NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Isak tangis Arumi masih bergema hebat di dalam ruang tamu yang sempit itu. Setiap sudut ruangan yang berdinding kusam seolah ikut bergetar meresapi kepedihan yang teramat dalam yang keluar dari sudut bibir wanita itu. Dadanya naik turun secara tidak beraturan, menahan gelombang amarah yang telanjur membakar habis sisa-sisa kesabaran yang selama ini ia pelihara dengan susah payah. Napasnya memburu, terasa panas dan mencekat di tenggorokan, membuat Arumi beberapa kali harus mencengkeram dadanya sendiri yang terasa begitu sesak, seolah oksigen di dalam rumah itu mendadak menguap habis tak bersisa.

Kehadiran pria tua di hadapannya ini benar-benar menjadi pemicu sebuah ledakan besar. Sosok Pakde Kalim yang duduk bersila dengan pakaian mewahnya seperti membuka paksa kotak pandora berisi seluruh lembaran hitam penderitaan masa lalu, sebuah memoar kelam yang selama belasan tahun ini sudah ia kubur dalam-dalam di dasar sanubari tergelapnya. Nama bapaknya adalah Praga. Seorang laki-laki jujur, tulus, penuh kasih sayang, dan merupakan tipe pekerja keras sejati yang seharusnya layak mendapatkan masa tua yang tenang dan bahagia. Namun takdir berkata lain; Pak Praga harus mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia ini dalam kondisi yang serba kekurangan, menahan sakit yang menggerogoti tubuh ringkihnya, akibat dikhianati dan ditipu mentah-mentah oleh darah dagingnya sendiri, kakak kandungnya sendiri.

Pakde Kalim perlahan mengangkat kepalanya yang dipenuhi oleh rambut yang memutih sempurna. Wajah pria tua itu tampak luar biasa kuyu, kerutan-kerutan penuaan di kulitnya seolah menegaskan beban rasa bersalah yang teramat berat yang selama ini ia pikul di pundaknya. Dengan tangan yang gemetar parah hingga mengeluarkan bunyi gesekan halus dengan kain celananya, pria tua itu meraba saku jas hitamnya yang berpotongan mahal. Dari dalam saku tersebut, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tampak sangat berat karena kepadatannya, disusul oleh sebuah buku tabungan tua berwarna biru bersama dengan sebuah kartu ATM yang masih berkilat baru.

"Arumi... Pakde tahu... Pakde sangat tahu bahwa dosa masa lalu Pakde ini tidak akan pernah bisa diampuni dengan mudah olehmu, bahkan mungkin sampai Pakde mati dan masuk ke dalam tanah," ucap Pakde Kalim dengan suara yang parau, serak, dan berulang kali terputus-putus oleh sisa tangis serta rasa sesak yang menyumbat dadanya. Ia memandangi wajah keponakannya dengan mata yang basah oleh air mata penyesalan. "Tapi tolong... terima ini, Nak. Tolong beri Pakde kesempatan untuk sedikit meringankan beban dosa ini. Pakde datang ke kota perantauan ini dengan niat yang benar-benar tulus untuk mengembalikan seluruh uang jatah warisan almarhum Praga yang dulu pernah Pakde curi, Pakde manipulasi, dan Pakde bawa kabur begitu saja tanpa memikirkan nasib kalian.

Pakde kembalikan semuanya sekarang ke tanganmu, beserta seluruh hitungan bunga dan keuntungan bisnis yang seharusnya sejak dulu menjadi hak mutlak bapakmu..."

Mendengar rangkaian kalimat mengembalikan warisan yang meluncur dengan begitu mudah dari bibir pria tua itu, Arumi justru terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa getir. Sebuah tawa yang terdengar sangat menyayat hati, penuh dengan racun sarkasme, dan getaran rasa muak yang sudah mencapai ubun-ubun. Bukannya mereda, air matanya justru mengalir semakin deras, membanjiri pipinya yang memerah padam akibat amarah yang membakar seluruh isi kepalanya. Tawa getir itu berganti menjadi sebuah tatapan mata yang tajam, sedingin es, namun menyimpan bara api yang siap menghanguskan siapa saja.

