Demi menginginkan seorang anak, Dewi dikhianati oleh suami dan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nairamzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 19
Dikhianati Suami dan Mertua
Part 19
Aneh, sikapnya tidak seperti biasanya. Ia tampak gugup.
"Tunggu, Salwa!" panggilku lagi sambil terus mengejarnya. Ia yang kesusahan berlari karena menggendong bayi memudahkanku untuk mengejarnya.
Aku menghadang langkahnya dengan berdiri di hadapannya, dan membentangkan kedua tanganku. Ia terpaksa berhenti dan menundukkan kepala seakan tak berani melihatku. Sangat kontras dengan sikapnya yang dahulu. Lantang.
"Ma-mau apa kamu?" tanyanya terbata. Belum berani melihatku. Ia tampak gugup.
"Kamu sudah lahiran?" tanyaku hati-hati sambil memperhatikan bayi dalam balutan kain yang membungkus tubuh mungil itu. Bayi dalam dekapan Salwa sama sekali tidak terlihat. Salwa benar-benar melindunginya dari udara luar yang belum terbiasa dihirup bayinya yang belum lama terlahir di dunia.
"Apa anaknya?" Aku mencoba mendekatinya. Namun, Salwa justru menghindar dengan mundur beberapa langkah. Seakan ia takut aku akan mengambil bayinya. Atau ... jangan-jangan itu bukan bayi. Salwa kembali mengelabui Bang Irwan yang ternyata selama ini dia tidak hamil? Itu sebabnya Salwa memilih bersalin tanpa suami. Apakah ini bagian dari sandiwara Salwa?
Ugh! Jika kuingat bagai mana perlakuannya padaku, mengataiku mandul. Perempuan munafik. Menuduhku memalsukan data. Menuduhku menghasut suaminya yang notabenenya adalah mantan suamiku. Ingin sekali kujambak rambutnya yang dipirangin itu. Kucakar wajahnya yang saat ini polos tanpa polesan makeup. Mungkin karena baru melahirkan. Tetapi, aku teringat kata Bang Irwan, mantan suamiku. Untuk tidak mengotori tanganku dengan menyentuhnya.
Tetapi, seketika nalarku menyadarkan. Soal kehamilan itu mustahil tipuan. Sebab, sebagai suami sudah pasti melihat tubuh istri tanpa pakaian, dan akan terlihat perut yang membuncit.
"Jangan banyak basa-basi. Apa kau membuntutiku?" selidiknya. Sepertinya Salwa merasa tidak nyaman dengan keberadaanku.
Semampuku meyakinkannya bahwa ini hanyalah sebuah kebetulan.
Terdengar suara tangis khas bayi dari dalam dekapannya. Ah, mungkin bayi itu merasa terganggu kenyamanannya. Tanpa sadar, sikap Salwa yang tegang telah mempersempit ruangnya untuk tidur dan bernapas. Ah, dugaanku salah. Aku telah berpikir yang buruk tentang Salwa. Sempat berpikir bahwa yang didekapnya bukanlah bayi.
Wanita yang baru saja menjadi ibu itu berusaha menenangkan bayinya dengan cara menimang.
Kuajak Salwa mencari tempat yang nyaman agar ia leluasa menyusui bayinya. Kuraih tas dari tangannya untuk meringankan bebannya. Lalu, kuajak duduk di mushalah yang tersedia di sekitaran rumah sakit ini.
"Begitu bayi ini lahir, bahkan masih berlumuran darah, dan aku masih dalam keadaan tak berdaya. Juga perawat dan dokter yang menanganiku masih di sana, Bang Irwan menceraikanku," ujarnya sedih mengenang peristiwa yang menyakitkan itu. Pasti rasa lelah, sakit dan malu bercampur aduk menjadi satu.
Sepertinya Salwa telah merasa nyaman berbicara denganku. Saat kutanya mengapa Bang Irwan tidak ada di sisinya saat berjuang antara hidup dan mati. Dan betapa aku terhenyak mendengarnya.
"Mengapa Bang Irwan setega itu?" tanyaku tak percaya Bang Irwan mampu melakukan hal semacam itu. Menutupi kebohongan yang Salwa cipta saja dia mampu, mengapa menunggu Salwa pulih dan pulang ke rumah baru dicerai Bang Irwan tidak mampu?
"Sudah lama dia ingin menceraikanku. Mungkin sejak ia mengetahui bahwa dirinya mandul. Namun, ia sembunyikan dariku. Demi menjaga perasaan ibu," kenangnya sambil menyeka air mata.
"Sejak keluar dari rumahmu, kami tidak pernah harmonis," imbuhnya. Sadar atau tidak, rela atau terpaksa, Salwa sudah mengakui hubungan rumah tangganya selama tidak baik-baik saja.
"Lalu, kamu mau ke mana?" Karena mustahil ia kembali ke rumah Bang Irwan.
Salwa menatap bayinya yang lelap. Matanya nampak berkaca. Lalu, bulir itu jatuh satu persatu membasahi kain yang membalut tubuh mungil bayi yang masih suci. Mungkin, ia merasa bayinya malang. Hidup luntang-lantung tanpa rumah dan tanpa bapak. Pasti Salwa merasa sangat bersalah pada bayinya.
Seketika aku merasa takut. Takut ia akan meninggalkan bayinya sendirian. Apakah itu dibuang di semak-semak? Apakah dititipkan di panti asuhan? Atau ... dijual? Iya kalau bayi itu jatuh di pelukan orang yang baik. Jika tidak? Ah, malang sekali bayi yang tak berdosa itu. Bukan kehendaknya lahir dalam keadaan seperti itu.
