NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Klaim

Pagi itu, suasana di apartemen terasa lebih sesak dari biasanya. Setelah beberapa hari memilih untuk tidak masuk kerja, Arsen sudah berdiri tegak di dekat pintu sejak tadi, tubuhnya dibalut setelan rapi yang sempurna. Matanya tak lepas menatap pintu kamar yang masih tertutup.

​Ketika pintu itu akhirnya terbuka, Arsen tertegun. Senja melangkah keluar dengan setelan kantor yang membalut tubuhnya dengan pas—kemeja putih bersih dipadukan dengan rok span abu-abu. Blazer hitamnya hanya disampirkan santai di lengan. Senja tampak sibuk, satu tangannya memegang tas sementara tangan lainnya sibuk membetulkan posisi heels-nya.

​Gerakan itu membuat kemeja putihnya sedikit tertarik ke bawah, memperlihatkan lekuk dada yang samar di balik kerah yang sedikit terbuka. Arsen tanpa sadar menelan ludah, tenggorokannya mendadak kering. Sial. Sudah berapa hari ia menahan diri? Dan jujur saja, sudah berapa tahun ia benar-benar tidak menyentuh wanita? Hasrat yang selama ini ia tekan seolah meledak hanya karena pemandangan sederhana itu.

​Senja melewatinya dengan langkah terburu-buru. "Ayok, Pak. Kita telat nanti," ucapnya ringan, sama sekali tidak menyadari dampak kehadirannya bagi pria di sampingnya.

​Namun, saat bahu mereka berpapasan, wangi parfum Senja yang lembut namun memabukkan menyeruak, menusuk indra penciuman Arsen dan membuat akal sehatnya benar-benar hilang.

​Sebelum Senja sempat melangkah lebih jauh, tangan Arsen bergerak refleks. Ia menarik pergelangan tangan Senja dengan cepat, membalikkan tubuh wanita itu, dan tanpa memberi kesempatan untuk bernapas, Arsen mendaratkan ciuman yang menuntut ke bibir Senja.

​Senja terbelalak, tubuhnya membeku seketika karena terkejut. Ia sempat mencoba memberontak, mendorong dada Arsen dengan kedua tangannya, namun usahanya sia-sia. Lengan Arsen yang kuat justru melingkar di pinggangnya, menarik tubuh Senja merapat hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Tekanan itu membuat Senja tak sengaja mengeluarkan lenguhan kecil di sela-sela ciuman mereka.

​Sial, batin Arsen, matanya menggelap. Ia tahu ini berbahaya, tapi ia sudah tidak bisa lagi berpura-pura tenang.

Cengkeraman Arsen di pinggang Senja semakin menguat, meremas lembut namun posesif, sebuah dorongan tak sadar yang membuat Senja tanpa sadar memajukan tubuhnya, menempelkan dada mereka lebih rapat lagi. Nafas mereka beradu, menciptakan atmosfer yang semakin panas di tengah ruangan yang sunyi.

​Tiba-tiba, Arsen tersentak ke dunia nyata. Ia segera melepaskan ciuman itu, menyisakan jejak basah dan dingin di bibir Senja yang sedikit bengkak. Ia melangkah mundur satu langkah, berusaha mengatur nafasnya yang memburu, meski tangannya masih sedikit gemetar.

​"Maaf," ucap Arsen dengan suara berat yang serak, hampir seperti geraman. Ia membuang muka, tak sanggup menatap mata Senja yang masih berkaca-kaca karena syok. "Saya tunggu di depan. Kamu... kamu bisa merapikan pakaian dan riasanmu lagi."

​Tanpa menunggu jawaban, Arsen berbalik dan melangkah pergi menuju pintu keluar, meninggalkan Senja yang masih mematung di tengah ruangan.

​Senja terdiam. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Wajahnya memanas, rasa malu yang hebat menyerang saat ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa? Kenapa dia malah mendesah tadi? Suara lenguhan kecil itu masih terngiang di kepalanya, terdengar begitu memalukan sekaligus jujur. Tangannya gemetar saat ia menyentuh bibirnya sendiri yang masih terasa panas oleh ciuman Arsen, merasa seolah jiwanya baru saja ditarik paksa dari raga.

Perjalanan menuju Malik Media dipenuhi keheningan.

Mercedes-Benz G-Class melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan.

Biasanya...

Senja akan mengobrol tentang jadwal rapat, pekerjaan, atau sekadar mengomentari kemacetan pagi.

Namun hari ini...

Tak satu pun dari mereka membuka suara.

Senja menatap keluar jendela.

Sesekali, tanpa sadar, jemarinya kembali menyentuh bibirnya sendiri.

Bayangan beberapa menit lalu terus berputar di kepalanya.

"Pak Arsen... menciumku?"

Ia langsung menggeleng pelan.

"Kenapa beliau melakukan itu?"