"Mengembalikan warisan, Bapak Bilang?!" jerit Arumi dengan suara yang melengking tinggi, memecah kesunyian rumah sederhana itu hingga membuat kedua ajudan Pakde Kalim yang berdiri tegap di dekat pintu depan tersentak kaget dan refleks memperbaiki posisi berdiri mereka. Arumi melangkah maju dengan hentakan kaki yang kuat, menepis sisa jarak aman di antara mereka berdua. Ia berdiri tepat di depan meja kayu, lalu menunjuk lurus ke arah wajah Pakde Kalim dengan jari telunjuk yang bergetar hebat karena emosi. "Kalau begitu, dengarkan saya baik-baik, Pak Tua yang terhormat! Saya tidak butuh uang kertas sialan itu! Saya tidak sudi menyentuh selembar pun dari kertas-kertas yang mengkilap itu! Yang saya minta dan saya tuntut dari Bapak sekarang sangat sederhana... kembalikan nyawa bapak saya, Praga! Kembalikan juga nyawa ibu saya ke dunia ini! Bisa tidak, Pakde?! Jawab saya! Bisa tidak uang dua ratus juta atau miliaran rupiah itu menghidupkan kembali jasad orang tua saya yang sudah hancur di dalam kuburan?!"

Pakde Kalim tersentak hebat, tubuhnya yang bungkuk tampak semakin menciut di atas sofa. Bibirnya terkunci rapat seolah terkunci oleh gembok tak kasat mata; ia sama sekali tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas telak tuntutan keponakannya. Tatapan matanya langsung beralih jatuh ke arah lantai, tak berani menantang kobaran api di mata Arumi.

"Pakde harus tahu dan harus sadar diri! Pakde ini sudah sukses besar membuat bapak saya meninggal dalam penderitaan yang teramat sangat!" tumpah Arumi, seluruh rasa sesak, rasa sakit, dan memori masa kecilnya yang penuh dengan air mata kini ia muntahkan tanpa ada satu pun yang tersisa. Air matanya menetes di atas meja kayu yang lapuk. "Bapak itu depresi berat! Beliau tertekan batinnya, harga dirinya hancur, dan fisiknya langsung ambruk seketika setelah tahu ditipu habis-habisan oleh kakak kandungnya sendiri, orang yang paling beliau percayai di dunia ini setelah orang tuanya tiada! Dan setelah bapak akhirnya meninggal karena sakit-sakitan tanpa bisa berobat ke rumah sakit yang layak, ibu saya... ibu saya yang sangat mencintai bapak akhirnya ikut frustrasi. Ibu memilih untuk menyusul bapak tidak lama kemudian karena jiwanya sudah kosong, karena tidak kuat menahan beban hidup yang teramat berat dan kesedihan yang tidak ada ujungnya! Pakde adalah pembunuh mereka berdua! Pakde adalah dalang di balik semua kematian ini secara tidak langsung!"

Arumi kembali membekap dadanya sendiri dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar begitu hebat hingga Bu RT yang duduk di dekatnya terpaksa ikut berdiri untuk menahan tubuh wanita itu agar tidak jatuh tersungkur. Napas Arumi terdengar putus-putus, seolah tenggorokannya tersumbat oleh bongkahan batu besar yang menyakitkan.

"Pakde tahu bagaimana rasanya jadi saya selama ini?! Hah?!" jerit Arumi lagi, emosinya semakin menggebu-gebu, meledak di tengah ruang tamu yang pengap itu. "Sejak usia remaja, di saat anak-anak lain sibuk memikirkan sekolah, sibuk bermain, dan dimanja oleh orang tua mereka, saya sudah dipaksa oleh keadaan untuk menjadi seorang anak yatim piatu di kota rantau yang kejam ini! Saya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini untuk bersandar! Ibu saya adalah seorang anak tunggal, dia tidak memiliki saudara kandung, tidak memiliki paman atau bibi yang bisa saya datangi untuk sekadar meminta bantuan beras atau uang sekolah! Kakek dan nenek saya dari pihak ibu juga sudah lama meninggal dunia bahkan sebelum saya lahir ke dunia ini! Saya sebatang kara, Pakde! Benar-benar sebatang kara!"

