Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan Sayang atau Kasihan?
"Apa pak Juan ini suami dari Bu Raya?"
Juan yang duduk dihadapan dokter itu kemudian mengangguk, "Iya dok saya suaminya." jawab Juan singkat.
"Secara fisik, kondisi Bu Raya sudah mulai stabil. Tekanan darahnya baik, denyut jantungnya juga perlahan kembali normal. Namun, yang perlu Anda pahami adalah apa yang dialami istri Anda bukanlah gangguan pada jantung ataupun penyakit fisik lainnya."
Juan mengerutkan alisnya, mata tajamnya mengarah pada dokter seolah menuntut untuk penjelasan yang lebih mengenai kondisi Raya.
"Maksudnya dok?, apa yang sudah terjadi dengan istri saya itu berkaitan dengan mental?" Juan menebak, karena ia sering mendapati Raya yang tiba-tiba merasa kekuatan jika ditinggal seorang diri.
"Apa sebelumnya bapak tau, pemicu apa yang membuat Bu Raya mengalami serangan panik?"
Juan menggeleng pelan. Ia tidak tau dengan pasti. "Saya tidak tau pasti apa yang menjadi pemicunya dok, dalam keadaan hujan lebat dan angin kencang, istri saya meringkuk didalam kamar seorang diri dan sudah mengalami serangan panik."
Dokter dengan hijab putih itu tersenyum halus, "Saya menduga, trauma yang dialami Nyonya Raya sejak kecil masih tersimpan sangat dalam hingga sekarang. Secara garis besar, bu Raya ini mengalami Trauma terhadap badai, mungkin ada kejadian buruk yang menimpanya saat itu. Trauma tersebut menyebabkan respons psikologis yang sangat kuat ketika ia dihadapkan dengan hal-hal yang mengingatkannya pada kejadian itu."
"Tadi saya sempat denger, istri saya berkata jika jantungnya berdebar kencang dan terasa akan copot, apa kondisi ini membuat jantungnya bermasalah dok?" tanya Juan, raut wajahnya memang terlihat datar. Tapi dalam hatinya tersimpan rasa hawatir.
"Bukan," jawab dokter. "Apa yang dialami Nyonya Raya lebih mengarah pada gangguan stres pascatrauma atau trauma psikologis yang memicu serangan panik. Ketika pemicunya muncul, tubuhnya akan bereaksi seolah-olah ia sedang mengalami kejadian traumatis itu kembali."
Juan tampak menyimak dengan saksama setiap penjelasan dokter.
"Pada saat serangan panik terjadi, penderita bisa mengalami jantung berdebar sangat cepat, napas terasa sesak, tubuh gemetar, penglihatan kabur, hingga muncul rasa takut yang luar biasa. Bahkan tidak sedikit penderita yang merasa dirinya akan meninggal saat itu juga."
Juan mendengar penjelasan dokter dengan seksama, sesekali ia menghela nafasnya ringan, dadanya ikut merasa sesak.
"Apakah penyakit ini bisa disembuhkan, Dok?" tanyanya dengan nada yang sedikit melemah.
"Tentu bisa dikendalikan dengan baik, Tuan Juan. Namun, penyembuhannya membutuhkan waktu, dukungan dari orang-orang terdekat, dan bila diperlukan, pendampingan dari tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater. Yang terpenting adalah jangan pernah menganggap rasa takut yang dialami Nyonya Raya sebagai sesuatu yang berlebihan."
"Jadi, apa yang harus saya lakukan ketika serangan paniknya muncul lagi, Dok?"
"Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membuatnya merasa aman. Ajak ia berbicara dengan suara yang tenang, genggam tangannya bila ia mengizinkan, bantu ia mengatur napasnya, dan pastikan ia mengetahui bahwa ia tidak sedang sendirian. Kehadiran orang yang ia percaya sering kali sangat membantu dalam meredakan serangan panik."
*
Dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian Juan mulai memasuki ruang VIP, matanya langsung tertuju pada Raya yang sedang tertidur, selang infus sudah menggantung disebelahnya, cairan penetral asam lambung mulai mengalir pada pembuluh darah milk Raya, efek serangan panik asam lambungnya pun ikut naik dan tadi setelah masuk ruang IGD Raya sempat muntah beberapa kali.
Juan berdiri tegak disamping ranjang Raya, matanya terus menilik wajah istrinya yang tampak mulai tenang. Juan menarik kursi dan langsung mendudukan tubuhnya.
