MOHON UNTUK TIDAK LONCAT-LONCAT KETIKA MEMBACA KARENA BERPENGARUH TERHADAP RETENSI!
Demi membiayai pengobatan sang mama, Eleanor (23 tahun) rela menjual keperawanannya pada seorang pria kaya raya bernama Andrew Kingston (30 tahun). Akan tetapi, pengorbanannya sia-sia, mama tercinta meninggal usai menjalani operasi transplantasi jantung.
Hidup sebatang kara membuat Eleanor pergi meninggalkan tanah kelahirannya dengan harapan dapat membuka lembaran hidup baru. Namun, siapa sangka dia dipertemukan kembali dengan Andrew yang tak lain adalah CEO di perusahaan tempatnya bekerja.
Akibat sering bertemu, tumbuh benih cinta di antara keduanya. Namun, akankah cinta itu berlanjut ke pelaminan sedangkan status sosial antara mereka terbentang luas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen Baru untuk Sang Mommy
Sepuluh hari telah berlalu, hari ini Nyonya Florance kembali diperiksa untuk memastikan keadaannya. Dokter Raiden tersenyum setelah memeriksa kondisi Nyonya Florance dan memperbolehkan Eleanor masuk ke kamar rawat inap.
“Bagaimana keadaan Mommy, Dok? Kondisinya sudah lebih baik bukan?” tanya Eleanor begitu khawatir.
“Syukurlah, kondisi Nyonya Florance sudah berangsur membaik,” jawab Dokter Raiden. “Setelah infusnya habis, Nyonya Florance diperbolehkan pulang ke rumah dengan beberapa catatan yang harus diperhatikan,” sambung pria tersebut.
Ada kelegaan terlihat dari air muka Eleanor. “Syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak karena sudah melakukan yang terbaik untuk Mommy,” sambung Eleanor.
“Betul, saya sangat berterima kasih atas semua yang telah dokter lakukan,” tambah Nyonya Florance.
“Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang dokter, kalian tidak perlu mengatakan hal demikian. Lagi pula semua ini karena kalian sendiri,” jawab Dokter Raiden. “Eleanor sudah bekerja keras untuk biaya operasi dan Nyonya Florance sudah berjuang menghadapi maut, saya dan tim medis hanya bisa membantu sedikit."
“Tidak Dok, semua ini berkat Anda dan juga para tim medis,” kilah Eleanor.
“Semua atas kehendak Tuhan,” tandas Dokter Raiden. “Kalau begitu saya pamit undur diri dulu, Nona Eleanor boleh mengurus beberapa hal untuk kepulangan Nyonya Florance. Saya juga akan menulis resep obat untuk ditebus."
Eleanor pun pergi bersama Dokter Raiden untuk mengurus surat kepulangan Nyonya Florance, menebus obat, juga beberapa hal yang harus diperhatikan tentang sang mommy. Dokter Raiden memberikan catatan pada Eleanor untuk membawa Nyonya Florance check up secara berkala guna memastikan kesehatannya sebelum operasi dilakukan.
Setelahnya, Eleanor kembali ke ruang inap Nyonya Florance, wanita paruh baya itu sudah berganti pakaian dan infusannya pun sudah dilepaskan dengan bantuan suster.
"Apa Mommy senang sudah diperbolehkan Dokter?" tanya Eleanor sambil memasukkan pakaian serta kebutuhan sehari-hari milik mommy-nya ke dalam tas.
"Tentu saja senang, Mommy benar-benar merasa bosan berada di rumah sakit. Bau karbol dan makanan hambar membuat Mommy tak nyaman terlalu lama di sini."
Eleanor mendekati pembaringan usai semua pakaian serta kebutuhan sehari-hari Nyonya Florance tersimpan dari di tas. "Tapi semua itu demi kebaikan Mommy juga."
"Memang benar. Sudahlah, Mommy sedang tidak ingin berdebat denganmu. Mommy ingin lekas kembali ke apartemen. Bisa kita pulang sekarang?"
