Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.
Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.
Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.
secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Hari ini adalah hari pertama pelajaran ekstra untuk persiapan memburu hewan kontrak.
Namun yang membuat para murid menjadi ricuh dan sedikit tidak suka adalah pelajaran ekstra itu dilakukan pada setiap pelajaran.
Berlatih kuda, memanah, beladiri, berlatih sihir, berpedang dan mata pelajaran lainnya.
Untuk saat ini, pelajaran pertama adalah melatih kekuatan fisik.
Banyak orang mengeluh karena terlalu lelah dengan latihan fisik tersebut namun tidak sedikit yang terlihat bersemangat.
"Mulai!"
Teriak seorang pelatih sambil mengangkat tangannya keatas dan memberi aba-aba agar pertandingan dimulai.
Ya... Itu melatih kecepatan dalam berlari, namun itu tidak memiliki garis finis, akan tetapi pemenang dinilai dari seberapa lama dia bertahan.
.
.
.
"Tsk... Begini nih, kalau gak pernah olahraga." Keluh Rosetta sambil memijit betisnya yang terasa kaku dan kesemutan.
Caily hanya mengipasi lehernya yang terasa panas.
Vione sendiri hanya duduk bersandar di bawah pohon rindang yang nyaman.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari pertama melatih fisik yang dilakukan oleh para murid.
Beberapa hari kemudian latihan fisik yang dilakukan oleh para murid sudah ditahap akhir, dan setelahnya mereka akan melatih kemampuan beladiri masing-masing untuk bertahan hidup.
Pada awalnya mereka mengikuti instruksi namun setelahnya mereka melakukan duel satu lawan satu.
Begitulah seterusnya hingga beberapa hari berlalu, pelatihan beladiri para murid pun diganti menjadi pelajaran mengasah kemampuan menggunakan senjata, mereka juga dipersilahkan mengambil senjata yang mereka suka.
Rosetta memilih panah, Vione memilih pedang sedangkan Caily memilih cambuk bergerigi.
Trank!
Dua pedang saling beradu menciptakan bunyi yang cukup membuat beberapa orang yang mendengarnya merasa ngilu.
Itu adalah Vione yang sedang melakukan duel dengan seorang murid laki-laki.
Keduanya seimbang, tidak ada yang berat sebelah atau merasa terancam salah satunya.
disisi lain, ada Caily yang tengah mengayunkan cambuk miliknya pada beberapa target didepannya.
Begitupun dengan yang dilakukan oleh Rosetta.
beberapa hari kemudian, semua murid mengelilingi arena pacuan kuda, mereka diperintahkan untuk berlatih kuda sembari bertarung menggunakan senjata yang mereka pilih sendiri.
Wush! ... Trank!
Panah yang Rosetta luncurkan ditangkis begitu saja oleh lawannya.
Kudanya meringkik keras saat lawannya mengayunkan pedang kearahnya, akan tetapi ia tidak selesai begitu saja.
Pana yang seharusnya ia tembakkan malah dijadikan sebagai senjata pertarungan jarak dekat.
Namun pada akhirnya keduanya seri karena waktu yang ditentukan sudah berakhir.
Disusul oleh Vione yang kini mendapatkan lawan yang memiliki senjata yang sama dengannya.
Keduanya saling beradu senjata dengan kekuatan dan kemampuan fisik masing-masing, tidak ada yang diperbolehkan menggunakan kemampuan sihir mereka.
Namun pada akhirnya Vione kalah karena lawannya ternyata lebih unggul dalam berpedang, kecepatan dan ketangkasan nya tidak bisa ia susul.
Disisi lain ada Caily yang juga menarik tali kekang kudanya sembari menggerakkan cambuk bergerigi miliknya.
Cetas!!!
Tapi mungkin dia sedang tidak beruntung, lawannya adalah Alisa Athemys Chambell.
Gadis yang diagung-agungkan oleh rata-rata penduduk kerajaan, yang digadang-gadangkan akan menjadi Dewi keberuntungan bagi kerajaan.
Yang dirumorkan sebagai gadis cantik pemikat hati para pangeran dan gadis yang mampu membuat banyak pria jatuh hati padanya.
Pemilik elemen cahaya, satu-satunya yang ditemukan di kerajaan itu.
Akan tetapi Caily tidak pernah memikirkan apapun tentang gadis itu, karena ini adalah duel maka tetap sebuah duel, itu pertarungan murni tanpa embel-embel apapun.
Namun tanpa gadis itu sadari, seorang pria berkacamata dengan kulit kusam di barisan penonton tengah menatapnya dengan sorot mata tajam, akan tetapi tangannya tampak bergetar pelan dan secara perlahan, cahaya tipis nan kecil seperti jarum melesat dari ujung jemarinya dan mengarah pada kaki kuda yang tengah Caily tunggangi.
Caily yang tidak menduga apapun kini terpental jauh hingga menabrak pembatas arena, singkatnya dia kalah dan lagi-lagi Alisa semakin populer karena kehebatannya dalam pelajaran apapun.
Pria berkacamata itu pergi dengan tubuh bergetar pelan dan langkah yang hampir terburu-buru.