"Trauma besar apa yang bisa membuatmu menjadi seperti ini Ray?" gumam Juan pelan.
Beberapa menit kemudian, perlahan kelopak mata dengan bulu mata lebat dan lentik itu terbuka perlahan. Sorot matanya langsung tertuju pada pria yang kini sedang duduk disampingnya.
"Bang, Raya sakit apa?" suaranya pelan, sarat akan kondisi tubuhnya yang masih lemah.
"Kamu gak sakit, jangan banyak tanya dulu. Sekarang lanjutkan aja tidurnya. Aku akan menemani kamu disini." Juan tetap dengan sorot matanya yang dingin, rahangnya yang tegas kini terlihat jelas. Raya sadar akan hal itu, tapi ia sudah tau sikap suaminya memang seperti itu, Juan yang memang tidak pandai dalam mengutarakan rasa kasih sayangnya.
"Apa jantung Raya baik-baik saja?"
"Semuanya normal, tidak perlu ada yang di khawatirkan," Juan menghela nafas ringan.
"Tidur.." timpal Juan lagi, mengisyaratkan Raya untuk segera tidur kembali.
"Abang tidur disana?" tatapan Raya tertuju pada kursi yang sedang diduduki oleh Juan.
"He em.."
"Raya gak mau tidur kalau bang Ju gak tidur disini, tidur disamping Raya."
"Gak bakal cukup Ray.." protes Juan.
"Bang...badan Raya gak sebesar badan Abang, tidur disini tidak akan membuat tumbuh Raya terhempas ke lantai."
Dengan perlahan Juan mulai naik ke atas bed, dan mulai merebahkan tubuhnya disamping Raya. Lengannya ia letakan diatas puncak kepala Raya, hal itu sontak membuat senyum terukir pada wajah Raya yang masih terlihat pucat.
Juan menatap langit-langit kamar rumah sakit, dalam pikirannya masih terbayang penjelasan yang tadi diberikan oleh dokter tentang kondisi Raya.
Raya memandangi wajah suaminya, dengan senyum yang terus terukir diwajahnya. "Mental Raya yang kena ya bang?"
Pandangan Juan beralih pada Raya, ia pandangi iris bening milik istrinya itu.
"Kejadian apa yang bisa membuat kamu mengalami Trauma berat seperti ini?"
"Kejadian yang berkaitan dengan Raya yang kehilangan bapak, satu-satunya orang yang menyayangi Raya dengan tulus saat itu." ucap Raya pelan, dadanya kembali terasa sesak.
"Kalau belum siap cerita, tidak usah diceritakan sekarang." Juan, kini sorot matanya mulai melembut.
"Kala mengingat kejadian itu, dada Raya langsung terasa sesak bang.."
Kini lengan kokoh itu bergerak perlahan, menariknya pelan sehingga telapak tangan lebar itu kini bertumpu pada puncak kepala Raya. Juan mulai mengusap pelan puncak kepala Raya.
"Tidak usah diceritakan jika kamu tidak siap."
Raya mengangguk, kelopak mata yang mengembun itu masih terus memancarkan binar kala menatap suaminya dengan jarak yang sangat dekat.
"Bang, jangan kasih tau mama akan hal ini." ucap Raya pelan.
Direspon dengan anggukan oleh Juan.
Raya mulai merasakan kehangatan yang kian merayap pada tubuhnya, tidur berdempetan bersama Juan mampu membuat tubuhnya merasa aman.
"Raya, ngerepotin Abang terus ya?"
"Jangan banyak tanya, tidur!"
Perlahan Raya menganggukkan kepalanya seraya memejamkan mata. Sementara Juan menatap lekat pada istrinya, perlahan wajahnya mulai mengikis jarak dengan wajah Raya. Dan.....
Satu kecupan hangat mendarat sempurna pada kening Raya. Hal itu sontak membuat Raya membuka matanya kembali, rasa hangat kian mengalir dari keningnya. Kecupan yang terasa lebih lama dari kecupan yang pertama Raya dapatkan dari Juan.
"Kecupan sayang, atau kecupan kasihan sama Raya bang?"
Juan tidak menjawab, kemudian lengan kokoh itu merengkuh tubuh kecil istrinya kedalam dekapannya.
Bersambung
Jangan lupa like ya readers 🤩
di bawa awal" raya pakai hijab sehari".
jadi raya ini berhijab ga thor?