NovelToon NovelToon
High School Bad Boy

High School Bad Boy

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Contest / Badboy / Berondong / Tamat
Popularitas:417.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Magnifica

Paris, 2021.

Tepat lima tahun Wulandari Laksana, 32 tahun, tinggal di kota yang dijuluki La Ville Des Lumiéres (kota cahaya) ini.

Dan tepat di tahun ke lima ini, pernikahannya dengan pria Perancis bernama Pierre, berakhir.

Hancur, tentu saja. Hidupnya seperti berada di titik nadir.

Namun, dia berusaha untuk mengumpulkan kepingan - kepingan hatinya yang hancur, dan mencoba bangkit kembali.

Berbekal kelulusannya dari Universitas Sorbonne, dia melamar menjadi guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di pinggiran Paris.

Di sanalah dia bertemu dengan seorang murid bengal, 16 tahun, Maximilian Guillaume, yang membuat hidupnya kembali kacau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Nothing To Be Sorry For (Tidak Ada Yang Perlu Dimaafkan).

"Okay, that's it for today. And see you on friday (oke, begitu saja untuk hari ini, dan sampai jumpa hari jum'at)," ucap Wulan sembari mengedarkan pandangan ke seluruh murid yang mulai beranjak dari kursi masing - masing dan meninggalkan kelas.

Wulan tengah merapikan buku - bukunya dan bersiap - siap untuk keluar, ketika dilihatnya Max masih duduk diam di kursinya. Kepalanya sedikit tertunduk, namun matanya menatap ke arahnya.

"Ya, Max? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Wulan.

Max beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Wulan.

"Aku minta maaf, Miss," ucapnya sembari membenarkan posisi tas punggungnya.

"Minta maaf?" tanya Wulan.

Max mengangguk mantap.

"Minta maaf untuk apa, Max?" tanya Wulan keheranan.

"Tentang Nadia yang ...." Kata - kata Max menggantung begitu saja. Ia mengelus tengkuknya canggung.

"Ya ampun, Max. Itu urusan Damien sebagai Guru Pembimbing."

"Aku tidak peduli dengan Damien. Aku ingin tahu apakah kau marah padaku."

Wulan mengerenyitkan dahinya. "Kenapa aku harus marah padamu?" Ia beranjak dari duduknya. "Hanya saja, lain kali, jangan melakukannya di dalam sekolah, okay, Maximilian?" ujarnya seraya mengerlingkan matanya pada Max dan melangkah keluar kelas.

"Miss!" panggilnya seraya mengejar langkah cepat Wulan.

"Ya?" tanya Wulan. Ia menoleh pada Max sekilas.

"Nadia bukan pacarku."

"Memang kenapa kalau dia pacarmu atau bukan?"

"Aku hanya ingin kau tahu itu."

Wulan menghentikan langkahnya. "Kau ini kenapa, Max?"

"Entahlah, aku merasa aku harus menjelaskannya padamu, Miss."

Senyum lebar Wulan tersungging. "Ya Tuhan, anak ini," ujarnya seraya mengacak rambut Max gemas. "Kau tidak harus menjelaskan apa - apa padaku, apalagi meminta maaf."

Ia segera meraih tangan Wulan dan mencium punggung tangannya. Membuat Wulan seketika membelalakkan matanya. Max hanya terkekeh melihat reaksi Ibu Gurunya itu. Lalu berlalu begitu saja. Meninggalkan Wulan yang terheran - heran.

Wulan mengedikkan bahunya. Entah apa yang terjadi dengan anak itu. Begitu sosok jangkung Max menghilang di ujung koridor, ia pun melanjutkan langkahnya ke ruang Guru.

Masuk ke ruang Guru, Wulan mendapati Damien tengah mengobrol dengan Adrienne.

"Ah, itu dia," ujar Adrienne begitu melihatnya masuk. "Wulan, ada yang mencarimu," godanya seraya mengerling ke arah Damien.

"Wulan, aku lupa memberikan ini padamu." Damien menyerahkan selembar kertas kecil persegi panjang berwarna merah menyala pada Wulan.

Le Concert Solidaire" de l'Opéra National de Paris avec Julie Fuchs, Stéphane Degout et Philippe Jordan.

Mardi 14 janvier ( selasa, 14 januari), Palais Garnier.

Sebuah tiket pertunjukan opera di gedung opera megah di Paris, Palais Garnier.

"Kau serius?" tanya Wulan ketika membaca harga tiket yang terbilang mahal. 250 euro.

"Kuharap kau bersedia." Damien menimpali.

"Well, karena kau sudah membeli tiketnya mahal - mahal, sepertinya aku tidak bisa menolaknya," kata Wulan. Ia berpikir tidak ada salahnya. Hanya menonton opera. Lagi pula ia juga menyukai musik - musik klasik.

