Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESAN MASUK BAWA PERASAAN
Saya barista di kedai kopi yang letaknya gak jauh dari daerah sini, Bu.
Pernyataan jujur dari Zaki tadi rupanya enggan beranjak dari benak Naya. Kalimat-kalimat itu seolah terus bergema, berputar berulang kali di kepalanya bahkan setelah ia melangkah kembali ke mejanya. Dengan helaan napas berat, Naya menarik kursi kerjanya lalu duduk. Hatinya masih terasa terenyuh, dipenuhi rasa haru yang belum juga surut atas ketegaran muridnya itu.
Drrrrt...
Getaran pendek dari ponsel di dekat tumpukan tugas langsung memutus rantai pikirannya. Naya menegakkan tubuh, mengulurkan tangan untuk mengambil benda persegi tersebut. Begitu menggeser layar kunci, sebaris pesan masuk langsung menyapa netranya, mengirimkan kembali getaran asing yang sempat ia rasakan di koridor tadi.
ZAKI PRADIPTA - 11 DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
"Zaki..." gumam Naya nyaris berbisik.
Selamat siang, Bu. Ini tugas saya ya, Bu. Mohon maaf atas keterlambatannya. Terima kasih.
Naya membaca baris demi baris kalimat formal itu dengan saksama. Sebuah senyuman perlahan ditarik di sudut bibirnya tanpa ia sadari. Pesan yang disertai unggahan dokumen tersebut begitu sederhana, namun ketikan yang rapi dan bahasa yang sarat akan sopan santun itu seolah mencerminkan kembali binar mata Zaki yang lurus saat menatapnya di koridor tadi.
Naya buru-buru menyentuh pipinya yang mendadak terasa hangat, heran pada dirinya sendiri yang bisa tersenyum selebar ini hanya karena pesan dari seorang murid.
Drrrrt...
Getar ponsel di genggamannya kembali terasa, memutus senyuman yang baru saja terbit di bibirnya. Benda tipis itu kembali menyala, menampilkan sebuah notifikasi baru.
Naya segera keluar dari laman obrolan pribadi Zaki dan beralih ke kotak masuk utama. Di sana, sebuah pesan baru dari grup obrolan masa SMA-nya yang biasanya sepi kini tampak bertengger di urutan teratas.
Ia lalu membuka pesan tersebut, dan seketika itu juga sepasang matanya membelalak sempurna.
Kali ini, bukan lagi rasa takjub atau debar manis seperti saat ia membaca pesan Zaki, melainkan sebuah hantaman visual yang membuat jantungnya mendadak berdegup kencang hingga dadanya terasa sesak. Pasokan oksigen di sekitarnya pun seolah-olah menipis hingga membuatnya sulit bernapas. Bibirnya bergetar hebat saat ia berusaha menelan salivanya dengan susah payah, sementara tatapannya terkunci pada layar, nyaris tak berkedip sama sekali.
Dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk hadir dan memberikan doa restu pada acara pernikahan kami.
TIAN & TANIA.
Rentetan kata-kata indah yang tertera di undangan digital itu terasa seperti hantaman untuk Naya. Desir hangat yang beberapa menit lalu sempat mampir di dadanya kini menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ponsel yang Naya genggam perlahan lolos, diletakkan dengan sisa tenaga yang ada hingga tergeletak lemas di atas permukaan meja kayu. Ia kemudian menyandarkan punggungnya yang mendadak tak bertulang, menatap kosong ke langit-langit ruangan yang mendadak terasa berputar. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapat kabar seburuk ini di hari yang ia kira biasa saja. Kalimat undangan yang sarat akan kebahagiaan orang lain itu, justru menjadi badai yang memporak-porandakan hatinya dalam sekejap.
Drrrrt... Drrrrt...
Keheningan mutlak di ruang guru yang belum lagi berpenghuni itu koyak seketika oleh getaran ponsel di atas meja. Naya, yang sejak tadi sendirian dalam dunianya yang runtuh, tersentak kecil. Sinyal panggilan masuk itu berkedip-kedip di layar, menampilkan satu nama yang sangat ia kenal.
Hana.
Jantung Naya berdegup makin tidak karuan. Dengan jemari yang sedikit gemetaran, ia memaksakan diri meraih ponselnya. Butuh usaha keras baginya hanya untuk menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkannya ke telinga. "Halo, Han?" sapanya. Suaranya terdengar parau dan bergetar, sekuat tenaga menyembunyikan badai yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.
"Nay. Jangan bilang kamu udah baca grup?!"
"Aku tahu, Han..."
Ada jeda tipis sebelum Naya mampu mengeluarkan suara. Ia meremas tepi meja kayu kerjanya, mencari tumpuan agar ketakutannya tidak kentara di seberang telepon. "Aku tahu dan aku sadar kalau Tian emang gak pantas buat aku."
"Ya ampun, Nay. Enggak! Kamu gak boleh bicara kayak gitu. Tian bukan jodoh kamu, bukan karena kamu gak pantas tapi karena Tian bukan laki-laki yang pantas buat kamu, Nay."
Naya hanya menarik senyum hambar. Ia tahu persis pernyataan sahabatnya itu sekadar penawar amatir untuk menghiburnya. Hana adalah saksi hidup. Gadis itu tahu betul bagaimana berdarah-darahnya perjuangan Naya dulu demi memenangkan secuil balasan rasa dari sosok bernama Tian semasa SMA. Dan kini, selembar undangan pernikahan digital itu datang menghantam telak layaknya godam yang memecahkan ilusi masa lalunya.
"Tiga tahun, Han," kata Naya kemudian. Suaranya meluncur lirih, sarat akan beban kelam yang lama dipendam. "Tiga tahun aku menghabiskan seluruh perasaan kagum itu tanpa pernah mendapat balasan. Dan bodohnya... kenapa dulu aku harus menggadaikan harga diri hanya untuk berkata jujur pada orang yang jelas-jelas tidak punya rasa apa pun padaku? Jangankan menghargai perasaanku, membalas dengan satu kata 'ya' saja dia tidak sudi. Bodoh banget ya, aku!"
"Nay, kamu gak bodoh. Kamu jangan judge diri kamu. Gini deh, kamu beres ngajar hari ini jam berapa?"
Mendengar pertanyaan itu, Naya mengalihkan tatapannya yang sempat kosong. Ia melirik jam dinding bulat yang sedari tadi berdetak konstan, seolah menjadi satu-satunya benda yang meramaikan suasana hening di ruang guru yang tak berpenghuni itu.
"Aku selesai jam empat sore. Ada satu kelas lagi jam terakhir, Han."
"Oke. Kita ketemu jam empatan di Kedai Singgah Coffee."
"Tapi, Han—"
Tuuuut.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri