NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Mata-Mata Yang Mengawasi

Kabar tentang perubahan Arya dan berdirinya yayasan perlahan menyebar ke seluruh penjuru kota. Di satu sisi, banyak orang mulai bernapas lega dan bersemangat. Namun di sisi lain, berita itu justru membuat sisa-sisa kelompok yang dulu diuntungkan dari kekuasaan gelap semakin gelisah. Mereka tahu, jika Arya benar-benar berhasil mengubah sistem, maka sumber kekuasaan dan keuntungan mereka akan tercabut sampai ke akar-akarnya.

Pagi itu, Bima datang dengan wajah serius, meletakkan selembar foto di atas meja kerja Arya. "Ada yang aneh, Arya. Orang-orang ini terlihat di sekitar lokasi yayasan dan juga di dekat rumah orang tua Nayara selama tiga hari berturut-turut. Mereka tidak melakukan apa-apa, hanya berdiri, memperhatikan, mencatat. Tapi keberadaan mereka saja sudah cukup menjadi peringatan."

Arya menatap foto itu dengan dahi berkerut. "Mereka sedang memetakan kelemahan kita. Dan kelemahan terbesar kita saat ini adalah orang-orang yang kita cintai."

Ia segera mencari Nayara, yang saat itu sedang menyiapkan buku-buku bacaan untuk perpustakaan di yayasan. Saat melihatnya, hati Arya terasa sesak—bagaimana mungkin seseorang yang begitu lembut dan penuh kasih sayang menjadi sasaran ancaman?

"Kau harus lebih berhati-hati mulai hari ini," ucap Arya pelan namun tegas, berdiri di ambang pintu ruangan itu. "Di mana pun kau pergi, beri tahu aku atau Bima. Jangan berjalan sendirian, bahkan untuk hal yang terlihat sepele sekalipun."

Nayara meletakkan bukunya, menyadari perubahan nada bicara pria itu. "Mereka takut, kan? Mereka takut kalau perubahan ini berhasil, mereka tidak bisa lagi berbuat semena-mena."

"Mereka tidak hanya takut," jawab Arya mendekat, menatapnya lekat. "Mereka juga sedang mencari celah. Dan mereka tahu betul bahwa cara tercepat untuk melumpuhkanku adalah melalui kamu."

Malam itu, bukti nyata datang sendiri mengetuk pintu. Saat mereka pulang ke rumah, sebuah jendela di lantai atas terbuka paksa, dan di atas meja ruang tengah tergeletak sehelai kain putih yang diwarnai merah menyerupai darah, dengan pesan tertulis di atasnya: "Berhenti atau yang kau sayangi akan berakhir seperti mereka yang dulu tewas."

Nayara menahan napas, namun bukan karena takut untuk dirinya sendiri. Ia melihat tangan Arya mengepal erat hingga urat-uratnya menonjol, rahangnya mengeras, dan matanya yang biasanya mulai lembut kini kembali menyala—bukan lagi api harapan, melainkan api amarah lama yang hampir bangkit kembali.

"Jangan," ucap Nayara lirih, menyentuh lengan pria itu. "Jangan biarkan mereka menang dengan cara ini. Mereka ingin kau kembali menjadi seperti dulu. Mereka ingin kau berhenti percaya pada kebaikan. Jangan biarkan mereka mengubahmu kembali."

Arya menarik napas panjang, berusaha menahan diri. Ia tahu Nayara benar. Tapi ancaman itu begitu nyata, begitu dekat, hingga ia merasa sulit untuk tetap tenang.

"Kau pikir aku tidak takut?" bisik Arya, suaranya bergetar. "Aku takut sekali, Nayara. Bukan untuk nyawaku sendiri. Tapi aku takut kehilanganmu, sama seperti aku kehilangan orang tuaku dan Kirana. Dan aku takut... aku takut jika hal terburuk terjadi, aku tidak akan sanggup menahan diri lagi untuk kembali jatuh ke dalam kegelapan."

Nayara melangkah lebih dekat, menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya. "Maka peganglah janji yang pernah kau ucapkan di bawah langit malam itu. Ingatlah siapa dirimu sekarang. Jika mereka mengawasi kita, biarkan mereka melihat sesuatu yang membuat mereka sadar bahwa kekerasan tidak akan lagi bisa mengalahkan kita. Biarkan mereka melihat kita berdiri tegak, tidak lari, dan tidak menyerah."

Keesokan harinya, sepasang mata yang mengawasi dari kejauhan justru melihat sesuatu yang tak terduga. Arya dan Nayara tetap datang ke yayasan tepat pada waktunya, berjalan berdampingan dengan tenang, menyapa orang-orang dengan ramah, seolah ancaman semalam tidak pernah ada. Mereka tidak bersembunyi, tidak menyerang duluan. Mereka hanya terus melakukan kebaikan—dan itulah yang justru membuat para pengintai itu semakin bingung dan takut.

Karena mereka menyadari satu hal: pria yang dulu bisa dikendalikan oleh dendam, kini tidak lagi bisa dikendalikan oleh apa pun selain kasih sayang dan tekad yang kuat. Dan hal itu jauh lebih berbahaya bagi rencana jahat mereka.

 

Lanjut ke Bab 32: Kesalahan Yang Tak Disengaja? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!