"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Kesombongan dan Siraman Es
Alunan musik instrumental khas Italia mengalun lembut di dalam restoran bintang lima yang terletak di lantai teratas mal megah kawasan Jakarta Pusat. Di sudut ruangan privat yang dibatasi sekat kaca buram, gelak tawa riuh terdengar dari sebuah meja panjang.
Tyas Wijaya duduk dengan dagu terangkat di kepala meja. Penampilannya tampak sangat glamor, mengenakan blus sutra mahal dengan beberapa tas belanjaan dari merek-merek Prancis ternama yang sengaja ia letakkan di kursi kosong sebelahnya agar semua orang bisa melihat. Di sekelilingnya, lima orang teman kuliahnya yang dulu sempat menjauh saat Wijaya Corp bangkrut, kini kembali menempel erat bagaikan benalu. Mereka terus memuji Tyas setelah gadis itu mentraktir mereka berbelanja pakaian di lantai bawah menggunakan black card korporat pemberian Tuan Baskoro.
Di samping Tyas, Ibu Ratna duduk dengan posisi tegak yang dipaksakan. Wanita tua itu berulang kali membetulkan posisi lengan bajunya, sengaja memamerkan kilau gelang emas murni yang baru melingkar di pergelangan tangan sembari menikmati hidangan steak wagyu mahal dengan lahap.
Cindy, salah seorang teman kuliah Tyas, perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia melirik Ibu Ratna yang sedang sibuk bersantap, kemudian menyenggol lengan Tyas dan berbisik dengan nada menyindir yang halus.
"Yas... sori ya, tapi ibu kamu kok ikut kita terus sih dari tadi? Apa beliau tidak punya teman lain dari kaum sosialitanya yang dulu? Kan sekarang kalian katanya sudah balik jadi kaya lagi... masa nongkrongnya sama anak kuliahan terus? Agak risi juga kita kalau mau ngobrol bebas."
Mendengar bisikan menohok itu, senyuman di wajah Tyas seketika menegang. Rasa gengsinya yang setinggi langit langsung terusik. Wajahnya agak memerah menahan malu karena disindir oleh temannya sendiri di depan meja makan.
"Ah, itu... Ibu cuma mau menemani—"
Sebelum Tyas sempat menyelesaikan kalimat pembelaannya yang canggung, ponsel mahal di atas meja bergetar nyaring. Layarnya menampilkan sebuah nomor baru yang tidak dikenal.
Tyas langsung meraih ponsel tersebut, merasa terselamatkan dari situasi memalukan itu. "Sori ya, teman-teman. Ada telepon penting soal bisnis dari luar. Aku ke toilet sebentar untuk angkat," ucapnya dengan nada yang sengaja dibuat sok sibuk.
Tyas melangkah dengan sepatu hak tingginya menuju koridor sepi di dekat toilet restoran. Begitu menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya, sebuah suara yang sangat familiar, terdengar serak langsung menyapa.
"Tyas! Ini Mas Rendra!"
Tyas terperangah, matanya membelalak sempurna. "Mas Rendra?! Kamu menelepon pakai nomor siapa? Bukankah jam kunjungan lapas sudah lewat?"
"Mas sudah di luar, Tyas! Mas sudah bebas!" seru Rendra dari seberang telepon dengan nada suara yang luar biasa bahagia.
Rendra mengatur napasnya sejenak, sebelum melanjutkan dengan nada bingung, "Mas tadi langsung naik ojek menuju alamat rumah kosan kalian yang baru. Tapi begitu Mas sampai di depan pagar kosan, rumahnya kosong digembok dari luar. Mas bingung harus ke mana karena tidak pegang kunci, makanya Mas pinjam ponsel tetangga sebelah kosan ini untuk telepon kamu. Mas tahu kebebasan Mas ini pasti berkat pengaruh dan bantuan dari bos barumu, Tuan Baskoro, kan? Kamu bener-bener hebat, Dek!"
Jantung Tyas berdegup kencang karena terkejut bercampur rasa bangga yang luar biasa. Ia sama sekali tidak tahu kalau Tuan Baskoro bergerak secepat ini di balik layar hingga bisa membebaskan kakaknya tanpa proses yang berbelit-belit. "Gila, Tuan Baskoro bener-bener sakti! Pelindung keluargaku sekarang bener-bener ngeri!" pikir Tyas dengan rasa puas yang membubung tinggi.
