"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Adu Fisik dan Ego
"Kamu pikir aku tidak berani melubangi wajah aroganmu itu, Arga?" balas Keysa dengan napas memburu. Ia melangkah naik ke atas matras ring dengan gerakan ringan namun penuh perhitungan.
Keysa tidak membuang waktu sedetik pun. Perempuan itu langsung mengambil posisi kuda-kuda bertarung yang sangat solid. Sarung tinju merahnya diangkat sebatas rahang, menutupi sebagian wajah datarnya yang kini memerah karena peluh dan emosi yang mendidih. Di seberangnya, Arga berdiri tegap seperti sebuah menara beton yang tidak bisa diruntuhkan. Laki-laki itu hanya menaikkan kedua tangannya dengan sangat santai, sama sekali tidak memasang kuda-kuda menyerang. Ia benar-benar hanya berniat menjadi samsak hidup untuk meladeni kemarahan istrinya hari ini.
"Maju," tantang Arga singkat. Laki-laki itu menggerakkan jari telunjuknya di dalam sarung tinju, memberikan isyarat yang sangat meremehkan untuk memanggil Keysa.
Buk!
Keysa melesat maju secepat kilat. Tangan kanannya melayang melontarkan pukulan lurus jab (pukulan cepat) langsung ke arah wajah suaminya. Arga memiringkan kepalanya sedikit ke kiri dengan gerakan luwes. Pukulan Keysa hanya menyapu udara kosong. Namun, Keysa sama sekali tidak berhenti atau menarik diri. Kaki kirinya berputar menjadi poros tumpuan, disusul sebuah pukulan kait dari arah samping yang menargetkan sisi rahang Arga.
Arga mengangkat sarung tinjunya tinggi-tinggi, menangkis pukulan mematikan itu dengan lengan bawahnya. Hantaman sarung tinju yang beradu terdengar sangat keras memantul di sudut sasana. Tenaga Keysa sama sekali tidak bisa diremehkan oleh siapa pun. Lengan Arga sedikit bergetar menahan efek kejut dari pukulan mematikan tersebut.
"Pertahanan yang bagus. Tapi mari kita lihat seberapa lama laki-laki arogan sepertimu bisa bertahan," desis Keysa dari sela giginya.
Perempuan itu kembali menyerang dengan ritme yang jauh lebih brutal dari sebelumnya. Kaki telanjangnya berdecit keras bergesekan dengan matras ring setiap kali ia mengambil langkah mundur untuk mencari celah pertahanan lawan. Tidak ada kelembutan sedikitpun dalam setiap gerakannya. Semua stres dari tumpukan pekerjaan di meja kantor, rasa muak karena dikunci di dalam ruang arsip bawah tanah, hingga kemarahan luar biasa akibat manipulasi Arga memblokir berkas perceraian mereka di pengadilan negeri, semuanya tumpah ruah menjadi tenaga penghancur.
Buk! Buk! Buk!
Suara napas terengah-engah dan decit sepatu mendominasi arena ring tersebut. Arga terus bergerak mundur perlahan, membiarkan Keysa memojokkannya selangkah demi selangkah ke arah tali pembatas ring.
Laki-laki itu sama sekali tidak membalas pukulan istrinya. Ia hanya menunduk, menghindar, dan menangkis menggunakan kedua lengan besarnya. Matanya yang tajam bak elang terus mengunci pergerakan lincah Keysa. Di balik hujan pukulan itu, Arga tidak merasakan sakit, ia justru merasa sangat terpesona oleh ketangguhan wanita ini.
Keysa merunduk dengan cepat, menghindari sapuan tangan Arga yang bermaksud menahan lengannya. Perempuan itu melihat celah sempit di pertahanan suaminya. Dengan satu putaran pinggul yang sangat sempurna, Keysa melontarkan pukulan uppercut (pukulan dari bawah ke atas) menggunakan tangan kanannya.
Kali ini, Arga benar-benar terlambat menarik kepalanya ke belakang.
Bugh!
Sarung tinju merah Keysa mendarat telak menghantam sudut bibir kiri Arga. Laki-laki itu terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak tali pembatas ring dengan keras. Rasa kebas langsung menjalar cepat di sekitar rahangnya. Darah segar seketika merembes pelan dari sudut bibirnya yang pecah akibat hantaman keras tersebut.
Keysa menghentikan serangannya seketika. Dadanya naik turun dengan sangat cepat mencari pasokan oksigen di udara. Matanya membelalak kaget melihat tetesan darah merah di bibir suaminya. Selama sedetik, ia mengira Arga akan marah besar, memaki kasar, atau langsung membalas memukulnya tanpa ampun seperti monster tiran di masa lalu yang sangat ia benci.
Namun, Arga justru berdiri tegap kembali. Laki-laki itu mengusap sudut bibirnya yang berdarah menggunakan punggung sarung tinju dengan gerakan yang luar biasa santai. Sebuah senyum miring yang penuh kepuasan tercetak di wajahnya yang sedikit memar.
