Aztiel, nama dari kerajaan yang ada di Mascus, 1 dari 3 negara terbesar di planet Jana dan masih berkembang. Monster, Manusia, Iblis dan hal hal lainya sudah tak asing di sana, Istana yang megah di kuasai oleh raja Farlov Von Grief dan Desmon menjadi salah satu Tentara "elite" di sana yang sangat loyal terhadap kerajaan, bahkan salah satu gereja terbesar yaitu Ferus sempat membantu Desmon untuk menjadi pengikutnya. Suatu hari di siang yang cukup panas ia di tugaskan oleh sang raja untuk mengantarkan sebuah surat untuk kerajaan yang ada di sebrang bersama 4 teman lamanya. Awalnya semua berjalan dengan baik namun tragedi mengenaskan menghancurkan semuanya.
Akankah dia berhasil bertahan hidup dari masalah yang akan ia lalui dan membuka masalalu sebelum semua ini terjadi?
(Web novel ini mengandung kekerasan yang berlebihan dan konten seksual,bagi para pembaca yang masih di bawah umur diharapkan agar tidak membaca atau meminta izin dari orang tua agar bisa membaca Web novel ini.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K A Z A R O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meet An Old Pal
Kicauan burung dan manusia terdengar dari arah jendela, membuka sedikit mataku terlihat matahari menembus kaca.
Fiora sudah bangun dan sedang menyiapkan makanan di atas meja dekat dengan kasur, mungkin ia membuat makanan yang waktu itu ia buat.
"Ah, pagi Desmon, cepat bangun dan sarapan." Ucapnya dengan senyuman khasnya.
"Lima menit lagi." Aku masih mengantuk karena kemarin.
Tiba tiba memegang kepalaku dengan kedua tanganya lalu mengangkat dan menggoyangkannya, ia berhasil membangunkan ku.
"Ayo, bangun dan makanlah."
"Ya ya, aku bangun."
Setelah selesai sarapan aku bersiap untuk mandi, untungnya kamar ini di lengkapi satu kamar mandi, aku menyuruh Fiora duluan untuk masuk ke dalam.
Setelah aku dan Fiora selesai membersihkan diri, aku bersiap pergi menggunakan semua senjata dan pelindungku..
"Apa kau sudah siap Fiora?."
"Ya Desmon, hari ini kita akan menemui teman lamamu ya?."
"Ya, ku harap ia ada di rumahnya sekarang."
Berjalan keluar dari kamar, aku dan Fiora menuruni anak tangga untuk bertemu Reimi di bawah.
"Kau akan pergi ke sana sekarang Desmon?."
"Ya, kami akan ke sana sekarang. Aku tidak ingin membuang buang waktu."
Aku memberikan kuci kamar dan keluar dari penginapan.
"Kalau itu maumu, berhati hatilah di perjalanan." Ucapnya sembari melambaikan tangan. Fiora melambaikan tanganya untuk memberi salam perpisahan.
Mengeluarkan Dark dari kandang kuda dan memakaikannya pelana untuk kita tunggangi, setelah selesai dengan semua itu kami keluar dari area kota dan menuju gerbang ke arah Felir.
Di saat aku sedang menunggangi Dark, melihat ke arah Fiora yang sedang duduk dan memperhatikan jalan di depanku, teringat percakapan dengannya kemarin pada malam hari.
Saat aku memasuki kamar, kulihat Fiora terbangun dari tidurnya, aku menghampirinya dan memberikan ia segelas air.
"Kenapa kau terbangun?." Tanyaku kepadanya.
"Aku tak bisa tidur Desmon."
"Tapi saat dibawah kau tertidur lelap."
"Tidak, aku hanya berpura pura tidur."
"Ah, aku akan menemanimu hingga bisa tertidur."
"Baiklah."
Setelah beberapa lama ia bersandar di pundaku, aku bertanya tentang sesuatu yang membuat ia kabur, aku masih penasaran dengan itu.
"Fiora, bisa kau jelaskan kenapa kau bisa masuk ke hutan dan di tangkap para bandit?, aku tidak akan memaksa kalau kau masih tak ingin menjelaskan."
"Tidak Desmon, aku ingin menjelaskannya kepadamu, tetapi kau berjanji tidak akan membenciku atau meninggalkanku ketika tau kebenarannya?."
"Kenapa aku harus membencimu atau meninggalkanmu Fiora? aku tidak akan pernah melakukan itu."
