NovelToon NovelToon
Crazy Deal

Crazy Deal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:96.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: BumbleBee

Isabella dan Darren terjebak dalam situasi menggelikan yang tidak sengaja mereka ciptakan. Kesalahfahaman yang membawa mereka pada hubungan rumit. Bagaimana tidak rumit, Darren adalah kakak dari pria yang sudah menjadi tunangannya selama lima tahun!

***

"Aku akan membantumu agar bisa hidup normal kembali."

"Maksudmu?" Darren mengernyit bingung.

"Aku akan menjadi dokter untukmu."

"Seingatku, aku tidak sakit dan kau juga bukan seorang dokter."

"Dan kau akan menjadi Stylist-ku."

"Excuse me?"

"Kau akan sembuh dan normal kembali. Akan kubuat kau mampu menghamili wanita!!"

Darren tidak terkejut sama sekali dengan pemikiran ajaib wanita itu. Kemudian dengan tenang ia berkata, "Lalu kubuat Austin bersedia menidurimu?"

"Frontal sekali ucapanmu! Kau hanya perlu mengubah penampilanku agar adik tampanmu melirik ke arahku! Bagaimana, deal?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkara Mobil

Makin lama berusaha bertahan pada cinta yang bertepuk sebelah tangan, maka kita akan makin mencintai sedangkan dia makin jual mahal. Maka, keputusan paling tepat adalah mundur seketika.

...****************...

"Mobilku raib dari garasi. Aku bertanya-tanya siapa manusia yang begitu sangat sopan mencurinya tanpa permisi."

Isabell dan Steve yang baru memasuki rumah langsung disambut dengan tudingan dari Darren yang duduk dengan santai di sofa. Di atas pangkuannya terdapat laptop yang menyala, menampilkan angka-angka yang hanya bisa dimengerti olehnya. Tatapannya fokus kesana, tidak menoleh pada Isabell dan Steve sama sekali. Di seberang pria itu ada Lexi yang berbaring di atas pangkuan Austin yang asik mengusap-usap rambut panjang saudarinya itu dengan tatapan yang tertuju pada Isabell dan Steve.

Lexi melambaikan tangan kepada Isbell dan mengirim kecupan jauh kepada suaminya.

"Kalau permisi, tidak mencuri namanya," Isabell sepertinya belum mengerti situasinya. "Aku belum pernah mendengar ada pencuri yang secara khusus meminta izin." Isabell mendongak menatap Steve meminta persetujuan.

"Well," Darren menutup laptopnya. "Mencuri artinya tidak meminta izin." Kepala itu miring , menatap Isabell.

"Ya, seharusnya seperti itu. Apa yang hilang?"

"Porsche Boxster 25."

"Aku merasa tidak asing. Di mana aku melihatnya?" Isabell memeras otak mencoba mengingat-ingat.

Steve yang berdiri di sampingnya, berusaha menahan senyumnya. Beberapa menit yang lalu ia baru saja mengemudi mobil tangguh itu berkat Isabell. Sudah tanda tanya besar di benaknya, mengapa mobil tersebut bisa ada pada Isabell. Jelas Darren tidak semulia itu, meminjamkan barangnya kepada orang lain bukanlah sifat iparnya tersebut.

"Kau baru mengemudikannya," Darren menggeram. Tidakkah Isabell sadar bahwa Darren sedang menyindirnya sejak tadi.

Gadis berkacamata itu menjentikkan jari seolah baru menemukan jawaban atas pertanyaan yang sulit, lalu ia pun berseru dengan riang gembira, "Ah, ya! Aku mengemudinya. Mobil yang sangat hebat. Steve menyebutnya tangguh."

Sudut bibir Austin tersungging ke atas melihat tingkah polos tunangannya tersebut. Sedikit terhibur dengan kekonyolan Isabell yang belum menyadari keadaannya yang terancam.