Di sisi lain, Arsen menggenggam kemudi sedikit lebih erat.

Tatapannya lurus ke depan.

Namun pikirannya sama sekali tidak berada di jalan.

"Bodoh."

"Seharusnya aku bisa mengendalikan diri."

Ia terbiasa mengendalikan perusahaan bernilai triliunan rupiah.

Mengendalikan negosiasi.

Mengendalikan emosi.

Bahkan mengendalikan rasa sakit.

Tetapi...

Ia gagal mengendalikan dirinya sendiri saat berhadapan dengan Senja.

Lampu lalu lintas berubah merah.

Mobil berhenti.

Arsen mengembuskan napas pelan.

"Senja."

Perempuan itu menoleh perlahan.

"Iya, Pak?"

"Maaf."

Hanya satu kata.

Namun terasa jauh lebih berat daripada permintaan maaf mana pun yang pernah Arsen ucapkan.

"Saya nggak bermaksud membuat kamu tidak nyaman."

Senja terdiam beberapa saat.

Lalu ia menundukkan kepala.

"Saya... memang kaget."

Arsen mengangguk pelan.

"Itu salah saya."

Keheningan kembali mengisi kabin.

Beberapa detik kemudian...

Senja tersenyum tipis.

"Tapi..."

Arsen menoleh.

"Saya percaya Bapak nggak akan sengaja menyakiti saya."

Kalimat sederhana itu membuat dada Arsen terasa sesak.

Percaya.

Setelah semua yang terjadi...

Perempuan itu masih mempercayainya.

Lampu lalu lintas berubah hijau.

Mobil kembali melaju.

Tak lama kemudian, gedung Malik Media mulai terlihat menjulang di depan mereka.

Saat mobil memasuki area parkir khusus direksi, Arsen mematikan mesin.

Ia menoleh kepada Senja.

"Hari ini..."

"...tetap di dekat saya."

Senja mengernyit.

"Terus?"

"Jangan pergi ke mana pun sendirian."

"Termasuk ke pantry?"

Arsen terdiam sesaat.

Pertanyaan itu terdengar begitu polos hingga membuat sudut bibirnya terangkat tipis untuk pertama kalinya pagi itu.

"Termasuk ke pantry."

Senja ikut terkekeh pelan.

"Kalau gitu Bapak harus nemenin saya ambil kopi juga."

Arsen menggeleng kecil.

"Baik."

Jawaban singkat itu justru membuat Senja terkejut.

Ia sebenarnya hanya bercanda.

Namun melihat kesungguhan di wajah Arsen...

Senja mulai menyadari satu hal.

Sejak kembali dari Bogor...

Arsen benar-benar tidak berniat membiarkannya jauh dari jangkauannya, meski hanya beberapa langkah.

Begitu pintu lift eksekutif terbuka, suasana Malik Media langsung terasa hidup.

"Selamat pagi, Pak Arsen."

"Selamat pagi, Pak."

Para karyawan yang berpapasan langsung membungkuk hormat.

Arsen hanya mengangguk singkat.

Namun kali ini...

Langkahnya sedikit diperlambat.

Bukan tanpa alasan.

Senja berjalan tepat di sampingnya.

Sesekali Arsen melirik keadaan sekitar, memastikan tidak ada orang asing yang terlalu memperhatikan perempuan itu.

Senja menangkap tatapan tersebut.

"Pak..."

"Hm?"

"Bapak lihat apa, sih?"

"Nggak."

Jawabannya terlalu cepat.

Senja mengerucutkan bibir.

"Bohong."

Arsen pura-pura tidak mendengar.

Mereka memasuki ruang CEO.

Seperti biasa, Senja langsung mulai bekerja.

Ia menyusun agenda rapat, menyalakan laptop Arsen, lalu membawa beberapa map yang harus ditandatangani.

Semuanya tampak kembali normal.

Setidaknya...

Sampai Senja mencoba mengambil sebuah ordner tebal di rak paling atas.

Ia menjinjit.

Masih belum sampai.

Sekali lagi.

Tetap gagal.

"Pak..."

Arsen yang sedang membaca laporan mengangkat kepala.

"Iya?"

"Boleh minta tolong?"

Tanpa berkata apa-apa, Arsen berdiri.

Ia berjalan mendekati rak arsip.

Senja sedikit bergeser memberi jalan.

Namun ruang di antara rak dan meja tidak terlalu lebar.

Akibatnya...

Saat Arsen berdiri di belakangnya, jarak mereka kembali terasa sangat dekat.

Senja refleks menahan napas.

Arsen sendiri berusaha tetap fokus mengambil ordner yang dimaksud.

Namun tanpa sengaja...

Aroma parfum Senja kembali memenuhi indra penciumannya.

Sama seperti pagi tadi.

Tangannya sempat berhenti di udara.

"Jangan lagi..."

