NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:252.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Tetap Perhatian

Dokter itu tampak terkejut sejenak, namun kemudian mengangguk paham. "Tentu, Tuan Kaivan. Kami akan menjaga rahasia ini."

Setelah pemeriksaan selesai, Kaivan keluar dari ruangan. Airin yang duduk di luar ruangan segera berdiri saat melihat suaminya. Ia mendekati Kaivan dengan ekspresi penuh kecemasan.

"Bagaimana, Kak?" tanya Airin dengan suara penuh harap.

Namun, alih-alih memberikan jawaban yang sudah ia dengar sebelumnya, dokter yang keluar dari ruang pemeriksaan mendekati mereka dan berkata, "Sebenarnya, kondisinya agak sulit untuk dipastikan, Nyonya. Kami tidak bisa memastikan apakah kesembuhan suami Anda akan berlangsung dengan cepat atau jika ada kemungkinan kebutaan permanen. Ini semua tergantung pada perkembangan dan perawatan dalam beberapa hari mendatang. Kami akan terus memantau kondisi suami Anda."

Airin terkejut mendengar penjelasan itu. Meski dia merasa lega Kaivan tidak mengalami cedera berat, tetapi pernyataan dokter yang tak pasti membuat hatinya kembali cemas. Matanya menatap Kaivan, bertanya-tanya apakah kondisi suaminya benar-benar akan baik-baik saja seperti yang Kaivan katakan sebelumnya.

Setelah menjelaskan kondisi Kaivan, dokter tersenyum ramah dan berpamitan, meninggalkan mereka di tempat itu. Kaivan duduk diam beberapa saat, wajahnya menunduk seolah sedang merenung. Suasana menjadi hening, hanya suara langkah kaki dokter yang mulai menghilang di kejauhan.

Kaivan akhirnya bersuara, suaranya rendah dan sedikit bergetar, "Airin..." Ia menoleh ke arah istrinya meskipun matanya tak bisa fokus. "Bagaimana jika aku tak bisa lagi melihat?"

Airin, yang sedari tadi memperhatikan Kaivan, segera menggenggam tangannya dengan lembut. Ia menatap suaminya dengan senyum hangat, meskipun ia tahu Kaivan tak bisa melihat senyum itu. "Kak," katanya, suaranya lembut tapi penuh keyakinan, "apa Kakak tak ingat? Saat aku memintamu menikah denganku, aku berjanji akan merawatmu seumur hidupku, apa pun yang terjadi. Meskipun kau tak akan pernah bisa melihat lagi, aku akan tetap di sisimu. Kita akan hidup bersama, menghadapi semuanya sampai tua."

Kaivan terdiam, meresapi setiap kata Airin. Perasaan hangat menjalari hatinya, rasa syukur yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia menggenggam tangan Airin sedikit lebih erat. "Terima kasih, Airin," katanya dengan suara penuh ketulusan. "Aku janji, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu bahagia."

Airin hanya tersenyum lagi, meski matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu Kaivan sedang berusaha keras menerima kondisinya, dan ia ingin menjadi orang yang selalu ada untuknya.

Setelah itu, Airin memimpin Kaivan keluar dari ruangan. Mereka berjalan menuju kasir untuk membayar biaya pemeriksaan dan menebus obat. Airin memastikan Kaivan nyaman saat menunggu, sementara ia mengurus pembayaran. Sesekali, ia melirik Kaivan, melihat wajah suaminya yang tetap tenang meski sedang menghadapi ketidakpastian besar dalam hidupnya.

Di dalam hatinya, Airin semakin yakin bahwa memilih menikah dengan Kaivan adalah keputusan yang tidak akan pernah ia sesali.

Setelah keluar dari rumah sakit, matahari sudah berada di atas kepala. Udara terasa hangat, dan suara riuh pasar terdengar dari kejauhan. Airin menggandeng lengan Kaivan dengan lembut, membimbingnya ke arah sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan.

"Kak, kita makan di sini saja, ya? Warungnya sederhana, tapi tempatnya bersih," ujar Airin dengan nada ceria, berharap Kaivan merasa nyaman.

Kaivan hanya mengangguk pelan, tidak memberikan banyak respon. "Terserah."

Mereka duduk di salah satu meja kayu yang tersedia. Warung itu dipenuhi aroma makanan yang menggugah selera, suara pengunjung berbincang, dan sesekali dentingan piring dan gelas. Airin memesan nasi dan lauk sederhana, lalu duduk kembali di samping Kaivan.

Kaivan tampak sedikit canggung. Ia terbiasa makan di restoran mewah atau di rumah dengan pelayan pribadi. Warung ini jelas sangat berbeda dari yang pernah ia alami. Namun, ia tidak menunjukkan ketidaknyamanannya di depan Airin.

Airin dengan telaten menyuapi Kaivan, mencoba menjaga agar suasana tetap nyaman. "Makan dulu, Kak. Kau pasti lapar setelah tadi di rumah sakit."

Kaivan membuka mulut dan menerima suapan itu, meski tanpa ekspresi yang jelas. "Terima kasih."

