Namaku Yuta Mayasaki, aku mempunyai seorang pacar bernama Giza, gadis cantik yang merupakan madona sekolah SMA Jayakarta.
Suatu hari saat aku pulang sekolah, Ayahku yang seorang duda membawa pacarnya dan juga seorang gadis yang merupakan anak dari pacarnya.
Namun saat aku melihat penampilannya... ya, benar sekali, anak dari pacar ayahku itu adalah Giza.
Bagaimana hubunganku dengan Giza seterusnya? Apakah masih boleh kita berpacaran walaupun kita kakak adik? Bukankah ini cinta terlarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noya Clarissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Side Story 1 — Kakak yang menyebalkan
[Sudut pandang Rito Kazuchi]
Hari ini adalah hari libur sekolah, itulah kenapa aku hanya berdiam diri di kamarku sambil tiduran di kasur.
Lebih tepatnya, aku sedang membaca novel online melalui smartphone-ku. Aku selalu berpikir kalau membaca novel itu membuang waktu dan hanya menjadi kegiatan untuk bermalas-malasan.
Tetapi faktanya ... membaca novel itu membuat pikiran kita lebih terbuka dan melatih imajinasi kita.
Tidak, itu hanya alasanku sih. Sebenarnya aku membaca novel hanya untuk melampiaskan perasaanku.
Aku berani bilang kalau aku bukanlah seorang pria yang mengenaskan—yang selalu ditolak oleh gadis yang disukainya. Malahan, akulah yang selalu menolak gadis yang menyukaiku.
Terdengar sedikit jahat, tidak, ini sih memang jahat. Tetapi dengarkanlah penjelasanku. Alasan aku menolak mereka adalah karena mereka yang tidak tulus menyatakan cintanya.
Mereka hanya menyukaiku karena wajahku yang tampan ini. Bukannya aku sombong, tetapi itulah kenyataannya.
"Haah ... kapan ya ada gadis yang benar-benar mencintaiku?"
Aku bergumam seraya terus membaca novel online yang ada dihadapanku. Aku sangat iri dengan main character yang ada di cerita yang kubaca ini.
Eh? Sebentar, aku seperti mendengar ada seseorang yang berlari ke arah kamarku. Siapa?
"Moshi-moshi~. Rito, apa kamu ada di dalam~?"
Seseorang mengetuk pintu kamarku, dilanjutkan dengan suara imut khas gadis SMA yang terdengar seperti menggodaku.
Tidak salah lagi, dia itu kakakku.
"Iya, aku ada di sini, kenapa Kak?"
Tanpa menghiraukan jawabanku, orang itu langsung membuka pintuku selayaknya dia masuk ke kamarnya sendiri. Permisi, ini bukan kamarmu, loh?
"Rito~"
Setelah menutup pintu kamar, dia langsung melompat ke arahku yang sedang tiduran di kasur. Tidak, aku harus menghindar! Kalau tidak, aku bakal kena sikut!
"Muu~, kenapa kamu menghindar, Rito?"
Jangan pasang ekspresi cemberut seperti itu, kamu terlihat seperti anak kecil. Dan juga, itu membuatku terkesan seperti telah melakukan kejahatan kepadamu.
"Sudah kubilang jangan lakukan itu lagi. Dan juga, kamu, tolong jangan masuk ke kamar orang lain jika orangnya belum mengizinkan."
"Issh ... padahal Onee-chan hanya ingin memelukmu. Oh iya, jangan panggil aku 'kamu'! Panggil aku 'Onee-chan' oke?"
Orang ini ... tingkahnya benar-benar seperti anak kecil. Dia menekankan suaranya seakan aku tidak bisa mendengar apa yang dia ucapan.
"Kamu tidak cocok untuk aku panggil 'Onee-chan', bersikaplah seperti orang normal terlebih dahulu."
Aku menjawabnya dengan rasa acuh tak acuh, lalu kembali fokus dengan novel yang sedang kubaca beberapa saat yang lalu. Dia ini mengganggu waktu liburku.
"Oh begitu ya ...."
"Eh?"
Detik pertama saat aku kembali menoleh ke arahnya, aku bisa melihat aura gadis itu yang seperti kerasukan setan. Tangannya mengepal dengan sangat kuat.
Di saat inilah aku lupa kalau kakakku itu adalah seseorang yang ikut dalam klub taekwondo dan memiliki beberapa penghargaan dibidang itu.
"O-Onee-chan! Tunggu! Aku bercanda, oke?"
Aku membentangkan tanganku ke arahnya sambil berharap kalau dia akan mendengarkan perkataanku. Saking takutnya aku sampai memejamkan mataku.
"...Tadi, kamu bilang apa?"
"E-eh?"
Aku membuka sedikit salah satu mataku karena penasaran dengan apa yang baru saja dia bilang. Dia sudah tidak mengepalkan tangannya lagi ... apa dia memaafkanku?
"Rito ... t-tadi kamu memanggilku 'Onee-chan', kan?! Benar, kan?!"
