Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. MENIKAHLAH DENGAN SAYA
"Dasar anak beasiswa sok pintar." Suara itu menggema di dalam ruang kelas yang mulai sepi setelah dosen keluar. Beberapa mahasiswa yang masih berada di sana langsung menoleh ke arah sumber suara.
Rebeca Alexander berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Wajahnya yang cantik dihiasi senyum meremehkan.
Di hadapannya, Cika tetap duduk tenang sambil merapikan buku-bukunya ke dalam tas. "Nilai kamu memang bagus, Cika," ujar Rebeca dengan nada mengejek. "Tapi jangan terlalu bangga. Bagaimanapun juga, kamu dan aku berasal dari dunia yang berbeda." Beberapa teman Rebeca terkekeh pelan.
"Maksud kamu?" tanya Cika tanpa menoleh.
Rebeca tersenyum miring. "Maksudku, meskipun kamu belajar sampai tidak tidur seminggu pun, kamu tetap tidak akan pernah sejajar denganku."
Kali ini Cika menghentikan kegiatannya. Perlahan ia menoleh dan menatap Rebeca dengan tatapan datar. "Sudah selesai?"
Pertanyaan itu membuat senyum Rebeca sedikit memudar. "Apa?"
"Aku tanya, sudah selesai menghina latar belakang keluargaku?"
Rebeca mendengus. "Kamu tersinggung?"
Cika berdiri. Tingginya hampir sama dengan Rebeca, membuat tatapan mereka sejajar. "Tidak."
"Bohong."
"Aku hanya merasa kasihan."
Alis Rebeca terangkat. "Kasihan padaku?"
"Iya."
Suasana kelas seketika menjadi hening.
Tak ada yang berani menyela pertengkaran dua mahasiswi yang memang terkenal sebagai rival terbesar di kampus Satya Wisesa itu.
Rebeca adalah putri tunggal pemilik perusahaan properti dan perhotelan ternama, cantik, populer, dan memiliki banyak pengikut.
Sementara Cika adalah mahasiswi penerima beasiswa yang berasal dari keluarga sederhana. Namun kecerdasan dan prestasinya membuat namanya sering mengalahkan Rebeca.
Dan itulah yang paling tidak bisa diterima oleh gadis kaya tersebut.
"Berani sekali kamu bilang kasihan padaku."
Cika mengangkat bahu. "Kenapa tidak? Kamu punya uang, punya fasilitas, punya kehidupan yang jauh lebih mudah dariku. Tapi setiap kali melihat namaku berada di atasmu, kamu langsung kehilangan ketenangan."
Wajah Rebeca berubah dingin. "Jaga ucapanmu."
"Kenapa? Takut itu jadi kenyataan?"
Tangan Rebeca terangkat, tetapi sebelum mengenai wajah Cika, gadis berkuncir kuda itu lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.
Semua orang terkejut. Tidak ada yang pernah berani melakukan itu kepada Rebeca Alexander.
Cika menatapnya tajam. "Satu hal yang harus kamu ingat, Rebeca." Suara Cika rendah namun penuh tekanan. "Aku memang tidak sekaya kamu. Aku memang tidak memiliki nama belakang seterkenal kamu. Tapi jangan pernah berpikir kamu bisa menamparku hanya karena kamu punya banyak uang."
Rebeca mencoba menarik tangannya. "Lepaskan!"
"Berjanjilah untuk belajar menggunakan mulutmu untuk berbicara, bukan tanganmu untuk menyerang."
"Kamu-"
Cika melepaskan tangan Rebeca dengan kasar.
Rebeca mundur satu langkah karena terkejut.
"Cika!" Suara seorang mahasiswi, Mili, sahabat Rebeca, langsung menghampiri. "Kamu sudah keterlaluan!"
Cika memasukkan bukunya ke dalam tas. "Katakan pada sahabatmu, jangan mencari masalah jika tidak siap mendapatkan balasan." Setelah mengatakan itu, Cika berjalan pergi meninggalkan kelas.
Rebeca menatap punggung Cika dengan amarah yang membara. "Suatu hari nanti aku akan membuatnya berlutut di depanku."
Mili menepuk bahu sahabatnya. "Tentu saja. Siapa dia berani melawanmu?"
Rebeca mengepalkan tangan. "Cuma gadis miskin yang beruntung mendapat beasiswa. Dia lupa siapa aku."
Sementara itu, di luar kampus, Cika berjalan menuju halte bus. Tidak seperti mahasiswa lain yang datang dengan mobil pribadi, Cika terbiasa menggunakan kendaraan umum. Ia hidup hanya bersama adiknya, Sinta yang masih berumur delapan tahun.
Sejak ayahnya meninggal dan ibunya menikah lagi serta punya keluarga baru, kehidupan Cika dan Sinta berubah. Cika harus banting tulang menghidupi dirinya dan adiknya yang mengidap penyakit kanker hati, karena ibunya kini sama sekali tak peduli pada mereka.
