NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Papan Catur Ketiga

Istana Kaisar Draconis berdiri di jantung kota dengan kemegahan yang melampaui semua bangunan di Prefektur Draconis.

Dinding batu hitam setinggi lima puluh meter diukir dengan relief tiga belas klan naga yang melingkari seluruh bangunan dari bawah, hingga puncak menara tertinggi.

Panel energi keemasan memancar dari setiap celah batu membuat istana itu terlihat seperti naga raksasa yang sedang membara dari dalam.

Arjuna berjalan di samping Harjasa dengan langkah yang tidak terburu-buru. Matanya memindai setiap sudut istana dengan kalkulasi yang tidak pernah berhenti.

Dua penjaga istana menghalangi gerbang utama saat rombongan klan Hydra mendekat.

Sisik merah tua melapisi tubuh humanoid mereka, dan tombak energi emas menyala di tangan masing-masing dengan aura yang memancar jauh di atas prajurit biasa.

"Jendral Harjasa," tegas penjaga pertama, tubuhnya membungkuk hormat sebelum matanya beralih ke Arjuna dengan ekspresi yang berubah seketika, "Tamu Jendral tidak bisa masuk. Protokol istana melarang manusia murni tanpa gelar resmi memasuki aula Kaisar."

Harjasa mengerutkan dahi, aura Void Anchoring Realm: Morning Star miliknya memancar tipis.

"Dia bersamaku," balas Harjasa, suaranya mengandung otoritas yang tidak biasa diperdebatkan.

"Maaf, Jendral," tegas penjaga kedua, postur tubuhnya tidak berubah meskipun tekanan aura Harjasa menekan seluruh area gerbang. "Protokol tidak mengenal pengecualian bahkan untuk Jendral sekalipun."

Para tetua di belakang Harjasa saling bertukar pandang dengan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan.

Harjasa berdiri tegak, rahangnya terkatup rapat.

Arjuna tidak bergerak, dan tidak mengubah ekspresi. Matanya hanya berpindah dari penjaga pertama ke penjaga kedua dengan tenang.

"Kalian menghentikan saksi utama pelanggaran diplomatik yang dilakukan Prefektur Ethereal di wilayah Prefektur Draconis malam ini," ucap Arjuna, suaranya rendah tapi bergema di seluruh area gerbang dengan presisi yang tidak meminta izin. 

Kemudian ia melanjutkan, "Jika Kaisar mengetahui bahwa penjaga istananya menghalangi bukti sampai ke tangannya, aku tidak dapat membayangkan konsekuensinya bagi kalian berdua."

Keheningan jatuh di area gerbang.

Kedua penjaga itu tidak bergerak, tapi sesuatu di postur tubuh mereka berubah sangat pelan.

Harjasa memanfaatkan momen itu, melangkah maju dengan aura penuh.

"Buka gerbang!" perintah Harjasa, suaranya tidak memberi ruang untuk didebat. "Sekarang!"

Gerbang terbuka.

Aula istana Kaisar Draconis jauh lebih besar dari yang terlihat dari luar. Langit-langitnya setinggi tiga puluh meter dengan ukiran sisik naga yang melapisi setiap permukaan dari lantai, hingga puncak kubah.

Di singgasana tertinggi, Kaisar Draconis Maharaja Durgandha duduk dengan jubah merah tua yang memancarkan aura yang membuat seluruh aula terasa lebih kecil dari yang seharusnya.

Matanya berwarna merah emas, memandang ke bawah dengan tatapan yang sudah menyaksikan terlalu banyak hal untuk terkejut dengan apapun.

Di hadapan singgasana, dua sosok Dragonoid dari klan Wyvern berlutut dengan jubah resmi klan mereka, salah satunya memancarkan aura yang menunjukkan jabatan tinggi.

Utusan resmi klan Wyvern.

Mereka sudah lebih dulu tiba.

"Klan Hydra …," ucap Kaisar, suaranya bergema di seluruh aula dengan bobot yang tidak perlu ditinggikan. "Apa urusan kalian menghadap aku di tengah malam seperti ini?"

Harjasa berlutut dengan satu lutut, para tetua mengikuti di belakangnya.

Arjuna tidak berlutut.

Utusan klan Wyvern berbalik, matanya memandang Arjuna dengan tatapan yang langsung menyalakan kemarahan yang tidak disembunyikan.

"Manusia murni berani berdiri tegak di hadapan Kaisar?" bentak utusan klan Wyvern, suaranya meledak di seluruh aula. "Tidak tahu adat!"

"Yang Mulia," lanjut utusan itu berbalik ke Kaisar, suaranya berubah menjadi laporan yang sudah dipersiapkan. "Klan Hydra membawa manusia berbahaya ke dalam istana. Manusia ini sudah membunuh anggota klan Wyvern secara brutal di perbatasan wilayah kita."

Kaisar tidak menjawab, hanya menatap Arjuna dengan tatapan merah emas yang tidak bisa dibaca.

"Jendral Harjasa …," ucap Kaisar akhirnya, suaranya datar seperti permukaan batu yang tidak pernah disentuh angin, "Jelaskan!"

Harjasa bangkit, tangannya mengangkat bracelet komunikator Panthera ke hadapan Kaisar.