Kenapa tiba-tiba ekspresinya jadi berbinar-binar begitu. Dan juga ia mendekatkan tubuhnya ke arahku. Tidak, ini terlalu dekat!
"Kenapa kamu malah bangga?! Dan tolong menjauhlah sedikit"
Aku sudah berusaha mendorong tubuhnya agar menjauh dariku, tetapi dia kuat sekali! Wajar saja sih kalau dia mendapatkan penghargaan dibidang taekwondo.
"Tentu saja aku akan bangga! Ini pertama kalinya aku mendengarmu memanggilku 'Onee-chan'! Seharusnya tadi aku rekam yah~"
Terlalu imut. Kamu terlalu imut, Kak.
"Singkirkan masalah itu, sekarang, katakan tujuanmu datang ke sini, aku yakin pasti ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan."
"Hee~, darimana kamu tahu itu, Rito? Ah! Jangan-jangan kamu dukun ya?! Muu~, aku jadi takut~"
"Sudah cepat katakan saja."
"Fufufu~"
Dia menutup mulutnya sambil tertawa kecil yang seakan meledekku. Orang ini, aku tidak bisa membalasnya.
"Jadi begini, aku ada kabar baik untukmu, Rito."
"Apa itu?"
Jangan menepuk-nepuk pundakku terlalu kencang, oke?
"Aku akan pindah sekolah, lebih tepatnya, aku pindah ke sekolahmu~. Jadi mulai besok, kita akan berangkat bersama! Yey~!"
"Oh, begitu—HAH?!?!"
......................
"Haah ...."
Kami berdua sekarang sedang duduk di pinggiran kasurku.
Aku nggak habis pikir, kok bisa orang seperti dirinya bisa diterima di sekolahku. Aku tidak mengatakan kalau dia itu bodoh, tapi sekolahku itu merupakan salah satu sekolah yang tes masuknya susah.
"Aku tidak mengandalkan nilaiku. Bisa dibilang, aku diterima melalui jalur prestasi."
"Begitu ya ...."
Tidak mengejutkan sih kalau begitu. Prestasi yang dia miliki memang bukan main-main.
"Tapi, yang membuatku penasaran adalah ... kenapa kamu ingin pindah sekolah?"
"Itu karena ...."
Hum? Kenapa dia kebingungan seperti itu? Apalagi sampai berlagak seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu—menaruh ujung jari telunjuknya di dagu.
"Itu karena aku ingin bersama denganmu terus, Rito!"
Begitulah katanya, walau sebenarnya aku tidak percaya sih .... Lagipula apa yang membuat dia memikirkan hal semacam itu? Ini tidak seperti "Onee-chan" yang biasanya ....
"... Ada apa? Hentikan tatapan menjijikan itu."
"Iya, iya. Lakukan saja sesukamu."
Aku menjawab secara acuh tak acuh.
"Ngomong-ngomong, Rito ...."
Muka Onee-chan tiba-tiba mendekat ke arahku. Aku sedikit terkejut, tetapi aku tetap berusaha tenang agar tidak dikira mencurigakan.
"Hum?"
"Apa ada gadis yang kamu sukai di kelasmu?"
"H-hah?! Kau ini ngomong apa sih!"
Tanpa sadar aku langsung menjauhkan muka kakak dariku menggunakan tanganku.
"Hee~ Berarti ada ya~"
Senyumannya itu! Seperti senyuman iblis yang biasa aku lihat di manga shounen.
"Tentu saja ... tidak, kan?"
"Hee~ Kamu bohong ya ...."
Eh? Ehm ... kak? Kenapa kau semakin mendekatiku? Tidak, tidak! Jangan menyentuh pipiku dengan jarimu!
"Padahal wajahmu setampan ini ...."
Tidak ... apa-apaan dengan lidahnya itu, memangnya aku mangsa dia?
Tapi ... dia cukup wangi ya.
"Ah, sudahlah, kak." Aku menjauhkan tanganya dari mukaku.
"Kau tahu sendiri, bukan? Bukannya aku tidak bersyukur karena memiliki wajah seperti ini, tapi itu membuatku kerepotan setiap hari." Aku menjelaskan.
"Sudah kuduga!"
Tiba-tiba dia berdiri dari kasur. Entah kenapa aku merasa dia menjadi bersemangat, ada apa sebenarnya?
"Aku ada ide!"
"Apalagi, kak?"
Dia menunjuk ke arahku sambil tersenyum.
"Kau, berpacaran saja denganku~"
"... Serius?"
"E-eh?"
"Tidak, maksudku ... kau serius mengatakan itu? Apa yang kau pikirkan sih, kak?!"
Aku tidak paham lagi dengan sifat kakakku ini ....
"Hehe~ Kamu lupa?"
Lupa? Tentang apa? Apa ada hal penting yang aku lupakan?
"Hah?
"Kita berdua ... bukan saudara kandung, loh? Jadi bisa saja kita berpacaran kalau kamu mau~"
"......."
diriku adalah masa depanku
setetes air diujung ranting
terjebak dalam masa lalu
happy Reading ❤️
kn kasian pacarin adik sendiri🥹