NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Permusuhan yang Dimulai

Halaman latihan Sekte Langit Biru sore itu terasa berbeda dari biasanya. Biasanya, tawa ringan dan semangat berlatih mengisi udara, tetapi kali ini suasana dipenuhi ketegangan yang samar-samar. Langkah para murid terdengar lebih pelan, pandangan mereka saling bertukar seolah menanti sesuatu yang belum terjadi.

Di tengah lapangan, tanah yang padat oleh ribuan jejak kaki murid-murid sebelumnya masih lembap karena hujan semalam. Cahaya keemasan matahari menembus celah pepohonan pinus yang menjulang di sekeliling halaman, menciptakan bayangan panjang yang menari di permukaan tanah.

Yunhai berdiri tegak di depan murid-murid. Jubah birunya berkibar lembut tertiup angin sore. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam, mampu membuat murid-murid yang paling berisik sekalipun terdiam seketika.

“Latihan hari ini,” ucapnya dengan suara berat yang menggema, “akan menguji bukan hanya otot, tetapi hati. Ingatlah, pedang sejati tidak hanya dipimpin oleh tangan, tetapi juga oleh niat.”

Murid-murid menundukkan kepala, menyimak. Namun di antara barisan itu, dua pasang mata saling bertemu dalam tatapan yang berbeda: Lin Feng dan Liu Tian.

Liu Tian berdiri di barisan depan. Jubahnya rapi, pedang kayu di tangannya berkilat karena selalu dirawat. Ia adalah salah satu murid paling menonjol—cepat, kuat, dan cerdas. Semua murid tahu itu. Tetapi sejak Lin Feng datang, ada sesuatu yang mengusik hatinya.

Ia ingat beberapa hari lalu, Yunhai sempat memberi Lin Feng nasihat panjang setelah latihan. Bahkan, ia melihat gurunya itu menepuk bahu Lin Feng dengan tatapan puas. Adegan sederhana itu menyalakan api iri dalam hati Liu Tian.

‘Aku sudah berlatih bertahun-tahun, memberi segalanya pada sekte ini,’ pikirnya dengan geram. ‘Dan sekarang, seorang pendatang baru ingin mencuri perhatian? Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu.’

Sementara itu, Lin Feng berdiri di barisan belakang. Wajahnya masih tampak tenang, meski dalam hati ia tahu banyak murid memandangnya dengan curiga. Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang pemuda dari desa. Namun, karena Yunhai sendiri yang menerimanya masuk, ia tidak bisa ditolak oleh murid lain.

“Lihat,” bisik seorang murid. “Lin Feng lagi. Kira-kira berapa lama dia bisa bertahan hari ini?”

Yang lain menimpali, “Kalau dia melawan Liu Tian, habis sudah. Liu Tian tidak akan menahan diri.”

Lin Feng mendengar bisik-bisik itu. Bukannya tersinggung, ia justru menutup mata sejenak, menarik napas panjang. Ia sudah terbiasa dipandang rendah. Tetapi hari ini, ia bertekad tidak akan jatuh dengan mudah.

Yunhai baru saja hendak menunjuk pasangan sparring ketika Liu Tian melangkah maju. Suaranya lantang, penuh percaya diri.

“Guru,” katanya, “izinkan aku berlatih dengan Lin Feng.”

Hening seketika menyelimuti halaman.

Seorang murid hampir terbatuk karena kaget, lalu berbisik, “Itu jelas tantangan.”

Yang lain mengangguk. “Lin Feng benar-benar sial.”

Yunhai menatap Liu Tian lama, lalu mengalihkan pandangan ke Lin Feng.

“Lin Feng, apakah kau siap?”

Lin Feng maju selangkah, menunduk hormat. “Saya siap, Guru.”

Keduanya berdiri di tengah lingkaran. Murid-murid segera mundur, membentuk arena. Semua mata terpaku.

“Mulailah,” perintah Yunhai.

Dalam sekejap, Liu Tian melesat. Gerakannya cepat bagaikan angin, pedang kayu menghantam keras dari samping. Lin Feng terpaksa menahan dengan kedua tangan. Suara benturan kayu menggema, membuat sebagian murid bergidik.

“Cepat menyerah saja, Lin Feng,” ejek Liu Tian, matanya berkilat. “Kau tidak pantas di sini.”