"Jika itu maumu, bisa aku duduk di pangkuanmu?."
"Baiklah, kemarilah dan duduk di depanku Fiora, aku akan mendengarkan semua yang kau ceritakan."
6 tahun yang lalu, seorang anak perempuan sedang menikmati makan malam bersama keluarga kecilnya di sebuah rumah yang cukup sederhana, anak itu bercerita tentang teman laki lakinya yang sangat iya sukai, keluarganya pun mendengarkan ceritanya seperti senang karna dia mendapatkan teman yang baik.
"Nak, boleh ayah berbicara sesuatu kepadamu?."
"Apa itu ayah?."
"Sepertinya ayah akan menjodohkan mu dengan seorang pedagang kaya raya."
Anak perempuan itu terdiam seperti tidak percaya dengan omongan ayahnya.
"Apa maksud ayah?." ucapnya dengan nada takut dan gemetar.
"Ayah tau ini terlalu mendadak untukmu, tapi ayah mohon dengarkan penjelasan ayah nak."
"Ayah terlilit hutang, ayah tak bisa membayarnya karna terlalu banyak nak, kalau ayah tidak membayar semua itu keluarga kita terancam akan di bunuh oleh mereka nak, jadi ayah mohon untuk menuruti apa yang ayah katakan."
"Tapi, tapi aku tidak mau ayah."
"Ayah mohon nak, untuk keselamatan keluarga kita."
Anak perempuan itu melihat ke arah ibunya seperti meminta pertolongan, tetapi ibunya pun seperti sudah merelakan anaknya menikah dengan lelaki yang tidak pernah ia temui..
"tidak, aku tidak mau menikahi lelaki itu, aku takut ayah."
"Nak , ayah mohon.... jangan mengecewakan ayah nak."
"Tidak ayah, ku mohon jangan membuatku menderita."
"FIORA, APA KAU MAU AYAH DAN IBUMU MATI?! APA KAU MAU MELIHAT KELUARGA INI DI BUNUH?!."
Anak perempuan itu seketika terdiam ketakutan ketika melihat reaksi ayahnya.
"MAU ATAU TIDAK, KAU HARUS MENIKAH."
Dia menangis dan berlari masuk menuju kamar miliknya, melihat langit biru yang di hiasi bintang.
"Desmon.... tolong selamatkan aku...."
Harapan hampa yang ia ucapkan membuat air matanya mengalir, Ke esokan harinya, dia pergi bertemu Dengannya dan mengucapkan perpisahan kepadanya, dia berharap kepada anak lelaki itu untuk tidak melupakan dirinya.
Hari berlalu, dia sudah pergi menuju lelaki yang akan ia nikahi meninggalkan keluarga dan teman lelaki yang ia sukai.
"Baiklah nona cantik, kau bisa turun sekarang."
Dia melihat ke arah rumah barunya yang sangat amat besar, Masuk ke dalam melihat seluruh ruangan sangat bersih dan berkilap.
"Wah wah, sepertinya nona lebih cantik dari yang saya bayangkan."
"Uh, siapa anda?."
"Maafkan atas kelancangan saya, saya Gilbert, pemilik toko Gilbert's Gold N Diamond."
Emas dan berlian di badan gemuknya membuat Fiora heran.
"Mulai saat ini, Fiora akan tinggal di rumah ini bersama ku."
Pada awalnya kehidupan mereka berjalan lancar, tetapi Fiora masih tidak menyukai orang yang ia nikahi secara paksa.
seiring berjalannya waktu, Gilbert mulai mengeluarkan sifat aslinya, dia sering memarahi Fiora, menyiksanya, dan membuat dia seperti budak ***.
"Hei lacur, aku mebawa teman temanku ke rumah ini, puaskan mereka dengan tubuhmu." Ucap Gilbert yang sedang mabuk.
Ia di telanjangi secara paksa seperti seorang hewan.
"TIDAK, TOLONG HENTIKAN! SESEORANG TOLONG SELAMATKAN AKU!."
teriakan dan tangisan dari seorang perempuan yang sedang di perkosa tidak mereka dengar, malah membuat mereka semakin bergairah.
"Kau tau? kau sebenarnya telah di jual oleh ayahmu, dia tidak bisa membayar hutang hutangnya, betapa bodohnya ayahmu." Gilbert tertawa terbahak bahak setelah mengucapkan hal kejam.
