“Ajudan , cepat penggal kepala wanita itu. Ahahah” perintah Singkasa sambil memutar gelas yang berisi darah segar.
Suara tebasan leher yang dia sukai, darah mengalir deras di dalam kolam raksasa. Ratu Singkasa membenamkan diri menikmatinya. Kecantikan abadi berasal dari darah perawan yang telah dia tumbalkan. Setiap bulan purnama merah, dia tidak pernah berhenti mencari korban. Berita kehilangan para gadis yang di laporkan warga diabaikan oleh para petugas. Hingga pada suatu hari, seorang pendekar wanita berani melawan sampai meruntuhkan kerajaannya.
Siapakah wanita misterius itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun hati
...💀💀💀...
Aku sudah terbiasa meneguk darah segar. Tunggu kabar bulan purnama penuh selanjutnya akan aku isi dengan para setan yang bergentayangan merasuk di setiap jiwa yang lemah.
...💀💀💀...
Total pada tiga hari tepat di tengah malam sang ratu menjerit sekencang-kencangnya. Dia membuka perban di leher yang membungkus lukanya. Luka masih basah, dia meringis kesakitan memegang darahnya sendiri.
“Argghh!”
Jeritannya sangat keras terdengar sampai keluar istana. Para dayang hanya bisa terdiam menunduk berbaris di depan pintu. Dayang Rasma mendekatinya meminta sang ratu untuk menenangkan diri. Dia memecahkan semua kaca di dalam ruangan kebesarannya. Melempar kaca kea rah dayang Rasma dan para dayang lain. Beberapa dayang yang wajahnya terkena serpihan kaca meringis kesakitan. Hal itu membuat sang ratu ingin merusak wajah mereka hingga memerintahkan seluruh dayang masuk ke aula kebesarannya.
Tempat itu di padati para dayang yang bekerja di istana, tidak terkecuali dayang Omni yang ikut di dalamnya. Sida berdiri di depan sang ratu dia membisikkan sesuatu sehingga sang ratu tidak langsung merusak seluruh wajah para dayang di istana.
“Yang Mulia, sebelum engkau memulainya, alangkah baiknya jika tatanan di wajah cantik sang ratu di poleh sedikit riasan. Saya juga akan menutup bekas luka pada leher jika luka sang ratu sudah sembuh nanti. Siapa yang menyangka salah satu dari mereka, atau orang-orang yang tanpa sengaja melihat luka itu merasa senang melihat kulit sang ratu ada yang rusak?”
Penjelasan panjang yang masuk di akal si ratu iblis demi kecantikannya yang abadi. Dia menuruti perkataan Sida, duduk membelakangi cermin menunggu hasil hiasan di tangan perias pendamping yang sangat dia percaya hiasannya bisa menambah kecantikannya.
Selesai mendandani sang ratu, dia menutup luka dengan syal mewah. Hiasan emas permata memenuhi dirinya, sang ratu yang mulai tampak percaya diri kembali berjalan menuju singgahsana.
“Ratu ku, jika engkau ingin meluapkan amarah mu itu sebaiknya hanya pada dayang atau petugas yang andil dalam masalah ini saja. Mereka tidak becus menjaga jalannya acara pesta yang di gelar. Maaf yang Mulia, hamba tidak bermaksud ikut campur?”
Mendengar kata pesta, sang ratu berpikir bahwa Sida tidak mengetahui duduk masalah serta upacara ritual di bawah bulan purnama. Sang ratu menyetujui dengan apa yang di katakana Sida. Melihat dia menganggukkan kepala, Sida tersenyum penuh melirik tajam melihatnya.
“Prajurit, cepat bawa semua petugas yang ada di tempat ku tadi malam!”
Omga yang semula menolak kini di tarik paksa petugas istana masuk ke ruangan. Dia ikut berbaris diantara sang dayang begitu pula dayang Rasman yang tidak percaya bahwa dirinya sekarang berada jauh dari sang ratu.
“Yang Mulia, hamba hanya melaksanakan tugas. Hamba tidak bermaksud membuat yang Mulia marah. Ampuni hamba yang Mulia” ucap Omga memohon.
“Sudah berdiri Omga, aku tau kau salah satu pelayan ku yang setia.”
“Terimakasih yang Mulia.”
Sebelum tegak berdiri, dia bersujud berkali-kali mencium kaki sang ratu. Merasa tidak senang karena si penjaga kepala penjara itu terbebas dari jeratan sang ratu maka dia meminta ijin pada ratu merapikan sedikit hiasan di rambutnya.