Caily sempat melihatnya meskipun hanya sekilas.
Tetapi Rosetta tahu sesuatu berkat bantuan buku sistem ramalan miliknya, ia tahu penyebab kekalahan yang dialami oleh Caily barusan.
"Itu tidak adil!" Teriaknya dengan lantang dan wajah yang berkerut samar.
Para murid dan pelatih pun sontak mengalihkan perhatiannya pada sosok Rosetta yang tampan terlihat marah.
"Ada apa?" Tanya sang pelatih dengan nada datar.
Rosetta mendekat dengan langkah tegas.
"Kau bahkan tidak mengamati pertandingan dengan serius, jelas jelas tadi dia unggul tanpa sedikitpun celah." Katanya dengan nada yang semakin naik.
Sang pelatih mengerutkan keningnya dengan heran.
"Apa maksudmu? Katakan saja dengan jelas."
Rosetta menyilangkan tangannya dan menatap dengan dagu terangkat, ujung jarinya menunjuk pada jejeran penonton tempat dimana sebelumnya seseorang menyerang Caily secara diam-diam.
"Disana, seseorang menyerang Caily secara diam-diam, cahaya tipis yang menyerupai jarum melesat dan... Wush!... Caily terjatuh karenanya." Jelasnya dengan menggebu-gebu.
Akan tetapi sang pelatih hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau mungkin mengarang cerita hanya karena kau tidak terima dengan kekalahan temanmu itu." Ucapnya dengan malas.
Rosetta terdiam sesaat lalu matanya melirik kearah jejeran penonton dan melihat jika ada banyak orang memandangnya dengan sinis.
Vione mendekat lalu menarik Rosetta agar tidak membuat keributan lebih jauh karena ia tahu tidak akan ada yang percaya dengan apa yang akan mereka katakan dan jelaskan.
"Napa lo nahan gue? jelas-jelas tadi itu curang!" Seru Rosetta sambil menatap tajam ke arah jejeran penonton yang masih sempat menatapnya dengan sinis.
Vione menghela napas panjang lalu mengulurkan tangannya, ia menunjuk kearah para murid.
"Mereka... Hanya akan percaya pada Dewi keberuntungan yang mereka miliki, tidak peduli seaneh apa pertarungan yang tadi mereka tonton." Ungkapnya dengan nada malas.
Rosetta tersadar, akan tetapi saat ia hendak menarik pandangannya, tidak sengaja ia bertemu pandang dengan kedua kakak laki-lakinya Caily.
"Hm?"
Rosetta memberikan senyum lebar yang hampir menyerupai seringai sinis, sebuah provokasi yang sangat jelas.
Tatapannya adalah sebuah tantangan bagi keduanya, seolah mempertanyakan 'Apakah kalian percaya?' dalam diam.
Christopher dan Calief terdiam kaku ditempatnya, karena jujur saja keduanya adalah bagian dari para pria yang mengagumi Alisa.
Keduanya melihat dengan jelas apa yang terjadi pada kuda yang Caily tunggangi, mereka tidak buta dan mereka tahu kalau pelatih tadi hanya pura-pura tidak tahu.
Tapi sekali lagi, dua bersaudara itu memilih mempercayai Alisa.
"lagipula dia disebut dewi keberuntungan, kan? Mungkin dia hanya sedang beruntung."
Dan begitu saja, keduanya pergi dan melupakan fakta bahwa baru saja mereka membiarkan Caily... adik mereka terjatuh tanpa mereka bantu.
Diujung lapangan, senyum sinis Rosetta perlahan semakin lebar, mata emasnya melebar ke sudut dan melirik Caily yang saat ini hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.
Gadis cantik berambut putih itu berdiri sembari menepuk seragamnya, melangkah santai kearah Rosetta dan Vione yang masih memandang dengan tatapan dingin dimatanya.
"yah... Ini sebenarnya bukan bagian lo." Ucap Rosetta begitu Caily berdiri didekatnya.
Caily menjentikkan jarinya menunjuk kearah Vione.
"Pasti lu." katanya dengan nada malas.
Vione tersenyum lebar sambil mengangguk singkat. "Jelas, alur pertama adalah tentang gue yang ganggu hubungannya Alisa sama semua bucinnya."
"Dan gua yang jadi sasaran karena sekarang ... gua tunangan sama si Shanez." Tambah Caily dengan senyum sinisnya.
"Btw... lo jadi target sekarang." Sela Rosetta sembari menunjuk kearah ujung lapangan dimana Shanez berdiri dengan mata tajamnya yang mengarah pada Caily.
Tanpa rasa malu sedikitpun, Rosetta mengarahkan ujung jarinya pada pria itu yang dimana itu tentu saja tidak sopan.
"I'm scared~" Celetuk Vione dengan nada mengejeknya.
"Yah... Maafkan kakak durhaka itu, dia cuma korban alur cerita aja." Cemooh Rosetta sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Caily hanya melirik sekilas melalui sudut matanya. "Hm? tetap saja... Itu idiot."
Dan begitu saja, ketiga gadis itu pergi tanpa mempedulikan kemarahan Shanez yang terlihat jelas.