"Yang Mulia," ucap Harjasa, suaranya formal dan berat. "Ini adalah bukti konkret bahwa Komandan Wiryo dari Prefektur Ethereal mengutus organisasi pembunuh bayaran Phantom untuk beroperasi di dalam wilayah Prefektur Draconis.”

“Operasi yang dijalankan tanpa izin resmi dan melanggar kedaulatan wilayah kita."

Panel hologram melayang di tengah aula, rekaman suara Wiryo mengisi seluruh ruangan dengan dingin yang menusuk.

Utusan klan Wyvern memucat wajahnya seperti mayat yang sudah berumur 100 tahun.

"Lebih dari itu," lanjut Harjasa, matanya beralih ke utusan klan Wyvern dengan tatapan yang mengandung kemenangan yang belum dirayakan. "Operasi Phantom ini dijalankan di malam yang sama ketika tiga anggota klan Wyvern menyerang manusia berlencana klan Hydra di dalam wilayah Prefektur Draconis. Kebetulan yang terlalu sempurna untuk disebut kebetulan."

Utusan klan Wyvern bangkit, wajahnya merah padam.

"Ini fitnah!" bentak utusan itu, aura Spirit Awakening Realm: Golden Star memancar brutal. "Klan Wyvern tidak pernah bekerja sama dengan Prefektur Ethereal!"

"Rekaman tidak bisa berbohong," jawab Harjasa, suaranya tenang dan menghancurkan. "Tapi klan Wyvern bisa."

Kaisar mengangkat tangan.

Semua suara berhenti seketika.

Matanya merah emas memindai seluruh aula dengan tatapan yang sudah memutuskan sesuatu jauh sebelum semua orang di ruangan itu menyadarinya.

"Aku akan menyelidiki ini," ucap Kaisar, suaranya bergema dengan bobot keputusan yang tidak bisa dibantah. "Klan Wyvern dilarang bergerak dari wilayah mereka sampai penyelidikan selesai.”

“Klan Hydra mendapat perlindungan penuh istana selama proses berlangsung."

Matanya beralih ke Arjuna, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca selama beberapa detik penuh.

"Untuk manusia ini," titah Kaisar, suaranya mengandung sesuatu yang jauh lebih kompleks dari penilaian biasa. "Tetap di bawah pengawasan klan Hydra sampai aku memutuskan apa yang harus dilakukan dengannya."

Arjuna menatap balik Kaisar tanpa berkedip.

Papan catur ketiga baru saja bergerak sesuai kalkulasi.

***

Di kediaman klan Hydra, keheningan malam menyelimuti seluruh bangunan.

Dyah Ayu berdiri di tengah ruangan utama yang kosong, Light Cyborg Armor Suit putih perak melapisi seluruh tubuhnya.

Pengawal di luar tidak bersuara sejak tadi.

Terlalu sunyi.

"Kenapa tidak ada suara sama sekali?" batin Dyah Ayu, matanya memindai setiap sudut ruangan dengan kekhawatiran yang tidak bisa dia sembunyikan, "Seharusnya ada suara langkah penjaga."

Dia melangkah pelan ke arah jendela untuk mengintip ke luar melalui celah tirai.

Dua pengawal klan Hydra yang seharusnya berjaga di depan pintu tergeletak di tanah dengan tubuh yang tidak bergerak. Nafas mereka masih ada, tapi mata mereka tertutup dalam pingsan yang tidak wajar.

"Mereka dilumpuhkan," bisik Dyah Ayu, suaranya nyaris tidak terdengar oleh dirinya sendiri. "Tanpa suara. Tanpa perlawanan."

Pintu ruangan utama terbuka tanpa suara.

Tiga sosok masuk.

Wiryo di depan, aura Spirit Awakening Realm: Celestial Star memancar dari seluruh tubuhnya dan langsung menekan seluruh ruangan.

Dyah Ayu tidak bisa bergerak.

"Ar-Arjuna," batin Dyah Ayu, lututnya hampir menyentuh lantai, nafasnya terputus-putus di bawah tekanan aura yang jauh melampaui kemampuan tubuh manusia murni untuk ditanggung. "Kenapa kau pergi di saat seperti ini?”

Akan tetapi tubuhnya tidak terluka.

Light Cyborg Armor Suit bekerja sempurna untuk menahan seluruh tekanan fisik yang datang dari aura tiga Komandan itu.

"Siapa kalian?" bisik Dyah Ayu, matanya menatap Wiryo dengan tatapan yang tidak padam meskipun seluruh tubuhnya gemetar.

Wiryo menatap Dyah Ayu dengan mata biru yang memancar dengan kenikmatan yang mengerikan.

"Armor yang bagus," desah Wiryo, melangkah maju perlahan. "Tapi armor tidak bisa melindungi dari rasa sakit yang sesungguhnya."

"Tolong," batin Dyah Ayu, matanya bergetar penuh ketakutan yang nyata. "Tolong ada yang mendengarku!”

"Bawa dia kepadaku hidup-hidup!" perintah Wiryo, suaranya dingin dan mengerikan. "Aku ingin Arjuna melihat sendiri apa yang terjadi pada manusia yang dia tinggalkan di belakangnya, hahahaha …."

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!