"Sure," sahut Eleanor singkat. Lantas perawat mendorong kursi roda Nyonya Florance keluar ruang perawatan, sementara Eleanor berjalan di sebelahnya.
Keluar dari rumah sakit, Eleanor membawa Nyonya Florance menuju apartemen mereka, bukan lagi apartemen kecil yang mereka sewa dulu, kini mereka akan tinggal di sebuah apartemen yang cukup besar.
Nyonya Florance melirik ke arah putrinya ketika taxi yang ditumpangi berlawanan arah dengan tempat tinggal mereka. "Sweetheart, kamu mau membawa Mommy ke mana? Ini bukan jalan menuju kediaman kita." Wanita itu terlihat kebingungan saat ini. Ia pikir sopir taxi salah memutar arah.
"Ke tempat kita yang baru. Aku menyewa apartemen untuk kita berdua."
Mulut Nyonya Florance terbuka, siap mengajukan pertanyaan. Namun, segera disergah Eleanor.
"Mommy bisa ajukan pertanyaan saat kita sudah sampai, sekarang sebaiknya Mommy tidur karena perjalanan kita masih sekitar tiga puluh menit lagi."
Mau tak mau Nyonya Florance menuruti apa kata putri kesayangannya.
Tiga puluh menit berlalu, taxi yang ditumpangi Eleanor telah memasuki pekarangan gedung apartemen. Dibantu sopir taxi, Eleanor membawa sang bunda masuk ke gedung bertingkat di depan sana.
“Apa ini apartemen kita yang baru?” Nyonya Florance menatap sekeliling apartemen baru mereka. “Kenapa tidak pulang ke apartemen yang dulu saja?"
“Apartemen itu sudah terlalu kecil Mom, jadi aku memutuskan untuk sewa apartemen ini,” jawab Eleanor. “Ada dua kamar tidur di sini. Aku putuskan buat pindah supaya Mommy juga bisa leluasa beristirahat,” imbuh Eleanor.
“Kamu dapat uang dari mana untuk sewa apartemen seluas ini." Mata Nyonya Florance menyipit penuh pertanyaan.
“Aku punya penghasilan tambahan Mom, dari kerja sampingan aku,” jawab Eleanor lagi dan lagi berbohong. Entah sampai kapan terus menyembunyikan kebenaran yang ada dari ibunda tercinta.
“Memangnya kerja sampingan apa?” tanya Nyonya Florance sukses membuat Eleanor terdiam.
Cukup lama terdiam, tapi Eleanor segera menjawab pertanyaan Nyonya Florance, sebelum wanita itu curiga. “Rahasia. Oh iya Mom, nanti aku belikan Mommy ponsel baru, yang dulu sudah ketinggalan zaman," ujar Eleanor mengalihkan pembicaraan.
“Apa ini tidak terlalu berlebihan? Kamu baru saja menyewa apartemen baru dan mau membelikan Mommy ponsel baru," kata Nyonya Florance tak enak hati. Ia sudah membuat anaknya bekerja begitu keras, hanya demi dirinya. Rasanya ia tidak berguna di sini, hanya menjadi beban untuk putrinya.
“Maaf ya Mommy cuma jadi beban kamu saja,” imbuhnya lirih.
“Apa sih, Mom? Ini semua kewajiban aku sebagai seorang anak. Mommya tidak usah bilang begitu. Dulu aku malah yang menyusahkan Mommy, sekarang giliranku membalas semua pengorbananmu."
“Terima kasih, Sweetheart. Daddy-mu di surga sana pasti bangga mempunyai anak sepertimu." Nyonya Florance merangkul Eleanor yang berdiri di sebelah kursi rodanya.
Eleanor tersenyum getir, mengingat uang yang dikeluarkan bukanlah dari pekerjaan bersih. 'Maafkan aku, Mom. Aku tak punya pilihan lain selain melakukan pekerjaan hina ini.'
...***...