"Ta-tapi tunggu dulu," sepertinya ia mulai sadar. "Mobilmu tidak hilang, aku yang memakainya. Dia ada di luar, parkir dengan manis."

Austin tidak bisa menahan tawanya lagi, ia tergelak begitu pun dengan Steve. Sementara Darren semakin kesal. Mobilnya baru sampai tiga hari yang lalu. Banyak pekerjaan membuatnya tidak sempat menguji kegesitan mobil tersebut. Hari ini, ia sengaja menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat dengan harapan ia akan beraksi dengan mobilnya. Dan apa yang ia temukan saat ia hendak menyapa mobil itu di garasi. Raib! Setelah memeriksa CCTV, tersangka utama pun terlihat. Tamu yang tidak lain adalah tunangan adiknya.

"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuhnya?" Desisnya dengan tajam. Darren memang tidak suka jika barangnya disentuh orang lain. Austin bahkan Steve tidak akan berani melanggar hal itu. Itulah mengapa tontonan di hadapan mereka ini sangat menarik. Lexi mungkin bisa menyentuh beberapa barangnya, tapi itu juga harus meminta izin pria itu terlebih dahulu.

"A-Austin," Isabell mendadak takut melihat aura Darren yang mendadak dingin.

Darren menoleh cepat kepada Austin. Menatap adiknya itu tanpa bersuara.

"Dia butuh mobil..."

"Tidak seharusnya kau memberikan mobil itu."

"Aku tidak melakukannya," jawan Austin dengan santai. "Aku hanya menunjukkan dimana letak kunci mobil. Itu saja."

"Ya, yang dikatakan Austin benar, aku hanya mengambil asal kunci mobil yang menggantung."

"Aku belum mencobanya dan kau sudah membuka segelnya."

"Ma-maafkan aku. Aku sungguh tidak mengetahuinya. A-aku akan mengembalikannya ke tempat semula." Isabell merebut kunci mobil dari tangan Steve dan memberikan pembalutnya kepada pria itu.

Steve tidak menerima benda itu dengan benar sehingga benda itu tercecer ke lantai.

Puk!

"Apa itu?" Darren bertanya.

"Pembalut. Apa aku tidak pernah melihatnya?" Steve membungkuk untuk memungut benda tersebut.

"Aku sedang hamil, kenapa kau membeli pembalut? Kau mulai berulah hanya karena aku hamil?" Lexi yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya buka suara.

"Ini punyaku, Lexi. Jangan salah faham." Isabell meringis dan merebut benda itu dari tangan Steve. Terlalu kuat menarik benda itu membuat plastiknya sobek dan isinya berceceran.

"Ke-kenapa mereka berceceran," Isabell menatap ngeri. Buru-buru ia berjongkok untuk memungutnya. Semua bantalan pembalut sudah ada di dalam dekapannya, dipeluk seperti barang berharga yang harus dijaga, dilindungi. Isabell melirik ke arah Austin, ia melihat Austin sedang tersenyum geli. Sesaat ia terpana dengan pesona pria itu. Tapi dengan segera ia mengendalikan diri mengingat ia sedang dalam masalah.

"Aku akan memasukkan mobilmu ke garasi."

"Mengembalikannya ke garasi tidak akan membuatnya kembali suci. Dia sudah tercemari. Biarkan saja."

"Suci? Tercemari? Aku tidak menodainya, sungguh. Kau bisa memeriksanya. Aku juga mengemudi di bawah kecepatan rata-rata." Untuk yang satu ini, Isabell berbohong. Ia justru mengemudi terkesan ugal-ugalan.

"Oh ya?!" Darren meragu. Mobil itu didesain untuk merayu pengemudinya untuk beradu dengan angin.

"Semuanya masih lengkap. Tidak lecet sama sekali."

Darren tidak menanggapi, ia justru beranjak dari tempatnya, menghapus jarak diantara mereka, lalu mengambil kunci dari tangan Isabell. Tanpa berkata apa-apa Darren segera menuju ke luar.

