjukkan jati diri kita yang biasanya ke semua orang.”

​Mendengar filosofi dadakanku, Rania dan Siti terlihat menggeram gemas dari balik layar, tidak bisa membantah kalimatku.

​“Itu... emang bener sih. Tapi kan aku ingin kelihatan jauh lebih cantik lagi dari biasanya,” gerutu Rania pelan, matanya mendadak melirik ke arah samping atas.

​“Memangnya untuk siapa kamu mau memperlihatkan penampilan cantikmu itu? Gaya banget,” sindir Siti, merasa curiga kalau Rania hanya ingin mencari perhatian massal.

​Mendengar sindiran Siti, Rania mendadak terdiam. Pipinya merona tipis. Siti mengerutkan kening, kebingungan dengan reaksi Rania yang tiba-tiba bungkam. Namun di seberang layar, hatiku mencelos. Aku tahu persis alasan di balik diamnya Rania. Dia pasti ingin memperlihatkan penampilan terbaiknya pada pria yang sedang dia taksir di bangunan terbengkalai itu.

​“Maaf ya, guys. Sekarang sudah malam banget, aku... aku mau tidur duluan,” ucapku, sengaja memotong suasana untuk memberi Rania celah melarikan diri, sekaligus karena jiwaku butuh waktu untuk mencerna rencana baru.

​“Ya-ya… bener banget kata Luna! Mari tidur, mari tidur!” ucap Rania mendadak heboh menyetujui.

​Siti langsung menyipitkan matanya ke arah kamera Rania, menaruh curiga yang teramat besar. “Sejak kapan kamu langsung setuju setiap kali Luna ingin mematikan vc? Biasanya kamu yang paling heboh mengajak dia buat begadang maraton drama.”

​“Ahaha… Luna kan udah sering begadang akhir-akhir ini karena belajar. Jadi sekarang aku sebagai sahabat yang baik tidak boleh mengajaknya layu sebelum lulus! Kita lanjutkan pembicaraannya besok ya, dadah!” Rania langsung menekan tombol merah, mematikan panggilannya dengan sangat cepat. Dia benar-benar panik takut rahasianya tentang pria itu dibongkar Siti.

​“Mencurigakan banget anak itu,” gumam Siti menggeleng-gelengkan kepala di layar yang tersisa.

​“Aku off dulu juga ya, Sit. Dadah!” Aku melambaikan tangan ke kamera.

​“Dadah, Lun. Istirahat yang cukup ya,” balas Siti lembut sebelum panggilan benar-benar terputus.

​Layar ponselku mendadak menggelap, menyisakan pantulan wajah pucatku sendiri di atas permukaannya. Aku segera menyalakan kembali layarnya, melihat angka digital yang menunjukkan waktu dan tanggal sekarang dengan saksama. 

Rabu, 12 Mei 2021

Pukul 22.20

Waktu telah berputar kembali.

Aku duduk termangu di atas kasur, menatap telapak tanganku yang gemetaran. Pikiranku kalut, berputar-putar mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Apa aku mati? Tapi... tapi kenapa?

Ingatan terakhirku sebelum duniaku jungkir balik adalah saat aku melangkah masuk ke dalam ruangan neraka di bangunan terbengkalai itu. Aku bahkan belum sempat bertemu dengan siapa pun di lini masa tersebut. Ingatan visual terakhir yang terekam di otakku hanya memperlihatkan sepasang kakiku sendiri dari sudut pandang yang sangat ganjil... dan seingatku, rasanya tubuhku seperti sedang berbaring di lantai dalam sekejap mata.

Kesadaran itu menghantamku bagai petir. Apa jangan-jangan... leherku putus?

Jantungku berdegup begitu kencang hingga dadaku terasa nyeri. Dingin yang teramat sangat menjalar dari tengkuk hingga ke ujung kaki. Apakah benar-benar mungkin bagi seseorang untuk menebas atau memutus leher orang lain dengan begitu cepat dan bersih, sampai-sampai korbannya bahkan tidak menyadari bahwa kepalanya sudah tidak lagi terpasang di tubuhnya?

Membayangkannya saja sudah membuat lambungku bergolak hebat karena ngeri. Rasa takut yang pekat merayap, mencekik setiap jengkal warasku.

1
Sarah
For real. 😂
Sarah
Unik sekali, konflik bab 1: Mencari Paman. 😂😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!