"Sekarang kau hanya budak **** yang akan memenuhi nafsu kita." Ucap orang yang bersama Gilbert.
Dia di perkosa bergantian oleh 3 orang selama 4 jam, yang bisa ia lakukan hanya berharap seseorang menyelamatkannya, tetapi dia tau bahwa itu mustahil.
"Desmon... maaf.... maafkan aku...."
Berkali kali ia menggugurkan kandungannya karna paksaan oleh suaminya, dia sudah tidak tahan dan ingin kabur dari rumah mengerikan ini.
Hingga pada saat ia sedang memakan sebuah roti dan sup, seorang pembantu rumah itu mendekati dirinya.
"Nona, saya akan membantu anda kabur dari neraka ini."
Terkejut dengan perkataan pembantu tersebut, dia menoleh seperti tidak percaya.
"Pada saat malam hari, saya akan mengetuk jendela kamar nona, ku harap tuan Gilbert tidak ada di rumah."
Fiora terdiam seperti tak percaya.
Malam hari sebelum Gilbert pulang, seseorang mengetuk jendela kamar nya, terkejut dengan siapa yang dia lihat ternyata pembantu itu benar benar berniat menolongnya.
Dia berhasil keluar dari rumah mengerikan itu, dan sang pembantu kembali ke dalam agar tidak di curigai.
Berjalan menyusuri hutan yang gelap, ia melihat sebuah lentera dan tenda, dia mendekat dan melihat 4 orang lelaki sedang duduk istirahat.
"Hei nona, apa kau tersesat?."
Dia mengangguk secara perlahan dan duduk di dekat api unggun.
Tak ia duga, para lelaki itu berusaha untuk menangkap dan memperkosa dirinya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN? TOLING HENTIKAN."
Teriakannya terdengar hingga seseorang datang membunuh para lelaki kejam ini dan menyelamatkan dirinya.
"Jadi, Kau di jual oleh keluargamu sendiri Fiora?."
"Ya Desmon, aku tidak menyangka bahwa keluargaku tega melakukan itu kepadaku."
Fiora mulai meneteskan air mata, dia melihat ke arah ku dan mengatakan "Desmon, apa kau masih mencintaiku setelah mendengar apa yang terjadi padaku?."
Pertanyaan itu membuat hatiku terdiam.
"Apa kau masih ingin bersamaku walaupun aku ini seorang pelacur?, apakah kau masih mencintaiku ketika kau tau bahwa aku sudah di perkosa oleh banyak orang?."
Seketika aku memeluk dirinya, dia mulai menangis seperti sedang mengeluarkan kesedihan yang ada di dalam hatinya.
"Dengarkan aku Fiora, tidak peduli apa pun masalalu yang kau alami, aku akan tetap bersamamu hingga nyawa yang memisahkan."
"Tapi kenapa Desmon....."
"Karna aku mencintaimu."
Menangis di pelukanku, aku tidak bisa berbuat apa apa selain memeluk hangat tubuhnya.
"Kau janji akan terus bersamaku Desmon?."
"Ya, ya aku berjanji."
Dia mencium bibirku dengan lembut setelah selesai menangis.
"Apa kau ingin memakan sesuatu?."
"Tidak Desmon, aku akan tidur sekarang."
Setelah mengingat semua itu, aku kembali tersadar.
"Desmon, apa itu rumah temanmu?."
"Ya Fiora."
Tak terasa dan sudah sampai ke tujuan. Aku dan Fiora turun dan menghampiri pintu rumah itu.
"Permisi." Ucapku sembari mengetuk pintu itu, sepertinya ia tidak ada di rumah.
"Permisi." Fiora ikut mengetuk pintu itu, seorang perempuan dan lelaki membuka pintu. lelaki seperti kebingungan tetapi perempuan itu terlihat terkejut melihat Fiora.
"Fiora?."
"Jeanie?."
Mereka berdua berpelukan seperti telah lama tak melihat satu sama lain, aku tak tau perempuan itu siapa, yang ku tau Regin sedang menatapku dengan raut wajah kebingungan.
"Yo, lama tak bertemu." Ucapku sembari membuka helm.
"Desmon? bohong kan?."
Ia seperti tak percaya.
"Ya, ini aku Desmon."
Ia menghampiriku dan memeluk ku.
"Aku tak percaya si kampret masih hidup, syukurlah." Ucapnya sembari tertawa dan menangis di waktu yang bersamaan.