Blurb :
ARJUNA, seorang advokat/pengacara/lawyer yang profesional di bidangnya. Namun, karena pesonanya itu, dia kerap didatangi para wanita-wanita cantik hingga gelar 'Play Boy' pun melekat pada dirinya. Ada alasan tersendiri kenapa rumor yang kurang enak disandang itu menyebar begitu saja.
Persidangan telah mempertemukan Arjuna dengan jaksa muda bernama SHADRINA ARIMBIE. Intrik mewarnai kisah cinta mereka hingga terungkap jati diri Arjuna yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaka tarub
Arjuna membujuk Julian supaya mengizinkan anaknya menemui Intan. Saat ini, hanya itu yang bisa Arjuna lakukan untuk kliennya.
“Di mana Intan saat ini?” tanya Julian dengan penasaran.
“Dia ada di rumah sakit ini,” sahut Arimbie yang baru saja tiba dari mushala setelah menunaikan kewajibannya di waktu Maghrib.
“Dia sakit?” tanya Julian lagi sambil menoleh ke arah Arimbie dan Arjuna.
Arjuna menjelaskan kondisi mantan istri Julian seperti yang ia dengar dari dokter yang menanganinya. Itu membuat Julian kaget, karena dia tidak bisa membayangkan sang mantan istri hidup sendiri dalam keadaan sakit.
Dia ingat betul bahwa Intan adalah seorang yatim piatu yang tinggal di panti asuhan sebelum ia menikahinya. Tidak memiliki siapa pun di dunia ini. Bagaimana dia berjuang melawan kanker yang menggerogotinya selama hampir lima tahun ini.
Dokter mengatakan bahwa biasanya pada kasus Acute myeloblastic leukemia hanya terdapat kurang dari 25 persen pasien saja yang dapat bertahan selama 5 tahun. Hingga saat ini, Intan sudah menjalani beberapa metode penyembuhan leukemia, mulai dari pemberian obat-obatan oral, imunoterapi, kemoterapi, radioterapi. Namun, terakhir dia menolak untuk melakukan transplatasi sumsum tulang belakang, karena ia sadar tidak memiliki sanak saudara, jadi akan sangat sulit menemukan donor yang cocok.
Perawatan intensif serta semangat dari keluarga dan kerabat, sangatlah penting untuk proses penyembuhan pasien leukemia. Namun, kenyataannya dia berjuang sendiri.
“Ya, Tuhan. Apa yang sudah saya lakukan padanya selama ini?” gumam Julian sambil meremas kepalanya dengan kasar. “Saya membawa dan memisahkannya dari keluarga yang dia miliki di panti asuhan, lalu saya tinggalkan dia begitu saja sendirian. Lelaki macam apa aku ini?”
Julian menyesali perbuatannya dan dia berjanji untuk menjaga Intan di sisa hidupnya. Perlahan dia akan mempertemukan Intan dengan Diandra—anak satu-satunya yang sangat dirindukan.
“Saya lega mendengarnya. Setidaknya, Bu Intan tidak akan kesepian lagi sekarang,” ucap Arjuna sambil menepuk pundak Julian.
“Dia pasti sangat bahagia, setelah bertemu dengan Diandra.” Arimbie menarik napasnya dengan lega.
Tiba-tiba dia minta izin sebentar karena ponselnya berbunyi. “Maaf, saya terima telepon dulu,” ucap Arimbie sambil memalingkan tubuhnya dari hadapan Arjuna dan Julian.
“Iya, iya, Din. Aku segera kesana. Kamu berangkat duluan saja. Tolong bilang sama ayah dan bundaku, aku sedikit telat,” ucapnya pada Dinda melalui sambungan telepon.
Selain itu, Arimbie mendapatkan satu pesan WhatsApp dari Adrian. Wajahnya tiba-tiba berubah apa lagi setelah dilihatnya Adrian mengganti foto profil di akunnya.
“Kenapa, Bie?” tanya Arjuna saat Arimbie datang kembali.
“Kita harus ke rumah kakek sekarang juga.”
“Ya, ampun. Aku sampai lupa, kita ada acara.” Arjuna segera merogoh ponselnya karena dia harus menghubungi kembar bersaudara, khawatir mereka sudah menunggu terlalu lama. Namun, dia mengurungkan niatnya setelah dia baca satu pesan dari Ghibran.
[Abang, maaf ... kami bertiga tidak bisa hadir di rumah kakeknya Bu Jaksa. mendadak papa mengajak kita untuk datang ke acara temannya.]
“Kalian pulang saja. Jangan khawatir, saya akan mengurus Intan dan Diandra di sini,” ucap Julian sambil berdiri dan sedikit membungkukkan kepalanya.
“Baiklah. Terima kasih, Pak Julian. Besok saya akan kembali kesini.” Arjuna dan Arimbie undur diri dan segera meluncur dari rumah sakit ini.
“Aku mau pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian,” ucap Arimbie di tengah-tengah perjalanan.
“Tidak usah, kita sudah telat,” jawab Arjuna seraya menambah kecepatannya.
“Ini acara ulang tahun kakekku, mana bisa aku datang dengan keadaan seperti ini.”
“Baiklah,” ucap Arjuna sambil mengamati wajahny di kaca spion. “Menurutmu, apa aku perlu mandi dan ganti baju juga, Bie?”
“Tentu saja, kenapa harus bertanya?” jawab Arimbie ketus.
“Lihatlah aku baik-baik!” perintah Arjuna yang tengah mengemudi.