Lin Feng tidak menjawab. Ia melangkah mundur, mencoba menstabilkan napas. Serangan kedua datang, lebih cepat. Lin Feng hampir tersandung, tapi berhasil menahan lagi. Tangannya gemetar, namun ia tidak melepas pedangnya.

Kerumunan mulai bersorak.

“Wah, dia masih bisa berdiri!”

“Liu Tian pasti semakin kesal.”

Beberapa saat, pertarungan terlihat timpang. Liu Tian menyerang tanpa henti, sementara Lin Feng terus terdesak. Namun semakin lama, murid-murid menyadari sesuatu: Lin Feng mulai membaca gerakan lawannya.

Ia tidak hanya menahan, tetapi juga bergerak sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Serangan Liu Tian yang tadinya mengenai tepat sasaran, kini hanya menyentuh angin.

“Bagaimana mungkin…?” Liu Tian menggeram. Ia tidak menyangka Lin Feng mampu beradaptasi di tengah tekanan.

Dengan sebuah gerakan sederhana, Lin Feng mencoba membalas serangan. Meski tidak secepat Liu Tian, tebasannya cukup membuat lawannya harus mundur setengah langkah. Itu sudah cukup membuat kerumunan murid bersorak kecil.

“Dia tidak menyerah!”

“Lin Feng benar-benar keras kepala!”

Namun perbedaan kekuatan tetap nyata. Liu Tian akhirnya meningkatkan tenaganya. Dengan satu ayunan keras, ia menghantam dada Lin Feng. Tubuh Lin Feng terhempas ke tanah, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

Beberapa murid menutup mata, mengira itu akhir dari duel.

Tetapi perlahan, Lin Feng bangkit lagi. Lututnya gemetar, tangannya bergetar hebat, tetapi ia berdiri.

“Jika aku jatuh hari ini,” ucapnya dengan suara serak, “aku akan bangkit lebih kuat esok.”

Kerumunan hening. Kata-kata sederhana itu membuat semua orang tercengang.

Wajah Liu Tian memerah, gengsi dan amarah bercampur jadi satu. “Kau berani menantangku dengan ucapan itu?” teriaknya. Ia melompat, mengarahkan tebasan keras yang jelas bukan lagi untuk latihan biasa.

Namun sebelum pedang kayu itu mendarat, sebuah tongkat panjang menahan. Trak! suara benturan terdengar keras.

Yunhai berdiri di antara mereka, sorot matanya dingin.

“Cukup.”

Semua murid membeku.

“Liu Tian,” lanjut Yunhai, “kau melupakan tujuan latihan. Ini bukan arena untuk melampiaskan nafsu atau kesombongan.”

Liu Tian menunduk, wajahnya tegang. “Maafkan saya, Guru.” Tetapi di dalam hatinya, ia bersumpah tidak akan melupakan penghinaan hari ini.

Lin Feng menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Guru.”

***

Latihan sore itu telah usai, tetapi bisikan para murid masih terdengar.

“Lin Feng lebih tangguh dari yang kita kira.”

“Ya… bahkan setelah jatuh, dia masih bangkit.”

“Liu Tian pasti semakin membencinya.”

Malam itu, Lin Feng duduk bersila di kamarnya. Tubuhnya penuh luka, tetapi dalam hatinya ada secercah kepuasan. Ia tahu dirinya masih lemah, tetapi ia juga tahu satu hal: ia tidak kalah dalam tekad.

Sementara itu, di kamarnya sendiri, Liu Tian duduk memandangi pedangnya. Tangan yang menggenggam masih bergetar. Ia bukan lelah, melainkan marah.

“Lin Feng…” bisiknya lirih, penuh kebencian. “Kau berani membuatku terlihat lemah di depan semua orang. Aku tidak akan membiarkanmu berkembang.”

***

Malam itu, dua murid dengan jalan berbeda sama-sama terjaga. Lin Feng dengan luka, tetapi juga tekad. Liu Tian dengan kebencian yang membara.

Sejak hari itu, jurang di antara keduanya terbentuk. Mereka bukan lagi sekadar saudara seperguruan. Mereka adalah musuh yang kelak akan saling menguji takdir.

Dan api permusuhan itu, sekali menyala, tidak akan padam dengan mudah.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!