"Mas beneran sudah bebas?! Ya ampun, bagus kalau begitu!" Tyas memekik tertahan dengan senyuman lebar.
"Mas! Aku, Ibu, dan teman-teman kuliahku saat ini sedang berada di mal mewah kawasan Jakarta Pusat. Kami lagi makan-makan merayakan kesuksesan di restoran Italia lantai atas!"
Tyas melirik penampilannya di cermin toilet, sebelum melanjutkan, "Mas jangan diam di kosan. Mas langsung naik taksi atau ojek sekarang juga menuju mal tempat kami berada. Tapi ingat, begitu sampai, Mas jangan langsung naik ke restoran atas dengan baju kusut penjara itu. Mas tunggu saja di depan koridor toilet lantai dasar dekat lobi utama. Aku akan turun ke bawah membawa baju baru yang akan kubelikan di butik pria sekarang, biar penampilan Mas tidak memalukan dan tetap berkelas saat aku kenalkan dengan teman-temanku nanti!"
"Oh, begitu? Baik, baik, Mas langsung berangkat ke mal sekarang," jawab Rendra penuh semangat sebelum memutus panggilan.
Tyas menutup teleponnya dengan hati yang berbunga-bunga. Langkah kakinya terasa ringan saat turun menggunakan eskalator menuju lantai bawah. Ia segera masuk ke salah satu butik pakaian pria bermerek, dan dengan cepat memilihkan satu kemeja flanel premium berharga jutaan rupiah beserta celana kain formal hitam untuk kakaknya. Menggunakan kartu hitam ajaibnya, ia membayar semuanya tanpa kedipan mata.
Di depan koridor toilet lantai dasar, setelah menempuh perjalanan dari kosan, Rendra sudah berdiri menunggu dengan cemas sembari sesekali merapikan pakaian lamanya yang kusam. Begitu melihat Tyas berjalan anggun membawa tas belanjaan mewah, Rendra langsung melangkah maju dan memeluk adiknya erat-erat.
"Ini, Mas. Cepat ganti bajumu di dalam toilet sekarang. Setelah itu kita langsung naik ke atas, Ibu dan teman-temanku sudah menunggu di restoran!" ucap Tyas dengan mata berbinar penuh kemenangan.
Sepuluh menit kemudian, atmosfer di dalam restoran Italia bintang lima itu semakin meriah.
Rendra melangkah masuk ke dalam restoran dipandu oleh Tyas dengan kepala tegak. Penampilannya kini sudah berubah drastis—tampak sangat rapi, bersih, dan mahal dengan setelan kemeja baru, meskipun tubuh kurusnya akibat mendekam di penjara tetap tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Begitu melihat sosok anak laki-laki kebanggaannya melangkah masuk ke area meja privat mereka, Ibu Ratna langsung menjatuhkan garpu peraknya ke atas piring porselen hingga menimbulkan suara dentingan keras.
"Rendra?! Anakku!" Wanita tua itu langsung berdiri dari kursinya, mengabaikan tatapan heran teman-teman Tyas, lalu memeluk Rendra dengan air mata yang mulai mengalir deras. "Kamu... bagaimana bisa kamu ada di sini, Nak?! Ibu tidak salah lihat, kan?"
"Tuan Baskoro yang mengurus semuanya di balik layar, Bu. Kita sudah kembali ke atas, kita sudah menang dari Rania," bisik Rendra dengan nada angkuh yang kental sembari menepuk-nepuk bahu ibunya.
Tyas menarik satu kursi tambahan dengan senyuman lebar, menempatkan Rendra di sebelah meja panjang teman-temannya. "Teman-teman, kenalkan, ini Mas Rendra. Mantan CEO Wijaya Corp yang sekarang sudah kembali untuk mengambil alih bisnis besar bersama Baskoro Group!" ucap Tyas dengan suara lancang, sengaja memamerkan status kakaknya demi membungkam sindiran Cindy tadi.