Arimbie memutarkan wajahnya lalu memandang Arjuna dari ujung kepala hingga ke kaki. Salah satu bentuk wajah yang tidak pernah bosan untuk dipandang. Tubuh tinggi yang sedikit berotot terlihat di balik kemeja putihnya yang nyaris tembus pandang. Setiap wanita pasti berharap untuk jatuh di dadanya yang bidang. Dan rambut yang biasanya rapi ke belakang kali ini tampak sedikit berantakan. Namun, tidak sedikit pun mengurangi kharismanya.
“Gaya pria metroseksual,” gumam Arimbie. “Apa anda pernah melakukan operasi plastik?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Arimbie yang belum berhenti menatap.
“Apa? Hahaha ....” Tawa Arjuna membuyarkan lamunan Arimbie. Seketika Arimbie menjadi gelagapan.
“Ma-maksud saya ... kenapa hidung anda besar sekali? Seperti palsu. Itu, itu, maksud saya.” ucapnya sambil kembali meluruskan pandangan ke depan.
“Orang keren dari lahir, kok, dibilang operasi plastik. Gimana sih?” Arjuna tersenyum sambil melirik Arimbie. Ia memarkirkan mobilnya di halaman.
“Orang keren tidak narsis, loh. Aahh ... sudahlah. Kita sudah sampai.” Arimbie segera membuka seat belt lalu keluar dari mobil dengan terburu-buru.
“Bie! Aku akan mengirim Arumi ke rumahmu!” seru Arjuna sambil membuka pintu.
“Untuk apa? tidak perlu!?” sahut Arimbie sambil tergesa-gesa lalu masuk.
Dan benar saja. Setelah selesai mandi, tiba-tiba Arumi sudah menunggu di depan pintu dengan membawa sebuah baju.
“Arumi ...?!” tanya Arimbie saat membuka pintu.
“Pak Arjuna bilang, kita harus buru-buru.” Arumi menerobos masuk supaya tidak membuang banyak waktu. Dia memaksa Arimbie untuk duduk di sofa dan memberikan sedikit sentuhan make up di wajahnya. “Nah, sekarang pakailah baju ini,” perintah Arumi seraya menyerahkan baju seperti yang dititahkan Arjuna.
“Terima kasih, Arumi. Maaf merepotkanmu.”
“Sama-sama. Saya melakukannya dengan senang hati,” ucap Arumi sebelum akhirnya dia pamit untuk pulang ke salon—tempat ia tinggal sekaligus bekerja.
Tak lama kemudian Arimbie turun. Arjuna sudah menunggu sambil melipat tangan di dada dan bersandar di mobilnya. Dia memandangi Arimbie lalu menatap ke sekeliling. Mungkin dia tengah bersiap-siap untuk mengeluarkan jurus gombalnya.
“Apa yang sedang anda cari? kenapa mata Anda berputar-putar seperti itu?” tanya Arimbie.
“Maaf, numpang tanya. Apa ini planet bumi?” tanya Arjuna sambil mengerutkan dahinya.
“Memangnya anda mau hidup di mana? Alam baka?”
“Akh, saya kira saya sedang nyasar ke khayangan?” tanya Arjuna sambil mengerjapkan matanya berulang-ulang.
“Anda mau bilang bahwa Anda sedang melihat bidadarai, kan?” jawab Arimbie lalu dia buka pintu mobil Arjuna dan duduk di dalamnya. “Maaf ya, Jaka tarub. Bidadari sedang terburu-buru. Jadi, jangan gombal dulu,” ucapnya lagi seraya membuka kaca mobil.
“Ahaha! baiklah ... aku siap meluncur ke rumah kakek mertua.” Arjuna pun berlari dan menaiki mobil lalu segera mengemudikan mobilnya dengan cepat.
Hanya beberapa puluh menit saja, mereka sudah tiba. Sebuah rumah besar dengan halaman yang cukup luas, menampung puluhan mobil mewah yang terparkir di sana. Arjuna meraih sebuah kotak di jok belakang mobilnya lalu ia turun.
“Ya, ampun. Aku lupa beli kado untuk kakek,” ucap Arimbie yang sudah turun lebih dulu dan berdiri di samping mobil, menunggu Arjuna.
“Tenang saja, aku sudah bawa kado untuk kakek, tapi tolong rapikan dasiku ini,” perintah Arjuna.
“Ck, merepotkan sekali,” gumam Arimbie sambil mengulurkan tangannya. “Sudah rapi sekarang. Ayo masuk!” Kini Arimbie bisa melangkah dengan anggun layaknya cucu Ammar Fahmi—yang sesungguhnya.
“Kamu tidak mau menggandeng tanganku, apa?” seru Arjuna yang setengah berlari mengejar Arimbie.
“Sstt ... di dalam ada calon mertuaku. Jadi, jangan macam-macam denganku.”
“Jadi kamu masih berharap nikah dengan laki-laki baj*ngan itu, Bie? Apa gak salah?”
“Memangnya kenapa? Aku yakin dengan penampilanku yang baru ini, Adrian pasti tidak akan malu lagi mengakui aku sebagai calon istrinya.” Arimbie tersenyum sengaja menunjukkan wajah imutnya di depan Arjuna.
...—BERSAMBUNG—...
Arjuna lovers ...! Maaf, selalu lama menunggu. Ya Allah, aku ingin memiliki kekuatan super seperti iron man, supaya bisa up tiga episode tiap hari. Namun, apalah daya aku hanya wanita biasa.
Terlepas dari semua itu, Author harap readers selalu setia dan memberi dukungannya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua. 😆😘🙏
hanya 🌹yg dapat mewakili perasaan ku saat membaca nya 🥰🥰🥰
🙏🙏🙏🙏🙏
ku simak terus ya Thor