Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SANG MONSTER (1)
Konfrontasi sengit di lapangan tengah antara Alvaro dan Devan meninggalkan desas-desus panjang yang tak kunjung usai di koridor SMA Nusantara Jaya. Namun, bagi Kayla Shaqueena, kebisingan sekolah kini terasa seperti dengung latar belakang yang kabur. Fokus hidupnya kembali pada poros utama: bertahan hidup, belajar demi mempertahankan beasiswa, dan merawat ayahnya yang masih dalam masa pemulihan di rumah.
Sore itu, langit Jakarta tampak temaram, tertutup oleh awan kelabu tipis yang menyisakan udara gerah sisa hujan kemarin. Bel pulang sekolah telah berbunyi setengah jam yang lalu. Gedung sekolah lambat laun mulai sepi, hanya menyisakan beberapa anak klub olahraga yang berlatih di lapangan luar.
Kayla berjalan menyusuri lorong lantai tiga menuju laboratorium biologi. Ia ditugaskan oleh guru piket untuk mengembalikan beberapa mikroskop dan menyusun laporan praktikum kelompoknya yang sempat tertunda akibat kekacauan minggu lalu. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu kain usang bergema pelan di sepanjang lantai keramik yang sunyi.
Saat melewati ruang osis dan deretan ruang rapat komite yang biasanya terkunci, telinga Kayla menangkap suara perdebatan yang samar-samar namun bernada tinggi dari arah ujung koridor—tepatnya dari dalam Ruang Kepala Sekolah yang berpintu kayu jati tebal.
"Kamu pikir dengan menyumbang satu gedung laboratorium baru lagi, kamu bisa menghapus catatan kelakuan buruk anakmu, Sofia?!"
Suara bariton yang terdengar tegas, dingin, dan sarat akan amarah itu membuat langkah Kayla terhenti otomatis. Itu bukan suara Kepala Sekolah, melainkan suara seorang pria paruh baya yang memiliki wibawa luar biasa besar.
"Airlangga, tolong kecilkan suaramu. Kita berada di lingkungan sekolah," sahut sebuah suara wanita dengan nada yang tidak kalah tajam, dingin, dan penuh keangkuhan. Kayla langsung mengenali suara itu. Itu adalah suara Sofia Pramudya, ibu kandung Alvaro—wanita konglomerat yang menandatangani kontrak laundry dengan ibunya.
Kayla merapatkan tubuhnya ke dinding koridor dekat pilar besar, tidak jauh dari pintu ruangan yang sedikit renggang. Rasa ingin tahunya mendadak membuncah ketika nama Alvaro disebut dalam perdebatan tersebut.
"Lingkungan sekolah? Anakmu hampir membuat anak pemilik Pratama Group babak belur di lapangan tengah! Dia menggunakan kekuasaan kartu merah bodohnya untuk merundung siswi beasiswa hingga menciptakan skandal publik semalam di pesta Rafael!" pria yang dipanggil Airlangga—yang tak lain adalah **Airlangga Pramudya**, ayah kandung Alvaro sekaligus pemilik utama Pramudya Corp—menghantam meja kerja kayu dengan keras. *Brak!*
"Dia melakukan itu karena dia adalah seorang Pramudya, Airlangga! Dia mewarisi darahmu yang dominan dan pantang ditolak!" balas Sofia dengan tawa sinis yang terdengar menyakitkan. "Jangan berlagak seperti ayah yang suci sekarang. Siapa yang mendidik Alvaro sejak kecil bahwa uang bisa membungkam hukum? Siapa yang selalu mencambuk punggungnya setiap kali nilai bisnisnya turun dari peringkat pertama? Kamu yang membentuknya menjadi monster seperti ini!"
Napas Kayla tercekat di balik pilar. Jantungnya berdegup kencang, tangannya yang memeluk map laporan praktikum mulai mendingin. *Dicambuk?* Pikiran Kayla menolak untuk mencerna kata-kata itu. Seorang Alvaro Pramudya yang bergelimang kemewahan, yang memperlakukan orang lain bagai sampah, ternyata memikul kenyataan hidup yang begitu mengerikan di balik pintu rumahnya yang megah.
"Aku melakukan itu agar dia siap memimpin kekaisaran bisnis kita, Sofia! Bukan untuk menjadi berandalan yang dipermalukan oleh seorang anak perempuan dari kelas bawah!" bentak Airlangga lagi, suaranya dipenuhi oleh penghinaan yang mendalam. "Lihat pipinya yang memar hari ini! Dia membiarkan dirinya ditampar oleh anak seorang tukang cuci pakaian tanpa membalasnya sedikit pun! Dia melemah! Jika dia tidak bisa mengatasi masalah kecil seperti ini, aku akan mengirimnya ke sekolah militer di London minggu depan dan mencabut hak warisnya!"
"Kamu tidak akan berani melakukan itu, Airlangga—"
*Klek.*
Suara gagang pintu yang bergerak membuat Kayla tersentak. Ia dengan cepat memutar tubuhnya dan berlari tanpa suara menuju tikungan koridor terdekat, bersembunyi di balik lemari peraga kaca yang besar.
Dari celah tempat persembunyiannya, Kayla melihat pintu Ruang Kepala Sekolah terbuka luas. Sosok Alvaro Pramudya melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut. Cowok itu ternyata berada di dalam sana sepanjang perdebatan hebat kedua orang tuanya, berdiri sebagai saksi bisu atas kehancuran hubungan keluarga mereka.
Kepala Alvaro tertunduk. Bahunya yang biasa tegap kini tampak merosot layu, memancarkan keputusasaan dan keletihan mental yang amat sangat. Rambut hitamnya berantakan, dan dari jarak beberapa meter, Kayla bisa melihat dengan jelas siluet pipi kiri Alvaro yang masih membiru dan sedikit bengkak akibat tamparannya semalam—sebuah memar yang kini menjadi alasan mengapa ayahnya mengamuk dan menganggapnya lemah.
Alvaro berjalan lambat menyusuri koridor yang sunyi, tidak menyadari keberadaan Kayla. Langkah kakinya terseret, menjauh dari suara pertengkaran orang tuanya yang masih terdengar sayup-sayup dari dalam ruangan. Ia berjalan menuju ke arah tangga darurat yang menuju ke atap sekolah (*rooftop*)—tempat yang biasanya selalu dikunci untuk murid biasa, namun selalu terbuka bagi sang penguasa.
Kayla berdiri terpaku di balik lemari kaca, menatap punggung Alvaro yang perlahan menghilang di balik pintu tangga darurat. Di dalam benaknya, bayangan Alvaro sebagai monster kejam yang tak tersentuh runtuh seketika, digantikan oleh potret seorang anak laki-laki yang kesepian, tertekan, dan hancur di bawah ekspektasi gila keluarganya.
Rasa kemanusiaan dan empati di dalam diri Kayla bergolak hebat, mengalahkan rasa trauma dan amarah sisa perundungan kemarin. Tanpa berpikir panjang, Kayla meletakkan map laporan praktikumnya di atas lemari peraga, lalu melangkah perlahan mengikuti arah kepergian Alvaro menuju atap sekolah.
Bersambung