Suara Arumi bergetar menahan kepedihan yang teramat sangat saat ia memandangi kedua putranya yang kini duduk ketakutan di sudut sofa. "Saya harus berjuang sendirian di dalam gang padat penduduk ini. Saya membuang seluruh rasa malu saya, membuang masa muda saya demi menjadi buruh cuci dan gosok dari satu rumah tetangga ke rumah tetangga lainnya. Saya memeras keringat di bawah terik matahari, menyetrika tumpukan baju sampai mata saya perih dan punggung saya mau patah, meraba-raba kegelapan malam demi menulis novel online sampai mata saya buta dan kepala saya mau pecah, semuanya hanya demi apa? Demi bisa membelikan sesuap nasi dan sekotak susu untuk anak-anak saya! Sementara Pakde... sementara Pakde hidup bergelimang harta di luar sana, tidur di kasur yang empuk, makan makanan yang mewah dari uang haram hasil merampas hak waris dan hak kuliah saya dulu! Pakde penipu! Pakde kejam!"

Bu RT dan Bu Ida yang duduk menyaksikan langsung adegan itu tidak mampu lagi membendung air mata mereka. Air mata kedua wanita paruh baya itu mengalir deras, membasahi wajah mereka yang dipenuhi rasa iba sekaligus amarah yang mendalam. Mereka menangis sesenggukan, merasakan setiap bait kepedihan dari kalimat yang diucapkan oleh Arumi. Bu Ida bahkan sampai harus memegangi dadanya sendiri karena ikut merasakan sesak yang teramat sangat, sementara Bu RT langsung melangkah maju dan merangkul erat tubuh Arumi dari belakang, mencoba menyalurkan sisa kekuatan yang ia miliki agar wanita bermental baja itu tidak tumbang di hadapan musuh masa lalunya.

Melihat situasi yang sudah semakin tidak terkendali, di mana emosi Arumi sudah nyaris menyentuh batas histeris yang berbahaya bagi kesehatannya, dan dua anak kecil di dalam ruangan itu, Bintang dan Langit, mulai menangis ketakutan melihat sang ibu meledak hebat, Pak RT yang sejak awal hanya diam mengamati dengan pandangan tajam akhirnya memutuskan untuk bertindak sebagai penengah yang tegas. Beliau berdiri dari kursi tunggalnya, membetulkan posisi letak kacamata dan pakaiannya, lalu berjalan mendekati meja kayu yang memisahkan Arumi dan Pakde Kalim. Tatapan mata Pak RT tampak begitu berwibawa, mencerminkan sosok seorang pemimpin lingkungan yang bijaksana namun tidak bisa diintimidasi oleh kekayaan materi.

"Arumi, Nak... tenang dulu, istigfar, Nak. Sebut nama Allah di dalam hatimu," ujar Pak RT dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan menenangkan. Beliau melangkah mendekati sofa, lalu dengan lembut mengusap lengan Bintang dan Langit yang sedang menangis sambil memegangi daster ibunya. "Pikirkan anak-anakmu, Rum. Pikirkan Bintang dan Langit yang sedang menontonmu sekarang. Jangan biarkan kemarahan ini merusak dirimu sendiri. Tarik napas dalam-dalam, Nak..."

Setelah memastikan Arumi mulai bisa mengatur ritme napasnya meski tubuhnya masih bergetar hebat, Pak RT kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Arumi, menghadapkan pandangan matanya langsung ke arah Pakde Kalim yang masih tertunduk di seberang meja.

"Maaf yang sebesar-besarnya, Pak Kalim," Pak RT membuka suara dengan nada yang sangat datar namun sarat akan penekanan yang menusuk. "Apa yang baru saja dikatakan oleh anak ini, Arumi, adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak akan pernah bisa Bapak bantah dengan alasan apa pun. Saya dan istri saya, serta Bu Ida di sini, adalah saksi hidup yang melihat bagaimana perjuangan berdarah-darah keluarga Pak Praga di masa lalu hingga mereka berdua tiada. Nasi memang sudah menjadi bubur, Pak. Dan nyawa Pak Praga serta istrinya memang tidak akan pernah bisa ditukar kembali dengan lembaran uang, seberapa pun banyaknya jumlah uang yang Bapak miliki hari ini."

