Budi adalah salah satu siswa biasa berasal dari Indonesia, tiba - tiba saja saat melewati gerbang sekolahnya ia malah berpindah ke dunia dimana sihir dan monster berada....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 : Mencari Penawar Racun
Ibukota Calista adalah sebuah kota besar yang di kelilingi oleh empat pilar menara yang di sebut dengan menara langit yang berfungsi sebagai pengadilan serta penghormatan bagi Dewi Vista yang merupakan salah satu dari 12 Dewi pencipta yang di puja di kerajaan ini, sedangkan istana yang menjadi tujuan kami berada di belakang kota.
Kami tiba di gerbang lebih cepat dari yang ku pikirkan, saat hendak mengikuti Pristalia dan Lili kami berdua di hadang penjaga, mereka mengatakan bahwa hanya anggota bangsawan dari kerajaan saja yang di izinkan masuk kedalam, itu tidak termasuk aku dan Aria.
Mari tinggalkan istana menyebalkan ini, sebelum hendak pergi Pristalia memegang tanganku.
"Mereka pengawalku biarkan mereka masuk juga."
"Maafkan kami, silahkan."
Rasanya aku ingin menghajar penjaga gerbang ini, akan ku simpan untuk nanti.
Kami dibawa ke sebuah aula istana dimana kursi tahta berdiri disana, sementara para bangsawan berbisik-bisik ke arah kami.
Jika itu aku, aku akan memilih membakar mereka semua.. aku bersungguh-sungguh, setidaknya dalang yang mengincar kami di perjalanan ikut terbunuh juga.
"Yang mulia, aku kembali untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk Anda, silahkan terima hadiahku yang tidak bernilai ini."
"Kau terlalu formal putriku, mari bicara di ruang keluarga, ibumu pasti senang."
"Tapi ngomong-ngomong dimana ibu."
"Sebenarnya ada yang ingin ayah katakan padamu."
Pristalia hanya diam dengan wajah khawatir.
Ini adalah ruang keluarga yang di bicarakan Raja, di banding ruang keluarga, sekarang ini malah menjadi seperti ruangan perawatan dimana sebuah ranjang di tempatkan disana dan yang terbaring di atasnya Sang Ratu, maksudku ibu Pristalia.
"Ibumu terkena racun, pasti ada seseorang yang dengan sengaja meletakan racun ke makanannya... sampai saat ini kami belum menemukan siapa dalang di balik ini semua."
"Ibu."
Pristalia hanya menangis di samping ibunya yang tak sadarkan diri.
"Jika ada yang bisa kami bantu, kami akan senang melakukannya."
"Siapa kau?"
Buset.. nih Raja, baru sadar keberadaanku.
"Namanya Budi dan ini Aria mereka berdua pengawal nona," yang memperkenalkanku itu adalah Lili. Raja hanya tersenyum kearahku lalu berkata.
"Terima kasih sudah mengantarkan putriku dengan selamat, kalau bukan karena para bangsawan itu mungkin putriku tidak harus tinggal berjauhan dengan keluarganya."
"Anda bisa menolaknya bukan? Bagaimanapun kekuasaan Anda lebih tinggi dari para bangsawan itu."
"Mustahil.. mereka memprovokasi warga agar mengusir putriku jauh dari ibukota, untunglah Finna mau menerimanya di akademi."
Ah, orang itu memang baik kalau saja dia tidak bersikap mesum, Finna pasti wanita sempurna. Mari abaikan pikiran itu dan kembali bertanya soal keadaan Ratu.
"Apakah tidak ada obat untuk menyelamatkannya?"
"Menurut dokter, hanya bunga pelangi saja yang bisa menghilangkan racunnya."
"Kalau begitu."
Raja menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum aku bisa menanyakan tempatnya.
"Tempatnya sangat berbahaya, bahkan para kesatria yang rela pergi tak pernah kembali lagi sampai sekarang."
"Kenapa begitu," tanya ku kembali.
"Selain lokasinya yang sangat sulit, bunga itu di jaga oleh seekor rubah."
"Cuma rubah, apa yang kalian takutkan tentangnya."
"Bukan cuma rubah biasa, dia rubah Petapa."
Aku menghela nafas panjang, rubah tetaplah rubah karena itu aku memutuskan untuk pergi bersama Aria, setelah meminta lokasi dimana bunga itu berada, kami meninggalkan istana.
Awalnya pristalia ingin ikut pergi bersamaku, namun aku menolaknya dengan sopan, bagaimanpun dia harus berada di samping ibunya disaat sulit seperti ini.
Makhluk seperti apa yang akan ku hadapi, kuharap dia tidak seberbahaya yang di katakan oleh Raja.
sungguh benar benar cerita fantasi.
panjang mana toh.
pedang yang dipegang tangan
atu tangan kosong?
atau dia memakai jurus tinju, namun hanya anginnya saja yang mengenai musuh
yahh seperti biasa Kang Nyimak di sini