"Apa aku memakai pengaman?" Satu kalimat dari seorang kapten mengacak-acak rambutnya frustasi.
Yang ada diingatan terakhirnya hanya menghabiskan satu malam dengan seorang wanita yang cantiknya bak bidadari. Wanita yang meminta bayaran untuk menjual keperawanannya.
"Apa aku pada akhirnya harus menikahi seorang bocah!?" Teriaknya frustasi.
***
Di tempat berbeda, seorang siswi SMU tidak sabar rasanya menunggu jam pulang sekolah hanya untuk mendapatkan bayarannya.
Seperti kata salah seorang temannya, memiliki Sugar Daddy yang dapat membelikan apapun.
"Sugar Daddy-ku yang tampan, aku ingin smart phone, aku ingin laptop dan biaya kuliah, aku juga ingin sepatu baru, juga membayar hutang ke kang cilok 25.000..." Batin si cupu membayangkan 35 juta yang akan didapatkannya.
Tapi bagaimana jika hidup tidak sesuai anggapannya? Bukannya uang, Sugar Daddy-nya memberi cincin untuk melamarnya?
Cinderella termalang abad ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ganti
Bukankah salah satu alasannya ditolak orang ini? Karena paman dari sepupu jauh Driella tidak setuju. Raut wajah pria dewasa yang awalnya serius itu berubah. Menghela napas kemudian tersenyum.
"Mau bicara di tempat yang lebih baik?" Tanyanya.
Abdi mengepalkan tangannya, berusaha membalas senyuman pria dewasa ini, kemudian mengangguk.
*
Tempat mereka bicara? Sejenis restauran yang berada dekat dengan sekolah. Benar! Abdi bolos dan mengikuti sang kapten.
Dirinya tidak mengerti mengapa dapat nekat seperti ini. Tapi jika itu dapat mengembalikan keadaan seperti semula, tidak apa-apa. Driella yang selalu memberikan dukungan memalukan secara ugal-ugalan padanya.
Terkadang dirinya kesepian kala fans nomor satunya itu tidak mengirim surat cinta ambigu dan perhatian lebay lagi. Ini aneh, tapi Abdi menjadi semakin yakin dengan perasaannya.
Matanya melirik ke arah mobil yang ditumpanginya ke tempat ini. Pastinya mobil dengan harga milyaran rupiah. Bukan mobil sport, namun sejenis mobil yang diperuntukkan untuk keluarga.
Kekayaan? Penampilan? Etika? Tidak ada yang kurang dari paman saudara sepupu jauh Driella. Bagaikan sebuah poster iklan, kala sang kapten meminum sedikit ice coffee nya. Posturnya duduk, benar-benar orang berkelas, dengan tingkat ketampanan sempurna. Bagaimana caranya menyamai orang ini?
Namun, dirinya adalah siswa terpopuler di sekolah. Dari keluarga baik-baik, bersedia menerima Driella dengan segala kekurangannya. Asalkan orang tua Abdi tidak tahu tentang kehamilan Driella maka tidak masalah.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Satya tersenyum padanya.
"Seperti yang aku katakan tadi, aku akan menikahi Driella setelah lulus SMU." Itulah ketegasan seorang bocah bau kencur, melawan bujang tua.
"Menikah bukan hanya soal kesanggupan dan cinta. Tapi juga materi, apa kamu bisa membelikan makanan yang cukup untuknya? Wanita juga perlu refreshing, berapa uang bulanan yang dapat kamu berikan untuk perawatan? Belum lagi jika ada anak diantara kalian. Melahirkan harus di rumah sakit ternama, peralatan bayi dengan kwalitas terjamin, baby sitter untuk membantu menjaga anak, ditambah dengan pelayan agar istrimu tidak terlalu lelah. Kamu dapat memberikannya?" Pertanyaan dari Satya, menatap dendam ke arahnya. Namun wajahnya masih tersenyum.
"Aku memang tidak dapat memberikannya sekarang, tapi nanti setelah lulus kuliah dan bekerja aku akan berusaha. Karena itu, aku ingin menunda untuk memiliki anak." Kata-kata dari mulut Abdi membuat tangan Satya yang tengah memegang cangkir sedikit gemetar.
"Menunda?" Tanya Satya.
"Benar, Driella sedang mengandung, aku tau itu bukan anakku. Benar-benar bukan, karena kami bahkan bukan sepasang kekasih. Tapi aku memiliki kesungguhan untuk menikah dengannya setelah janin itu tidak ada. Asalkan orang tuaku tidak tau Driella pernah mengandung anak orang lain, tidak akan masalah. Dengan kata lain, setelah janin itu digugurkan aku akan menikahinya. Lagipula ayah dari anak itu tidak bersedia bertanggung jawab." Kata demi kata yang benar-benar membuat tangan Satya bertambah gemetar, saking menahan amarahnya.
Menikahi istrinya setelah membunuh anaknya? Bocah labil ini benar-benar seperti setan.
"Membunuh anak itu? Apa anakku pernah berbuat salah padamu, sampai-sampai kamu ingin membunuhnya?" Sebuah pertanyaan ganjil, membuat Abdi mengerutkan keningnya.
