Menjadi istri pengganti istri pertama, begitulah yang Deandra alami. Ketika dirinya terpaksa harus menikah dengan Majikan di rumahnya ini, hanya karena dia membutuhkan sosok seorang istri pengganti di saat istri pertamanya masih dalam keadaan koma.
"Jadi istri pengganti untukku, selama istri pertamaku belum sadar"
Sebuah kalimat yang membuat Deandra sangat terkejut. Namun sebuah pilihan yang akhirnya dia ambil. Entah bagaimana pernikahan ini berlanjut, mungkin akan tetap bersama dengan saling mencintai? Atau bahkan saling melepaskan dengan rasa sakit?
Saksikan kisahnya di PENGGANTI ISTRI PERTAMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Menahan Hati
Dan setiap Deandra berada di kamar ini dan melihat Sandra, dia selalu teringat akan suaminya. Bagaimana dirinya yang hanya sebagai pengganti istri pertama. Jika Deandra tidak bisa menjaga benteng yang dia bangun di hatinya agar tidak terpesona dengan Afkha. Maka dia yang akan tersakiti.
"Nanti kalau Nyonya sudah sadar, aku akan segera pergi kok dari kehidupan kalian. Tenang saja ya, karena aku juga tidak mau merusak kebahagiaan kalian dan terus berada dalam kehidupan kalian yang memang sejak awal sudah bahagia" ucap Deandra dengan suara yang bergetar.
Jangan menangis Deandra, kenapa kau harus lemah seperti ini. Memang itu yang harus kau lakukan. Sadar diri siapa dirimu! PIkirannya yang sedang menyadarkan Deandra agar dia sadar diri dengan posisinya saat ini. Deandra yang tidak boleh sampai bersedih dan berharap lebih atas pernikahan yang terjadi.
Semuanya adalah jalan hidup yang kamu pilih. Kenapa sekarang saat kau berpikir akan meninggalkan kehidupan ini, kamu malah sedih. Jangan seperti ini Deandra.
Lagi-lagi Deandra hanya mencoba untuk menahan hatinya agar tidak berharap lebih pada suaminya.
Deandra kembali ke dalam kamar, dia melihat Afkha yang sedang berada di atas tempat tidur dengan meringkuk. Deandra mencoba untuk tidak memperdulikan saja, karena memang dirinya yang ingin mencoba untuk menjaga jarak dari suaminya itu.
Dia belum makan malam, apa memang dia tidak mau makan malam atau mungkin sudah kali ya di Kantor. Deandra ingin melangkah keluar kamar, namun dia berhenti dan menatap suaminya yang terdengar bergumam tidak jelas. Deandra jadi penasaran, dia mendekati Afkha. Naik ke atas tempat tidur dan melihat Afkha yang menggigil.
"Deandra, jangan tinggalkan aku.."
Terdengar sangat lirih gumaman dari bibir suaminya. Deandra jadi sedikit cemas, dia mengecek suhu tubuh suaminya dan merasakan suhu tubuhnya yang panas. Lagi-lagi terdengar gumaman yang sama. Deandra langsung turun dari atas tempat tidur, dia pergi ke ruang untuk membawa kompresan dan obat penurun panas.
"Ternyata dia bisa sakit juga ya, aku kira dia tidak pernah sakit"
Deandra menempelkan kompresan gel di dahi suaminya. Lalu dia membuka selimut dan membiarkan Afkha untuk tidur tidak dengan selimut, karena memang harus memberikan ruang untuk orang yang sedang demam seperti ini.
Apa aku harus panggil Dokter ya? Kan takutnya dia terkena demam berdarah atau apa. Deandra pergi keluar kamar dan memberi tahu Ibu tentang keadaan Afkha saat ini. Dan benar saja jika Ibu langsung meminta Deandra untuk memanggil Dokter Angga. Tentu saja karena Dokter Angga ini sudah menjadi Dokter kepercayaan keluarga ini.
Deandra hanya menemani suaminya, sebelum Dokter Angga datang. Dia mencoba untuk membenarkan posisi tidur suaminya, meraih tangannya agar lebih nyaman. Namun tangannya malah di genggam erat oleh Afkha hingga Deandra tidak bisa melepasakan tangannya itu. Afkha menggenggam erat tangan Deandra di atas dadanya.
"Dean, jangan pergi. Aku mencintaimu, Deandra"
Deg, tubuhnya langsung membeku seketika. Jelas Deandra mendengar ucapan Afkha barusan, meski saat ini Afkha berbicara dengan begitu lirih. Namun Deandra bisa jelas mendengarnya. Tidak Dean, di hanya sedang sakit. Jadi hanya asal bicara saja. Mungkin efek dari suhu tubuhnya yang tinggi.
