Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
"Siapa tamunya, bi?." Mengingat ia tidak membuat janji temu dengan siapapun, tuan Andrean lantas bertanya.
"Bibi juga nggak tahu, tuan."
Tuan Andrean dan sang istri sontak saling melempar pandangan satu sama lain.
"Baiklah, saya akan segera menemui tamunya." Kata tuan Andrean sesaat kemudian.
"Nanti saja kita bahas lagi tentang Zira, sebaiknya sekarang kita ke depan untuk menemui tamu yang datang, mah!." Tuan Andrean mengajak sang istri menuju ruang tamu.
Setiba ayah dan ibu di ruang tamu, di waktu yang bersamaan Tomi kembali usai berolahraga. Ya, kebetulan hari ini weekend sehingga ayah dan juga Tomi tidak berangkat kerja.
"Tuan Lexiano Fernandez...." Tuan Andrean sedikit speechless dengan sosok tamunya pagi ini.
Menyadari kedatangan tuan Andrean, Lexi sontak berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Usai bersalaman dengan tuan Andrean, Lexi juga gantian bersalaman dengan Tomi.
"Silahkan duduk, tuan Lexiano!." Tomi mempersilahkan Lexi untuk kembali menempati tempat duduknya. Sekilas Tomi melirik pada dua orang pria bertubuh tinggi besar yang kini nampak berdiri tegap tak jauh dari posisi tuannya.
"Terima kasih."
"Maaf sebelumnya, kalau boleh tahu ada kepentingan apa hingga tuan Lexiano Fernandez berkunjung ke kediaman kami?." Setelah hubungan putrinya dengan putra bungsu dari keluarga Fernandez berakhir, tuan Andrean merasa tidak terikat hubungan apapun lagi dengan keluarga konglomerat tersebut, maka tak heran jika pria paruh baya tersebut sedikit bingung dengan kedatangan Lexi dipagi menjelang siang hari ini.
"Sebenarnya maksud dan tujuan dari kedatangan saya ke sini adalah untuk melamar Zira menjadi calon istri saya." Lexiano paling tidak suka dengan kalimat basa-basi. Pria itu langsung saja mengutarakan maksud dan tujuan dari kedatangannya.
Tomi yang duduk di sofa berhadapan dengan Lexi sontak menyunggingkan senyum tipisnya. "Maaf tuan Lexiano Fernandez, kediaman keluarga kami memang tidak semegah kediaman keluarga Fernandez, tapi bukan berarti anda bisa melawak sesuka hati anda di sini. Jika ingin melawak, sebaiknya cari tempat yang cocok!." Adiknya baru saja memutuskan hubungan pertunangan dengan putra bungsu dari keluarga Fernandez, dan kini putra sulung dari keluarga tersebut datang untuk melamar adiknya untuk dijadikan calon istri, bukannya itu terdengar seperti sebuah lawakan bagi Tomi.
Berbeda dengan Tomi, sang ayah lebih serius dalam menanggapi perkataan Lexi. Karena, sangatlah tidak masuk akal jika kedatangan seorang Lexiano Fernandez pagi ini hanya untuk sekedar bercanda.
"Maaf tuan Lexiano Fernandez, jika memang ucapan anda benar adanya, maka dengan tegas kami menolak lamaran anda. Lagipula, Putri kami bukanlah piala bergilir yang bisa di miliki oleh kakak-beradik secara bergantian. Terlebih, sebagai kakak kandung dari Leon, sangat mustahil jika anda tidak mengetahui alasan mengapa putri kami sampai memutuskan hubungan dengan adik anda." Tegas Tuan Andrean.
"Justru karena alasan itu hingga saya datang ke sini, tuan." Lexi tetap terlihat tenang dalam berujar.
"Apa maksud anda?." Emosi Tomi mulai terpancing mendengar ucapan Lexi.
"Apa lamaran saya akan tetap ditolak, jika faktanya saya lah pria yang telah merenggut kesucian Zira?." Tidak ada gurat takut di wajah Lexi saat mengatakan kalimat tersebut.
Tomi spontan bangkit dari duduknya dan melayangkan pukulan ke wajah Lexi. Bisa saja Lexi menghindar ataupun menangkis pukulan Tomi, namun pria itu memilih diam saja, membiarkan Tomi melampiaskan kemarahannya. Bahkan, anak buahnya yang hendak mencegah tindakan Tomi segera dihentikan oleh Lexi hanya dengan mengangkat tangannya ke udara.