Teman-teman Tyas tampak terpukau melihat penampilan Rendra yang rapi dan langsung memberikan ucapan selamat yang bertubi-tubi. Rasa superioritas keluarga Wijaya kembali membubung tinggi ke langit. Mereka semua mulai menikmati makanan utama, menuangkan minuman ke dalam gelas masing-masing, dan tertawa bangga, merasa bahwa posisi mereka kini tidak akan pernah bisa disentuh lagi oleh janda seperti Rania.
Namun, tepat saat Rendra baru saja hendak menyuapkan potongan daging pertamanya ke dalam mulut...
Byuuurrr!
Suara tumpahan air yang sangat deras terdengar begitu nyaring, disusul jeritan kaget yang melengking dari mulut Tyas.
Sesosok wanita paruh baya dengan setelan blazer abu-abu formal yang memancarkan wibawa luar biasa, tiba-tiba sudah berdiri tegak di samping kursi Tyas. Di tangan wanita itu, sebuah teko kristal besar berisi air es bercampur potongan lemon yang tadinya berada di meja saji restoran, kini sudah dalam posisi terbalik.
Seluruh air es yang membeku itu mengalir deras tepat dari atas kepala Tyas, membasahi rambutnya yang baru saja ditata, mengalir menghancurkan riasan wajahnya yang mahal, hingga membasahi blus sutranya sampai melekat ketat karena basah kuyup. Tyas seketika menggigil hebat, napasnya tersengal karena syok yang luar biasa.
Suasana restoran yang tadinya bising oleh tawa kesombongan, dalam satu detik berubah menjadi sunyi senyap seolah-olah seluruh udara di dalam ruangan itu tersedot habis. Teman-teman Tyas langsung melotot tidak percaya, beberapa bahkan menutup mulut mereka karena ngeri.
"K-kamu... kamu siapa berani-beraninya menyiramku?! Pengawal! Manajer restoran! Mana sekuriti?! Tangkap perempuan tua gila ini!" jerit Tyas histeris dengan suara bergetar, air matanya mulai mengalir merusak maskaranya hingga meninggalkan coretan hitam mengerikan di pipinya.
Rendra yang melihat adiknya dipermalukan secara brutal di depan umum, langsung berdiri dari kursinya dengan wajah yang memerah padam karena amarah yang meluap-luap. Ia menggebrak meja makan dengan sangat keras hingga gelas-gelas kristal bergoyang.
"Hei! Jaga sopan santun Anda, ya! Anda tahu siapa kami?! Berani sekali Anda menyentuh dan mempermalukan adik saya di tempat umum seperti ini! Kami ini rekan bisnis utama Baskoro Group! Saya bisa menuntut Anda sampai membusuk di dalam penjara atas perbuatan tidak menyenangkan ini!" bentak Rendra dengan urat-urat leher yang menonjol tegang.
Mendengar ancaman Rendra yang menggelegar, wanita paruh baya itu sama sekali tidak gentar. Tidak ada secuil pun rasa takut di wajah matangnya. Ia justru meletakkan teko kaca kosong itu ke atas meja marmer dengan dentingan yang sangat tegas dan berwibawa, kemudian menatap Rendra dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang penuh penghinaan tertinggi.
"Menuntutku sampai membusuk di penjara, katamu?" wanita itu mengeluarkan sebuah tawa rendah yang begitu dingin, sebuah tawa yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.
Ia maju satu langkah, menatap Rendra dan Tyas bergantian dengan mata yang berkilat tajam. "Dengar baik-baik, anak muda yang baru saja merangkak keluar dari sel selokan karena belas kasihan orang lain. Nama saya adalah Diana Baskoro. Istri sah dari pria tua bangka yang uang korporasi dan dana yayasannya sedang kalian berdua poroti untuk membeli kemeja flanel dan makanan mewah di restoran ini!"
Mendengar nama 'Diana Baskoro' dan penegasan statusnya sebagai 'Istri Sah', kata-kata ancaman yang sudah berada di ujung lidah Rendra seketika tersumbat rapat. Wajahnya yang tadi merah padam karena amarah, dalam sekejap berubah menjadi pucat pasi seputih kain kafan. Langkah kaki Rendra bergetar mundur hingga menabrak kursinya sendiri, sementara Tyas yang dalam kondisi basah kuyup langsung membeku dengan mulut ternganga, menyadari bahwa takhta palsu yang baru saja ia banggakan telah runtuh berantakan dalam satu kedipan mata.
pst dapat cap pelakor😄🤭