The power of santri sekilas menceritakan perjuangan seorang santri putra bernama Ade firdaus atau biasa di panggil adef. terlahir dari seorang ayah yang pekerjaan nya hanya seorang petani.sedangkan ibunya telah meninggal saat ia masih berusia tiga belas tahun.
rasa syukur adef karena ayahnya sangat mendukung ia untuk bisa belajar di pesantren besar Sehingga ia selalu menggunakan waktunya untuk sungguh sungguh dalam belajar.
Saat sedang semangat mencari ilmu Adef harus menerima kenyataan pahit yang memaksa ia keluar dari pondok.
😊Semoga kisahnya Ada Manfaatnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurheti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di jenguk abah dan kedua adikku
Hari jumat adalah hari libur, jadwal pagi santri setelah olahraga ialah bersih-bersih atau tandif.
Kami semua sibuk membersihkan halaman pondok, masjid, majelis, perpustakan dan tempat tempat lainnya.
Aku dengan di bantu para santri kecil menyapu depan asrama, kulihat akbar mengejar Fikri.
Fikri berlari ke arahku dengan wajah tersenyum khas-nya.
"Ka Adeef, buku akbarr." Ucap Akbar sambil menunjuk ke tangan Fikri.
"Aku kan cuma mau pinjem Bar." Teriak Fikri menggoda Akbar.
"Iyaa, tapi nanti dulu." Jawab akbar sambil mencoba merebut buku miliknya dari Fikri.
"ssssssttt Fikri, Akbar lihat teman teman kalian yang lain, mereka bantu kaka tandif, kalian malah rebutan buku." Ucapku sambil menarik buku dari Fikri, sedangkan mereka hanya cengengesan.
"Ayo bantu buang sampah." Pintaku sambil menunjuk pada majbalah yang sudah penuh dengan sampah.
Mereka berdua pun mengangkat dan membawanya ke tempat pembuangan sampah.
Selang beberapa menit mereka datang lagi.
"Ka...ka....ka Adef coba deh baca buku Akbar banyak curhatanya ka." Ucap Fikri menggoda Akbar.
"Ah engga ka, jangan, jangan di baca ka, tolong kembali-kan buku nya padaku ka." Pinta Akbar.
"Ssssssttt dari tadi kalian ribut saja, lihat itu majelis, masih kotor belum ada yang bersihin, kalian berdua bersihin majelis ya." Pinta-ku pada keduanya.
"Ah mampus haha.....Akbar saja kak, aku tidak mau." Canda Fikri.
"Enak saja kau." Jawab Akbar.
"Kaka menyuruh kalian berdua, nanti jika kaka sudah selesai, kaka bantu bersihin majelis nya." Ucapku.
"Okee kaa siaap, ayo Bar." Ajak Fikkri pada Akbar, dia hanya tersenyum mengangguk, mereka berjalan menuju majelis, ku lihat Fikri menaruh tangannya di pundak Akbar.
aku tersenyum, salah satu keindahan hidup di pesantren adalah kebersamaan dengan teman yang sudah seperti saudara kandung.
Aku masih asyik menyapu halaman pesantren, rumput rumput yang mulai tumbuh tak beraturan ku cabuti, hingga halaman pondok terlihat sangat rapih dan bersih.
Setelah selesai, aku berjalan menuju majelis, kulihat mereka sedang mengepel bagian luar majelis.
"Kaa Adef lama sekali." Teriak Fikri.
"ka Adeff telat ka, sudah selesai." Ucap Akbar mencandaiku.
"Alhamdulillah jika sudah selesai, hehe Afwan tadi ka Adef lama, soalnya halaman pondok belum bersih." Ucapku.
"Iyaa tidak papa ka". Ucap Fikri.
"Assalamu alaikum ka Adef." Sapa seseorang padaku.
"Wa alaikum salam." Jawabku.
"Afwan ka, kaka ada yang menjenguk." Ucapnya .
"Ohh iyaa syukron yah." Ucapku padanya, ia tersenyum menganggguk.
"Fikri, Akbar mau liat abah ka adef tidak". ucapku.
"Mau ka, mauu mauu." Ucap mereka sambil berlarian ke arahku setelah menyimpan sapu dan pelan di samping majelis.
Aku langsung berjalan menuju tempat penjengukan dengan di ikuti fikri dan akbar.
"Defff..Adeff." Teriak Zidan, ku lihat keempat teman-temanku sedang duduk melingkar, di hadapan nya ada berbagai macam makanan.
"Def sarapan." Teriak Wildan.
"kalian sarapan duluan saja, ane di jenguk, setelah sarapan nanti kesana ya." Teriakku pada mereka.
"Ka Adefff." Teriak seorang gadis perempuan.
"Maasya Allah, abah tidak sendiri kesini, kedua adikku juga ikut." Bisik hatiku.
"Assalamu alaikum." Sapaku sambil menyalami tangan abah dan kedua adikku.
