NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana jahat

Saat Kalila tiba di rumah, Bu Salma yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh. Wajah wanita paruh baya itu tampak masam begitu melihat putrinya baru pulang menjelang sore.

“Ngapain saja kamu di rumah Keenan sampai jam segini?” tanyanya ketus.

Kalila meletakkan wadah kue bolu di atas meja, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

“Tadi aku ngobrol sama Mbak Kinanti.

Karena orangnya menyenangkan, aku betah mengobrol berlama-lama dengannya.”

Bu Salma langsung mendengus.

“Menyenangkan apanya?”

Kalila tersenyum tipis.

“Dia baik, ramah, sopan, pintar memasak, dan enak diajak bicara. Jujur saja, aku heran kenapa Ibu menggambarkannya seburuk itu.”

“Menurut Ibu perempuan itu memang kampungan dan jorok!” sahut Bu Salma tanpa ragu.

Pandangan matanya kemudian jatuh pada wadah kue bolu di atas meja. Tanpa banyak bertanya, ia membuka tutupnya, mengambil sepotong bolu pandan, lalu menggigitnya.

“Hm...”

Bu Salma kembali menggigit potongan kedua.

“Hmmm... enak. Kamu beli di mana?”

“Nggak beli.”

“Lalu?”

“Itu buatan aku dan Mbak Kinanti.”

Gerakan Bu Salma langsung terhenti.

Wajahnya berubah datar. Perlahan ia menutup kembali wadah kue itu.

“Kenapa berhenti? Barusan Ibu bilang enak.”

“Ya memang enak. Tapi Ibu sudah kenyang.”

“Mbak Kinanti itu cantik, baik, lembut, pintar mengurus rumah. Apa sih yang kurang sampai Ibu sebenci itu sama dia?”

“Tidak usah membahas dia lagi!” bentak Bu Salma. “Seperti tidak ada topik lain saja!”

Kalila menghembuskan nafas.

“Baiklah. Jadi Ibu beli gamis dan tasnya?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Gamis ukuran XL habis, harus menunggu beberapa hari.”

“Ya sudah. Tinggal menunggu saja ‘kan?”

“Masalahnya pengajiannya lusa.”

“Terus?”

“Kalau semua ibu-ibu pakai seragam dan Ibu tidak, bagaimana? Ibu pasti malu!”

Kalila menggeleng geli.

“Cari di butik lain ‘kan bisa.”

“Motifnya khusus. Tidak ada di tempat lain.”

“Lalu?”

Bu Salma menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Dari tadi Ibu sedang mikir alasan yang masuk akal kenapa ibu nggak bisa datang ke acara pengajian itu.”

Kalila terkekeh.

“Kenapa harus cari alasan? Datang saja.”

“Kamu tidak paham watak ibu-ibu pengajian di komplek ini.”

“Kalau mereka tanya, Ibu jawab saja

gamis ukuran XL habis.”

Bu Salma menggeleng pelan.

“Kalau begitu, bilang saja Ibu sedang mengunjungi saudara.”

“Ibu pernah bilang kalau Ibu tidak punya saudara.”

“Ya sudah, bilang saja Ibu sakit.”

“Kalau nanti benar-benar sakit bagaimana? Ngawur kamu!”

Kalila terkekeh,

“Terus maunya apa?”

Bu Salma berpikir beberapa saat.

“Ya sudah. Ibu pura-pura sakit saja.”

“Terserah Ibu.”

Hening sejenak, hingga akhirnya Kalila kembali bicara,

“Hari ini Yudha ketahuan membolos. Mas Keenan harus menjemputnya di kantor satpol PP."

“Selama ini ‘kan Yudha nggak pernah membolos. Ini pasti gara-gara perempuan kampungan itu!”

"Yudha bolos sekolah, apa hubungannya sama mbak Kinanti?”

"Jelas ada. Dari awal Yudha tidak pernah setuju ayahnya menikah lagi. Tapi kakakmu itu tetap menikah. Yudha jadi tidak punya semangat untuk bersekolah, makanya dia membolos.”

"Menurutku Yudha saja yang bandel. Ngapain coba dia ikut-ikutan teman-temannya bolos. Dia itu bukan anak kecil lagi jadi seharusnya sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Akibat perbuatannya itu, dia diskors sama pihak sekolah selama dua hari.”

"Aduh … ibu takut kalau sampai tetangga dengar. Bisa-bisa masalah ini jadi bahan bergosip.”

"Pasti dengar lah, Bu. Di sini ‘kan bukan cuma Yudha yang sekolah di SMA Harapan Bangsa.”

"Keenan menikah lagi saja sudah banyak yang menyindir, katanya kakakmu itu nggak kuat kalau lama-lama sendirian di ranjang. Baru dua bulan yang lalu istrinya meninggal, dia sudah menikah lagi."