Ponselnya berdering. Sebuah pesan dari dokter yang menangani adiknya muncul.
Dokter Arman: Cika, kalau sudah pulang kuliah, segera ke rumah sakit. Ada hal yang ingin saya bicarakan.
Jantung Cika langsung berdentam hebat. Hatinya mulai tak enak. "Baik, Dok. Saya ke sana sekarang."
***
Di sisi lain kota, di sebuah gedung perusahaan megah, seorang pria paruh baya berdiri menatap jendela besar di ruang kerjanya. Tatapan dan rahangnya tetap tegas, meskipun usianya tak lagi muda, pesonanya masih terlihat jelas dan tak kalah dari pria muda.
"Rebeca ..." gumamnya pelan. Ponselnya berdering. Ia melihat nama yang muncul di layar. "Dokter Arman." Ia segera menjawab panggilan itu. "Selamat sore, Dok."
"Selamat sore, Pak Robinson. Saya hanya ingin memberitahukan mengenai kondisi Sinta, adiknya Cika. Penyakitnya harus segera ditangani. Dia harus segera melakukan kemoterapi. Semakin lama ditunda, risikonya semakin besar."
Tatapan Robinson berubah serius. "Saya mengerti."
"Saya tahu Bapak ingin membantu, tetapi Cika menolak bantuan secara cuma-cuma."
Robinson terdiam. "Ya, itu memang benar, Dok."
"Barusan saya juga sudah menghubungi Cika. Menyuruhnya ke sini untuk membicarakan tentang keadaan Sinta. Dan dia sedang menuju ke sini."
Robinson mengangguk. "Baik, Dok. Terima kasih atas informasinya. Saya akan ke sana sekarang."
Dokter Arman menutup panggilan itu.
Robinson memasukan ponselnya ke saku jas. Matanya kembali menatap bangunan tinggi yang berjejer di depan sana. Ingatannya terlempar ke beberapa bulan yang lalu, saat ia mengalami serangan jantung ringan ketika sedang meninjau lokasi untuk pembangunan hotel baru, Cika adalah orang pertama yang menolongnya. Bukan hanya membawa dirinya ke rumah sakit, gadis itu juga menemaninya hingga sekretarisnya datang.
Setelah mengenal Cika dan adiknya, Robinson mengetahui betapa berat kehidupan yang mereka jalani.
Namun setiap kali ia menawarkan bantuan, Cika selalu menolak. Harga diri gadis itu terlalu tinggi.
Sebuah ide kembali terlintas di pikirannya. Ide yang selama beberapa hari terakhir terus menghantuinya.
Sebuah keputusan yang mungkin akan mengubah kehidupan semua orang.
Termasuk putrinya.
***
Cika berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit dengan napas yang sedikit terengah. Tas kuliahnya masih menggantung di bahu, bahkan ia belum sempat pulang untuk mengganti pakaian. Pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan buruk sejak menerima pesan dari Dokter Arman.
"Tuhan, jangan sampai terjadi apa-apa dengan Sinta. Tolong, jangan ..." batinnya berulang kali.
Dengan langkah cepat, Cika berhenti di depan pintu ruangan dokter Arman. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu mengetuk pintu.
"Masuk."
Cika membuka pintu perlahan. "Selamat sore, Dok," sapanya dengan suara yang berusaha ia buat tenang.
Dokter Arman yang sedang melihat beberapa berkas langsung menoleh. Wajahnya menunjukkan rasa iba. "Sore, Cika. Duduklah."
Cika menurut. Namun dari raut wajah dokter, ia tahu bahwa kabar yang akan disampaikan bukanlah sesuatu yang ringan. "Bagaimana keadaan Sinta, Dok?" tanyanya tanpa bisa menyembunyikan kecemasan.
Dokter Arman meletakkan berkas medis di meja. "Cika, saya akan berbicara secara jujur. Kondisi Sinta mengalami perkembangan yang harus segera ditangani. Terapi yang selama ini dijalani belum cukup menahan penyebaran penyakitnya."
Wajah Cika memucat. "Maksud Dokter?"
"Sinta harus segera menjalani kemoterapi."
Kalimat itu seperti palu yang menghantam kepala Cika. Ia menunduk. Kedua tangannya langsung menggenggam erat ujung rok kuliahnya.
"Kemo ..." bisiknya lirih.
Dokter Arman mengangguk pelan. "Semakin cepat dilakukan, semakin besar peluang Sinta untuk sembuh. Jika terlalu lama ditunda, risikonya akan semakin besar."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Cika. "Berapa biayanya, Dok?"
Dokter Arman terdiam sejenak. "Sebagian biaya memang akan ditanggung oleh BPJS. Namun tetap ada kebutuhan lain yang harus dipersiapkan. Mulai dari obat-obatan tertentu yang mungkin tidak sepenuhnya ditanggung, kebutuhan nutrisi Sinta, biaya untuk kontrol rutin, serta keperluan lain selama proses pengobatan."