"Dasar bajin-gan... Karena perbuatan anda hidup adik saya jadi berantakan seperti ini." Tomi kembali melayangkan pukulan ke wajah Lexi. Namun pukulan tersebut seperti tak berasa bagi pria itu, buktinya tubuh Lexi tetap berdiri tegap pada posisinya tanpa bergeser sedikitpun, hanya Tomi yang merasa kebas pada tangannya hingga memutuskan untuk berhenti dengan sendirinya.
Menghadapi kemarahan serta pukulan dari Tomi lebih baik menurut Lexi ketimbang melihat wajah sendu ayahnya Zira. Sungguh, melihat mimik sendu di wajah ayahnya Zira membuat Lexi merasa seperti pria paling jahat dimuka bumi ini.
"Mengapa anda tega melakukannya terhadap putri saya? Bukankah anda sendiri tahu bahwa Zira menjalin hubungan dengan adik kandung anda, lalu mengapa masih tega melakukannya?." Tuan Andrean bertanya dengan kedua mata yang nampak berkaca-kaca.
Lexi yang sebelumnya tidak pernah tunduk pada siapapun, kini berlutut dihadapan ayahnya Zira. "Saya mohon maaf atas perbuatan saya terhadap putri anda, tuan. Tapi demi Tuhan, kejadian itu terjadi sebelum Zira bertemu dengan adik saya, Leon."
"Jika ingin memberi hukuman maka silahkan menghukum saya! Saya mohon jangan menyalahkan apalagi sampai menghukum Zira, karena dia tidak bersalah. Saya yang bersalah. Saya yang memaksa Zira saat itu."
Deg.
"Hiks....hiks....hiks....." Tangis ibu semakin pecah mendengar pengakuan Lexi. Ternyata Zira hanyalah korban, akan tetapi putrinya itu harus mendapatkan hukuman dari sang ayah. Sungguh, ibu merasa ini sangat tidak adil bagi putrinya, di mana seorang korban harus menjalani hukuman.
Tubuh tuan Andrean langsung terduduk lemas di sofa, ia merasa bersalah karena telah menghukum putrinya yang seharusnya mendapat dukungan darinya selaku ayahnya.
"Bagaimana jika saya mempidanakan perbuatan anda terhadap putri saya."
"Saya tidak keberatan, karena itu mutlak hak anda. Tetapi, setelah selesai menjalani hukuman, saya pasti akan melakukan cara apapun agar bisa menikahi putri anda." Lexi berujar dengan lugas tanpa keraguan. Ia sudah siap dengan konsekuensi apapun yang akan terjadi padanya ke depannya nanti.
Deg.
Tuan Andrean tertegun mendengar jawaban Lexi. Sesungguhnya, tuan Andrean tidak serius dengan ancamannya, karena bila ia benar-benar melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib, secara tidak langsung ia akan mempermalukan putrinya sendiri.
"Dasar pria breng-sek... Dengan mudahnya kau mengutarakan keinginanmu untuk menikahi adikku, sementara akibat dari perbuatanmu entah di mana adikku berada sekarang." Berang Tomi.
"Saat ini Zira menempati apartemen saya, tetapi Zira sendiri tidak tahu menahu jika apartemen tersebut adalah milik saya." Baik Ayah, ibu dan juga Tomi, sama-sama terkejut dengan pengakuan Lexi. Rupanya pria itu diam-diam memberikan tempat tinggal untuk Zira.
"Apakah tujuan anda menikahi putri kami hanya karena merasa bersalah atas perbuatan anda padanya?." Ibu akhirnya buka suara.
"Tentu saja tidak, nyonya. Saya ingin menikahi Zira, karena saya mencintainya. Jika berkenan, mohon berikan kesempatan pada saya untuk membuktikannya!."
"Sebagai ibunya, saya bersedia memberikan kesempatan pada anda untuk memperbaiki kesalahan anda dengan menikahi Zira."
"Saya setuju. Tapi, kalau sampai anda tidak bisa membahagiakan Putri saya, maka saya pasti akan mengambilnya kembali dari anda, tuan Lexiano Fernandez."
Lexi langsung berdiri dari posisi berlutut nya dan menjawab. "Saya Janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Setelahnya, Lexi pun menyampaikan kepada kedua orang tua serta kakak Zira bahwa saat ini wanita itu sedang dirawat di RS sakit karena asam lambungnya kumat akibat terlalu banyak pikiran. Untuk hal ini Tuan Andrean tidak sepenuhnya menyalahkan Lexi sebab faktanya ia pun bersalah karena telah mengusir putrinya itu dari rumah.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