"Kenapa tidak kamu saja yang mati?" Sang kapten kembali tersenyum. Kali ini entah kenapa Abdi merinding menatap senyumannya yang tidak wajar.
"Anakmu?" Tanya Abdi memastikan pendengarannya.
Satya tertawa kecil, kemudian membunuhi saus tomat pada makanan di hadapannya. Mengirisnya pelan tanpa menjawab pertanyaan Abdi.
"Paman salah bicara kan?" Tanya Abdi lagi.
"Paman? Kapan aku menikah dengan bibimu?" Kalimat sinis, membuat Abdi tertegun."Bocah sepertimu ingin membunuh anakku yang bahkan belum sempat dilahirkan? Apa sebaiknya tidak kamu yang mati saja..."
Kata demi kata membuat Abdi semakin yakin, orang ini bukan kerabat jauh Driella. Pria tidak bertanggung jawab yang telah membuat Driella mengandung. Tapi bukankah ada gosip tentang Driella yang menjual diri?
"Jadi bukan kerabat?" Pertanyaan yang dilontarkannya, bibir Abdi bergetar masih berusaha tenang."Kamu Om-om hidung belang? Bukankah transaksinya sudah selesai? Jika sudah, lebih baik menyingkir."
Satya masih mengunyah makanannya dengan tenang. Kemudian berucap."Selesai? Dari awal tidak pernah ada kata selesai, kenyataannya anakku ada disana. Dan aku tidak pernah menganggap ini transaksi menjual diri."
"Kalau begitu kita membuat kesepakatan, setelah anak itu lahir kamu boleh mengambilnya. Dan aku akan bersama dengan Driella." Tawaran Abdi meyakini pria ini hanya ingin anaknya saja.
"Driella menyukaimu?" Tanya Satya padanya.
"Katanya iya, anak itu hanya menghalangi. Akan lebih baik jika tidak pernah ada." Kata demi kata yang membuat Satya mengerti pesan-pesan ambigu yang dikirimkan Reika.
"Cara bicaramu berputar-putar, sebelumnya kamu mengatakan kalian bukan sepasang kekasih. Tapi sekarang mengatakan Driella menyukaimu. Kamu menyukainya, dia menyukaimu, tapi bukan kekasih? Jujur saja aku membenci wanita yang tidak setia. Tapi sepertinya Driella bukan kekasihmu. Jadi...masih dapat dikatakan setia..." Hanya hening sesaat.
Satya masih makan dengan tenang, pisau yang berlumuran dengan tomato saus. Terkadang bagaikan ada imajinasi jika itu adalah darah segar.
"Transaksinya sudah selesai!" Bentak Abdi melayangkan pukulan pada pipi Satya. Memar? Tidak, hanya saja sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Tau aturan hukum? Yang menyulut perkelahian adalah orang yang bersalah." Satya menggerakkan ibu jarinya mengelap darah di sudut bibirnya.
Bocah ini menantangnya?
Entah keberanian darimana. Namun, hanya membicarakan untuk membunuh atau mengambil anak itu saja harus seperti ini.
"Aku sudah memberikan solusi! Kehidupan Driella akan hancur jika---" Kalimat Abdi terhenti.
Srak!
Brak!
Tangan Abdi diraih, tanpa aba-aba dibanting menggunakan satu serangan. Tubuhnya jatuh tepat di atas meja tempat mereka makan hingga isinya berhamburan.
Sakit? Tentu saja, mungkin punggungnya terkena sedikit pecahan kaca.
Mata pria dewasa dengan wajah bagaikan awal usia 20 an itu menatap dingin padanya. Kemudian berucap."Sudah aku bilang hanya cinta monyet. Kamu monyetnya dan aku manusianya. Mau aku sembelih?"
Aura menakutkan, tidak dapat mengganggu orang ini. Setidaknya itulah yang diyakininya. Tapi.
"Driella! Jangan mengganggunya! Kamu hanya pria hidung belang yang---"
"Bocah, aku seorang ayah dan kamu hanya monyet. Berniat merebut istriku. Membunuh anakku. Benar-benar nyali yang besar..." Hanya itulah yang diucapkan Satya, menepuk-nepuk pipi Abdi menggunakan pisau steak.
Pisau berlumuran saus tomat yang dilemparkannya asal. Beberapa orang terkejut melihat keributan itu.
Namun, sang pilot hanya mengeluarkan kartu debit dari dompetnya kemudian berkata pada kasir."Berikan rekaman CCTVnya."
Kalimat dingin, pemikiran matang. Rekaman jika ada tuntutan hukum tentang penyerangan. Luka? Luka yang dialami oleh Abdi lebih banyak mengingat pecahan kaca di punggungnya. Bahkan beberapa orang berusaha membawanya ke rumah sakit.
Hanya pria dingin yang membenahi topi seragam pilotnya. Kemudian berjalan keluar, terlihat tidak senang.
"Tidak seperti perkiraanku..." gumamnya berusaha tersenyum, mengganti rencananya.