“Ratu, sini saya bantu merapikan tusuk konde indah yang kurang sempurna susunannya itu” ucap Sida sambil melirik Omga.
“Ratu, saya bantu memegang kaca. Saya selalu membawa model kaca kesukaan ratu.”
Kesalahan Omga membawa kaca yang merubah wajahnya sendiri pada hari itu. Ratu Singkasa tampak trauma setelah insiden berdarah yang merobek kulitnya.
“Argghhh!” jeritan kesakitan Omga memegang pipi kanannya.
Cermin itu di banting menghancurkan pipi kanan Omga. Darah mengalir deras, dia kesakitan menahan perih. Kata maaf berkali-kali dia sebut hingga sang ratu meminta dia segera pergi.
“Rasakan pembalasan ku! Itu karena kau sudah bertindak kejam pada ku selama di penjara!” gumam Sida.
......................
Sesampainya di depan hotel, supir hantu itu langsung memutar kendaraannya keluar gerbang kembali. Biasanya jika sudah menyewa sebuah mobil sekaligus selama beberapa hari maka keduanya tetap tinggal di dekat si penyewa. Terhitung jika ada kebutuhan mendesak atau hal lain. Atau jik supir itu mempunyai kegiatan lain di luar maka jika mendapat panggilan secara tiba-tiba bisa langsung meneleponnya.
Tidak dengan supir yang satu ini, dia bahkan mengatakan tidak memiliki telepon genggam dan mengatakan selalu tau jika dia di butuhkan pada jam-jam tertentu. Sebelumnya Toton sudah membayar mahal, dia juga memberikan upah yang lebih setiap hari dan menyediakan salah satu kamar hotel yang bisa dia tinggali. Toton juga meminjamkannya salah satu handphone miliknya, tapi pria itu menolaknya.
Menaiki lift menuju kamar hotel. Dia menoleh melihat Singkasa berdiri di dekat lemari antik. Wanita itu melemparkan senyuman yang menggoda. Dia menaikkan sedikit rok mini yang terlihat sempit lalu berjalan mendekatinya.
“Tuan baru pulang kerja? Jika tidak keberatan mari saya buatkan segelas kopi” ucapnya sedikit berbisik mendayu di telinganya.
Toton panik, gelisah dan bimbang. Hati pria yang tidak kuat iman itu langsung menganggukkan kepala mengikuti ajakan. Dia membiarkan wanita itu menarik tangannya. Dari ujung pintu, teriakan suara Empuni membentak Toton.
“Mau kemana kau mas? Apakah kau salah kamar?” suara keras Empuni yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.
“Ayo sekalian kita minum kopi bareng” ajak Singkasa yang seolah tidak terjadi apa-apa.
Toton hanya terdiam dia berdiri di antara mereka berdua. Seolah pria itu bangga sedang di perebutkan oleh dua wanita. Pria yang mementingkan hawa nafsu dan buta siapa sosok wanita yang sangat mencintainya dengan tulus meski sudah di sakiti berulang kali.
Empuni menahan tangis yang hampir pecah, dia sekuat tenaga menahan dua hal yang menghantam dirinya sendiri. Pertama adalah menahan tangisan, jika Singkasa melihat air matanya pasti kemenangan dan senyuman bahagia. Kedua dia meredam amarah ingin memukul kedua orang yang tidak menganggap dirinya ada. Terutama Singkasa yang sudah jelas sebagai pelakor di dalam rumah tangganya.
“Aku sedang tidak enak badan. Kita ke kamar saja mas” ucap Empuni merendahkan nada bicaranya.
Empuni membalikkan tubuh berharap Toton mengikuti langkahnya. Toton menarik tangan Empuni malah mengatakan perkatakaan yang semakin mengejutkan hatinya.
“Kamu nggak boleh gitu dong sama tetangga. Kalau aku lagi kerja kan kamu ada temen disini. Aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia, jangan cemburu tidak beralasan ya!”
“Memangnya istri mana yang tidak cemburu melihat tangan suaminya di tarik masuk ke kamar wanita lain?”
Empuni memalingkan wajah, dia melanjutkan langkah masuk ke kamar membanting pintu. Toton meminta maaf pada Singkasa karena sudah menolak tawarannya. Dia mengantar wanita itu sampai di depan pintu mengabaikan amarah Empuni. Mereka berdua saling bertatapan, kedua tangan Singkasa melingkar tepat di leher Toton.