Jatuh cinta memanglah hal yang membahagiakan. Tapi, jika jatuh cinta tanpa dicintai, apakah masih dikatakan hal yang membahagiakan?
Itulah yang dirasakan oleh seorang wanita yang bernama Mita Yuriko. Jatuh cinta kepada seorang dokter bedah nan tampan yang banyak disukai oleh wanita cantik, merupakan tantangan bagi dirinya.
Ia terus menunjukan rasa sukanya kepada pria itu, namun pria tersebut tak pernah menanggapinya. Sampai pada akhirnya sebuah insiden yang seharusnya tak terjadi kepada mereka berdua, membuat keduanya menjadi terikat. Dan membuat mereka menyandang sebagai suami istri yang dirahasiakan dari orang-orang sekitar.
Apakah Mita masih memperjuangkan rasa cintanya itu? Apakah ia memilih menyerah saat mengetahui jika pria itu masih belum menyukainya?
——————
Info dulu. Cerita ini kelanjutan dari 'Perjuangan Cinta Si Gadis Desa' jadi, jika kalian penasaran awalan cerita mereka bisa baca dulu karya Author yang itu✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wndanaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 0018. Masalalu Yang Belum Terlupa
🍄🍄🍄
-
-
Pagi sekali Mita sudah keluar dari rumahnya, Mita sangat terburu-buru karena ingin melihat keadaan adiknya dirumah sang sahabat.
Ya, hari ini ia akan menjemput adiknya dan mengajaknya pulang kerumah. Ia merasa tak enak jika adiknya berada dirumah orang lain, walau sekalipun ia dekat dengan orang itu. Karena Mita pada dasarnya tak ingin merepotkan orang lain. Apalagi hubungan dirinya dengan ibu Dafa bisa dikatakan tidaklah baik.
Hal itu semakin membuat Mita merasa khawatir dengan keadaan adiknya disana.
“Hati-hati dijalan non! Jangan ngebut bawa mobilnya.” Tutur Siti pembantu rumah Mita. Yang sudah dianggap ibu kedua bagi Mita.
“Iya bi...” setelah itu Mita mulai menjalankan kendaraannya, dan menuju tempat yang akan ia tuju.
°°°°°
“Apakah dokter Mita sudah ada diruangannya?” tanya Fadli ketika baru sampai dirumah sakit tempat ia bekerja.
Salah satu suster yang bertugas diadministrasi itu, nampak tersenyum malu-malu. Karena tak menyangka jika Fadli mengajaknya mengobrol, walau itu hanyalah sebuah pertanyaan. Tapi suster tersebut sangat senang hanya dengan itu saja. Sebab suster tersebut sudah lama mengangumi ketampanan Fadli.
“Suster?” tegur Fadli karena tak mendapati jawaban.
“Eh? Oh... dokter Mita ya... Ehem! Dokter Mita belum datang dok. Sepertinya dokter Mita masih mengajukan cuti.” Jawabannya sambil tersenyum canggung.
“Cuti? Bukankah cutinya hanya dua hari?” tanya Fadli bingung.
Nampak suster itu mengedikan kedua bahunya. “Entahlah dokter... tapi saya dengar dari teman dokter Mita, jika dokter Mita minta izin lagi. Katanya ada urusan keluarga.” Jelasnya.
“Urusan keluarga...” Fadli mulai mengingat kejadian kemarin, ketika ia datang kerumah Mita. Dan tak menyangka jika akan terjadi kekacauan dirumah wanita itu.
“Apa masalah adiknya...?” gumamnya lagi.
“Emmm... ini kan masih pagi dokter... bagaimana kalau kita ngopi bareng dikantin?” ucap suster itu dengan gerakan tubuh malu-malu.
Fadli yang tengah melamun itu langsung tersadar, ia sampai tak mendengar ajakan dari suster itu.
“Oh! Yasudah kalau begitu, saya akan keruangan saya. Terimakasih sudah menjawab pertanyaan saya, dan selamat bekerja.”
Dengan memberikan senyum manisnya kepada suster tersebut. Fadli langsung saja beranjak dari sana dan meninggalkan suster itu yang nampak melongo ditempatnya.
“Hee? Kirain mau diajakin minum berdua. Tau-taunya ditingalin gitu aja?” gerutunya sedikit kesal.
