Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: UNDANGAN UNTUK ANAK BUANGAN (REVISI)
Bab 18: Undangan Untuk Anak Buangan (Revisi)
Aroma sup buntut premium dan panggangan daging wagyu menguar di udara, memenuhi ruang makan utama mansion Menteng malam ini. Cahaya dari lampu gantung kristal di atas meja marmer panjang memantul mewah, menciptakan atmosfer kehangatan keluarga konglomerat yang begitu sempurna di permukaan.
Gilbert, Victoria, Nicholas, dan Christian duduk di posisi masing-masing, menikmati hidangan dengan obrolan ringan seputar persiapan pesta ulang tahun Alethea yang tinggal menghitung hari. Di ujung meja, Alethea duduk dengan gaun rumahan sutra merah mudanya, memancarkan kebahagiaan seorang putri mahkota yang manja.
Di tengah makan malam yang hangat itu, pintu koridor dapur kotor terbuka pelan. Valerie Vespera melangkah masuk ke dalam ruang makan. Seperti biasa, penampilannya begitu kontras; seragam sekolah SMA Garuda yang sedikit kusut masih melekat di tubuh tirusnya, dan tas kanvas usangnya tersampir longgar di bahu. Wajahnya sedatar es, sepasang mata hitam pekatnya menatap lurus ke depan tanpa ada minat sedikit pun untuk bergabung dengan mereka.
Begitu melihat sosok Valerie, seulas senyuman manis namun sarat akan kelicikan tersembunyi terukir di bibir Alethea. Dia meletakkan sendok peraknya dengan bunyi dentangan pelan, lalu meraih amplop tebal beludru berwarna biru tua berhiaskan ukiran emas murni dari atas meja samping.
"Kak Valerie," panggil Alethea dengan suara yang sengaja dilembutkan, memutus obrolan Gilbert dan Nicholas. Semua mata di meja makan seketika beralih menatap ke arah Valerie yang menghentikan langkah kakinya tepat di tepi karpet ruang makan.
Alethea berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Valerie dengan langkah anggun yang dibuat-buat. Dia menyodorkan amplop mewah tersebut tepat di depan dada Valerie.
"Ini undangan resmi untuk perayaan ulang tahunku yang ke-18 di Grand Ballroom Hotel Mulia minggu depan," ucap Alethea dengan wajah polos penuh ketulusan palsu. "Aku benar-benar berharap Kak Valerie bisa datang. Semua teman sekelas kita di Garuda dan kolega bisnis Papa dari bursa efek akan hadir di sana. Sebagai bagian dari keluarga ini... Kakak wajib ada di sana, bukan?"
Mendengar ucapan Alethea, Victoria langsung meletakkan serbetnya dengan gerakan anggun yang dingin. "Alethea, untuk apa kamu repot-repot memberikan undangan itu padanya? Pesta itu diisi oleh orang-orang dari kalangan atas. Anak tidak tahu sopan santun seperti dia hanya akan mempermalukan nama baik Papa di depan mitra bisnis kita dengan pakaian lusuhnya."
Nicholas ikut terkekeh sinis dari kursinya, menatap Valerie dengan pandangan merendahkan. "Betul kata Mama, Lethea. Jangan sampai dia datang pakai sweter rajut birunya yang bau apek itu ke ballroom bintang lima. Bisa jatuh harga diri keluarga Elrod di depan media bisnis."
Alethea langsung memasang wajah cemas yang manipulatif, menoleh ke arah Victoria dan Gilbert bergantian. "Ih, Mama, Kak Nicholas, jangan bicara begitu. Kak Valerie kan juga anak di rumah ini sekarang. Biar bagaimanapun, aku mau Kakak melihat hari paling bahagiaku. Kak Valerie pasti datang, kan?"
Alethea menatap Valerie dengan kilatan mata yang sarat akan provokasi. Taktik Alethea sangat jelas: dia sengaja mengundang Valerie bukan karena rasa sayang, melainkan ingin menyeret "anak buangan" ini ke lantai dansa yang megah untuk dijadikan bahan tertawaan dan objek penghinaan massal di depan seluruh lingkaran sosial elit Jakarta. Dia ingin menunjukkan jurang status sosial yang mutlak di antara mereka.
Valerie menurunkan pandangannya sedikit, menatap amplop beludru biru di tangan Alethea. Di kehidupan masa lalu, Valerie akan menangis tersedu-sedu menerima perlakuan ini, merasa terhina namun terpaksa datang demi mencari pengakuan hubungan darah yang sia-sia.
Tapi malam ini, Valerie Vespera yang berdiri di sana adalah sang kaisar bayangan.
Dengan gerakan yang teramat anggun dan pelit emosi, Valerie mengulurkan tangan rampingnya, meraih amplop beludru itu dari genggaman Alethea. Dia tidak merobeknya, tidak juga melemparkannya. Dia hanya memegangnya dengan dua jari, seolah undangan mewah bernilai jutaan rupiah itu tak lebih dari sekadar kertas sampah yang tidak sengaja menempel di tangannya.
"Jika kehadiran saya adalah sesuatu yang sangat kamu nantikan, Alethea..." Valerie bersuara, nadanya begitu tenang, dingin, dan beralun konstan tanpa ada getaran amarah sedikit pun. "Maka saya pastikan, saya akan berdiri di tengah ballroom itu minggu depan."
Valerie menatap lurus ke pupil mata Alethea, membuat senyuman kemenangan di wajah ular palsu itu mendadak membeku karena merasakan tekanan aura kegelapan yang teramat pekat dari tatapan Valerie.
"Persiapkan dirimu dengan baik untuk malam puncakmu," tambah Valerie dengan seulas senyuman tipis yang teramat misterius di sudut bibirnya. "Jangan sampai dekorasi emas yang sudah susah payah Mama Victoria bangun dengan sisa kas perusahaan, berakhir menjadi latar belakang dari sesuatu yang tidak ingin kamu saksikan."
Sebelum Alethea atau Victoria sempat mencerna makna kalimat dingin tersebut, Valerie sudah membalikkan tubuhnya dengan keanggunan seorang penguasa mutlak. Dia melangkah pergi meninggalkan ruang makan, menuruni anak tangga semen menuju kamar gudang bawah tanahnya yang gelap.
Begitu pintu gudang terkunci rapat, Valerie melempar undangan beludru itu ke atas meja kayu usangnya tanpa menoleh lagi. Di tangannya, ponsel pintarnya menyala, menampilkan pesan teks singkat yang dia kirimkan kepada Julian Prakasa:
Umpan undangan sudah saya terima. Instruksikan seluruh tim siber kita untuk mengunci posisi eksekusi short-selling saham Elrod Properti tepat pada pukul sembilan malam saat dansa pertama Alethea dimulai. Mari kita beri mereka pertunjukan tirai runtuh yang sesungguhnya.
Di atas meja, amplop beludru itu tampak berkilau redup di bawah cahaya lampu bohlam gudang yang temaram, bersiap menjadi tiket saksi bisu dari malam di mana Valerie Vespera akan menghancurkan topeng kemegahan palsu dinasti Elrod di depan seluruh dunia atas Jakarta.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
pas val ke dapur ketemu mbok darmi🤔
gk pd saat di panti🤔
aaaah.... mgkin kendala dr ponsel pintar ya💪