Pengunjung lain di warung itu memperhatikan Airin dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Wanita muda itu terlihat cantik, dengan wajah lembut dan gerakan telaten saat menyuapi seorang pria gondrong, berkumis brewok, yang jelas terlihat buta. Beberapa orang mulai berbisik-bisik di antara mereka.

“Cantik banget istrinya, kok bisa ya sama pria kayak gitu?” gumam seorang ibu setengah baya sambil mengaduk teh manisnya.

“Kayaknya dia nggak cocok sama pria itu. Lihat, badannya kelihatan kekar sih, tapi gondrong, kumisnya awut-awutan, matanya buta pula,” sahut lelaki paruh baya di meja sebelah.

“Eh, jangan salah, mungkin suaminya itu orang kaya. Siapa tahu!” bisik seorang pelayan yang ikut mencuri pandang dari balik meja kasir.

Sementara itu, Airin tetap fokus pada Kaivan. Ia tak peduli dengan tatapan atau bisikan-bisikan di sekitarnya. Sesekali ia tersenyum, memastikan suaminya nyaman saat menyuap. Kaivan, meskipun tak melihat, tetap menyadari perhatian orang-orang di sekitarnya.

Takut suaminya merasa tak nyaman, Airin pun berkata, “Biarkan saja mereka. Yang penting aku dan kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Airin pelan, nyaris seperti bisikan.

Kaivan hanya mengangguk. Airin melanjutkan menyuapi Kaivan dengan penuh perhatian, seolah tak ada dunia lain selain mereka. Sementara Kaivan makan dengan tenang, namun wajahnya tetap datar.

"Kak, makan sampai habis, ya?" Airin berkata, masih dengan perhatian yang sama.

Kaivan hanya mengangguk sedikit. "Aku akan selesai."

Di tengah keheningan itu, ada sedikit kelembutan dalam sikap Kaivan, meski tetap dengan cara yang dingin dan datar. Mereka melanjutkan makan siang itu dengan suasana yang tenang dan penuh perhatian, meski tidak ada banyak kata-kata yang diucapkan.

Setelah keluar dari warung makan, Kaivan menggenggam tangan Airin dengan lembut. Meskipun matanya masih kabur, namun tatapannya penuh perhatian. "Airin," katanya pelan, "beli pakaian dan keperluan lain untukmu dan nenek Asih. Kalau uang cash yang kita bawa tadi tidak cukup, kamu bisa ambil dari rekeningmu."

Airin menatap suaminya, ragu. "Kak, aku dan nenek belum membutuhkan apa-apa," jawabnya dengan suara halus, berusaha menolak dengan cara yang lembut.

Namun, Kaivan memandangnya dengan mata yang lebih tegas meskipun samar. "Jangan membuatku merasa seperti suami yang tak bertanggung jawab, Airin," katanya, sedikit menekankan kata-kata terakhirnya. "Kamu sudah banyak membantu aku, biarkan aku yang mengurus ini. Aku ingin kamu merasa layak mendapatkannya."

Airin terdiam, hatinya merasa berat. Kaivan memang selalu berusaha untuk tidak merepotkan orang lain, dan meskipun dia merasa tidak perlu, ia tidak bisa menolak ketika Kaivan begitu memaksa dengan cara yang penuh perhatian. Akhirnya, ia mengangguk pelan. "Baiklah, Kak."

Kaivan tersenyum tipis. "Terima kasih, Airin."

Airin dan Kaivan pergi ke toko pakaian terdekat. Airin membeli satu setel pakaian untuk dirinya dan satu setel lagi untuk nenek Asih. Namun, Kaivan meminta agar Airin membeli beberapa setel pakaian untuknya juga. Airin sempat terkejut, namun ia menuruti permintaan suaminya, meskipun dalam hati ia merasa ragu dengan pengeluaran tersebut.

Setelah selesai berbelanja pakaian, Kaivan masih belum puas. "Airin, beli sesuatu lagi untuk oleh-oleh, ya. Mungkin buah-buahan," pintanya.

Airin menatapnya dengan senyum kecil. "Kak, kita masih bisa makan buah-buahan dari kebun di rumah. Tak perlu membeli banyak."

Namun, Kaivan tetap bersikukuh. "Aku ingin kamu juga membeli sesuatu untuk nenek Asih, atau sesuatu yang bisa kamu nikmati. Ayo, belikan buah-buahan yang enak."

Dengan sedikit keluhan dalam hati namun tetap menuruti permintaan suaminya, Airin membeli beberapa buah segar, berharap itu sudah cukup. Di perjalanan pulang, meski merasa sedikit berat karena pengeluaran itu, ia merasakan ada kebahagiaan yang tersembunyi dalam setiap usaha Kaivan untuk membuatnya merasa dihargai.

Kaivan memandangnya dengan senyum puas, meskipun pandangannya samar. "Terima kasih, Airin. Ini semua untukmu dan nenek Asih."

Airin hanya tersenyum lembut, meskipun di dalam hati ia tetap bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya suaminya ini.

***

Di gerbang desa, Wongso berdiri dengan tangan bertolak pinggang, wajahnya penuh kesal. Beberapa anak buahnya bersandar di sepeda motor sambil mengelap peluh. Mata mereka terus tertuju pada jalan, mengawasi setiap bus yang melintas dari arah kota.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!