“Padahal mas Keenan cepat-cepat menikah lagi bukan urusan ranjang semata alasannya. Dia cuma nggak mau ketiga anaknya nggak ada yang mengurus.”

“Mana penggantinya Ratih begitu."

“Begitu gimana? Mbak Kinanti baik kok. Dia sayang sama anaknya mas Keenan. Itu ‘kan yang paling penting?"

“Perempuan itu tidak jelas bibit, bebet dan bobotnya. Tapi Keenan asal comot saja.”

"Cuma karena Mbak Kinanti seorang yatim pintu Ibu bilang dia nggak jelas bibit, bobot dan bebetnya. Nggak ada seorang pun di dunia ini yang mau di posisi Mbak Kinan. Aku justru salut sama dia. Meski nggak punya orang tua ataupun saudara, dia nggak pernah putus asa berusaha agar ia bisa lulus sekolah."

“Alaaah… pasti dia itu cuma tamatan SD,” ucap Bu Salma meremehkan.

"Mbak Kinan itu lulusan SMA. Berkat otaknya yang encer, dia bisa diterima di perusahaan besar. Mengalahkan saingannya yang sarjana. Dia bisa saja tetap kerja, karena gajinya lumayan besar. Tapi dia memilih meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak-anak mas Keenan.”

"Mana mungkin dia bisa lulus SMA tanpa ada yang membiayai. Itu mustahil."

“Nggak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak. Sebagian biaya sekolahnya dibiayai dari beasiswa prestasi, sebagian lagi ia dapatkan dengan cara bekerja serabutan, bahkan jadi tukang ojek."

Bu Salma mendengus pelan.

“Kenapa jadi membahas dia lagi?"

Kalila tersenyum.

“Ibu yang mulai.”

Bu Salma langsung bangkit.

“Ibu mau tidur siang.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menuju kamar. Kalila memperhatikan punggung ibunya yang perlahan menghilang di balik pintu. Dalam hati ia berbisik, “Aku tahu, Bu.

Ibu sangat menyayangi almarhumah Mbak Ratih. Dan karena itulah Ibu sulit menerima orang baru. Tapi semoga suatu hari nanti Ibu bisa melihat ketulusan Mbak Kinanti seperti yang kulihat hari ini.”

****

Malam harinya, Tiara diam-diam masuk ke kamar Yudha.

Remaja laki-laki itu sedang berbaring sambil menatap langit-langit kamar.

“Mas...”

“Tutup pintunya.”

Tiara menutup pintu lalu duduk di tepi ranjang.

“Kenapa sih Mas harus ikut-ikutan membolos?”

Yudha tidak menjawab.

“Kalau sampai tetangga tahu, keluarga kita bisa jadi bahan gunjingan.”

“Kalau kamu ke sini cuma mau nyalahin aku, lebih baik keluar.”

Nada suaranya dingin, Tiara langsung terdiam.

Beberapa saat kemudian Yudha duduk.

“Kamu pernah nggak dibentak Ayah?”

“Nggak pernah.”

“Tadi siang Ayah membentakku di depan orang lain.”

“Karena Mas membolos?”

“Bukan cuma itu. Ayah membela perempuan kampungan itu.”

“Maksud Mas... Tante Kinanti?”

“Kalau bukan dia siapa lagi?”

Sorot mata Yudha berubah tajam.

“Sejak perempuan itu datang, semuanya berubah. Aku benar-benar sakit hati.”

Tiara memandangi kakaknya lama.

“Mas mau membalasnya?”

“Tentu saja. Tapi bagaimana caranya?”

Keduanya terdiam, hening memenuhi kamar. Hingga tiba-tiba mata Tiara berbinar seolah sebuah ide muncul di kepalanya.

Ia mendekat lalu membisikkan sesuatu ke telinga Yudha. Yudha langsung membelalak.

“Hah?!”

Tatapannya penuh keterkejutan.

“Kamu serius?”

Tiara mengangguk mantap.

“Menurutku itu cara paling tepat.

Yudha kembali terdiam. Ada keraguan di wajahnya. Namun rasa marah dan sakit hati perlahan mengalahkan logikanya. Akhirnya ia mengangguk.

“Baiklah.”

Kedua kakak beradik itu saling berpandangan.

“Kalau begitu, mari kita susun rencananya.”

Author Note:

Halo, Pembaca tersayang...Terima kasih sudah mengikuti cerita ini. Author dengan hati terbuka menerima setiap kritik dan saran dari kalian. Untuk jam update nya author usahakan setiap hari 3 bab. Yaitu di jam 06.00 pagi, jam 13.00 siang, dan jam 18.00 petang. Like atau komentar dari kalian sangat berarti untuk author untuk terus semangat menulis.

❤️❤️❤️❤️

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!