Deandra masih mencoba untuk tidak percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh Afkha barusan. Karena dirinya juga tidak mau kalau sampai harus terjebak dengan Afkha karena dia mencintainya. Sementara Afkha bukan miliknya seorang. Dan pemilik seutuhnya itu bukan dirinya, tapi Sandra.
Dokter Angga yang masuk ke dalam kamar bersama dengan Ibu, membuat Deandra langsung melepaskan paksa tangannya dari genggaman tangan suaminya. Tapi Afkha benar-benar menggengam tangannya dengan erat, hingga dia tidak melepaskan tangannya dari genggaman tangan suaminya.
Aduh, gimana ini? Kak Angga akan merasa heran melihatku ada disini dengan dia yang memegang tanganku. Aaa..Bagaimana ini, hey Tuan Muda kenapa kau tidak mau melepaskan aku.
"Bagaimana keadaannya Dean?" tanya Angga.
Deandra tersenyum, meski dirinya sedang bingung dan tidak bisa melepaskan tangannya dari genggaman tangan Afkha. "Dia demam tinggi Dok, dari tadi juga belum sadar, hanya bergumam tidak jelas saja"
Tidak. Gumamannya begitu jelas, aku bisa mendengarnya dengan jelas bagaimana dia mengatakan cinta padaku. Deandra menatap wajah Afkha yang tidak sadarkan diri itu. Rasanya masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar terucap dari bibir pria itu.
"Baiklah, aku akan mencoba untuk memeriksanya" ucap Angga.
Angga mulai memeriksa keadaan Afkha, dia mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Afkha pada Zaina, tapi tetap tidak bisa. Seolah Afkha sangat takut kehilangan Deandra saja.
Ayo lepaskan dong ah, sedang sakit masih saja membuat aku kesal. Sekarang sedang ada Dokter Angga. Aaa.. Kenapa si situasinya selalu seperti ini. Deandra jadi kesal sendiri karena Afkha yang sedang sakit saja tetap tidak mau melepaskannya. Padahal Denadra tidak ingin jika Angga mengetahui tentang pernikahan ini. Setidaknya jangan sampai Angga mengetahui tentang hal ini.
"Sepertinya Tuan terkena asam lambung yang tinggi. Sebaiknya pola makannya tolong di perhatikan" ucap Angga setelah dia memeriksa keadaan Afkha.
Deandra terdiam, dia ingat jika tadi pagi dirinya tidak memastikan Afkha sarapan saat ingin berangkat bekerja. Apa mungkin dia juga tidak makan siang dan sekarang juga belum makan malam. Ya ampun, aku merasa bersalah sekali sebagai pengganti istri pertama ini. Masa makan suamiku saja tidak aku perhatikan.
"Baik Dok, kalau begitu terima kasih banyak ya" ucap Ibu.
Deandra menatap wajah Afkha dengan khawatir, merasa jika dirinya sangat bersalah karena sudah mengabaikan suaminya. Meski Afkha bersikap dingin dan cuek padanya, seharusnya Deandra tidak ikut bersikap dingin padanya dan mendiamkannya. Karena memang dirinya menikah dengan Afkha karena sebuah perjanjian yang menguntungkan. Bukan karena cinta seperti kebanyakan orang.
Saking fokus dengan pemikirannya sendiri, Deandra bahkan tidak sadar jika Angga dan Ibu sudah keluar dari dalam kamarnya. Deandra menghela nafas pelan, dia mengelus kepala Afkha dengan lembut.
"Cepat sembuh ya, maaf karena aku sudah menjadi istri yang tidak baik. Maaf karena aku tidak menjalani tugasku dengan baik selama ini"
Deandra memberikan kecupan di kening suaminya. Entah apa yang aku rasakan saat ini, namun aku hanya mencoba untuk tidak jatuh cinta padamu. Aku hanya tidak ingin merasa goyah, aku hanya ingin tetap melanjutkan hidup tanpa harus merasa terbebani karena perasaanku padamu yang nantinya akan membuat aku terluka.
Hal yang paling Deandra takutkan saat ini adalah jatuh cinta pada suaminya. Karena Deandra tahu kalau dirinya bukan yang pertama memiliki Afkha. Sandra tetap menjadi orang pertama yang memiliki Afkha dan hatinya. Apasi, kenapa aku selalu menangis mengingat semua ini. Deandra langsung menghapus air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya.
########
Bersambung