Setiap kalimat yang keluar dari mulut dokter terasa seperti menambah beban di pundak Cika.
Selama ini ia sudah bekerja banting tulang, dari mengajar les anak-anak sepulang kuliah dan menerima berbagai pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Namun untuk pengobatan sebesar itu, Cika tidak tahu harus mencari uang dari mana. "Kalau saya bekerja lebih banyak ..." suaranya bergetar. "Kalau saya mengambil lebih banyak murid les ..."
"Cika," potong Dokter Arman lembut. "Kita tidak punya waktu sebanyak itu."
Kalimat tersebut membuat pertahanan Cika runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. "Saya sudah berusaha mencari uang sebanyak mungkin, Dok ..." suaranya pecah. "Tapi uang saya masih sedikit, dan saya tahu bahwa itu tidak cukup untuk biaya pengobatan Sinta." Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa yang harus saya lakukan, Dok? Saya bingung."
Dokter Arman hanya bisa terdiam. Sebagai dokter, ia sudah berkali-kali menyaksikan keluarga pasien berada dalam situasi sulit seperti ini. Namun melihat Cika yang masih sangat muda memikul beban sebesar ini, hatinya ikut tersentuh. "Masih ada satu cara, Cika."
Cika mengangkat wajahnya dengan mata merah. "Cara apa, Dok?"
Dokter Arman menghela napas perlahan. "Ada seseorang yang bersedia membantu biaya pengobatan Sinta."
Ekspresi Cika langsung berubah. "Maksud Dokter, Pak Robinson Alexander?"
Dokter Arman tidak terkejut mendengar tebakan itu. "Kamu sudah tahu."
Cika tersenyum tipis, tetapi senyuman itu penuh kepahitan. "Beliau sudah beberapa kali menawarkan bantuan. Dan saya sudah beberapa kali menolaknya."
"Cika, ini bukan saatnya mempertahankan gengsi."
Tatapan Cika langsung menajam. "Ini bukan soal gengsi, Dok." Dokter Arman terdiam. "Kalau saya menerima uang begitu saja, apa bedanya saya meminta belas kasihan?" lanjut Cika. "Pak Robinson sudah sangat baik kepada saya dan Sinta. Saya tidak ingin memanfaatkan kebaikan beliau."
"Tapi ini demi Sinta."
Satu kalimat itu membuat Cika membisu. Bibirnya bergetar.
Belum sempat Cika menanggapi, terdengar suara ketukan dari balik pintu.
Dokter Arman dan Cika menoleh bersamaan.
"Masuk." Suara dokter Arman mengudara.
Pintu terbuka perlahan. Seorang pria berjas hitam masuk dengan langkah tenang dan wibawa yang begitu kuat.
Cika langsung mengenal sosok itu. "Pak Robinson ..." ucapnya pelan.
Robinson menatap Cika dengan sorot mata yang penuh kepedulian. "Saya sudah mendengar semuanya, Cika. Seperti biasa, saya ingin memberikan bantuan."
Cika segera menghapus air matanya.
"Pak, saya-"
"Tidak perlu menolak dulu." Suara Robinson menghentikannya. Pria itu melangkah mendekat, lalu duduk di kursi sebelahnya. "Kali ini saya datang bukan hanya untuk menawarkan bantuan."
Kalimat itu membuat Cika mengernyit. "Maksud Bapak?"
Tatapan Robinson berubah serius. "Saya datang dengan sebuah tawaran."
"Tawaran?"
"Ya." Robinson menarik napas panjang.
"Sebuah perjanjian yang akan menyelamatkan Sinta ... tetapi juga akan mengubah hidupmu selamanya."
Cika menatapnya dengan bingung, "Maksud Bapak?"
Robinson lalu melempar pandangan pada dokter Arman. "Dok, saya minta izin untuk berbicara berdua dengan Cika," imbuhnya.
"Silakan, Pak. Pergilah, Cika."
"Saya permisi, Dok." Cika pun mengikuti langkah Robinson keluar dari ruangan Dokter Arman. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit hingga tiba di taman kecil yang berada di sisi gedung. Suasana sore yang seharusnya menenangkan justru tidak mampu mengurangi kegelisahan dalam hati Cika.
Gadis itu berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam. Matanya menatap pria paruh baya di hadapannya dengan penuh tanda tanya. "Pak Robinson ..." panggilnya pelan. "Sebenarnya tawaran apa yang Bapak maksud?"
Robinson terdiam beberapa saat. Tatapannya mengarah ke pepohonan di taman itu, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang berat. Ia kembali menatap Cika. "Menikahlah dengan saya."
Seolah dunia berhenti berputar. Mata Cika langsung membulat sempurna. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa ingin keluar dari dadanya. "Apa?" Suaranya nyaris tak terdengar.