Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.
Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.
Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 Sisil yang sebenarnya
Sisil mengulas sebuah senyuman manis yang luar biasa di wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Suho dari jarak dekat.
"Kau... ternyata benar-benar lupa apa yang sudah kau lakukan sebelumnya, hm?" ucap Sisil dengan nada suara yang sangat lembut, manja, namun sanggup membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri tegak.
Suho menatap wajah gadis di depannya dengan kebingungan mutlak. "Dosa? Kesalahan apa maksudmu?!"
"Kau... dengan beraninya menyerang Mas Arka-ku tercinta," desis Sisil, nada suaranya mendadak turun beberapa oktav, dipenuhi oleh kemarahan yang mengerikan.
Cengkeramannya di rambut Suho makin mengencang. "Bahkan di mataku tadi, kau sama sekali tidak memiliki keraguan sedikit pun di hatimu untuk membunuh suamiku di tempat itu!"
"I-Itu... Itu semua hanya kesalahpahaman, Sisil! Tolong dengarkan aku dulu!" sahut Suho panik, keringat dingin mulai mengalir deras di pelipisnya.
"Pria itu mendadak menyerangku dengan petir, jadi aku hanya melakukan pertahanan diri yang agresif! Aku bersumpah... Aku sungguh-sungguh tidak tahu kalau pria itu adalah suamimu!"
Sisil menatap pembelaan diri Suho dengan pandangan datar yang dingin. Tangan kanannya perlahan bergerak meraba saku blusnya, mengeluarkan sebuah pulpen logam berujung runcing yang biasa ia gunakan untuk mencatat daftar belanja harian.
"Memangnya aku peduli? Yang pasti kau berniat membunuh suamiku," bisik Sisil pelan.
JLEEEBZZZTT!
Tanpa ada keraguan atau kedipan mata sepeser pun, Sisil menghujamkan ujung pulpen logam runcing tersebut kuat-kuat lurus ke dalam bola mata kiri Min Suho hingga menembus rongga terdalamnya.
"ARRRRGGGGHHHHHHHHHHHHHH!!!!"
Jeritan histeris yang luar biasa menyakitkan meledak dari mulut Min Suho, memenuhi seluruh sudut ruangan bawah tanah beton tersebut dengan gema kematian.
Tubuh tegapnya kejang-kejang di atas kursi, meronta ekstrem menahan rasa sakit yang amat sangat luar biasa akibat bola matanya yang hancur lebur tertusuk pulpen.
Darah segar berwarna merah pekat memuncrat deras, mengalir membanjiri pipi dan pakaian kasual mewahnya dalam sekejap.
Sisil melepaskan cengkeraman rambutnya, membiarkan kepala Suho terkulai lemas ke samping dengan pulpen logam yang masih tertancap di matanya.
Sisil mengeluarkan selembar saputangan putih, menyeka setitik noda darah yang menciprat di jemarinya dengan sangat tenang.
"Karena sepasang matamu itu tidak bisa melihat dengan jelas dan benar mengenai siapa sosok pria yang boleh dan tidak boleh kau usik di dunia ini... menurutku akan jauh lebih baik jika aku melenyapkan saja salah satu matamu itu agar kau bisa belajar mengingat posisi dirimu sekarang," ucap Sisil dengan nada datar tanpa dosa, seolah-olah ia baru saja memotong selembar kertas biasa.
"K-Kau... Kau benar-benar wanita gila, Sisil...!" racau Suho dengan napas terengah-engah dan wajah yang mulai memucat sempurna akibat syok pendarahan masif.
Sambil menahan rasa sakit yang membakar kepalanya, ia mendongak menggunakan satu matanya yang tersisa, menatap Sisil penuh kebencian dan ketakutan murni.
"Kau berani menculik dan melukai aku?! Jika Serikat Userator sampai mengetahui hilangnya keberadaanku, kau... kau akan diburu sebagai buronan!!"
Mendengar ancaman besar dari Min Suho, Sisil tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Ia justru memiringkan kepalanya, lalu melepaskan suara tawa kecil yang sangat renyah dan menggemaskan. "Memangnya... aku kelihatan seperti orang yang peduli dengan Segala hal itu?"