Pak RT menghela napas pendek, lalu melirik ke arah amplop cokelat dan buku tabungan di atas meja. "Namun, jika kedatangan Bapak jauh-jauh ke sini hari ini memang benar-benar didasari oleh rasa penyesalan yang mendalam yang menyiksa batin Bapak, dan Bapak berniat dengan tulus untuk mengembalikan apa yang menjadi hak mutlak keluarga almarhum... menurut pandangan saya sebagai orang tua di sini, menerima pengembalian itu adalah langkah yang jauh lebih baik untuk masa depan Arumi dan anak-anaknya, daripada Bapak terus-menerus membawa beban dosa dan kutukan itu seumur hidup Bapak di sisa usia Bapak yang sudah senja ini."

Pakde Kalim mendongak dengan cepat, seolah-olah baru saja mendapatkan secercah harapan di tengah badai kemurkaan keponakannya yang nyaris menenggelamkannya dalam rasa bersalah. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia buru-buru mendorong amplop cokelat tebal dan buku tabungan biru itu lebih dekat ke arah tengah meja kayu, tepat di hadapan tempat Arumi berdiri.

"Benar, Pak RT... benar sekali apa yang Bapak katakan. Tolong bantu saya menyampaikan ini pada Arumi..." ratap Pakde Kalim dengan suara yang semakin melemah, matanya yang mulai kabur oleh usia menatap Arumi dengan tatapan memohon yang sangat memelas. "Arumi... demi Allah, Pakde tidak bermaksud pamer atau menghina kemiskinanmu di sini. Di dalam amplop cokelat tebal ini, ada uang tunai cash segar senilai dua ratus juta rupiah. Ini sengaja Pakde bawa tunai agar bisa langsung kamu gunakan untuk biaya hidup sehari-hari, biaya sekolah Bintang dan Langit, atau keperluan mendesak apa pun sekarang secara instan tanpa perlu repot ke bank."

Pria tua itu mengambil napas sejenak, menelan ludahnya yang terasa kering sebelum melanjutkan kalimatnya yang akan mengubah jalannya sejarah kehidupan Arumi. "Dan... dan di luar dugaanmu, Nak... ini, buku tabungan biru dan kartu ATM yang baru ini, sudah Pakde urus dan Pakde buatkan rekening khusus di bank pemerintah atas nama bapakmu sendiri, Praga. Di dalam rekening atas nama bapakmu ini... semalam sudah Pakde masukkan, Pakde transfer seluruh dana kompensasi murni senilai dua miliar rupiah."

Deg!

Kata dua miliar rupiah yang meluncur dari mulut Pakde Kalim seketika seperti sebuah hantaman gada besar yang membuat seisi ruangan itu senyap seketika. Gema suara tangis Bintang dan Langit mendadak mereda karena atmosfer ketakutan yang digantikan oleh keterkejutan yang luar biasa. Bu Ida yang sejak tadi sedang menyeka air matanya menggunakan ujung jilbab lusuhnya langsung terkesiap, matanya membelalak sempurna, dan tangannya refleks membekap mulutnya sendiri karena terkejut setengah mati sampai-sampai ia menggeser posisi duduknya ke belakang. Bahkan Pak RT dan Bu RT pun tidak mampu menyembunyikan binar keterkejutan yang sangat nyata di dalam bola mata mereka. Nominal dua miliar rupiah adalah angka yang terlalu fantastis, sebuah angka kosmik yang belum pernah sekali pun melintasi takdir warga yang tinggal di dalam lingkungan gang sempit padat penduduk tersebut.