"Wa alaikum salam, ka Adefff sabilah kangen." Ucapnya sambil mencium tanganku.
"Sabilah makin gede makin cantik aja yaah." candaku pada adik bungsuku.
"Eh kenalin nihh adik kelas ka Adef, yang ini namanya Akbar dan ini Fikri." Ucapku.
"Fikri dan Akbar kenalin juga, ini kedua adik ka Adef, kami hanya tiga bersaudara, yang ini namanya Habibah dia kelas dua tsanawiyah, dan ini sabilah dia kelas satu tsanawiah." Jelasku.
"Dan ini Abah nya ka Adef, beliau pahlawan paling heubaaat di dunia menurut ka Adef." ucapku.
"Maa sya Allah, Akbar sama Fikri kelas berapa?" Tanya abah.
"Kelas satu tsanawiah bah." Jawab Fikri sambil memamerkan seyum indah dan gigi gingsul nya pada abah dan kedua adikku.
"Maa sya Allah kalian sangat hebat, masih kecil sudah mau tinggal di pesantren." Lirih abahku.
"Iyaa bah, yang paling hebat tentu para orang tua bah, karena mereka sudah bersusah payah untuk membiyayi anaknya, agar anaknya bisa jadi orang yang berilmu." Jawab Fikri yang sok bijak itu, padahal tadi pagi masih senang menjaili temanya dengan merebut bukunya, aku sedikit menahan tawa mendengar jawaban Fikri, sedangkan Akbar hanya diam saja.
"Iya benar, benar sekali nak Fikri abah juga ingin sekali ketiga anak-anak abah semuanya mencari ilmu di Daruttakwa sejak MTS seperti kalian, padahal jika abah masih sehat dan kuat, abah masih bisa mencari penghasilan lebih, tentu abah juga memasukan Habibah dan Sabilah di mahad ini, tetapi abah tidak bisa, sekarang abah hanya bisa berharap pada adef, jika adef sudah lulus tolong bantu abah untuk membiayai kedua adikmu." Ucap abahku.
"Iyaah bah, insya Allah." Aku mangut mangut dan tersenyum pada abah.
"Ehhm ka Adefff, Habibah bawa ini buat ka Adef." Habibah memerlihatkan kotak putih berisi cokelat.
"Apa itu?" Tanyaku.
"Ini piscok ka alias pisang isi cokelat, kalau piscok-nya enak itu sudah pastii aku yang buat, tapi kalau tidak enak berarti itu buatan kaka Habibah." Canda Sabilah yang dibalas Habibah dengan kerutan di kedua halis indahnya.
"Ini ka." Ucap Sabilah sambil menyodorkan nya padaku.
"Ehmm aromanya aja sudah wangi, pasti piscok nya enak banget niih" Ucapku.
"Fikri, Akbar, ayok ambil." Ucapku pada mereka, serta merta mereka langsung mengambil dan menikati pisang goreng rasa cokelat buatan adikku.
"Rasanya sangat enak." Ucapku sambil mengacungkan jempolku pada keduanya.
"Abah juga bawakan nasi liwet dan ikan bakar." Timpal abah yang membuat perutku semakin berkeroncong.
abah membuka mangkuk berisi nasi, beberapa ikan bakar yang berukuran cukup besar ditambah dengan sambal kacang.
"Nanti bah, Adef panggil teman-teman Adef dulu yah." Ucapku.
Akupun segera berlari mencari mereka, sangat kebetulan mereka sedang berkumpul di depan maksof.
"Teman-teman pada mau makan lagi ga." ajakku pada mereka.
"Mauu Def." Jawab mereka sambil berjalan menghampiriku.
"Abahku bawa ikan bakar dan sambal kacang." Ucapku.
"Eum pasti enak." Jawab Hanif.
kamipun segera menghampiri abah, yang mana abah sudah menyiapkan makan dengan alas kertas nasi.
"Assalamu'alaikum baaaah." Ucap ke empat teman teman ku sambil menyalami abah.
"Wa alaikum salam, eeh teman teman Adeff apaa kabar." Ucap abahku.
"Baik bah Alhamdulillah, abah juga bagaimana kabarnya?" Tanya Dzaki.
"Sehat nak, ayo duduk kesini, abah bawakan nasi liwet." Ucap abahku ramah.
"Ini dua dua nya putri Abah?" Tanya Zidan.
"Iyaa nak, adik-adik nya Adef, Sabilah sama Habibah." Jawab abah.
Sbilah dan Habibah hanya tersenyum manis tanpa berkata-kata.
"Ayo makan makan, Fikri, Akbar, temen-temen ayo cepetan." Ajakku pada mereka.
serta merta kami duduk melingkar menikmati makanan dari abahku, ikan bakar yang di taburi dengan sambal kacang rasanya enak sekali.
Aku jadi rindu masa kecil bermain ke sawah, mencari ikan.
"Bagaimana enak engga masakan abah?" Tanya abah.