Sisil kembali melangkah maju, menjambak kembali rambut Suho dengan kasar, memaksa wajah hancur sang pria Korea itu menatap lurus ke arahnya.
"Kau tahu... Kau hampir saja membunuh suamiku tercinta," desis Sisil dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kegilaan obsesi tingkat tinggi.
"Andai saja... andai saja Mas Arka-ku tersayang adalah seorang pria lemah yang tidak memiliki kekuatan... pasti detik itu tubuh suamiku sudah berubah menjadi mayat yang sekarat dan hancur membeku akibat ulah sihir es sialanmu itu!"
Sisil perlahan melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik membelakangi Suho. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara, memejamkan matanya sembari menghirup aroma darah di dalam ruangan dengan ekspresi yang sangat menikmati, seolah-olah ia sedang menari di atas panggung impiannya.
"Mas Arka... Dia itu adalah milikku seorang... Kesayanganku, cintaku, kasihku, seluruh duniaku..." ucap Sisil dengan nada manja yang dipenuhi pendar kegilaan yang mengerikan.
Wajahnya mengulas senyum kebahagiaan yang sangat menyimpang. "Kau tahu? Kau tahu seberapa besar pengorbanan dan seberapa sulitnya aku berusaha untuk bertemu dengan mas Arka?! Lalu menikah dengannya dan hidup bahagia bersamanya,"
Sisil mendadak membalikkan tubuhnya penuh menghadap Suho, matanya melotot gila dengan urat-urat kemarahan yang mencuat di lehernya.
Ia berteriak histeris laksana monster, "DAN KAU!!! SEORANG MANUSIA SAMPAH ASING MENDADAK DATANG DAN BERANI-BERANINYA COBA UNTUK MELUKAI DAN MERENGGUT NYAWA SUAMIKU TERCINTA!!!!"
Min Suho beneran membeku dalam keheningan yang mencekam, lidahnya kelu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Seluruh keberanian dan harga dirinya sebagai petarung hebat di dunia runtuh total tak bersisa.
Di hadapannya saat ini bukanlah seorang gadis lemah yang ia ketahui, melainkan sesosok wanita obsesif yang sangat mencintai suaminya.
Sisil menarik napas dalam-dalam, menenangkan kembali emosinya yang sempat meledak.
Ia mengulurkan tangan kanannya ke belakang tanpa menoleh, memberikan sebuah kode.
Dengan gerakan terlatih yang patuh, Sera yang berdiri di dekat pintu langsung melangkah maju, menyerahkan sebuah gunting yang sangat tajam dan berkilau dingin di bawah lampu pijar ke atas telapak tangan Sisil.
Sisil menerima gunting tersebut, memainkan bilah bajanya hingga mengeluarkan suara derit yang mengerikan. Crik. Crik. Ia melangkah mendekati selangkangan Min Suho yang terikat pasrah di kursi.
"Selain mencoba membunuh suamiku... Kau juga dengan sangat berani melangkah mendekatiku di supermarket, mencoba merayu, dan menatap seluruh lekuk tubuhku menggunakan pandangan matamu yang penuh dengan nafsu menjijikkan itu, kan?" ucap Sisil, sebuah senyuman manis kembali terukir di bibirnya.
Melihat fokus gunting itu mengarah tepat ke area vital di bawah celananya, seluruh pertahanan mental Min Suho hancur lebur seketika.
Ketakutan akan kehilangan kejantanannya membuat Min Suho menangis histeris dengan air mata dan darah yang bercampur aduk di wajah pucatnya.
"A-Apa... Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan dengan benda itu?! Tolong... Aku mohon jangan lakukan itu, Sisil!!! Lepaskan aku!!! Jauhkan benda itu dari tubuhku!!!" jerit Suho histeris, menghentak-hentakkan seluruh tubuhnya dengan gila untuk melepaskan diri dari ikatan kursi kayu, namun usahanya sia-sia karena ia tidak bisa menggunakan kemampuannya.
Sisil berlutut dengan anggun di hadapan selangkangan Suho. Tangan kirinya perlahan bergerak maju, meraba dan menggenggam area vital di balik celana panjang mewah milik Min Suho dengan cengkeraman yang kuat.
