Mencintai adalah hal yang harus dilakukan oleh semua insan di muka bumi ini. Namun tak semua orang boleh dicintai, tapi boleh disayangi. Salah satu contoh kisah seorang pemuda dan pemudi yang dipisahkan jauh oleh takdir karena sebuah kecelakaan yang tidak diinginkan. Namun ketika mereka sudah dewasa, takdir mempertemukan mereka kembali. Pertemuan ini adalah pertemuan yang tidak diinginkan oleh orang mana pun. Namun bukan Aqila namanya jika ia tidak hidup bersama kakaknya yang sudah ia rindu selama hidupnya. Ia pun memilih untuk menyusul sang kakak demi kebahagiaan hidupnya yang sudah pudar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eighteenth
Nayla tersentak begitupun Gisell.
Mereka menatap Zahra tak percaya dan Zahra mulai memberi kode dengan 'gue jelasin abis ini'.
Karena Nayla dan Gisell selalu percaya dengan teman-temannya, dia yakin bahwa Aqila pasti melakukan semua itu dengan rencana yang baik. Tapi, kenapa hancur?
"Qil, tenang ya," Zahra terus mengusap punggung Aqila.
"Gimana gue bisa tenang! Ibu gue di tinggal sendiri di Ausi Zah!" teriak Aqila kembali membuat Zahra sendiri terkejut.
Mereka semua langsung memeluk Aqila dengan begitu erat, berusaha menahan tangis yang mau mengikuti suasana.
"Kenapa dia tinggal?" bisik seseorang dari balik tembok.
"Kagak tau gue juga lah nanya ke gue," lantang temannya.
"Berisik bego ih! Tau lagi nyumput!"
"Sorry," balas temannya.
Mereka pun secepat kita pergi dari sana.
Kevin dan Noval mulai membicarakan sesuatu hal yang akan mereka rencana kan mulai saat itu.
Mereka berfikir keras untuk memulai dari mana.
Tak lama Vaisal dan Angga datang dengan ter senggah-senggah.
"Aqila" ucap Vaisal sambil mengatur nafasnya.
"Kenapa dia?" seru Kevin.
"Pura-pura amnesia!" sambung Angga sedikit berteriak.
Semua terkelonjat kaget.
"Maksud lo?" seru Noval.
"Tadi si Qila nyerita sama temen-temennya bahwa dia tuh pura-pura amnesia buat rencana in sesuatu dan malah gagal, terus katanya ibunya di tinggal sendiri di Ausi. Gue juga agak kurang ngerti," jelas Vaisal.
"Pura-pura amnesia, rencananya berantakan dan ibunya di tinggal sendiri di Ausi? Kenapa semua itu terhubung?" ucap Noval mencari teka teki.
"Tuh gue bilang juga diem dulu dengerin penjelasannya! Malah kabur!" ketus Angga.
"Lo bego malah teriak tadi. Kalau kedengeran kita nguping gimana jir!" balas Vaisal.
"Udah atuh, selesaiin ini!" Kevin memisahkan mereka.
"Mungkin aja dia pura-pura amnesia biar si Dimas baik sama dia. Terus tentang ibunya kagak ngerti juga sih," jelas Noval.
"Iya bisa jadi si Dimas juga merencanakan sesuatu yang memanfaatkan amnesia Aqila," sambung Vaisal.
"Kan enggak amnesia bodoh!" Angga membantah.
"Gue belum selesai ngomong monyet!" balas Vaisal.
"Gua jodohin tau rasa lo bedua!" sentak Kevin.
***
Flashback On.
"Qila, itu, itu cuman dengar-dengar kamu. Papah kan lagi di Ausi, terus dia mau pulang, eh ada barang ketinggalan jadi abang bilang tinggalin aja lagian enggak penting juga," jelas Dimas sedikit gugup.
"Terus yang abang maksud udah dapat anaknya siapa?" bentak Aqila.
"Duh lagi-lagi kamu tuh salah denger! Udah masuk kamar kamu!"
Aqila yang ketakutan berniat lari untuk kabur namun langsung ditahan Dimas.
"Kamu mau kemana?" sentak Dimas.
"Kamar"
Aqila langsung pergi ke kamarnya dan terdiam meratapi nasib.
Flashback Off.
***
Zahra, Gisell, dan Nayla pergi kekantin tanpa Aqila.
Mereka ingin Aqila tenang saja di kelas bersama temannya yang lain.
Berhubung guru juga sedang rapat dinas, jadi kemungkinan sekolah akan dibubarkan cepat.
Namun sebelum itu, para wanita akan membeli sesuatu makanan dulu untuk Aqila.
Mereka melewati beberapa ruko berisi jajanan namun tak ada juga yang menarik perhatiannya.
Sampai mereka berhenti bertemu dengan geng KAVAN yang kekurangan salah satu personilnya.
"Cewek! Kiw!" goda Angga.
"Apa sih Ga," ketus Gisell.
"Aqila mana?" tanya Kevin.
"Di kelas," jawab Zahra.
"Sendirian?" tanya Noval.
"Iya," jawab Nayla.
"Enggak takut ada yang nyulik apa?" tanya Angga.
"Kayaknya kalau nyulik juga bakal salah satu dari kalian. Eh," spontan Nayla terkejut.
Semua lelaki pun tersenyum sambil menaikan alis nya. Zahra langsung berlari kembali ke kelasnya.
Zahra melihat kelas yang sudah kosong. Tak ada satu pun orang termasuk Aqila.
"Kan dah tadi gue bilang lo sama Aqila!" ketus Gisell.
"Ini dibawa ke mana Aqila! Kalau sampai diapa-apa in gimana?" panik Nayla.
Zahra mulai memencet nomer seseorang untuk menanyakan dimana keadaan Aqila, namun sang penerima telepon malah menolaknya.
"Kurang ajar!"
***
"lo bawa gue kemana sih! Kek nya ini keluar jalur rumah gue deh!" ketus Aqila.
"Kalem aja sih enggak bakal gue apa-apain juga," jawabnya.
Aqila berdecak kesal.
Dia tadi ditarik paksa dengan taruhan jika tak mau ikut, Aqila harus menginap di rumahnya. Yang benar saja!
Tak lama mobil pun berhenti di depan rumah besar yang bernuansa hitam putih.
Gerbang pintu terbuka, perlahan mobil pun masuk ke istana itu.
"Ini rumah lo?" tanya Aqila.
"Bukan."
"Terus rumah siapa?"
"Orang tua gue," jawabnya simple.
"Sama aja bege!"
"Ayo turun," dia bergegas turun namun ditahan Aqila.
"Gue udah ikutin kemauan lo dengan alasan gue enggak mau ke rumah lo, tapi kenapa sekarang lo malah bawa gue ke rumah lo Vaisal!" teriak Aqila, Vaisal langsung menutup kuping nya sekeras mungkin untuk menghindar dari teriakan sang wanita.
"Yaelah gue ganti baju bentar! Kalau kagak mau turun yaudah tunggu di sini!" ketus Vaisal langsung turun.
Namun buru-buru Aqila turun karena berada di dalam mobil lebih pengap dari pada di rumah mewah milik orang tua Vaisal itu.
Mereka berjalan memasuki rumah. Lebih hebat lagi ketika pintu rumah Vaisal terbuka sendiri! Bin ajaib sih.
Aqila tersenyum bangga karena melihat pintu nya otomatis terbuka. Sewaktu mereka melewat.
"Selamat datang tuan," ucap seorang pelayan membungkukkan badannya.
btw mampir yuk ke novelku yang berjudul Athariz, kalau suka vote ya, btuh kritik dan saran juga,makasih hehe:)