Sequel dari Pesona Setelah Menjadi Janda
(Mohon untuk membaca novel sebelum nya agar kalian tidak bingung)
***
Arra, gadis berusia delapan belas tahun yang baru saja melangkah ke dunia perkuliahan, tengah menghadapi berbagai perubahan dalam hidupnya. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah—keberadaan Leo Rexander.
Leo mengaku sebagai pacarnya. Arra tidak pernah mengiyakan. Namun Leo tetap yakin, seolah hubungan mereka telah terpatri sejak lama. Sikapnya yang tenang namun posesif, membuat banyak orang meragukan ucapannya. Dan keraguan itulah yang mendorong sejumlah pria mencoba merebut tempat yang tak pernah benar-benar kosong di sisi Arra.
Meski seringkali berbenturan, Arra dan Leo justru saling melengkapi—dua kutub berbeda yang terus tertarik satu sama lain, meski tak pernah tahu kapan harus berhenti.
Ini bukan sekadar kisah cinta remaja, tapi tentang dua hati yang keras kepala, saling mempertahankan tanpa pernah benar-benar saling mengucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saras Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lionsky
Setelah mengantar Arra pulang, Leo tak langsung pulang. Ia memutar arah, memilih jalan sepi yang mengarah ke sebuah jembatan. Langit sudah menggelap, sisa cahaya sore lenyap ditelan malam. Sebelumnya, ia sempat dipanggil Alyssa dan mengobrol hampir satu jam.
Di tengah jembatan, sorot matanya menangkap sosok yang berdiri di tepi pembatas. Leo memperlambat laju motor, lalu berhenti tak jauh.
Seorang pemuda berdiri membelakangi jalan, tangan di saku, kemeja kotak-kotak tertiup angin. Ia menoleh, sadar tengah diperhatikan.
Mata mereka bertemu.
“Ngapain lo ngeliatin?” tanya pemuda itu, nada ketus.
Leo menurunkan kaca helm. “Gue mau nonton orang bundir. Belum pernah liat live soalnya.”
Pemuda itu melongo. “Gila lo, serius?”
Leo mengangkat bahu. “Lo loncat nggak? Gue buru-buru.”
“Seharusnya lo cegah, bukannya nontonin!”
“Gue bukan superhero. Lo juga bukan siapa-siapa gue. Jadi... jadi atau enggak?”
Pemuda itu mendesah keras, lalu mundur dari pembatas. “Udah males. Nggak seru banget ada penonton.”
Leo menyalakan motornya lagi, tapi suara pemuda itu menghentikannya.
“Nebeng dong. Dompet gue ketinggalan.”
Leo menoleh, meneliti si pemuda dari atas sampai bawah.
“Lo begal?”
“Gue cakep, bukan kriminal. Ayo, tolonglah. Gue cuma nebeng, bukan nyulik lo.”
Setelah hening sejenak, Leo memberi isyarat. Pemuda itu langsung naik ke belakang.
“Gue Saga. Lo?”
“Leo.”
Mereka melaju tanpa banyak bicara sampai akhirnya motor berhenti di depan sebuah rumah besar. Saga menatap takjub.
“Rumah siapa ini?”
Leo turun tanpa menjawab. “Gue ada urusan.”
Saga, penasaran, mengikuti masuk. Di dalam rumah, suasana cukup ramai. Lima pria duduk santai di ruang tamu, semuanya menoleh saat Leo masuk.
“Weh, bos datang juga. Tumben. Mau ngasih kabar kiamat?”
Leo duduk di sofa, bersandar santai, lalu memejamkan mata. “Bulan depan gue berangkat.”
Semua terdiam. Suasana langsung berubah tegang.
“Lo yakin? Nggak gampang jadi penerus klan itu.”
Leo diam saja. Sorot matanya tetap tertutup.
Salah satu dari mereka, Jonathan, akhirnya sadar ada orang asing berdiri di pintu.
“Eh, itu siapa?”
Leo membuka mata, memberi isyarat agar Saga masuk. “Nebeng gue tadi.”
“Terus kenapa dibawa ke sini?”
“Dia nggak bilang mau turun di mana. Jadi gue bawa aja.”
Saga melambaikan tangan kecil. “Hai, gue Saga. Barusan batal bundir karena diganggu dia.”
Lima pasang mata menatap Saga dengan campuran bingung dan geli.
“Lo mau bundir?” tanya Kevin.
“Iya, tapi nggak jadi. Nggak mood gara-gara diliatin,” jawab Saga santai.
Mereka tertawa. Suara tawa memenuhi ruang tamu.
“Bundir nunggu mood tuh baru denger gue,” ujar Roy sambil cekikikan.
Kevin menunjuk ke sekeliling. “Kita ini geng motor. Nama gengnya Lionsky.”
Mata Saga berbinar. “Serius? Geng motor? Wah, gue boleh gabung nggak?”
Roy nyengir sinis. “Kita nggak terima yang hobi nyari akhir hidup.”
“Itu iseng doang. Gue juga bisa balap, sering ikut balapan liar.”
Mereka saling pandang. Jonathan menunjuk ke Leo. “Tanya ketua lo tuh.”
Saga mendekat. “Leo, gue gabung, ya?”
Leo tetap memejamkan mata.
“Dia tidur?” bisik Saga.
“Nggak mungkin. Dia cuma mode hemat baterai,” sahut Ethan.
Leo akhirnya bangkit, berjalan ke kulkas, mengambil air mineral, lalu kembali duduk.
“Lo bisa balapan?”
Saga langsung mengangguk. “Bisa. Mau bukti? Gue siap.”
Leo menoleh ke Jonathan. “Besok malam, lo lawan dia. Kalau bisa menang, lo gabung.”
Jonathan langsung pura-pura batuk. Kevin menahan tawa.
“Deal!” kata Saga. “Tapi... kalau kalah, jangan suruh gue bundir beneran ya.”
Leo menatapnya datar. “Kita geng motor, bukan tukang adu nyali. Hidup atau mati urusan masing-masing.”