Damien tersenyum senang. "Aku antar pulang, ya? Kau bereskan dulu barang - barangmu, aku tunggu di mobilku," ujarnya sembari membuka pintu.

"Tapi .. Damien ...." Wulan tak sempat melanjutkan kata - katanya ketika Damien dengan cepat menghilang di balik pintu.

Wulan menoleh ke arah Adrienne. Lalu mengedikkan bahunya.

"Sepertinya dia menyukaimu, Wulan," kekeh Adrienne.

Wulan hanya menghela nafas dalam - dalam. Ia lalu membereskan barang - barangnya dari atas meja dan berpamitan pada Adrienne.

***

STALINGRAD, SURESNES.

Max menutupi kepalanya dengan jaket hoodie warna hitamnya, berjalan menelusuri sidewalk lengang di antara bangunan - bangunan apartemen lusuh.

Malam ini, ia berniat ingin membeli satu dua botol bir yang akan diminumnya sendiri di tempat favoritnya di Stalingrad, yaitu salah satu rooftop gedung apartemen yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

Ia berjalan cepat menuju supermarket terdekat. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat ada dua orang pria yang baru saja turun dari sebuah mobil yang terparkir di sisi jalan, mendekat ke arahnya.

"C'est quoi ça (apa - apaan ini)!" serunya begitu kedua pria tersebut menariknya masuk ke dalam sebuah gang sempit.

Tanpa banyak bicara, satu pria memegangi kedua tangan Max, menahannya agar tidak bisa melawan, dan satu lagi memukulinya tanpa ampun. Sekuat apa pun Max mencoba untuk berontak, tenaganya kalah telak dari kedua pria yang masing - masing bertubuh tinggi besar itu.

Hasilnya, wajahnya pun babak belur. Bibirnya pecah, hidung dan pelipisnya mengeluarkan darah, dan ulu hatinya terasa ngilu luar biasa.

"Bocah tengik! Itulah akibatnya kalau terlalu banyak mencampuri urusan orang lain!" hardik salah satu pria sembari menghadiahi Max satu tamparan terakhir.

"Fils de pute (ba jingan)!" maki Max ketika kedua pria itu meninggalkannya terkulai begitu saja di lantai. Max mencoba untuk bangkit dan duduk menyandarkan punggungnya di tembok gang. Kedua lengannya ia letakkan di atas lututnya yang tertekuk. Ia menyeka darah segar yang mengalir dari pelipis dan sudut bibirnya.

Ia tergelak sembari menyandarkan kepala ke tembok. "Ma vie est trés belle (hidupku indah sekali)," sindirnya entah pada siapa.

Ia mencoba untuk berdiri. Sembari tertatih dan merambat pada dinding, ia melangkah keluar dari gang sempit itu.

Max menutup kembali kepalanya dengan hoodienya. Ia berusaha berjalan senormal mungkin agar tidak mengundang kecurigaan orang - orang yang sesekali berpapasan dengannya.

Ia terus melangkah keluar dari Stalingrad. Di kepalanya hanya ada satu tempat yang ingin ia tuju. Tempat seseorang yang sangat ia butuhkan malam ini.

Untuk sekedar meminjam peluknya, mungkin.

***

Wulan baru saja selesai membereskan meja makannya ketika mendengar pintu apartemennya diketuk oleh seseorang. Ia berdiri mematung sejenak di depan pintu.

Ia merasa heran karena selama ini tidak pernah ada yang bertamu ke apartemennya. Ragu - ragu ia membuka pintu sedikit. Ia hanya melihat seseorang bertutup kepala yang berdiri memunggunginya.

"Mencari siapa?" tanya Wulan sembari masih memegang handle pintu. Bersiap - siap menutupnya kembali jika seseorang itu terlihat mencurigakan.

"Miss."

"Oh mon Dieu (ya Tuhan), Max!" pekik Wulan. Bukan karena terkejut dengan kedatangannya. Namun karena luka - luka di wajah pemuda itu. "Apa yang terjadi?"

Wulan membuka pintu dan menarik lengan Max lalu membimbingnya masuk. Ia mendudukkan Max di atas sofa panjang di dekat jendela.

"Kenapa bisa sampai seperti ini, Max?" tanya Wulan cemas.

"Nanti saja ceritanya, Miss. Bisa kau obati aku dulu?" kekeh Max membuat Wulan mendecak sebal. "Hidungku sepertinya patah, Miss." Ia mengaduh.

"Berbaringlah dulu, Max," titah Wulan sembari melangkah menuju dapur.

Max menuruti kata - kata Wulan. Ia berbaring di atas sofa sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia menemukan lukisannya tergantung rapi di dinding. Terlihat sempurna. Sesempurna wanita yang ada di dalam bingkai kayu itu.

Lalu di sebelah lukisan Wulan, ada sebuah lukisan wanita misterius bergaun hitam dengan wajah angkuh. Mungkin ia yang disebut Patrick bernama Lady Magnifica. Dari gaya berpakaiannya, sepertinya ia berasal dari abad pertengahan.