"Kenapa kau malah berteriak ketakutan dan memohon seperti itu, hm? Bukankah... bukankah ini adalah situasi yang sangat kau harapkan akan terjadi?" ucap Sisil dengan nada suara manja yang berbisik menggoda di dekat paha Suho.
"Sekarang... benda milikmu yang berharga ini sedang disentuh dan digenggam langsung oleh telapak tanganku sendiri... Harusnya kau merasa sangat senang dan bersyukur, kan? Mengapa kau malah menangis?"
"TIDAAAKKK!!! TIDAAAKKK!!! JANGAN LAKUKAN ITU!!! AKU MOHON LEPASKAN AKU!!!" raung Suho dengan suara yang melengking pecah, dipenuhi oleh keputusasaan murni yang teramat sangat dalam menghadapi akhir kejantanannya.
Sisil mengabaikan jerit tangis Min Suho. Dengan tatapan mata yang dingin dan penuh rasa jijik yang mendalam, ia memposisikan bilah gunting tersebut menjepit tepat di pangkal organ vital milik Min Suho.
"Perlu kau camkan ini baik-baik di dalam otak kecilmu yang bodoh itu sebelum kau mati, Suho..." bisik Sisil dengan nada suara yang sangat manis laksana dewi kematian.
"Hanya Mas Arka yang memiliki hak untuk melihat seluruh tubuhku dengan pandangan nafsunya... Hanya Mas Arka yang diperbolehkan untuk menyentuh, memainkan, dan meraba setiap jengkal kulit tubuhku sepuas yang ia mau... Dan hanya Mas Arka seorang yang diizinkan untuk mencintai dan memiliki diriku sepenuhnya di alam semesta ini~"
"TIDAAAAAAKKKKKKKKKKKK—"
CRRRASSSSSHHHHHHHHHH!!!
Sentakan bilah gunting itu menutup dengan kekuatan penuh tanpa ampun. Suara jaringan otot, urat saraf, dan tulang muda yang terpotong paksa terdengar begitu nyata dan mengerikan di dalam keheningan ruangan bawah tanah tersebut.
"AAAAAAAARRRRRRRRGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!"
Sebuah jeritan melengking tertinggi yang sarat akan rasa sakit tiada tanding meledak dari tenggorokan Min Suho, menggetarkan dinding beton ruangan sebelum akhirnya suaranya mendadak terputus di udara.
Semburan darah segar berwarna merah pekat memuncrat dalam jumlah yang sangat masif laksana air mancur yang rusak, membasahi wajah, blus, serta tangan Sisil secara menyeluruh.
Wajah tampan Min Suho seketika berubah menjadi putih pucat laksana mayat akibat kehabisan seluruh pasokan darah di tubuhnya dalam hitungan detik.
Detak jantungnya melemah drastis, kesadarannya runtuh total, dan tubuh tegap Min Suho itu akhirnya terkulai lemas tak berdaya di atas kursi dengan kepala tertunduk—nyawanya dipastikan tidak akan pernah bisa diselamatkan.
"Ahhh~ Sempurna sekali..." desah Sisil pelan dengan napas memburu, menatap sepotong daging menjijikkan yang berhasil ia amputasi dari tubuh Suho dengan tatapan kepuasan batin yang luar biasa besar.
Sisil perlahan bangkit berdiri dari posisinya, membiarkan gunting yang berlumuran darah jatuh berdenting di atas lantai beton.
Ia mendongakkan kepalanya ke atas, merentangkan tangannya, lalu melepaskan suara tawa bahagia yang sangat melengking tinggi dan bergema mengerikan memenuhi seluruh sudut ruangan yang gelap gulita tersebut.
"Ahahahaha~ Ahahahahahahaha~~ Mas Arka... Lihatlah istri tercintamu ini... Aku sudah membersihkan kecoak penggangu yang mencoba mengusik kebahagiaan cinta kita, Mas... Hahaha~"
Di bawah kedipan lampu pijar kuning, wajah cantik Sisil yang dipenuhi oleh noda darah segar tampak memancarkan pesona kegilaan yang tak tertandingi—sebuah sisi gelap yang belum diketahui oleh Arka sama sekali.
Bersambung...
like+ bunga🌹✍️
kalo berkenan mmpir y thor😉
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/