"Enak bah, mantappp." Jawab Widan dan mengacungkan ibu jarinya.
"Masakan abah lebih enak dari pada masakan di restoran." Canda Hanif yang membuat ayah ku tersenyum lebar.
setelah selesai makan kami masih duduk melingkar, abah menyodorkan jagung rebus yang rasanya sangat manis.
"Abah itu paling suka liat anak pesantren, karena mereka para pewaris ilmu, nanti jika kalian sudah lulus, amalkan ilmu ilmu kalian kepada yang masih awam." Ucap abahku.
"Iya bah insya Allah pasti, kita mengamalkan apa yang sudah kita dapat dari pesantren DARUTAKWA ini." Ucap Dzaki.
"Iyaa, dan janga lupa juga untuk mengamalkannya dikehidupan kalian sendiri, ada pepatah mengatakan, NGAJI SAJA DULU MASALAH JADI APA NANTI YA ITU URUSAN NANTI maksudnya begini, jadi meskipun suatu saat setelah lulus kalian hanya jadi seorang pedagang, tapi kalian akan menjadi seorang pedagang yang jujur, karena kalian tahu ilmu berdagang yang benar menurut agama, kalian juga pasti takut akan hukum haram dan halal.
kalian tidak akan pernah curang dalam berdagang, karena sejatinya kalian itu takut pada Allah.
kalian akan menjadi seorang pedangang yang amanah, dan bisa di percaya.
tidak lalai dengan waktu ibadah, sehingga nanti banyak sekali orang yang suka dengan kepribadian kalian, dan kalian jadi pedangan besar yang di hormati." Ucap abahku panjang lebar, meski sambil makan jagung, tapi kami memperhatikannya dengan seksama.
"Maa sya Allah iya benar bah, abah memang hebat, pagi ini kami mendapat ilmu yang sangat bermanfaat dari abah-nya Adef." Ucap Wildan.
"Iya nak, tolong di ingat perkataan abah yah." Ucap abah.
"Iyaaa abah, pasti." Jawab mereka.
"Bah karena ini hari jum'at kami izin ke asrama ya bah, mengontrol santri supaya cepat siap-diap ke masjid." Ucap Wildan.
"Oh iyaa nak, silahkan." Jawab abahku.
"Ayo Fikri, akbar kalian cepat mandi." Perintah Wildan.
"Iyaa ka, Ka adef kita duluan yah, abah terima kasih makanannya." Ucap Fikri sambil menyalami tanganku dan abah.
"Abah kita duluan yah, terima kasih makanannya." Ucap teman temanmu.
Lalu mereka pergi menuju asrama.
"Ka Adeef temen temen nyaa banyak yah, ganteng ganteng lagi." Ucap Sabilah.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Adef belajar dengan sungguh-sungguh ya nak, jangan terlalu banyak bercanda dan membuang waktu." Lirih abahku.
"Iyaa bah." Jawabku sambil memperhatikan wajahnya yang semakin menua.
"Jika adef sudah lulus tolong bantu abah membiayai kedua adik mu ini yah, tolong sayangi mereka, seperti abah sayang pada Adef " Ucap abahku, aku menangguk.
"Abah Habibah juga mau sekolah di sini, jika sudah lulus mts." Ucap Habibah.
"Insya Allah nak." Jawab abah.
"Sabilah jugaa ya bahh." Ucap Sabilah.
"Eeh sudah, fokus dulu sekolah MTS yah, nanti kalian juga ka Adef bantu, biar bisa sekolah di sini." Ucapku sambil tersenyum.
"Adeef karena ini sudah mendekati waktu jum'at abah ijin pulang, kau baik baik di sini,
ini uang mu untuk satu bulan." Ucap abahku sambil memberikan uang padaku.
"Berarti abah bakalan ga kesini selama satu bulan." Ucapku dengan wajah memelas.
Abah hanya tersenyum mengelus ngelus rambutku, mata nya berkaca-kaca.
"Ya sudah tidak papa, abah mengerti abah sibuk bercocok tanam." Ucapku yang di iringi dengan senyuman, aku menyalami tangannya.
"Baik baik di sini ya kak sabilah pulang." Ucapnya sambil memelukku.
"Iya Sabilaah, jagain abah ya di rumah." Ucapku pada adik manja ku itu.
"Habibah pulang ya ka." Ucap Habibah sambil menyalami tanganku.
"Iyaa Habibah, semangat sekolahnya, sebentar lagi kelas tiga." Ucapku yang di balas
dengan senyuman dan anggukan olehnya.
ku perhatikan mereka menaiki motor tua milik abah, keluar gerbang pesantren.
"Dadahhh kaaaa." Ucap kedua adikku sambil melambai lambaikan, aku balas melambaikan tanganku.
mereka sudah jauh meninggalkan pondok, aku bergegas ke asrama, sebentar lagi shalat jum'at.
bersambung....
.
.