A witch, maybe (seorang penyihir, mungkin)

Wulan muncul dari dapur membawa satu mangkuk kecil air hangat, handuk dan satu kotak obat - obatan.

Ia meletakkan barang - barang bawaannya di atas meja. Dibasahinya handuk kecil lalu duduk di samping Max dan mencondongkan badannya ke arah wajah pemuda itu untuk membersihkan luka - lukanya.

Wulan begitu berkonsentrasi menelusuri wajah tampan yang terlihat kacau itu hingga tak menyadari kalau Max terus memandanginya tanpa berkedip. Aroma tubuh Wulan yang segar membuatnya seakan - akan terbius. Matanya menatap bibir tipis Wulan penuh damba. Lalu turun ke leher jenjangnya, dan ....

"Kau cantik sekali, Miss," pujinya.

"Ssstt .. diamlah, Max!" seru Wulan tanpa memperdulikan kata - kata rayuan pemuda itu.

"Hidungmu tidak patah," ujar Wulan sembari menggerak - gerakkan hidung mancung Max yang tampak baik - baik saja.

"Auchh! Sakit, Miss!" pekik Max sembari mencengkeram lengan Wulan.

Wulan hanya meringis. Lalu menepis pelan cengkeraman tangan Max.

"Pria itu benar - benar bodoh!" ujar Max tiba - tiba.

"Hmmm?" Wulan yang tengah menyiapkan kain kasa dan plester untuk menutup pelipis Max yang robek hanya menggumam.

"Bagaimana bisa dia meninggalkan wanita secantik dirimu, Miss?"

"Biar kututup dulu pelipismu," elak Wulan sembari melipat kain kasa dan menempelkannya di pelipis Max. Lalu merekatkannya dengan plester.

Wulan membereskan peralatannya dan mengembalikannya ke dapur.

"Miss!" panggil Max ketika melihat Wulan muncul kembali.

"Hei, ayo ceritakan padaku kenapa kau bisa babak belur seperti ini? Kau berkelahi lagi?" cecar Wulan sembari duduk di dekat kaki Max.

"Kau bilang kau ingin melakukan pendekatan dengan murid - muridmu, bukan?" Max balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Wulan.

Wulan mengangguk.

"Kalau begitu aku ingin minta sesuatu, Miss."

"Apa?"

Max meraih sandaran sofa untuk membantunya duduk. Kemudian ia menggeser badannya mendekat pada Wulan.

"Aku ingin meminjam sesuatu darimu," ucapnya.

"Apa itu, Max?"

Max menaikkan sudut bibirnya.

"Sebuah pelukan."

***

***

***

1
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Qin one
reaksi alami masyarakat indo klo liat bule, pasti pada heran,gemes, pingin foto🤣
Qin one
Kecewa
Qin one
Buruk
Qin one
wanita klo sedang marah bisa lebih liar dari singa🤣
Qin one
anak kecil ini bikin candu😜
Kham Diyah
slh satu autor kesayangn 😍😍kak septia
Dewa Qin
fiuuuuuh...akhirnya max-wulan menikah,happy ending meski rintangannya juga gak gampang.
sunggu max bikin duniaq jungkir balik kak thor...q bener2 merasa max sosok yg nyata yg ingin q temui setiap menit.
karymu sunggu luar biasa ❤️❤️
tapi dr 2 novel (ben-laras,max-wulan)q merik kesimpulan bahwa kak lady menyukai laki2 bermata biru.🤭
Dewa Qin
max,semakin kesini q semakin mencintaimu❤️❤️
Dewa Qin
kasian kamu max
Dewa Qin
kereeeen👍👍👍👍👍
Dewa Qin
oalah...jadi max udah tau kelakuan damien,makanya dia pura2 menanyakan sesuatu pada wulan agar wulan tak terjerat bujuk rayu damien yg jelas2 masih berhubungan dengan nadya.adik angkatnya
Dewa Qin
wiiih ngadepi murid kayak mereka bisa2 sebulan langsung serangan jantung
Dewa Qin
baru bab awal,tp udah ada magnetnya buat baca lebih jauh.thanks kak,udah rekom novel ini,ben-mia tamat magrib td.sekarang lanjut ke wulandari.let's start the advanture
Rafa Retha
samawa ya...Max + Wulan
Rafa Retha
max....😘
Rafa Retha
kuapok koen Joelene...
modyaaarrrrr😡😡😡
Elly Prianti
aku sangat suka karya dari lady magnifica
bahsanya tidak monoton dan mudah dimengerti serta ceritanya juga menarik..semangat terus kak lady😍
Cicik Iswanto
aku pembaca baru untuk novelmu....aku mencoba menyelami nya ...
Elya Dewi
👌👌👌👌👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!