"Uang dua miliar rupiah itu... itu adalah hasil murni dari perhitungan konversi nilai harta warisan bapakmu di kampung dulu, yang kemudian Pakde putar sebagai modal awal di bisnis properti dan tanah milik Pakde," lanjut Pakde Kalim dengan suara yang semakin mengecil, menahan rasa malu dan penyesalan yang membakar batinnya sendiri. "Pakde sengaja membuat rekening itu tetap menggunakan nama Praga, sebagai bentuk pengakuan hukum dan moral dari Pakde bahwa seluruh kesuksesan kekayaan yang Pakde miliki hari ini adalah milik bapakmu, murni milik bapakmu. Ini nomor PIN ATM-nya, sudah Pakde tuliskan dengan jelas di balik lembar pertama buku tabungan. Uang itu sekarang sepenuhnya, seratus persen, berada di bawah kendalimu, Arumi. Kamu adalah ahli waris tunggal dan sah dari almarhum Praga."

Arumi memandangi buku tabungan biru dan tumpukan amplop cokelat tebal berisi uang ratusan juta di atas meja itu dengan tatapan yang kosong, datar, dan tak terbaca. Pikirannya mendadak melayang memikirkan ironi kehidupan yang sedang ia jalani. Di saat suaminya sendiri, Pras, bersama ibu mertuanya memperlakukannya seperti sampah yang tak berharga, mengusirnya dari ruang keluarga, dan menghinanya sebagai wanita miskin yang kere hanya karena ia menuntut uang nafkah tahunan yang kikir, kini Tuhan justru menjatuhkan sebuah keadilan instan. Tuhan menjatuhkan bongkahan berlian bernilai miliaran rupiah tepat di atas meja kayunya yang reyot, membungkam semua mulut yang pernah merendahkannya tanpa ia perlu memohon bantuan kepada suaminya lagi. Ini adalah sebuah pembalasan instan yang jauh lebih indah dan kejam daripada apa yang bisa ia rencanakan sendiri.

Pakde Kalim perlahan-lahan menggeser tubuhnya, berusaha berdiri dari sofa dengan sisa-sisa tenaga di tubuhnya yang tampak semakin ringkih, lemah, dan bungkuk dimakan usia. Ia memandangi wajah Arumi untuk yang terakhir kalinya, merekam dalam-dalam wajah keponakan tunggalnya yang telah ia hancurkan masa lalunya namun kini tumbuh menjadi wanita yang luar biasa kuat.

"Pakde tidak berani mengharapkan kamu akan memaafkan seluruh kesalahan Pakde hari ini, Arumi. Pakde sangat tahu bahwa luka di hatimu dan luka masa lalu bapakmu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan angka-angka ini," ucap pria tua itu dengan seulas senyuman getir yang dipenuhi penyesalan seumur hidup. "Setelah hari ini... setelah urusan pengembalian ini selesai, Pakde akan pergi jauh, Nak. Pakde bersama dengan seluruh anak, cucu, dan keluarga besar Pakde akan mengemas semua barang kami. Kami akan pindah dan menetap di luar negeri selamanya. Pakde tidak akan pernah kembali lagi menapakkan kaki di tanah Indonesia, dan Pakde berjanji tidak akan pernah muncul atau mengganggu kehidupanmu serta anak-anakmu lagi sampai kapan pun. Anggap saja ini adalah peninggalan terakhir dari sisa dosa masa lalu Pakde yang bisa Pakde bersihkan sebelum ajal menjemput. Jaga anak-anakmu dengan baik, Nak... mereka adalah darah daging, cucu dari adik kandungku yang paling hebat dan jujur, Praga."

Dengan langkah kaki yang gontai, berat, dan air mata yang terus-menerus mengalir membasahi pipinya yang keriput, Pakde Kalim membalikkan badannya. Didampingi oleh dua ajudannya yang berjalan sigap di belakangnya, pria tua kaya raya itu melangkah keluar melintasi pintu depan rumah sederhana Arumi, meninggalkan ruang tamu itu masuk ke dalam keheningan yang kini sarat akan takdir baru yang membentang luas. Uang tunai dua ratus juta rupiah dan angka dua miliar di dalam tabungan di atas meja kini resmi menjadi saksi bisu, sebuah bukti otentik bahwa roda nasib seorang Arumi telah berputar total arah, melesat naik ke titik tertinggi yang tak akan pernah bisa dijangkau lagi oleh kaki-kaki kotor keluarga mantan suaminya.

1
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
Uthie
dasar manusia2 Toxic 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!