Isabell yang menyadari barang-barangnya masih ada di sana, ikut menyusul.

"Tidak usah mencoba untuk meminta maaf, yang harus kau lakukan adalah menghindar dariku," Ucap Darren yang menyadari kehadiran Isabell di belakangnya.

"Aku tahu kau memang tidak membutuhkan kata maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Jadi, jangan salah faham, aku hanya ingin mengambil barang-barangku yang tertinggal di dalam mobil."

Darren mendengus, calon adik iparnya ini ternyata sangat menjengkelkan. Dulunya ia mengira Isabell tipe gadis rumahan yang sangat kalem. Saat mendengar Austin memiliki tunangan, ia membayangkan gadis cantik, anggun dan manis. Ia tidak menghadiri pertunangan tersebut karena sedang berada di luar negeri. Pertemuan pertama mereka satu tahun lalu saat Isabell menghadiri pernikahan Lexi dengan saudaranya. Ya, Lexi sudah menikah dua kali. Oke, jika diperhatikan, Isabell sedikit manis di matanya, tapi mungkin bukan tipe wanita yang akan ia kencani. Bukan karena penampilannya, tapi karena kecerewetannya. Ya, walau tidak ia pungkiri, ia suka sesuatu yang indah. Keindahan akan terlihat jika ditonjolkan. Darren tidak melihat keindahan sama sekali pada diri Isabell. Apakah karena ia belum menyelaminya atau Isabell yang terlalu pintar menyembunyikan diri?

Darren bertanya-tanya, apakah pertunangan ini akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Austin memiliki trauma pada gadis berpenampilan seperti Isabell. Tidak ada yang tahu akan hal itu kecuali dirinya.

Darren memperhatikan jika Isabell sangat memuja Austin, sementara Austin sering lepas kendali dan bersikap dingin pada tunangannya itu. Hanya ada dua kemungkinan dalam hubungan keduanya. Isabell terluka atau Austin jatuh cinta. Darren berani bertaruh, kemungkinan kedualah yang akan terjadi setelah melihat Austin tersenyum dan bahkan tertawa menyaksikan tingkah tunangan cupunya yang cerewet.

1
Rosy Apriyadi
Thor sekarang bikin karya di apk apa thor aku rindu kariamu
Arum Sinta
suka sangat dengan cerita dr author rizky, semua ceritanya keren abiz, ya walau ada beberapa cerita yg tak selesai, tapi aku suka dg penyusunan ceritanya, ga muter2 jadi ga bosan bacanya...smoga bang iky tetap semangat menulis, aku tunggu selalu karya2mu yg lain...
Nana Colen
kemana ya kok gak up lagi👍👍👍👍padahal aku suka banget cerita nya
Nana Colen
lama gak uo
Conny Ngantung
ceritamu bagus Thor aku suka👍👍👍
Ghaza Syifa Alita
keren
Reksa Nanta
Kalau niatnya memang begitu, kenapa kunci mobilnya digantung bebas ?
Reksa Nanta
Perbendaharaan kata.
Reksa Nanta
aku baru tau viagra dijual bebas di supermarket. hahaha.
Jeck Barman
lanjut cerita menarik
Hayati
msh nunggu thor
Diii
Darren sama siapa ya...apa sama Austin adiknya...
𝕴𝖇𝖚𝖓𝖞𝖆 𝖆𝖓𝖆𝖐-𝖆𝖓𝖆𝖐
kangen, kapan up
Ummu Mufris
marna baru
ceava
nggk ljut y
@ jjeyva
bang ini lanjut apa gmn bang, KSH info dong bang
sizih
Daren aku 😢
Baiq Saleha
laaaa libur panjang
dwi apriyani
yakin ini udahan gak lanjut lgi😞
Yuni
ini cerita yg menarik... cepet up lagi dong bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!