"Hanya segini batasan tenagamu?" provokasi Arga dengan suara serak yang mematikan. Laki-laki itu meludah ke sisi ring, membuang rasa anyir darah di dalam mulutnya tanpa rasa takut. "Pukul aku lagi, Keysa. Keluarkan semua racun yang kau simpan di dalam kepalamu itu. Jangan pernah menahan diri sedikitpun saat berhadapan denganku."
Mendengar provokasi murahan itu, sisa simpati di dalam hati Keysa menguap seketika tak berbekas.
"Kamu sendiri yang memintanya, Arga!" teriak Keysa.
Perempuan itu kembali melesat maju mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Pertarungan fisik itu berubah menjadi semakin panas dan sarat emosi.
Tidak ada dialog manis layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Tidak ada kata-kata rayuan atau permintaan maaf. Yang ada hanyalah adu ego antara dua manusia dominan pemangsa puncak yang sama-sama menolak untuk terlihat lemah di mata lawan mereka.
Sepuluh menit penuh berlalu tanpa henti. Keringat membasahi seluruh tubuh Keysa. Rambutnya yang semula diikat rapi kini sudah berantakan menempel di dahi dan lehernya.
Napas perempuan itu mulai putus-putus. Tenaga fisiknya menurun drastis. Gerakan pukulannya yang semula sangat tajam dan akurat perlahan mulai memelan dan kehilangan fokus. Ia mulai memukul dengan emosi buta, bukan lagi dengan teknik yang terukur.
Arga menyadari penurunan stamina istrinya dengan sangat teliti. Saat Keysa melayangkan sebuah pukulan kait kanan yang sedikit meleset dan terlalu lebar melampaui batas, Arga bergerak secepat kilat memanfaatkan kesalahan fatal tersebut.
Laki-laki itu tidak membalas pukulan, melainkan menyusup masuk menembus jarak dekat pertahanan Keysa. Arga menepis tangan kanan Keysa ke udara dengan gerakan tangkas, lalu menggunakan lengan kirinya untuk melingkari pinggang perempuan itu dengan sangat erat bak pelukan maut. Kaki kanan Arga melangkah maju, menjegal posisi kuda-kuda kaki Keysa dari arah belakang.
Keysa kehilangan keseimbangan tubuhnya dalam sekejap mata. Matanya membulat panik menyadari ia telah masuk ke dalam perangkap suaminya.
"Arga! Lepaskan aku!" teriak Keysa tertahan.
Arga sama sekali tidak melepaskannya. Laki-laki itu justru menarik tubuh istrinya, menjatuhkan diri bersama-sama ke atas matras ring. Bunyi debum keras terdengar sangat nyaring saat punggung mereka menghantam matras secara bersamaan.
Arga sengaja memutar posisi tubuhnya di udara sedemikian rupa, memastikan punggungnya yang mendarat lebih dulu untuk meredam benturan keras, sementara tubuh Keysa jatuh menimpa tepat di atasnya sebelum berguling ke sisi kiri.
Pertarungan panas itu berakhir total. Keduanya terbaring telentang tak berdaya di tengah ring. Langit-langit sasana yang dipenuhi lampu sorot terang benderang menjadi satu-satunya pemandangan mereka.
Napas Keysa memburu sangat kasar bagai orang yang nyaris tenggelam. Dadanya naik turun dengan liar seiring dengan keringat yang terus menetes dari pelipisnya.
Perempuan itu benar-benar kehabisan tenaga secara mutlak. Bahkan untuk mengangkat satu jari telunjuk pun terasa sangat mustahil baginya sekarang.
Di sebelahnya, Arga juga bernapas sangat berat. Pertarungan sengit tadi sangat menguras tenaga, meskipun dia hanya bertahan, ditambah tubuhnya yang memang belum pulih sempurna dari cedera tulang rusuk dan benturan kepala. Namun, anehnya laki-laki itu sama sekali tidak mengeluh sedikit pun.
Kaki mereka saling bertaut berantakan di atas matras yang dingin. Keysa mencoba menarik kakinya menjauh, namun tenaga perempuan itu sudah habis tak tersisa. Ia hanya bisa pasrah membiarkan kulit kakinya yang terbuka bersentuhan langsung dengan kain celana olahraga Arga.
Arga memutar kepalanya perlahan ke arah kiri. Matanya yang sangat gelap dan dalam menatap lurus ke arah Keysa. Laki-laki itu memperhatikan dengan seksama leher jenjang istrinya yang dipenuhi peluh.
Sebuah perasaan asing kembali merayap perlahan naik ke dalam rongga dada Arga. Bukan lagi sekadar insting dominasi seorang CEO yang ingin menundukkan bawahannya, melainkan rasa kagum yang murni dan tulus pada keliaran serta ketangguhan wanita di sebelahnya ini. Keysa adalah misteri terbesar yang terus memancing rasa penasarannya setiap hari.
Arga menggeser posisi tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka berdua di atas matras tersebut. Laki-laki itu menahan sebelah lengannya sebagai tumpuan kepala agar bisa melihat lebih jelas.
Kaki mereka masih saling bertaut di matras. Arga menatap dada Keysa yang naik turun mencari napas, lalu tersenyum tipis. "Pukulanmu mematikan. Tapi pertahananmu saat emosi masih punya banyak celah."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..