°°°°°
Disisi lain, mobil Mita kini terparkir dihalaman rumah kediaman sang sahabat. Ia pun langsung turun dari mobilnya, dan mulai menghembuskan nafasnya secara dalam-dalam.
Karena sudah sangat lama ia tak menginjakan kaki dirumah itu. Sejak kejadian tak mengenakan yang pernah menimpanya. Dan baru sekarang lah ia baru menginjakan kakinya dihalaman rumah besar itu, dan itu semua demi sang adik.
“Halo nona... apakah anda membutuhkan sesuatu?” seorang penjaga rumah bertanya pada Mita.
Mita menoleh kearah pria paru baya itu. “Apa Dafa ada dirumah?”
“Oh? Tuan Dafa? Tuan Dafa ada didalam nona. Ngomong-ngomong, apakah anda yang bernama nona Mita?”
Mita tampak mengangkat sebelah alisnya. “Kok bapak tau nama saya?”
“Oh benar ternyata. Saya disuruh oleh tuan Dafa jika ada yang bernama Mita, maka akan langsung disuruh masuk kedalam. Jadi, saya akan mengantar nona masuk kedalam. Kebetulan tuan Dafa sedang dikolam berenang sekarang.” Jelas penjaga itu.
“Oh begitu? Baiklah, mohon antar saya pak.” Jawab Mita.
“Baik, mari ikut saya.”
Mita mengangguk, lalu mengikuti penjaga rumah itu dari belakang.
Tak butuh waktu lama, Mita langsung diantar tepat pada tujuan. Dikolam berenang yang sangat luas, dan kolam berenang itu nampak berbeda ketika ia melihatnya dulu. Waktu dia masih bersetatus mahasiswi.
“Saya sudah mengantar anda sampai tujuan. Jadi saya akan pamit, mari nona.”
“Ah, iya pak. Terimakasih...”
“Sama-sama.”
Mita lalu berjalan kembali, untuk mencari keberadaan sahabatnya itu. Sekaligus keberadaan adiknya, walau hatinya saat ini masih merasa was-was jika dipertemukan tak terduga oleh ibu sahabatnya itu. Bukannya ia merasa takut. Tapi jika ia boleh jujur saat ini ia masih belum siap dipertemukan oleh wanita itu.
“Mita?”
“Ah!” refleks Mita langsung mengelus dadanya karena merasa terkejut dengan suara itu.
“Hahaha, kok sampe kaget gitu? Aku cuman manggil pelan loh?” Dafa tertawa melihat tingkah Mita, pria itu lantas berjalan yang langsung menghadapkan ia kepada Mita.
“Kamu toh Daf... ngangetin aja...”
“Gitu aja kaget, kaya abis ngeliat setan aja.” Celetuknya.
“Emang kamu setannya...” gumam Mita yang dapat didengar oleh Dafa.
“Apa?” Dafa nampak melotot.
“Eh, mana Mino?” Mita mengabaikan ucapan Dafa, dan mulai celingak-celinguk mencari keberadaan adiknya itu.
Namun Dafa memaklumi sikap itu, dan menghela nafasnya sejenak. “Miko ada dikamar ku, kamu bisa langsung kesana aja.” Dafa berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Mita yang berjalan dibelakang pria itu.
“Ayo masuk,” ajak Dafa ketika sudah membuka pintu kamarnya. Mita pun mengangguk dan masuk kedalam kamar pria itu, setelahnya Dafa menutup pintu itu dari dalam.
Namun mereka tak tahu saja, jika Delina ibu dari Dafa melihat keberadaan mereka. Bisa dikatakan tak sengaja melihat, karena wanita itu baru tahu jika Mita datang kerumahnya.
“Bukankah itu... wanita yang pernah dikenalkan Dafa?” gumamnya. “Ngapain dia kesini? Masuk kekamar putraku lagi! Ini gak benar! Pasti wanita itu melakukan hal-hal licik terhadap putraku!”
Dengan perasaan membuncang, Delina mulai melangkah menuju kamar putranya.
-
-
🍄🍄🍄
Halo... udah lama gak Up novel ini. Ada yang rindu gak? Ada yang mau novel ini tetep dilanjut gak?
Langsung komen yuk! Dikolom komentar, biar author tau yang mana pembaca setia❤️
untung aja lo selamat dri rayuan si dikta bejat filda
yg lain juga dilanjut donk 😆😆😆
semangat author 💪💪💪