Tak terbayang saat si bayi terbangun dari lelapnya. Lalu, mencari ASI yang menjadi sumber kehidupannya tiba-tiba tidak ada. Ia menangis melengking, memanggil sosok yang dia anggap sebagai malaikat pelindungnya tak kunjung tiba. Akan mengadu pada siapa?
"Jangan, Salwa! Jangan!" cegahku sambil mengusap kasar air mata. Dengan cepat aku berpindah duduk di sampingnya. Salwa menoleh ke arahku, dahinya mengernyit.
"Apanya yang jangan?"
"Jangan buang anakmu. Kasihan dia. Jangan menambah dosa lagi."
"Aku nggak sejahat itu, Wi. Dan aslinya aku nggak jahat. Demi menyekolahkan adekku dan membantu ekonomi keluarga, aku rela ke kota menjadi pemandu karoke dan melayani pria hidung belang. Dari hasil itu aku bisa membangun rumah orangtuaku yang sudah reok."
"Tapi, aku hamil dan nggak tau siapa bapaknya. Kebetulan aku dekat dengan Bang Irwan dan dia mengajakku menikah. Tentu aku mau. Setelah menikah, aku tak punya pemasukan untuk kukirim ke kampung. Terpaksa gaji Bang Irwan kukirim semua. Sedang orang tuaku masih mengira aku bekerja ...."
Aku jadi teringat saat Ibu mertua datang dan curhat tidak punya uang. Semua gaji Bang Irwan Salwa yang pegang tapi selalu habis entah kemana. Bahkan, membayar uang kontrakan pun tak mampu. Jadi ini alasannya?
Hmm....
Aku menarik napas kasar. Seketika dada derasa sesak saat mendengar pengakuan Salwa menjebak Bang Irwan yang saat itu masih suamiku untuk menjadi Ayah pada bayi yang saat ini dalam pelukannya. Karenanya, rumah tanggaku hancur. Pun dengan hatiku. Hancur berkeping-keping. Sejak kehadirannya, rasa cintaku pada suami berubah menjadi benci.
Tiba-tiba, tangan Salwa meraih tanganku. Dari matanya tersirat permintaan maaf. Hanya air mata yang mampu berucap. Bibirnya bergetar. Tidak. Jangan katakan! Aku tahu apa yang hendak ia katakan. Aku tidak ingin mendengarnya. Ingin meminta maaf karena sudah merebut suamiku? Begitukan? Itu hanya akan menyayat luka.
Biarlah begini. Seperti ini. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu antara kita. Walau sulit, aku akan berusaha memaafkanmu. Namun, cukup di dalam hati. Jangan utarakan lagi.
Memaafkan? Apa iya aku mampu memaafkan orang yang sudah menyakiti dan merusak kebahagiaanku? Hei, aku wanita biasa. Hatiku rapuh. Dan dia telah menghancurkannya!
Genggaman Salwa semakin erat. Pun air matanya kian deras bercucuran. Ia menggelengkan kepala. Entah mengapa aku pun juga. Kami berbicara dari mata ke mata. Lalu, dimengerti oleh hati. Hanya hati.
Melihat raut wajahnya yang memelas, aku bagai terhipnotis. Menuruti permintaan maafnya.
Sadar Dewi! Dia perusak rumah tangga mu. Bisik hati kecilku.
"Jadi, sekarang kamu mau ke mana? Pulang ke rumah orangtuamu?" tanyaku sembari berusaha meredam hatiku yang meragu.
Salwa menggeleng pelan. Dibukanya kain yang menutupi wajah bayinya. Ia menatapinya dengan mata berkaca. Membuat hatiku bertanya-tanya.
"Kenapa?" desakku.
"Orangtuaku melarang aku pulang ke sana. Mereka marah dan malu mengetahui anak gadisnya hamil tanpa suami," tuturnya pelan.
"Mereka tau dari mana?" Semakin penasaran.
"Aku sendiri. Aku boleh pulang dengan syarat nggak membawa bayi ini," lirihnya.
Miris sekali mendengarnya. Salwa, gadis yang rela mengotori tubuhnya dan merendahkan martabatnya demi ekonomi keluarga, malah dicampakkan setelah mengetahui kebenarannya. Di mana belas kasih mereka? Memang, semua itu bukan tuntutan mereka. Tetapi, bukankah mereka menikmati hasilnya?
Sayang, kejujuran dan pengorbanan Salwa tidak ada artinya di mata keluarganya. Terlebih pada orangtuanya. Lalu, pada siapa sekarang Salwa mengadu?
Salwa sudah berlumur dosa, namun kedua orangtuanya justru menyuruhnya bermandikan dosa dengan menyarankan meninggalkan bayi yang suci ini. Melepaskan tanggung jawab.
Seketika rasa kagum pada Salwa tumbuh dalam hatiku. Meski tak ada seorangpun yang rela menerima kehadiran bayinya, ia tetap berusaha merawatnya. Bahkan ia rela tidak pulang ke kampung halaman demi tetap bisa bersama malaikat kecilnya.
"Aku merawat bayi ini tidak akan sendirian, Wi," ucapnya menyadarkan lamunanku.
"Maksudnya?" Pertanyaan itu hanya menggema di dalam hati. Sedang aku mengernyitkan dahi. Sungguh tak mengerti.
Apa maksudnya merawat bayinya tidak akan sendirian? Apakah Salwa akan berjuang mempertahankan Bang Irwan?