"Kendalikan dirimu."

Ia menarik napas pelan, lalu segera mengambil ordner itu.

"Nih."

"Terima kasih, Pak."

Saat Senja hendak menerimanya, jemari mereka bersentuhan sebentar.

Hanya sepersekian detik.

Namun entah kenapa...

Keduanya sama-sama menarik tangan lebih cepat.

Canggung.

Senja berdeham pelan.

"Makasih."

Lalu buru-buru membawa ordner itu kembali ke mejanya.

Arsen memijat pangkal hidung.

"Aku benar-benar kacau."

Baru saja ia duduk kembali...

Pintu ruang CEO diketuk.

Tok... tok...

"Masuk."

Genta melangkah masuk sambil membawa tablet di tangannya.

"Tuan."

"Ada tamu."

"Siapa?"

Genta menatap Arsen sesaat.

Lalu berkata pelan,

"Pak Devan."

Ruangan yang semula dipenuhi kecanggungan...

Seketika berubah tegang kembali.

Arsen mengangkat pandangannya perlahan.

"Suruh dia masuk."

Sementara di sudut ruangan...

Senja tanpa sadar menggenggam map di tangannya lebih erat.

Entah mengapa...

Perasaannya mengatakan...

Kedatangan Devan kali ini bukan sekadar urusan pekerjaan.

"Silakan masuk."

Pintu ruang CEO terbuka perlahan.

Devan melangkah masuk dengan senyum santainya.

Seolah tidak pernah ada percakapan penuh ancaman di basement apartemen malam sebelumnya.

"Selamat pagi."

Sapanya ringan.

"Pagi, Senja."

Senja yang sedang berdiri di dekat meja hanya membalas dengan anggukan kecil.

"Selamat pagi, Pak."

Arsen memperhatikan interaksi itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Devan membawa sebuah map tipis.

"Saya mau membahas proposal kerja sama dengan Wardana Hotels."

Ia meletakkan map di atas meja Arsen.

"Harusnya bisa selesai minggu depan."

Arsen membuka map itu sekilas.

"Baik."

Jawabannya singkat.

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Devan justru tersenyum kecil.

"Senja."

"Iya, Pak?"

"Kopi buatan kamu masih seenak dulu?"

Senja sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.

"Eh..."

"Masih, Pak... mungkin."

"Kalau begitu saya pesan satu."

Belum sempat Senja menjawab...

Arsen lebih dulu menutup map di depannya.

"Dia tidak bertugas membuatkan kopi."

Ruangan langsung hening.

Devan menaikkan sebelah alisnya.

"Bukankah dulu dia sering membuatkan kopi saat saya lembur di Malik Media?"

"Itu dulu."

Nada suara Arsen tetap datar.

"Sekarang dia asisten saya."

Devan menatap Arsen beberapa detik.

Lalu tertawa pelan.

"Protektif sekali."

"Tidak."

Arsen menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Saya hanya menjalankan tugas."

"Tugas?"

"Iya."

"Menjaga orang yang menjadi tanggung jawab saya."

Tatapan kedua pria itu kembali bertemu.

Tak ada satu pun yang mengalah.

Senja yang berdiri di antara mereka hanya bisa menelan ludah.

Entah kenapa...

Suasana ruang kerja itu terasa seperti medan perang yang tak terlihat.

Beberapa saat kemudian, Devan mengembuskan napas pelan.

"Baiklah."

"Saya tidak akan mengganggu lebih lama."

Ia berdiri.

Sebelum keluar, langkahnya kembali berhenti.

Kali ini ia menoleh kepada Senja.

"Jaga kesehatan."

"Kalau terlalu capek..."

"...jangan memaksakan diri."

Senja mengangguk sopan.

"Baik, Pak."

Devan lalu mengalihkan pandangannya kepada Arsen.

Senyumnya masih sama.

Namun kalimat berikutnya hanya dimengerti oleh mereka berdua.

"Semoga kamu tidak lengah."

Arsen tidak menjawab.

Ia hanya membalas tatapan itu tanpa berkedip.

Devan pun keluar dari ruangan.

Pintu tertutup pelan.

Baru setelah langkah kaki Devan benar-benar menjauh...

Senja mengembuskan napas panjang.

"Pak..."

"Hm?"

"Saya kenapa merasa..."

"...Bapak sama Pak Devan lagi perang dingin?"

Arsen menatap pintu yang baru saja tertutup.

Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

"Bukan perang dingin."

Jawabnya pelan.

"Itu namanya..."

"...perebutan."

Senja mengernyit bingung.

"Perebutan apa?"

Arsen menoleh menatap Senja.

Tatapan itu begitu dalam hingga membuat Senja kembali salah tingkah.

Namun Arsen tidak menjawab.

Ia hanya berkata singkat,

"Lanjut kerja."

Meninggalkan Senja yang masih bertanya-tanya...

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!